Billy duduk berlutut di hadapan Yasmin yang kini perutnya sudah mulai membesar, wajahnya lelah namun tetap cantik dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Mereka duduk di ruang tamu apartemen Yasmin, ditemani cahaya senja yang masuk dari jendela besar. Billy menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan mantap, “Yasmin… aku sudah berpikir panjang. Aku nggak bisa terus kayak gini. Aku tahu semua ini salah, tapi… aku nggak mau anak kita lahir tanpa nama ayah di akta lahirnya.” Yasmin menoleh pelan, matanya berkaca-kaca. Ia tahu pembicaraan ini akan datang suatu hari, namun tak pernah membayangkan Billy akan mengatakannya duluan. “Maksud kamu…?” bisiknya. Billy menggenggam tangannya. “Aku ingin kita menikah. Mungkin bukan secara negara, karena aku belum bisa le

