Jadikan Aku Selingkuhanmu!

1260 Kata
"Pak, tadi Pak Gio menyinggung soal perubahan anggaran di proyek, apakah Anda ingin saya mencatat ringkasnya dan mengirimkannya pada Anda sebelum sore?" "Ya, kirimkan padaku segera." "Baik, Pak. Nanti siang, kita juga memiliki rapat penting dengan Pak Nandar." Luca yang awalnya sibuk dengan ponselnya, seketika mengangkat kepalanya dan menatap sekretaris wanitanya. "Pak Nandar? Jam berapa?" "Jam dua siang ini, Pak, di restoran dekat sini." Luca terdiam. Dia memelankan langkahnya. Dia niatnya akan menunda makan siangnya untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, lalu menemui Viviane dan bicara dengan serius, tapi jika seperti ini, dia tidak bisa menemuinya. Apalagi yang ditemuinya adalah salah satu klien yang sudah bekerja sama begitu lama dengannya. "Pak? Apa ada masalah? Apa Anda sibuk? Haruskah saya reschedule?" Luca kembali tersadar. Dia menatap sekretarisnya dan menggelengkan kepala. Berpikir jika mungkin dia bisa mencari waktu nanti setelah pulang. Ya, mungkin lebih baik begitu agar dia bisa bicara dengan santai. "Tidak. Jangan, dia klien lama kita." "Baik." Luca melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Dia ingin segera sampai dan beristirahat. "Aku ingin istirahat setelah ini. Siapa pun orang yang datang, tolak saja. Aku tidak mau diganggu." "Termasuk Nona Viviane, Pak?" "Viviane?" Langkah Luca terhenti tepat di depan pintu ruangannya. Dia menoleh ke arah sekretarisnya yang bertanya sembari melirik ke arah lain. Luca pun ikut menoleh dan dia harus dibuat terkejut ketika melihat kehadiran Viviane yang sedang tertuju padanya. Wanita itu tampak sedang bermain dengan ponselnya dan belum melihatnya. Luca belum siap bertemu kekasihnya sekarang. Setidaknya sebelum dia merangkai kata untuk menjelaskan semuanya. "Tidak. Jangan biarkan dia masuk." Luca berbalik dan menarik pintu dengan cepat. Dia berniat masuk sebelum Viviane menyadari kehadirannya, tapi langkahnya langsung terhenti saat suara itu memanggilnya. "Luca!" Luca tidak bisa menghindar. Tidak ketika terdengar suara langkah kaki Viviane yang begitu tergesa-gesa mendekatinya. Memaksa dia harus membalikan tubuhnya dan menghadap kekasihnya. Luca melirik sekretarisnya. "Tinggalkan aku berdua dengannya." "Baik, Pak." Luca mengalihkan pandangannya pada Viviane, segera setelah sekretarisnya pergi meninggalkan mereka di depan pintu ruangannya. Dia menatap kekasihnya yang seperti biasa, selalu modis dan cantik, tapi Luca tidak bisa fokus dan malah mencoba menghindari tatapan Viviane. Dia merasa bersalah memikirkan dia telah menyakiti kekasihnya. "Ada apa, Viviane? Sudah kubilang, jangan datang ke sini saat jam kerja." "Aku tahu itu, tapi aku sudah mencoba menghubungimu dari tadi dan aku cemas karena kamu tidak menjawab sekali pun panggilan dariku. Ada apa Luca? Apa terjadi sesuatu?" Luca tidak ingin mengatakannya sekarang. Dia tidak mau Viviane sakit hati. Dia bahkan tidak mengangkat semua panggilan dari kekasihnya. Dia mengabaikan itu karena bingung dan takut. "Luca? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa diam saja? Aku sedang bicara denganmu. Tatap aku." Desakan Viviane membuat Luca menjadi gelisah. Namun dia tahu, percuma dia menyembunyikan semuanya. Akhirnya, Luca menghela napas kasar dan membuka pintu ruangannya. "Kita bicara di dalam. Aku akan jelaskan semuanya." Terlihat Viviane ragu-ragu. Dia merasakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, ketika melihat ekspresi wajah muram Luca. Namun dia tetap mengikuti langkah Luca yang membawanya masuk ke dalam ruangan. Keheningan yang menyesakkan, begitu menyiksa Luca ketika dia tidak bicara dan hanya mempersilakan Viviane duduk di kursi. Tepat di depannya. Untuk beberapa waktu, mereka saling menatap dalam diam. Luca tidak tahu apa yang ada di pikiran Viviane sekarang, tapi yang jelas, dia sedang berusaha mencari kata untuk menjelaskan semuanya. "Sekarang apa? Jelaskan padaku ada apa? Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini? Ada apa semalam?" "Viviane, sebelumnya aku minta maaf. Aku tahu harusnya aku tidak meninggalkanmu semalam." Luca membungkam semua pertanyaan Viviane dengan permintaan maaf dan diliputi rasa bersalah, hingga wanita itu tampak langsung terdiam. Luca tahu, Viviane pasti marah semalam karena ditinggalkan saat dia bahkan sedang melamarnya. Sialnya, cincin yang harusnya jadi milik Viviane juga malah dia berikan pada Zara. Dia belum sempat memberikannya pada sang kekasih. "Bicara yang jelas. Aku ingin tahu alasannya." "Semalam Omaku kritis." "Apa? Oma kritis?" Luca mengangguk. Dia menarik napas panjang dan mulai menceritakan soal kondisi omanya yang mengalami pendarahan hingga harus dilakukan operasi karena bisa mengancam nyawa jika tidak segera dilakukan tindakan. Viviane jelas tampak kaget mendengarnya. "Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak awal? Aku 'kan bisa menemanimu menemui Omamu. Kenapa kamu malah meninggalkanku sendirian? Kamu tahu betapa malunya aku semalam, Luca?" "Viviane, aku tahu, karena itu aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa membawamu menemui Oma. Kamu juga tahu sendiri, Oma tidak menyukaimu." "Kamu benar juga. Omamu membenciku dan lebih menyukai anak pembantu itu." "Oma tidak membencimu. Oma hanya belum menyukaimu." "Sudahlah, jangan menghiburku. Jadi, apa yang terjadi selanjutnya?" Luca memerhatikan Viviane tampak malas dan kesal saat membicarakan tentang omanya yang tidak menyukainya. Dia juga tahu siapa yang dimaksud Viviane. Zara. Gadis yang merawat omanya yang sejak dulu memang selalu berusaha didekatkan oleh omanya agar menjadi pasangannya. Bahkan di depan Viviane, hingga Viviane kadang marah dan kesal. Sayangnya, sekarang Luca harus menceritakan semuanya. Dia mau tak mau memberitahu Viviane, jika omanya telah mengajukan syarat yang sulit baginya agar mau diobati. "Aku diminta untuk menikahi Zara." "APA?" Viviane menjerit. Matanya melotot syok. Dia menatap kekasihnya dengan tak percaya. "M-menikahi Zara? Anak pembantu itu?" Luca mengangguk tanpa ragu. Membuat Viviane seketika bergeming di tempat. Dia merespon semuanya. Kejadian demi kejadian di mana ini semua terasa seperti mimpi. "Kamu tidak melakukannya kan? Luca, semalam kamu melamarku. Kamu tidak mungkin menikahi—" Kata-kata Viviane terputus saat dia melihat tatapan dan sorot mata Luca yang begitu sedih serta penuh rasa bersalah. Itu membuat Viviane tersentak kaget dan seolah ditampar fakta yang begitu menyakitkan. Tentu saja. Jawabannya sudah jelas, omanya sembuh dan Luca menatapnya tanpa bicara. Viviane kini hanya bisa tertawa miris. Tak percaya jika dia ditinggal menikah oleh pria yang semalam melamarnya. "Aku minta maaf, Viviane. Aku tidak punya pilihan lain. Aku benar-benar tidak mau Oma kenapa-kenapa. Kamu tahu bagaimana berartinya Oma untukku." "Jadi kamu lebih memilih mengorbankan hubungan kita?" Luca tidak berkata-kata. Dia melihat Viviane yang meneteskan air mata. Luca ingin sekali merangkulnya dan mengatakan jika dia akan mengatasi semuanya, tapi dia tahu, itu sulit. Dia tidak boleh lemah dan harus tegas. Bagaimana pun, meski pilihannya menyakiti mereka. Dia tidak mau menyakiti Viviane lebih dalam. "Maafkan aku. Ya, Viviane, kurasa, hubungan kita harus berakhir sekarang," ucapnya dengan nada yang begitu berat. Dia benar-benar tidak ingin mengatakannya, tapi dia tidak mau ada masalah di kemudian hari jika hubungan mereka dilanjutkan. "Berakhir? Setelah apa yang kita lalui, kamu mau mengakhirinya sekarang?" "Apa boleh buat. Kita tidak punya pilihan lain. Kamu model, menjaga reputasimu lebih baik. Kamu bisa tetap mengejar kariermu tanpa ada skandal buruk tentangmu, Viviane." Luca tidak mau mengambil risiko. Dia tidak ingin Viviane malah terlibat skandal yang kemudian akan menghancurkan reputasi mereka jika mereka masih bersama. Walaupun semua orang belum tahu soal pernikahannya, tapi menjauh dari sekarang lebih baik. Sayang, Viviane tampaknya berpikir berbeda darinya. Wanita itu tanpa disangka langsung menggelengkan kepala. Ekspresinya terlihat sangat serius. Berkali-kali lipat lebih serius dan tak ada air mata sedikit pun. "Tidak bisa. Aku tidak mau, Luca. Aku tidak mau putus denganmu." "Apa? Kenapa?" "Kamu milikku dan akan tetap begitu. Anak pembantu itu tidak ada apa-apanya bagiku dan dia tidak layak untukmu. Permintaan Omamu juga hanya menikahinya kan? Berarti kamu bisa menceraikannya kapan saja. Jadi aku akan menunggumu saat itu." Luca menganga mendengar perkataan Viviane. Kepalanya mendadak pusing. Omanya memang tidak pernah meminta hal lain selain menikahi Zara, tapi pasti, perceraian itu akan berusaha dicegah oleh keluarganya. Luca sangat mengenal orang tuanya dan omanya. Apalagi mereka sangat menyukai Zara. "Viviane, jangan konyol. Menceraikan Zara tidak semudah itu. Aku tidak yakin apa aku bisa melakukannya jika keluargaku tahu. Apalagi kalau mereka tahu kamu menungguku dan masih dekat denganku." "Kalau begitu, jadikan aku selingkuhanmu, tanpa perlu diketahui keluargamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN