Gagal

1020 Kata
"Halo, Na?" tertulis nama Arga di layar ponselku. "Halo, Arga?" "Iya, Na. Kamu lagi sibuk nggak?" Aku merebahkan diriku di tempat tidur sembari menarik selimut. "Enggak kok, Ga. Kirain kamu lupa buat nelepon aku." "Mana mungkin aku lupa, Na. Cerita kita dulu aja aku masih ingat sampe detailnya." Kali ini Arga telah berhasil membuat hatiku cenat-cenut. Malam itu rasanya begitu Indah jika aku bisa lebih lama berbincang dengan Arga, walau hanya lewat ponsel. "Na? Kok diem?" "Hmm, aku senang tau, Ga." "Hah? Maksudnya senang apa nih? Senang aku kabarin?" Aku tersenyum bahagia, entah karena apa, yang pasti aku ingin kembali mengingat saat itu bersama Arga. Sebenarnya, sejak tadi bertemu, aku sudah mulai menaruh hati pada Arga. Mungkin aku yang terlalu agresif pada Arga yang belum tentu merasakan hal yang sama sepertiku. Aku menyukainya bukan karena perubahan fisik yang terjadi padanya, namun---ia tak pernah sama sekali ingat bahwa dulu akulah orang yang paling sering mengejeknya di sekolah. Ia hanya ingat bahwa dari dulu hobiku tidak berubah, itu saja sudah membuatku menaruh rasa padanya. "Na, besok kamu sekolah kan? Aku mau ketemu, boleh?" "Boleh, Ga. Boleh bangett." Gumamku dalam hati. "Ya, kalau gak boleh juga gak masalah, Na. Lewat telepon juga aku udah senang." "Boleh kok, Ga, boleh banget malahan. Eh, kamu belum ngantuk nih? Udah malem tau." "Belum, Na. Aku masih ingin dengar suara kutu buku ini." "Hah! Arga.." "Kamu dulu gih yang tidur, jangan di matiin teleponnya biar aku bisa dengar embusan napasmu," Lagi-lagi Arga melontarkan kalimat yang membuat mataku tak mau terpejam. "Na? Udar tidur ya?" "Ga, aku gak bisa tidur!" "Kamu mikirin apa sih, Na? Sampe gak bisa tidur?" "Entahlah, mungkin karena aku terlalu sering minum kopi." "Wah..gawat nih. Jangan sering-sering, Na! Gak baik." "Kata siapa gak baik? Orang rasanya enak gitu." "Tuh kan lupa, kamu yang bilang, Na. Inget gak?" "Oh iya, Ga. Lupa, sory." "Iya deh, ayo tidur, aku nyanyiin mau?" "Haah, mau dong," "Mulai yah, tutuplah mata kamu, Na." "Iya, Ga, selamat malam." "Aku, akan..selalu ada disaat kamu marah... Disaat kau kecewa... dan butuh sandaran..." Setelah itu, aku tertidur dengan handphone yang masih menyala. Lagu itu kembali mengingatkanku saat SMP,  Arga pernah menyanyikan lagu itu. Memang benar kata orang-orang, kalau sedang jatuh cinta, dunia terasa milik berdua. Eits, tapi ini bukan milik berdua, hanya milikku sendiri. Aku tak mau berharap lebih jauh, kasihan pada perasaan yang terus menerus memikirkan dia. Dulu, Arga memang bukan pria impian yang kuharapkan seperti pada novel-novel yang sering k****a. Namun kali ini, aku rasa Arga sudah menjadi pria yang lebih dari yang kuinginkan. *** Kring.... Alarm di kamarku sudah menunjukkan pukul lima pagi. Langsung ku buka handphoneku dan ternyata Arga meninggalkan pesan, Satu pesan belum dibaca (Arga) Selamat malam, Na. Tadi aku sudah mendengar embusan napasmu. Aku bahagia sekali. Sampai bertemu besok. Bangun pagi kali ini, aku begitu bahagia, rasanya tak sabar ingin bertemu langsung dengan Arga. Sudah rindu saja. Tiba-tiba handphoneku berdering, dan lagi lagi tertulis nama Arga. "Halo, Na?" "Iya, halo Ga? Ada apa, Ga?" "Maaf ganggu waktu kamu, Na. Aku cuma mau bilang kalau hari ini aku gak bisa ketemu kamu, aku sekeluarga baru aja dapat kabar kalau nenek meninggal dan kami mau kesana nanti jam 7 pagi. Maaf ya, Na." "Ya ampun, Ga. Iya gak masalah kok. Kamu hati-hati ya, titip salam untuk mama kamu. Makasih udah ngabarin aku." "Iya, Na. Kamu gak marah kan?" "Enggak dong, Ga. Kamu jangan pikirin aku." "Hmm makasih, Na." "Iya, Ga." Harapanku untuk bertemu Arga hari ini, sirna. Ingin berbincang dan bertatap matapun sudah tidak di restui apalagi- ah sudahlah. Kembali seperti biasa, perasaan yang biasa untuk menjalani hari-hari yang hambar. *** "Eh, Na, Arga tanding lagi kan hari ini?" Seketika perkataan Saras membuat perasaanku semakin rapuh. "Duuh, gak sabar nih mau liat cowok ganteng itu." "Arga gak datang." Ucapku cetus pada mereka. "Hah?? Kenapa?" "Ada urusan katanya." Bosan sekali rasanya, untuk membaca novel pun rasanya tidak mood. "Kamu bohong ya, Na?" Saras menepuk pundakku dan membuatku semakin kesal. "UDAH DIBILANG DIA GAK DATANG!" entah kenapa tiba-tiba nada bicaraku naik seketika. Aku berdiri dan menatap tajam Saras. "Na?" saat itu juga aku sadar kalau yang baru saja aku lakukan adalah hal bodoh, bahkan sangat bodoh. "Maaf, Sar, kebawa perasaan." Aku duduk dan termenung ke arah lapangan yang sudah mulai ramai. Meski ramai, akan sama seperti sepi jika dia tidak hadir. Biasanya aku tetap bahagia walau tanpa kehadiran Arga. Namun, saat ia kembali hadir dalam hariku, semua terasa sepi tanpanya. Apa mungkin ini yang dinamakan jatuh hati? Ah, tidak mungkin. Arga itu temanku, teman baik bukan incaran yang kucari selama ini. Kring... "Halo?" "Halo, Na? Kamu lagi sibuk nggak? Aku ganggu gak?" "Gak, Ga. Aku lagi duduk di tempat kemarin." "Na, besok aku ke sekolah kamu. Nanti sore aku udah pulang." "Bagus deh, Ga." "Na?" "Iya?" "Kamu baik kan?" "Iya," "Gak ada masalah kan?" "Gak ada," "Beneran? Yaudah, aku mau kasih tau itu aja kok." "Iya, Ga." Ada apa ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba rasa kesal ini menggelayut di benakku? Arga hanya pergi sebentar, aku masih bisa bercerita dengannya nanti setelah dia pulang. Hati, tolong kuat ya. *** "Na, kamu pulang naik taksi?" "Iya, kalian naik apaan?" Saras dan Lara mempunyai hubungan darah, oleh karena itu mereka selalu pulang bersama dan aku kadang pulang sendirian kalau tidak bersama mereka. "Lara bawa motor, apa mau dianter dulu kamunya, Na?" "Oh, nggak usah, Sar. Aku nak ojek ajalah." Jujur saja, hari ini begitu hampa. Tak ada senyum yang melengkung di wajahku. Semua terasa begitu menyebalkan. Tidak ada pekerjaan yang baik hari ini, bahkan novel pun tak ku sentuh. "Na, kamu hati-hati ya." Ucap Saras dan Lara yang pulang lebih dulu dariku. Aku tengah berdiri di depan pagar sekolah sembari menunggu datangnya ojek untuk ku pulang. "Ojek!!" Sepanjang perjalan pulang, pikiranku masih saja tentang Arga. Kali ini Arga menghantui pikiranku. Resah ingin bertemu dan menghilangkan penat ini. "Mbak, bangau ini ya?" "Iya, bang. Belok kanan." Sesampainya di depan rumah. Aku bergegas berlari masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur, menutup kepala dengan bantal dan menangis. Tangisan apa ini? Entahlah, pastinya hari ini aku telah gagal bahagia. *** Salam kura-kura♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN