Diagnosis Dokter

875 Kata
"Yumna, kok gak sarapan? ini udah siang"  "Yumna gak enak badan, Ma" balasku dengan suara kencang. Krek... "Ini sarapan kamu" mama membawa sepiring nasi disertai lauknya dan segelas teh hangat. "Ma, buatin surat ya. Yumna gak sekolah hari ini." Mama menyentuh dahiku dan merasakan bahwa aku sedang benar-benar sakit. "Kamu panas, kita ke dokter aja ya, Na." "Paling cuma kecapean doang, Ma." Aku meminum teh hangat yang dibuat mama dan saat itu juga perutku terasa mual. "Udah, pokoknya kita ke dokter dulu. Mama mau ganti baju, kamu siap-siap." Tubuhku begitu lemas, kepala pusing dan perutku begitu sakit. *** "Apa Dok? Anak saya sakit Lupus Nefritis? " Aku yang duduk di sebelah mama, langsung terperangah mendengar ucapan dokter yang menyatakan bahwa aku mengidap penyakit Lupus Nefritis. "Iya, Bu. lupus Nefritis adalah peradangan pada ginjal. Hal ini menyebabkan ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik." "Mama..." air mataku jatuh dan aku meringis di pelukan mama. "Ini pasti bisa di sembuhkan ya, Dok?" "Bisa, Bu. Asalkan semua rangkaian pengobatan di ikuti dengan jadwalnya." Mama memelukku dan meyakinkanku bahwa ini akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di tangisi, ini akan sembuh. Rasanya, duniaku begitu hancur. Impian yang dulu aku rangkai kini bak pecah di hantam batu besar. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa itu Lupus Nefritis, tapi sepertinya itu sama dengan gagal ginjal. Ginjalku tidak bisa berfungsi dengan baik. Lantas, bagaimana aku harus menjalani semua hari-hariku ini? Tolong aku Tuhan. "Kamu jangan sedih, Mama akan selalu ada di samping kamu, Na. Mama janji" "Maafin Yumna, Ma." Suasana berubah menjadi kalut. Aku dan mama pulang dengan membawa kabar buruk yang sulit untuk dilalui. *** Kring... "Halo," "Halo, Sar," "Ini aku Arga, Na. Handphoneku baterainya habis jadi aku pinjam handphone Saras." "Oh iya, Arga. Ada apa, Ga?" "Kamu kenapa gak sekolah, Na?" Aku tak seharusnya membuat hati teman-temanku kecewa dan sedih. Cukuplah aku saja yang merasakan kesulitan ini dan mereka hanya perlu mendengar kabar baik saja dariku. "Hmm, aku nggak enak badan, Ga." "Kamu sakit apa, Na?" "A-aku cuma kecapekan kayaknya, Ga. Kamu gak usah khawatir." "Nanti pulang sekolah, aku kesana boleh? Aku ajak temanmu, Saras." "Boleh kok, Ga." "Kamu mau aku bawain apa, Na?" "Nggak, Ga. Aku lagi gak mau apa-apa." "Yaudah, kamu istirahat gih. Nanti aku kesana ya." Beberapa jam kemudian, aku berbaring termangu diatas tempat tidur. Berharap mereka membatalkan rencananya untuk menjengukku. Aku takut, sangat takut. Takut jika mereka menjauh dariku setelah mereka tahu tentang penyakitku. Tok... Tok.. Tok.. "Yumna, ada Arga sama Saras." Mama terlihat begitu bahagia saat Arga dan Saras datang menjengukku, berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. "Haiii!!" Saras berjalan beriringan dengan Arga saat masuk ke dalam kamarku. Aku yang tengah berbaring, langsung duduk dan menyambut kedatangan mereka. "Kamu beneran sakit, Na? Kamu sakit apa?" Saras duduk di hadapanku dan Arga masih berdiri melihat keadaanku yang begitu tidak baik. Aku berusaha tersenyum dan meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. "Kamu pucat, Na" Saras menyentuh wajahku dan mengatakan pada Arga kalau tubuhku sangat panas. "Biasa aja kok, Sar. Arga duduk disini aja." Aku meminta Arga untuk duduk di atas tempat tidurku. "Ini, tadi di jalan Saras bilang kamu suka roti bakar." "Wah, terima kasih ya." "Jujur, Na. Kamu sakit apa? Udah cek dokter kan?" ucap Saras yang membuat pikiranku berputar. Tiba-tiba mama masuk sambil membawa teh hangat untuk mereka berdua. "Tante, Yumna sakit apa sih?" Saras mendekati mama dan memaksanya untuk memberitahu tentang penyakitku. "Hmm.. Yumna cuma kecapean." "Ah tante, sama aja. Gak mau bilang." "Eh ini Arga gak sekolah?" mama menepuk pundak Arga. "Ini tante, kebetulan Arga lagi ikut lomba di sekolahnya Yumna. Jadi Arga bisa izin buat kesini." "Oh gitu, yaudah tante mau ke belakang dulu ya. Ikannya Yumna udah kelaperan" Seketika Saras dan Arga tertawa mendengar ucapan mama. "Ikan itu masih hidup, Na?" tanya Saras. Ikan koki itu adalah ikan yang aku beli bersama Saras dan Lara di pameran tahunan. Ikan itu ku beri nama Ucup, entah kenapa saat itu yang ada dipikiranku hanyalah nama Ucup yang cocok untuknya. "Ikan apa, Na?" tanya Arga. "Ucup, namanya." Arga tertawa seraya menggelengkan kepalanya. "Emang namanya Ucup ya, Sar?" "Iya, Ga. Namanya emang Ucup." Aku begitu senang karena hari ini aku masih bisa tertawa bersama teman-temanku. Tapi di lain sisi, hatiku begitu hancur dengan diagnosa dokter. Bukan hanya itu, melihat raut wajah Saras dan Arga yang terlihat sangat bahagia karena bisa bersama-sama menjengukku. Aku cemburu.  Jujur saja, mereka berdua seolah telah menjadi pasangan yang cocok sekali. Mungkin tuhan lebih ingin Arga bersama Saras. "Eh kalian berdua aja? Lara mana?" tanyaku. "Hmm.. Lara ada kerjaan sama papanya." Terlihat, Saras seperti tengah menutupi sesuatu. "Kalian kesini naik apa?" "Naik motornya Arga." Ucapan Saras membuatku begitu cemburu. Tapi aku berusaha agar bisa tetap tersenyum. "Kamu tau gak, Na. Arga bawa motornya pelannn banget." Ucap Saras seraya mempraktikan saat Arga memboncengnya. "Itu kan kamu yang minta, Sar. Biar aku gak ngebut." Jawab Arga sambil tertawa melihat kekonyolan Saras. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya mampu tersenyum melihat percakapan mereka berdua. Ku buang semua prasangka buruk pada Saras. Berusaha tetap berpikir positif untuk semuanya. Mungkin hari ini aku memang benar-benar terpuruk dalam segala hal, tapi aku percaya bahwa setelah keterpurukan ini akan ada masanya aku bahagia. Iya, aku sangat percaya. *** Salam kura-kura♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN