Part 9
"Daniyal teman kamu masih otw kah ke sini? "tanya Nadya yang kini tengah mempersiapkan alat-alat memasak dan untungnya semuanya telah dicuci bersih oleh pembantunya.
" Iya bunda. "Daniyal tengah menunggu di ruang makan.
" Bunda nanti teman kakak banyak yang ke sini? "tanya Nevan yang duduk di samping Daniyal.
" Emm ada 5 orang kata temennya a a. Bener gak a? "tanya Nadya lagi pada Daniyal.
" Iya bun. "
" A a gambar mulu ya. "Nevan menatap Daniyal yang tengah serius menggambar.
" Katanya kamu ingin mobilmu digambar a a. "Daniyal menoleh menatap adiknya itu.
" Iya deh, nanti biar Nevan aja yang mewarnai. A a gambar banyak ya! "pinta Nevan.
" Iyaya. "
" Yaudah Nevan ke atas dulu mau mainan. "Nevan segera berlari menuju kamarnya.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu membuat Nadya langsung bergegas menuju pintu utama. Sebelum membuka pintu, ia mengintip dari jendela melihat siapa yang datang dan ternyata adalah teman-teman Daniyal.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka menampilkan empat orang teman Daniyal tapi yang membuat Nadya terheran dan tertawa yaitu dua teman Daniyal yang ia ketahui namanya Elang dan Satria itu tetap memakai helm fullface di kepala mereka.
"Eh kalian berdua kenapa masih pakai helm, taruh aja di rak helm sana. Kan kalian sering ke sini. "
" Anu bunda, kita lagi antisipasi takut terkena cipratan minyak goreng."Satria tampak melepaskan helmnya disusul Elang yang juga sama melepaskan helm miliknya.
"Kan masaknya nanti, emang kalian udah belanja?"Nadya menggelengkan kepalanya pelan lalu ia menoleh samping Elang dan Satria. Ada dua gadis yang asing baginya.
"Halo tante. "sapa dua gadis itu dan langsung mencium punggung tangan Nadya.
" Hai, panggil Bunda saja ya. "Nadya tersenyum ramah.
" Masuk dulu yuk, oh ya nama kalian siapa? Bunda belum pernah lihat kalian. "Nadya merangkul dua gadis itu untuk berjalan masuk ke dalam.
" Langsung ke dapur saja!"ajak Nadya pada elang dan Satria.
"Iya bunda,"balas mereka berdua yang langsung ngancir ke dapur terlebih dahulu karena memang sudah akrab main di rumah Daniyal.
"Nama saya Meilee, bunda. "
" Saya Brylea, bunda. "Lea sedikit merasa gugup ketika ditatap bundanya Daniyal. Sungguh sangatlah cantik pantas saja Daniyal sangat tampan apalagi Adit.
" Wah sama seperti nama ayahnya Daniyal, ada Bry-nya di depan. Kalau nama ayahnya Daniyal itu Bryan. "
" Itu sangat kebetulan sekali. "kedua orang tertawa pelan.
Kini mereka tengah berada di ruang dapur, Lea akan meneriaki nama Daniyal namun segera ia menutup mulutnya kala teringat ini di rumah sapa. Lea menatap berbinar ketika Daniyal menatapnya walau itu hanya sekilas saja.
" Mau masak apa nantinya? "tanya Nadya pada mereka semua.
" Gimana kalau ikan gurame bakar madu? "usul Elang.
" Emang lo bisa masak? "tanya Satria meremehkan Elang.
" Gue pernah nyoba waktu tahun barunan kemarin sama keluarga. Enak kok, gue inget tapi nanti googling deh biar lebih paham. "Elang menggaruk tekuknya yang tak gatal.
" Bunda pernah nyoba buat gurame bakar tapi kalau ada madunya sepertinya bunda gak tau. Tapi nanti bunda usahain bantu kalian. "Nadya tersenyum.
" Tenang bunda, nanti kalau bunda itu sibuk sama kerjaan lagi gapapa kok ditinggal. Ini urusannya Elang, dia ketuanya,"ujar Mei sambil tertawa pelan.
"Eh apaan sih lo! "Elang melototkan matanya ketika bertatap muka dengan Mei. Mei ikut membalas melototkan matanya juga.
" Udah udah jangan berantem, ini urusan semuanya bukan salah satu dari kalian. Lagian sama-sama saling membutuhkan juga kalian."
"Betul!"pekik Elang senang.
"Siapa yang belanja? "tanya Nadya pada mereka
" SAYA!! "semuanya kompak mengangkat tangan kecuali Lea.
Nadya tersenyum penuh arti ketika mengetahui Lea kebingunan dengan yang lain sebab sedari tadi memandangi wajah anaknya.
" Emm biar bunda saja yang nentuin. "
Semuanya terdiam menunggu ulasan Nadya.
" Eh bunda baru inget, bukannya besok disajikan ya? Tapi kok kelompok pagi? "
" Gini bun, Elang lupa bilang sama bunda. Kita kan gak bisa kalau kelompok malem-malem, boleh gak bun kalau biar bunda saja yang menyajikan. Nanti biar saya sama Pio yang bantu besok pagi. Gapapa yang bun? "tanya Elang menatap Nadya penuh harap.
" Ya gapapa bunda maklumin lagian ini untuk nilai Daniyal juga. Besok juga bunda gak terlalu sibuk. "
" Terus Pio dimana? "
" Nanti nyusul katanya bun. "
" Terima kasih bun, "ujar semuanya pada Nadya.
" Sama-sama, emm nanti yang belanja itu Elang, Daniyal dan... Lea. Gimana? Ada yang keberatan? "
" Bunda, Aku malah sangat keberatan sekali. Kenapa gak Mei saja, kenapa harus gadis ini? "Daniyal mengangkat tangannya, ia tak terima dengan keputusan bundanya itu.
" Mei biar sama bunda nyariin cara memasaknya, soalnya bunda butuh Mei sama Satria di sini. "
" Kalau begitu biar Elang sama Daniyal saja bun. "Daniyal tetap berusaha menolak.
" Kenapa sih kamu sama Lea? Lea juga gak ngapa ngapain kamu kan? "Nasya mendekat pada Daniyal, ia mengusap bahu anaknya itu.
Gak ngapa ngapain? Rewel sih iya, bisa bisa malu maluin nantinya- Daniyal. Tujuannya untuk belanja adalah menghindar dari Lea tapi malah bundannya sendiri meminta Lea juga ikut dengannya.
" Udahlah Yal, biarin Lea juga ikut. Lea mau ikut kan? "tanya Elang pada Lea.
" Kalau ada Daniyal, Lea ikut kok. "Lea menganggukkan kepalanya beberapa kali menatap Elang sambil tersenyum lebar.
" Sip deh! "
Daniyal menghela napasnya pasrah, ia sempat melirik Satria yang malah cekikikan sendiri di sana.
...
" Bunda tadi sempat kasih pesan kalau gak usah beli ikan karena temen bunda ada yang jualan jadi kita beli bahan-bahan yang lain aja,"ucap Daniyal yang baru saja mendapat pesan dari bundanya lewat aplikasi berwarna hijau diponselnya.
"Oh gitu, yaudah kita cus ke sana! "ajak Elang, ia membawa catatan kecil dari bundanya Daniyal.
Daniyal dan Lea berada di belakang Elang sambil melihat-lihat bahan bahan bumbu dapur.
" Bisa gak lo diem? "Daniyal menepis tangan Lea yang beulang kali merangkul lengannya.
"Gak bisa." Akhirnya Daniyal pasrah ketika tangannya dibuat mainan oleh Lea.
Lea mendumel pelan karena tak tau bumbu dapur sedangkan Daniyal masih bisa membantu Elang dengan apa yang ia ketahui karena sempat pernah membantu bundanya memasak.
"Elang, pernah masak? "tanya Lea yang tiba-tiba ikut berjalan di samping Elang.
" Sering gue masak, apalagi sejak bokap gue meninggal ya gue harus bisa siap sedia ketika ditinggal nyokap gue kerja. Nyokap gue juga bilang ke gue kalau bisa usaha masak sendiri yahh buat belajar kalau suatu saat nanti gue kuliah di luar kota dan tinggal sendiri."Elang tersenyum tipis.
"Yahh Lea minta maaf, Lea gak tau ayah Elang meninggal, turut berduka cita ya. "Lea mengusap bahu Elang lembut.
" Iya, nih bawain keranjang belanjaan, gue yang milih. Gak berat kok. "Elang memberikan keranjang belanjaan pada Lea. Lea tersenyum dan mengangguk mengerti.
" Daniyal beli s**u kotak. "rengek Lea pada Daniyal.
" Beli sendiri sana, punya uang kan? "
" Lea lagi gak punya duit. "
" Biar gue aja yang beliin."Elang akan berjalan menuju showcase cooler yang tak jauh dari mereka berdiri namun Daniyal segera menahan.
"Biar gue aja, lo urusin ini dulu. "
" Emm baiklah. "
Kini Daniyal disusul Lea menuju showcase cooler, Daniyal yang berjalan terlalu cepat membuat Lea segera menarik tangan Daniyal.
" Jalannya jangan cepet-cepet dong Iyal! "gerutu Lea.
" Ck! Kenapa lo harus ikut? Sana temenin Elang! "Daniyal merasa geretan sendiri melihat Lea yang seperti parasit baginya.
"Lea maunya sama kamu." Lea mengedipkan sebelah matanya membuat Daniyal langsung mengusap wajah Lea.
"Gak usah sok centil! Muka jelek aja pamer! "
" Yee Lea kan memang gini, tapi juga cantik dan banyak yang suka Lea. "
" Bodo amat! "Daniyal melanjutkan jalannya tadi.
" Hih selalu begitu! "
Kini Lea dan Daniyal sudah berada di antara snack dan minuman. Daniyal berniat membeli makanan ringan untuk teman-temannya serta dua adiknya di rumah.
" Daniyal beliin buat Lea ya? Wahh makasih! "Mata Lea berbinar binar menatap bungkus jelly yang dipegang Daniyal.
" Ini buat adik gue bukan buat lo, geer! "
" Tapi Lea juga mau!"rengek Lea manja.
" Ck! Nyusahin! "kini Daniyal juga membelikan gadis itu makanan ringan.
Setelah selesai Daniyal dan Lea kembali lagi menuju tempat Elang berada.
" Sudah selesai? "Tanya Daniyal pada Elang.
" Sudah tapi kasirnya ramai. "Elang menatap tempat kasir itu yang ternyata antreannya panjang.
" Elang, Lea masih cantik kan? "tanya Lea pada Elang.
" Iyaya cantik. "Elang menepuk pelan puncak kepala Lea membuat Lea tersenyum lebar.
Daniyal menatap pandangan mereka berdua itu entah mengapa hatinya terasa panas namun ia segera menepis perasaan ini yang baginya tak penting.
...
" Bunda lo tadi tiba-tiba sibuk dan untungnya sempet buat caranya. "Satria memberitahukan kepada tiga temannya itu yang baru saja kembali dari belanjanya.
" Ya sudah kita langsung masak aja. "Daniyal langsung mengeluarkan bahan-bahan yang tadi dibeli dan ditaruh di atas meja dapur.
" Eh yang ngevideoin kita? "tanya Elang pada teman-temannya.
" A a ada temen a a! "teriak adik Daniyal yang perempuan membuat Daniyal kangsung bergegas menuju pintu utama yang di mana Syifa tengah ikut membersihkan mobil kesayangan di halaman depan rumah bersama sang supir dan Nevan.
" Lhoh Pio? Katanya masih belum pulih? "tanya Daniyal yang terkejut melihat Pio berdiri di depannya sebab tadi ibunya Pio trlah memberikannya pesan kalau Pio masih sakit dan tak bisa ikut kelompok.
" Gue udah sehat Yal. "Pio menyengir lebar meski wajahnya masih terlihat pucat.
" Yaudah yuk masuk, lo bawa kamera ya? "tanya Daniyal pada Pio ketika sebuah tas kamera tengah dibawa oleh temannya itu.
" Iya, gue juga bawa laptop di tas. "
" Lo lagi sakit tapi maksa. "
" Ck! Dibilangin gue udah sembuh kok. "
Ketika berada di ruang dapur, Pio disambut hangat oleh teman-temannya yang lain.
" Wahh tepat sekali, kameramen datang ke sini! "pekik Satria sambil bertepuk tangan disusul dengan yang lain.
" Kuy, dimulai dari sekarang! "kini mereka semua menjalankan tugasnya masing-masing setelah ditentukan bagiannya.
Elang tengah membersihkan ikan gurame dibantu Satria lalu disusul Daniyal menyiapkan wadah yang akan dibutuhkan nantinya. Mei mulai mengupas bawang merah sedangkan Lea entah apa yang ia lakukan. Ia hanya berdiam sambil menatap teman temannya padahal ia diberi tugas yang sama seperti Mei. Pio bertugas keliling merekam apa yang dikerjakan teman temannya.
"Wah ini nih si kembar komplak lagi membersihkan ikan gurame. "Pio merekam Elang dan Satria tengah serius bekerja sama membersihkan ikan namun perkataan Pio membuat dua orang itu menjadi bertengkar.
" Yee siapa yang kembar? Gue kali yang lebih ganteng dari dia!"seru Satria dengan tingkat kepercayaan dirinya.
"Fokus b*****t!" hampir saja mata Elang terkena cipratan jeruk nipis dari tangan Satria.
"Lebih baik kita lanjutkan merekam yang lain, ah ini nih si bapak Daniyal lagi mengupas jahe! "Satria semangat merekam teman-temannya itu. Dia bagian merekam dan membuat laporan.
" Mata gue perih, ah gue gak mau ngupasin bawang! "rengek Lea dan hampir saja membuang bawangnya kalau saja tidak ditahan oleh Daniyal yang berada di sebelahnya.
" Jangan dibuang! Sini biar gue aja! Lo cuci tuh bawang putih dari Mei!"suruh Daniyal pada Lea.
"Gak mau! "Lea menggelengkan kepalanya lalu ia menyerah dan duduk saja.
" Lea maunya waktu goreng. "
" Jadi cewek itu harus bisa masak nanti kalau lo punya suami gimana nasib suamimu dan anak-anakmu nanti,"kata Pio.
" Lea maunya nanti belajar masaknya waktu udah nikah. "Lea cemberut dan malas kerja kelompok seperti ini. Ia hanya ingin makan saja daripada repot repot memasak.
" Pio, lo ngerekam aja. Tuh anak gak usah diladenin, biarin aja,"ucap Daniyal.
Menunggu bermenit menitan membuat Lea jengah sendiri apalagi kotak s**u yang dibelikan Daniyal tadi masih disita oleh Daniyal. Sekarang ia hanyamelihat teman-temannya yang sedang sibuk.
"Mei, Lea mau mau ngupas Lengkuas. "Lea menghampiri Mei yang sedang sibuk dengan tugasnya.
" ini, hati-hati ya soalnya tajem tuh pisau. "Mei khawatir melihat Lea yang mengupas.
" Iya Mei."
"Gue bantuin yang lain dulu. "Mei berjalan mendekati Satria dan Elang untuk mengarahkan dua cowok itu.
Lea tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Aw! "ringis Lea dengan suaranya pelan ketika beberapa detik saja bekerja, jarinya tergores pisau.
Daniyal mendengar suara ringisan Lea pun segera menoleh. Ternyata jari telunjuk gadis itu tergores pisau dan dengan sigap Daniyal langsung menarik Lea, menyuruh gadis itu duduk di kursi sedangkan ia mencari kotak obat di rumahnya.
"Lea lo kena gores? "tanya Mei.
" dikit doang kok, gapapa. "anehnya Lea tak menangis padahal goresan itu cukup panjang.
Pertanyaan Mei itu langsung membuat ketiga cowok yang tengah sibuk sekarang menatap Lea.
" Lea, lo kenapa? "tanya Satria mulai mendekati Lea.
" Gapapa kok, ishh kalian ngapain ke sini. Udah lanjutin tugas kalian. "
" Lo kegores pisau sampai begini. "Elang melihat jari telunjuk Lea. Pio pun juga tak lupa masij merekam kejadian ini.
" Minggir kalian, gue ngobatin nih cewek bodoh. "Daniyal datang membawa kotak obat membuat teman-temannya minggir.
" Oh ada Daniyal, yaudah kita lanjutin masak deh. "Satria mengajak teman-temannya untuk melanjutkan memasak.
" Lea di sini aja ya, lo gak usah masak, "kata Elang tersenyum lembut.
" Emm iya. "Lea tersenyum menatap teman-temannya yang mengerti dirinya.
Lea menahan rasa sakit itu ketiga mulai diobatin oleh Daniyal dan menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tak mau menangis di depan teman-temannya terutama cowok yang ia sukai. Ia harus terlihat kuat meski pura-pura merasa kuat itu terkadang menyakitkan.
Daniyal menatap Lea yang tengah menutup mulut dengan tangan kanan yang tak tergores pisau, sepertinya gadis itu menahan agar tak berteriak kesakitan.
Dia bukannya menangis seperti kebanyakan cewek lainnya, padahal dia cewek centil, alay juga. Malah dia berusaha menahan biar gak nangis, aneh memang - batin Daniyal.
"Udah selesai, jangan masak lagi. Cukup lo duduk di sini saja daripada nyusahin yang lain! "Daniyal pun berlalu setelah mengucapkan kata itu pada Lea.
" Lea jadi ngerasa gak guna ya di sini. "Lea tersenyum kecut. Padahal ia berusaha agar bisa namun selalu saja ada aja halangan yang menimpanya.
...
Akhirnya setelah berjam-jam lamanya kini telah selesai. Bertepatan itu pula Adit pulang ke rumah setelah kencannya dengan Kirana. Adit mengaku senang melihat makanan enak tersaji di depannya.
"Ini hasil kerja keras kalian? Wah hebat hebat, enak banget! "pekik Adit ketika merasakan ikan bakar gurame madu yang baru kali ini ia makan. Sebab ia tak tau jika ada masakan ikan bakar gurame madu.
" Ya dong siapa yang masak dan bakar ikannya kalau bukan gue? "dengan bangganya Elang menepuk dadanya sendiri. Hampir semuanya ia kerjakan sendiri sebab ketika Satria dan Daniyal mencoba, bukannya enak dilihat tapi bikin malas melihat ikan gurame yang gosong.
" Suatu saat nanti punya keinginan jadi chef Lang? "tanya Nadya pada Elang.
" Wah kalau itu gak tau bun. "Elang terkekeh pelan.
" Enak ya Van? "tanya Daniyal pada adiknya yang sedang makan dengan lahap. Nevan mengancungkan jempolnya mantap.
Ketika selesai makan siang, mereka tak langsung pulang melainkan mampir ke ruang bermain dan di sana juga terdapat beberapa mainan milik anak-anak keluarga Bryan dan Nadya.
Dengan gembiranya Satria dan Pio memainkan salah satu game milik Daniyal apalagi kalau buka Playstation sedangkan Nevan, Elang serta Mei bermain balok susun uno. Lea dan Daniyal duduk di kursi melihat mereka karena jujur mereka akan menebak dirinya sendiri akan kalah kalau bermain.
"Daniyal, kamu punya gitar gak? Lea pengen mainan gitar. "pinta Lea pada cowok itu. Entahlah tiba-tiba Lea teringat jika ingin bermain gitar setelah melihat vlog orang mengcover lagu dengan memainkan gitar diyoutube.
" Males,"balas Daniyal tanpa menoleh pada Lea dan fokus menatap kayar ponselnya. Ia mencoba menggambar dengan menggunakan fitur aplikasi yang diusulkan temannya.
"Daniyal, Lea males kalau gini. "
" bukan urusan gue! "
" Daniyal!"rengek Lea manja sambil menggoyangkan lengan Daniyal.
"Apaan sih Le! "bentak Daniyal merasa terganggu.
" Ajarin Lea main gitar, jangan main hp mulu gak baik untuk mata! "
" Mata mata gue, bukan mata lo kan? "Ucapan pedas itu tentu menyakiti hatinya namun Lea mencoba tersenyum.
Gadis itu menatap Elang yang telah selesai main game. Mungkin cowok itu terlihat kalah sebab wajahnya menunjukkan jika ia kesal setelah bermain.
" Elang! "panggil Lea pada Elang.
" Iya Lea, napa? "kini Elang mendekat ke arah Lea dan duduk di samping gadis itu.
" Elang bisa main gitar? "
" Bisa kok, pengen belajar ya lo? "Elang tertawa pelan sambil menoleh pipi Lea.
" Betul banget, gue pengen belajar. "
" oke, Nevan! "cowok itu memanggil adiknya Daniyal.
" Iya kak kenapa? "tanya Nevan bingung menghampiri Elang yang duduk di sofa.
" tau gitarnya kakak lo gak? "
" oh gitar, ada di lemari itu, tinggal buka aja gak dikunci kok. "
" Oke makasih , yaudah lanjutin main sana sama kak Mei."
"Sama-sama kak. "
Kini gitar milik Daniyal sudah berada ditangannya. Suara gitar dari do remi fa so la si do itu terdengar indah bagi Lea. Setelah itu Elang mulai mengajari Lea, Lea merasa kesulitan namun Elang mengajari gadis itu dengan sabar tentunya.
" Daniyal, lo gak cemburu tuh pacar lo ntar diembat Elang? "bisik Satria di samping telinga Daniyal.
Ucapan Satria membuatnya langsung menatap dua orang di sampingnya.
" Ngapain cemburu. Dia bukan sapa sapa gue. "
" Yakin nih, lihat noh tangan Elang meluk Lea. Mesra banget nih mereka. "Satria tak gentar menggoda Daniyal.
Daniyal menatap dua orang itu tapi ketika tangan Elang hampir menyentuh perut Lea, entah mengapa tangannya reflek memukul lengan Elang.
" Waduh, lo ngapain mukul tangan gue? "tanya Elang bingung.
" Emm. "Daniyal juga bingung, itu hanya reflek tangannya saja tapi mengapa ia merasa tak suka.
" Daniyal cemburu ya? "tanya Lea dengan wajahnya yang polos.
"KAGAK!"Daniyal pun beranjak pergi dari ruangan dari ruangan ini.
Lea menatap punggung Daniyal pun tersenyum penuh arti.
...