Hujan sudah reda dan Nina sudah siap di depan rumah kostnya. Pakaian yang ia kenakan sangat simpel saja, ia tidak jadi pusing-pusing untuk memilih pakaian apa yang harus ia kenakan untuk makan malam bersama dengan Brian, karena ternyata Nina dan Brian tidak makan berdua, tetapi bertiga bersama dengan Brina.
Tidak perlu menunggu lama, mobil Brian sudah berhenti tepat di depan rumah kostnya. Tidak perlu menunggu sampai Brian atau Brina mengiriminya pesan, memberitahu jika mereka sudah sampai di depan rumah kostnya, Nina sudah muncul ketika pintu gerbang dibuka dan tidak lupa juga Nina menutupnya setelah benar bahwa yabg sudah datang adalah mobil Brian.
Brian menurunkan kaca jendelanya. "Na, ayo," katanya yang langsung meminta Nina untuk naik ke mobil. Sudah pasti, Nina tidak duduk di bangku penumpang di bagian depan, melainkan duduk di bangku penumpang bagian tengah. Sudah pasti saja yang duduk di sebelah Brian adalah Brina sang kekasih laki-laki itu.
Nina pun mengangguk sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Aroma parfum mobil ini masih sama seperti tadi sore dengan aroma kopi yang cocok bagi Nina, sehingga ia tidak perlu menahan pusing seperti jika ada pewangi rasa jeruk yang biasanya ada di dalam mobil taksi online. Memang, selera Brian cukup membuatnya nyaman sampai sekarang.
"Mau makan apa nih, Nin?" tanya Brina yang duduk di depan. Perempuan itu sibuk menoleh menatap Nina dengan wajah cerahnya dengan sekilas. Setelahnya Brina sibuk dengan ponselnya yang terus saja bergetar beberapa kali, sepertinya memang Brina cukup sibuk hari ini.
Nina tidak menjawab, karena sudah pasti jika Brina sedang sibuk dengan ponselnya, fokusnya seratus persen akan berada di ponselnya. Merasa peka, akhirnya Brian yang kembali menanyakan kepada Nina. "Na, mau makan apa?" tanyanya setelah hening yang terjadi beberapa saat di antara mereka.
Nina tidak perlu berpikir. Karena yang mengajak makan malam adalah mereka, jadi yang berhak menentukan menu makan malam adalah mereka, bukan dirinya. "Terserah aja, Kak. Aku ngikut," kata Nina.
Brina memang masih fokus pada ponselnya, tetapi rupanya ia tetap mendengar apa yang dikatakan Nina. "Kok terserah sih, Nin? Kan gue sebagai makhluk Tuhan yang doyan makan jadi bingung. Lo maunya apa deh, nanti kita yang ngikut. Gue sama Brian bisa makan apapun kecuali yang dilarang. Jadi, ayo mau makan apa?" kata Brina yang cukup panjang, menyerahkan menu makan malam hari ini kepada Nina sepenuhnya.
Brian juga mengangguk dan setuju. "Iya, Na. Kami nggak ada alergi apapun kok. Jadi mau makan seafood ya ayo, makan masakan jawa ya ayo, makan sate Madura ya ayo, makan makanan china ya ayo, makan makanan korea ya ayo-"
"Sebut aja semua makanan dari empat ratus negara," kata Brian yang memotong ucapan Brian.
Brian pun terkekeh. "Na, ayo pilih. Si Brina udah kelaperan nih, kalo terlanjur laper dia bisa kayak singa lhoh galaknya!" ucap Brian dengan bercanda, yang langsung mendapatkan tampolan di lengan kirinya oleh Brina yang berdecak sebal.
Ditampol begitu membuat Brian semakin terkekeh saja. "Kamu jangan nampol-nampol mulu dong. Sakit tahu!" katanya yang nada dibuat seperti orang ngambek, padahal Brian masih terkekeh saja.
"Kamu nyebelin!" Kini Brina yang balik ngambek. Ia melipat tangannya dan menautkan kedua alisnya tidak mau menatap Brian.
"Ayo, Na. Cepet. Mau makan apa? Brian keburu ngamuk-ngamuk!" kata Brian yang tergesa-gesa. Sejatinya laki-laki itu hanya bercanda saja. Nina tahu itu, tetapi ada sedikit gemetar yang ia rasakan. Bukan gemetar karena gugup dekat dengan Brian, tetapi seperti ada perih yang menjalar di lubuk hatinya. Nina baru menyadari jika rasanya bisa seperih ini. Melihat Brina dan Brian saling bercanda, membuatnya merasa seperti tidak ada.
"Na, kok diem aja?" tanya Brian yang justru berucap pada Nina alih-alih pada Brina yang sedang ngambek di sampingnya. Sesekali Nina bisa melihat Brian yang mencuri pandang pada Brina sambil terkekeh, sepertinya memang laki-laki itu sengaja membuat Brina terus-terusan ngambek.
"Eh iya, Kak?"
"Kamu mau makan apa, Na?" Brian mengulangi pertanyaannya yang tadi.
Sementara Brina sudah selesai ngambek. Ia kembali menoleh pada Nina yang duduk di belakang. Brina berbisik dengan menutup mulutnya daru samping agar Brian tidak tahu apa yang perempuan itu ucapkan. "Nin, sambal cumi aja," kata Brina yang tanpa suara.
Nina langsung mengangguk saja. "Boleh, Kak," katanya.
"Jangan ngikut Brina, kan yang aku tanya kamu, bukan Brina," ucap Brian yang lagi-lagi membuat Brina kesal.
"Terserah deh!" Brina ngambek lagi.
"Kak Brian, Kak Brina ngambek lagi," kata Nina dengan polosnya. Padahal tanpa Nina harus laporan, Brian juga tahu jika adiknya alias yang sekarang berperan jadi kekasihnya itu sedang ngambek. Kali ini Brina benar-benar ngambek karena Brian tahu sekali jika tadi Brina berbisik tentang sambal cumi, makanan favorit Brina sejak pertama kali ia mengajaknya ke tempat makan itu, hingga hampir dua kali sepekan mereka harus ke sana untuk menikmati sambal cumi dengan irisan petai yang sangat pedas dan sedap sekali bagi Brina.
"Brina, kita satu minggu ini udah dua kali makam sambal cumi lho. Masa mau makan sambal cumi lagi? Apa nggak bosen? Ah, kasihan perut kamu dikasih makan yang pedas mulu." Brian bersuara untuk menegur kekasihnya. Ia benar-benar tidak bisa jika harus menuruti keinginan Brina yaitu tentang sambal cumi yang super pedas. Brina memang suka makan makanan pedas, tetapi seringkali perutnya yang tidak kuat. Setelah makan sambal cumi, biasanya Brina perlu kelapa hijau untuk menetralisir rasa panas di perutnya. Atau jika sedang tidak ada, maka perempuan itu akan langsung bolak balik ke kamar mandi. Lebih parahnya, ia sampai pingsan karena tidak kuat menahan perutnya yang sakit akibat makan makanan pedas. Beruntung, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter tidak pernah memvonis Brina, hanya saja dokter selalu meminta perempuan itu untuk mengurangi makanan pedas. Alhasil, Brian hanya mengizinkan Brina untuk makan sambal cumi maksimal dua kali dalam sepekan. Jika di luar itu Brina makan menu pedas lainnya, maka akan ketahuan karena setiap hari Brian selalu bertemu Brina di rumah kost Brina dan Brian sangat tahu jika efek samping dari makanan pedas yang dikonsumsi Brina sangat jelas nampak terlihat.
"Ya udah, terserah. Gue ngikut aja!" kata Brina dengan ketusnya.
"Malam-malam habis hujan kayaknya enak makan sop ayam aja, Kak." Akhirnya Nina memberikan jawaban tentang menu apa yang ia inginkan.
Mendengar Nina mengucapkan sop ayam, Brina nampak kembali riang. Ia tersenyum pada Nina dengan menoleh dan mengacungkan dua jempolnya pada perempuan itu. "Ide bagus, Nin!" Selanjutnya Brina menatap Brian dan menepuk lengannya. "Ayo, cari sop ayam!" katanya yang memerintah.
"Bukannya nggak mau nyari sop ayam ya, tapi malam-malam begini nggak ada yang jualan sop ayam. Seriusan deh. Sop ayam adanya jam sarapan sama makan siang aja, Brin, Na," kata Brian yang memang tahu jika sop ayam sangat jarang bisa ditemukan pada malam hari.
Brina nampak kecewa. "Yah, gue kecewa nih."
"Yang kuah-kuah deh, Kak. Asal jangan bakso aja ya, bosen banget!" kata Nina lagi dengan kekehannya.
"Aku juga bosen bakso, Na."
"Asal jangan bosen sama gue aja!" Brina menyahut. Langsung saja tangan kiri Brian mengusap puncak kepala Brina.
"Nggaklah."
Kemudian, desiran perih kembali terasa di ulu hati Nina ketika menyaksikan hal sederhana itu.