"Yah, kok hujannya makin deras aja," keluh Brina ketika mereka masih belum juga menemukan tempat makan mana yang akan mereka kunjungi dan mendadak hujan yang lebih deras dari sebelumnya turun kembali membasahi jalanan.
"Alhamdulillah, pasti tempat makan di sambal cumi juga basah." Berbeda dengan Brina, Brian justru bersyukur. Sontak saja perempuan yang ada di sebelahnya itu kembali memukul lengannya dan membuat Brian merintih tetapi tetap terkekeh.
"Nggak usah dibahas ngapa sih!" ucap Brina dengan ketus.
Sementara itu, Nina tidak peduli dengan mereka berdua. Ia malah asyik menikmati pemandangan di luar mobil di mana air hujan mengalir dengan derasnya. Malam memang belum larut, tetapi berhasil membuat perempuan itu menjadi mengantuk. Ia pun memilih untuk menyenderkan kepalanya dan memejamkan mata sembari menikmati derasnya hujan yang samar-sama bisa ia dengar.
"Gimana kalau drive thru mekdi aja? Makannya di mobil sambil lihatin hujan sambil muter-muter gitu," ucap Brina yang memberikan ide, tetapi langsung mendapat gelengan kepala dari Brian.
"Nggak, jangan," katanya yang cukup singkat. "Nanti bau, Brina."
Brina memutar bola matanya. Ia sudah lelah menghadapi kakaknya itu yang memang menyebalkan. Akhirnya Brina menoleh ke belakang, ingin menanyakan lagi pada Nina tentang apa yang akan mereka nikmati untuk malam ini.
"Nin, lo-" ucapan Brina terhenti ketika ia melihat Nina sudah pulas saja tertidur. "Lah, malah tidur ni anak," ucapnya yang membuat Brian menengok dari kaca dashboard.
"Loh, kok tidur?" tanya Brian juga.
"Capek banget nggak sih, dari tadi kita berdebat, eh malah si Nina asyik tidur!" ucap Brina yang mulai lelah karena sedari tadi dirinya harus berpura-pura menjadi kekasih Brian. Padahal, selama ini ia tidak pernah bersama orang lain dengan waktu yang cukup lama sehingga membuat mereka berdua harus terus berpura-pura.
"Lagian lo juga. Kalo misal kita langsung ke sambal cumi, pasti sekarang kita udah pulang, nggak muter-muter masih cari makan kayak gini. Lo nggak kasihan juga sama Nina? Dia cukup padat lhoh hari ini, buktinya tadi pulangnya sore sampai kehujanan. Tapi lo anter sampai depan kost kan?"
Brian mengangguk. "Ya masa harus gue anter sampai masuk kamar?"
Plakkkk
Brina menampol Brian yang sedari tadi hanya bercanda saja. "Gue lagi serius. Awas ya sampai lo ngapa-ngapain Nina, gue bakal marah besar sama lo!"
"Siapa juga yang mau macam-macam sama Nina? Lo kenal gue dari kapan sih? Emang gue pernah macam-macam sama anak orang?" tanya Brian yang tidak terima dituduh macam-macam oleh adiknya itu.
Karena ucapan Brian yang terdengar cukup keras, Brina pun langsung mencubit perut Brian yang rata itu, membuat Brian mengaduh kesakitan.
"Aduh .... aw!!"
"Diem dodol! Kalo Nina denger gimana?"
"Elo ngapain nyubit perut gue, anjir! Sakit! Jadi cewek koi nggak ada lembut-lembutnya!"
"Ya karena gue manusia, bukan lelembut!"
"Terserah lo deh."
Perdebatan sudah berakhir. Kali ini suasana di dalam mobil mendadak hening dengan hujan yang masih deras mengalir. Brian masih terus melajukan mobilnya entah mau kemana yang penting jalan saja dulu. Tadinya, Brina ingin membangunkan Nina tapi rasanya tidak tega. Akhirnya mereka berdua malah terus melaju saja sambil menunggu Nina bangun dengan sendirinya. Kalau dihitung-hitung, mereka sudah berputar-putar selama hampir dua jam mengelilingi Kota Malang.
Brina kembali menoleh ke belakang dan Nina masih belum bangun juga. "Astaga nih bocah, kenapa pules banget tidurnya!" ucapnya yang mendadak membuat Nina tersadar.
Perempuan itu perlu menetralkan penglihatannya terlebih dahulu setelah mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. Orang pertama kali yang ia lihat adalah Brina yang meringis menatapnya.
"Kak Brina?" ucapnya sembari mengucek matanya. "Kok Kak Brina ada di sini?" tanyanya kemudian.
Brina memutar bola matanya. "Lah, sekarang emangnya lo lagi di mana, Nin?" tanya Brina balik.
"Di kam-" Ucapan Nina terpotong, ketika ia baru menyadari bahwa saat ini dirinya tidak berada di kamar melainkan di dalam mobil. Perempuan itu baru sadar jika selama ini dia sedang tidur di dalam mobil selama hampir dua jam setelah ia mengecek ponselnya. "Masih di mobil ternyata ya?" Ia malah bertanya.
Brian yang mendengar itu pun langsung terkekeh. "Ya iyalah, Na. Masa kamu udah di kamar, kan tadinya kamu sama kami mau makan bareng tapi malah ketiduran."
"Aku tidur dua jam, Kak Brian. Jadi selama ini Kak Brian nyetir selama dua jam?" tanyanya pada Brian, tetapi yang menjawab adalah Brina.
"Ya jelas dong, Nin. Kalo lo kita tinggalin dalam mobil, bisa kehabisan oksigen dan tamat."
"Hush ... ngomongnya ya!" Brian menegur Brina yang dinilai berucap sembarangan.
Nina jadi tidak enak sudah lama sekali tertidur, sedangkan tujuan mereka adalah untuk makan malam bersama. Dan saat ini jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam yang berarti malam mulai larut tetapi mereka belum melakukan makan malam.
"Kak Brina, Kak Brian, gue minta maaf banget. Gue nggak bermaksud buat tidur, tapi gue ketiduran dan sampai dua jam. Maaf banget gegara gue ketiduran, kalian nggak jadi makan malam," kata Nina berucap minta maaf. Ia benar-benar merasa bersalah pada Brian dan Brina.
"Brian perhatian banget, Nin. Dia nggak mau berhenti buat makan ya karena mikirin lo, dia juga nggak mau gue bangunin lo karena lo kelihatan pules banget!" kata Brina, yang semakin membuat Nina merasa bersalah saja.
"Kak Brina sekarang pasti lapar banget ya?"
Bukan Brina, tetapi Brian yang menyahut. "Bukan lapar lagi, Na. Tapi udah kayak singa yang udah siap nerkam aku." Laki-laki itu berucap tanpa kekehan walau ia sedang bercanda. Dirinya kembali fokus pada jalanan yang masih diselimuti hujan.
"Lo masih mau makan kan, Nin?" Brina juga tidak menggubris perkataan Brian. Kini Nina sudah bangun dari tidurnya yang berarti mereka sudah bisa berhenti untuk makan malam.
Nina mengangguk. "Iya, Kak," jawabnya singkat.
"Mau apa?" tanya Brina lagi yang pasti membuat Nina kembali bingung karena malam sudah larut dan yang pasti Nina tidak tahu apakah masih ada rumah makan yang buka di malam hari yang hujan seperti ini.
"Gue nggak tau ada apa aja kalau udah malam kayak gini, Kak. Terserah aja, gue ngikut," kata Nina, membuat Brina mengembuskan napasnya panjang.
"Jalan aja dulu deh," kata Brina yang memerintah Brian.
"Dari tadi juga udah jalan sih," ucap Brian yang menurut Nina terkandung sindiran untuk dirinya.
Nina pun kembali meminta maaf kepada Brian. "Kak Brian, maaf ya, Kak. Karena aku udah bikin Kak Brian nyetir mulu dari tadi. Seriusan, kalau dibangunin aku juga nggak papa, Kak."
"Santai aja, Na," kata Brian dengan singkat, yang justru membuat Nina semakin takut jika Brian marah pada dirinya.
Brina tahu sekali jika Nina merasa khawatir. Perempuan itu bisa melihat wajah Nina yang merasa bersalah.
"Nin, Brian itu orangnya tulus. Kalau dia bilang nggak papa, ya artinya beneran nggak papa. Gue udah kenal lama sama Brian. Jadi percaya aja, nggak usah merasa bersalah kayak gitu wajah lo."
Nina menarik senyumnya mendengar ucapan Brina yang membuatnya sedikit lega. Ia mengangguk pada Brina. "Iya, Kak."
"Kalau sampai Brian marah sama lo cuma gegara masalah sepele kayak gini, berarti Briannya yang aneh!"
Akhirnya, Nina bisa terkekeh karena ucapan Brina.
"Kamu kok bisa temenan sama cewek aneh kayak Brina gini sih, Na?" tanya Brian yang tiba-tiba karena sedari tadi ia hanya diam saja menyimak percakapan Nina dengan Brina.
Nina bukannya menjawab, tetapi perempuan itu malah balik bertanya. "Kok Kak Brian bisa pacaran sama cewek aneh kayak Kak Brina?" tanyanya balik dengan penekanan kata aneh untuk menyindir Brian.
Brian terkekeh, tetapi Brina malah cemberut menatap Nina. "Kok lo malah ngatain gue aneh sih, Nin?" ucapnya yang tidak terima.
"Bercanda, Kak. Hehe."