Nina baru pulang dari makan malam yang sangat larut bersama dengan Brian dan juga Brina. Mereka memang berangkat pukul setengah delapan malam, tetapi semesta baru memberi mereka kesempatan untuk makan malam yaitu pada pukul setengah dua belas malam. Jarak waktu yang cukup jauh yang dikarenakan Nina ketiduran di mobil. Lebih anehnya lagi, Brian dan Brina justru membiarkan dirinya terlelap padahal bisa saja mereka membangunkan Nina dan Nina tidak masalah akan hal itu.
Tadi, mereka makan nasi sambal cumi di pinggir jalan, hanya saja bukan nasi sambal cumi yang biasa menjadi langganann Brian dan Brina. Sudah pasti jika malam telah larut, tempat makan kesukaan Brina sudah tutup karena saking ramainya. Ditambah tadi sempat hujan, mungkin saja penjual nasi sambal itu memilih tutup lebih awal. Makan malam mereka tetap menyenangkan. Sambal yang disajikan tidak terlalu pedas dan membuat Brian merasa aman saja dengan Brina. Namun, berbeda dengan Brina, perempuan itu mengomel setiap satu suap karena merasa sama sekali tidak pedas. Tetapi tidak apa, yang penting mereka sudah makan malam bersama, setidaknya tidak pulang dengan keadaan perut yang kosong.
Saat ini malam sudah larut. Jalanan sangat sepi setelah mobil Brian meninggalkan jalanan di depan rumah kost Nina. Tidak ada lagi pedagang nasi goreng atau tahu telor yang mangkall di seberang rumah kostnya yang memang biasanya terdapat beberapa penjual makanan. Malam benar-benar sepi. Tidak ada suara kendaraan apalagi suara orang yang bercengkerama. Hal itu membuat Nina harus ekstra berhati-hati dalam membuka pintu gerbang karena ia tidak mau menimbulkan suara gaduh yang bisa membangunkan siapapun, termasuk tetangga rumah kost dan penghuni kost. Nina benar-benar tidak ingin mengganggu dengan suara pintu gerbang yang digeser yang cukup berisik. Hanya saja, ia sudah berupaya keras tetapi pintu pagar tetap saja menimbulkan suara yang cukup berisik.
Setelah ia berhasil masuk dan menutup pintu gerbang, kali ini ada satu hal lagi yang harus Nina lewati, yaitu pintu rumah kost. Untung saja pintu rumah kostnya tidak berisik, hanya saja untuk membuka kunci menimbulkan sedikit bunyi gaduh. Tetap saja walau Nina sudah pelan-pelan, suara itu masih timbul. Nina sudah berusaha dan jika memang masih menimbulkan suara gaduh, ia tidak bisa apa-apa selain meminta maaf pada penghuni kost yang barang kali terganggu di dalam hati. Selanjutnya, semuanya sudah selesai mengenai drama membuka pintu. Akhirnya Nina masuk ke dalam kamarnya untuk segera berganti baju dan ia ingin segera tidur.
"Akhirnya sampai juga!" ucap Nina yang lega setelah masuk ke dalam kamar. Dirinya buru-buru masuk ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kakinya. Setelah itu, ia berganti pakaian, membersihkan make up nya yang tipis, memakai rangkaian perawatan wajah di malam hari, dan setelah semuanya selesai, sudah saatnya bagi dirinya untuk segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang masih terasa empuk sampai saat ini. Sengaja sekali Nina tidak menyalakan pendingin ruangan dan ia memilih untuk sedikit membuka jendela. Melalui celah-celah yang terbuka tidak sampai lima senti meter itu, Nina bisa merasakan betapa sejuknya udara malam dengan aroma selepas hujan. Rasanya sangat menenangkan walau terasa lebih dingin dari ketika ia menggunakan pendingin ruangan. Tidak apa, Nina sudah hawa-hawa seperti ini. Dirinya pun menarik selimut dan mulai memejamkan matanya. Namun, ia kembali membuka mata karena merasa ada yang kurang, dan ternyata adalah ia yang belum mematikan lampu kamar. Segera saja ia bangkit untuk mematikan lampu. Namun, belum juga ia menekan tombol lampu untuk mematikannya, perhatian Nina teralih pada benda pipih yang tergeletak di atas nakas.
Nina mengambil ponselnya. Ia menekan beberapa ikon hingga layar ponselnya menampilkan fotonya bersama dengan Brina dan yang paling penting ada Brian juga di sana. Nina tersenyum menatap laki-laki yang tersenyum mekar menatap kamera di ponselnya barunya.
"Kak Brian, lo kenapa ganteng banget. Gue makin sayang sama lo," ucap Nina pelan memandang foto laki-laki itu. Ia mengusap wajahnya dan masih tersenyum. "Tapi semakin gue suka sama lo, semakin gue sayang sama lo, gue semakin sadar kalo lo itu pacarnya Kak Brina, bukan pacar gue. Apalagi sekarang kita udah bisa ngobrol, nggak kayak dulu yang kita saling tatap aja bahkan cuma mimpi buat gue. Tapi sekarang lo juga jadi teman gue, Kak. Gue senang banget, tapi gue juga takut kalo nantinya gue bakal sakit hati. Tapi semoga aja gue nggak bakal sakit hati ya, Kak, tiap bareng lo sama Kak Brina terus lihat kalian berdua mesra-mesraan kayak tadi. Yah, walau masih wajar banget, tapi seriusan deh, Kak, tadi gue kayak ngerasa ada yang aneh aja. Padahal dulu pas gue lihat lo jalan sama Kak Brina, semuanya baik-baik aja. Apa karena kita yang semakin dekat ya, Kak? Eh, maksud gue, kita yang mulai kenal baik." Nina mengakhiri ucapannya pada gambar dua dimensi itu dengan kekehan. Dalam ingatannya masih tergambar jelas bagaimana dirinya menghabiskan malam ini bersama dengan Brian walau ada Brina juga. Mereka bertiga mengobrol dan bercanda bersama. Tidak ada lagi kecanggungan karena berkat bantuan Brina mereka jadi semakin dekat.
Merasa cukup, Nina meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Dirinya berbalik untuk menatap bayangannya di depan cermin dan sedikit tersenyum. "Nina, lo boleh cinta, lo boleh sayang, dan lo boleh suka sama Kak Brian bahkan kalo cinta lo segede gunung berapi. Cuma ingat aja ya, Kak Brian itu punya Kak Brina. Bagaimana pun juga lo nggak boleh ganggu hubungan mereka berdua. Okay? Lo harus jadi diri lo seperti biasanya, yang mencintai Kak Brian tanpa mengganggu hubungannya sama Kak Brina. Ngerti, Nina?" Nina berucap dengan tegas menatap bayangan dirinya. Ia mengangguk dengan yakin dan setelah itu tersenyum. "Nina, kamu cantik." Seperti biasanya, perempuan itu akan memuji dirinya sendiri sebelum tidur.
Akhirnya Nina kembali berbalik dan berjalan untuk mematikan lampu. Malam ini sudah lebih dari pukul satu. Beruntung besok tidak ada perkuliahan di jam pertama pagi-pagi sekali, jadi Nina bisa melanjutkan tidurnya sampai jam perkuliahan pada siang hari.
Tubuh Nina sudah bersembunyi di balik selimut dan hanya menampakkan kepalanya saja. Perempuan itu mulai memejamkan mata sembari berdoa di dalam hati. Nina benar-benar memohon kepada Tuhan, jika ia hanya ingin mencintai tanpa merusak hubungan. Nina berharap, kalau memang bisa, tidak apa jika rasa cintanya pada Brian bisa berkurang, malah dia akan bersyukur karena memang ia sadar jika cintanya tidak pernah terbalas.
Perlahan, Nina mulai terlarut dalam tidurnya. Bayang-bayang Brian jelas sekali terukir dalam otaknya dan bahkan terbawa sampai ke dalam mimpi. Memang hanya dalam mimpilah perempuan itu bisa merasa bebas. Ia bisa memiliki Brian, menjadi kekasih Brian, walau hanya dalam mimpi, tidak sampai tujuh jam untuk setiap harinya. Namun, Nina tetap bersyukur.