Padahal, Nina baru saja bangun dari tidurnya dan matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Sepertinya memang Nina sudah terbiasa untuk bangun pagi. Jadi semalam apapun dirinya tidur, ia tetap bangun pukul lima seperti biasanya. Nina sudah membaca kegaduhan saja di grup chat. Siapa lagi yang gaduh kalau bukan Areta dan Kak Syalaby yang menanggapi dengan sabar.
Areta: KAKAK-KAKAK, SIAPA YANG NGGAK NGUNCI PINTU SEMALAM????
Kak Syalaby: Semalam udah kupastiin terkunci deh sebelum aku tidur
Areta: Lo tidur jam berapa, Kak? Pagi ini gue mau ke tukang sayur beli telur tapi kok pintunya nggak dikunci.
Kak Syalaby: Aku tidur jam sebelas. Bukannya yang lain juga udah di kost ya?
Areta: SIAPA YANG PULANG LEBIH DARI JAM SEBELAS??? TELEDOR BANGET NGGAK KUNCI PINTU.
Walau Nina bangun tepat waktu, tetap saja dirinya masih merasa mengantuk. Ia pun tidak menghiraukan pesan-pesan itu dan langsung saja ia menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya, seperti biasanya Nina harus menghabiskan sebotol air mineral di pagi hari untuk mencegahnya dehidrasi. Nina menatap kembali layar ponselnya untuk melihat jam yang rupanya masih banyak waktu untuk dirinya kembali rebahan. Nina pun rebahan sambil bermain ponselnya. Sedetik kemudian, ia mendapatkan sebuah pesan dari Areta yang membuat Nina langsung mengembuskan napasnya panjang.
Areta: Nin, lo semalam pulang jam berapa? Gue lihat lo keluar sekitar jam delapan, tapi gue nggak lihat lo pulang kapan. By the way, gue tidur jam dua belas malam. Itu pun masih setengah terjaga.
Nina yakin sekali jika maksud Areta adalah untuk memastikan jika memang Nina yang teledor tidak mengunci pintu. Nina paham akan hal tersebut, tetapi Nina tidak sama sekali tidak merasakan melakukan hal tersebut. Nina yakin, dirinya sangat berhati-hati sekali dalam membuka pintu dan ia juga sama berhati-hatinya ketika kembali menutup dan pastinya dengan mengunci pintu juga.
Nina pun langsung mengetikkan pesan untuk membalas pesan dari Areta.
Nina: Gatau, gue nggak lihat jam.
Setelahnya, Nina langsung membuang ponselnya ke sembarang tempat yang pasti masih di ranjang. Perempuan itu mengembuskan napasnya sembari menatap langit-langit kamar. Ia jadi berpikir, apakah benar jika dirinya yang lupa mengunci pintu, tetapi ia yakin sekali jika sudah melakukannya. Entah siapapun itu, beruntung tidak ada orang asing yang masuk, karena ia juga sudah kembali menutup dan mengunci pintu pagar. Tetapi tetap saja, Nina masih memikirkan apakah memang benar jika dirinya yang lupa untuk mengunci pintu.
Butuh waktu beberapa menit bagi Nina untuk memikirkannya, tetapi ia benar-benar yakin jika dirinya sudah mengunci pintu depan.
Nina kembali mengambil ponselnya dan sudah ada balasan dari Areta. Sama seperti biasanya, Areta memang orangnya blak-blakan dan menyebalkan.
Areta: Ya udah sih kalau bukan lo yang ngelakuin, biasa aja balasnya jangan judes gitu.
Nina tidak menyangka jika ketikannya tadi dibaca sebagai ketikan judes oleh Areta. Ia jadi terkekeh seorang diri sembari kembali mengetikkan balasan.
Areta: Siapa wkwkwk yang wkwkwk judes wkwkwk gue wkwkwk cuma wkwkwk balas wkwkwk seadanya wkwkwk wkwkwk wkwkwk wkwkwk
Selanjutnya, pesan balasannya tersebut hanya dibaca tanpa dibalas oleh Areta.
Satu hal lagi yang membuatnya tidak nyaman. Akhirnya Nina kembali untuk memikirkan apakah ia harus pindah rumah kost secepatnya atau harus menunggu akhir bulan. Ia benar-benar merasa tidak suka dengan kondisi yang ada di sini terutama karena Areta. Jika ia pindah secepatnya, ia akan merugi. Tetapi jika ia tidak segera pindah, Nina tidak tahu ada kejadian apalagi yang akan membuatnya kesal dan harus menahan emosi.
Nina juga berpikir. Apakah tepat jika ia nanti pindah di rumah kost yang sama dengan Brina, sedangkan Brian setiap hari berkunjung ke sana. Nina ingat malam tadi, ketika Brina bersama dengan Brian dan semuanya membuat dirinya menahan sesuatu. Ia memang berniat untuk tidak lagi menyukai Brian jika pada akhirnya ada perasaan yang menyakitkan saat ia melihat Brian dan Brina, tetapi ia yakin apakah bisa melakukan hal itu. Sudah cukup lama ia menyukai Brian, dan sudah cukup lama juga ia bersahabat baik dengan Brina.
Brina memang tahu perasaannya pada Brian dan Brina tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Tetapi, bagaimana pun juga ia tidak mau menjadi pengganggu hubungan Brina dan kekasihnya itu.
Sayangnya, satu-satunya sahabat yang bisa Nina percaya adalah Brina. Dan ketika ia ingin bercerita untuk meminta saran tentang apa yang sedang dipikirkannya sekarang, Nina tidak bisa. Tidak mungkin perempuan itu menceritakan jika ia sempat merasakan getaran perih ketika melihat Brina bersama dengan Brian.
Tok tok tok
Pintu kamar Nina terasa diketuk dengan pelan. Nina dibuat mendengus ketika bangun. Ia yakin sekali jika yang sedang mengetuk pintunya adalah Areta walau ketukan itu tidak gaduh. Perempuan itu berjalan dengan malas untuk membuka pintu.
"Ada apa?" ucapnya dengan judes ketika ia membuka pintu, padahal dirinya belum tahu siapa yang ada di hadapannya. Wajahnya yang datar mendadak merasa tidak enak karena ternyata bukan Areta yang mengetuk pintunya, tetapi Kak Syalaby. "Eh, Kak Syala. Kirain si Areta," ucapnya dengan senyuman. Kak Syalaby adalah salah satu penghuni kost yang paling ramah daripada yang lainnya walau perempuan itu beberapa tahun lebih tua darinya dan selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Gue ada sedikit bakpia nih, oleh-oleh dari teman yang kemarin baru aja liburan dari Jogja. Makan ya!" kata Kak Syalaby yang memberi Nina satu kota bakpia. Di tangannya juga masih ada beberapa kotak. Kak Syalaby tidak menggubris ketika Nina menyebut nama Areta.
"Makasih ya, Kak." Nina tersenyum senang menerimanya. Bagaimana pun makanan gratis adalah yang paling istimewa selain Jogja.
Kak Syalaby mengangguk, setelahnya berpindah ke kamar sebelah untuk menawari bakpia yang sama juga.
Nina sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Mendapat bakpia gratis pagi-pagi seperti ini membuat perutnya mendadak keroncongan dan berbunyi. Segera saja ia membuka kotak bakpia tersebut dan aroma harum vanila dengan kacang hijau langsung merebak menusuk indra penciumannya. Nina tahu sekali jika bakpia ini akan lebih nikmat jika dinikmati dengan segelas sussu.
Akhirnya, sebelum menikmati bakpia pemberian dari Kak Syalaby, Nina memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil segelas s**u. Segera saja ia bergegas keluar, karena ia tidak mau jika sampai bertemu dengan Areta, ia sangat malas sekali untuk menyapanya.
Kulkas sudah ia buka dan gelas sudah ia letakkan di atas meja. Sudah tiga hari lamanya, sussu cair yang ia taruh di dalam kulkas tidak ia sentuh. Jika dihitung dari hari dibuka, mungkin sudah lima hari. Semoga saja sussu cair itu masih enak untuk dinikmati.
Nina mengambil satu kotak sussu cair berukuran satu liter dengan kotak berwarna hijau. Namun, lagi-lagi ada yang aneh. Kota susunya terasa sangat ringan, padahal ia yakin sekali jika baru dua kali meminum sussu dengan gelas kecil. Jika biasanya satu kotak sussu ini bisa ia minum lima sampai enam kali dan ia baru meminum dua kali, maka seharunya s**u yang ada sisa lebih dari setengah. Tetapi, ketika Nina menuang ke gelas kecilnya, bahkan tidak sampai penuh.
Yang pasti, lagi-lagi Nina merasa kesal. Dulu sosis, telur, dan sussu. Nanti apa lagi? Kecap, gula, garam?
Nina mengembuskan napasnya kasar. Ia bahkan tidak jadi meminum sussu tersebut dan langsung ia buang ke wastafel. Kotak sussunya ia banting ke tempat sampah dan ia berjalan dengan kesal kembali ke kamarnya. Tidak peduli siapa yang sudah mengambil barangnya di kulkas, Nina benar-benar harus segera pergi dari rumah kost ini. Ia sudah sangat yakin sekali dan harus segera mengurus kepindahannya. Setidaknya dalam minggu ini ia harus berkemas dan meninggalkan tempat ini beserta orang-orang yang membuatnya sungguh merasa tidak nyaman, termasuk Areta dan siapapun yang hobi sekali mencuri barang-barangnya. Walau harga barang makanannya di dalam kulkas tidak mahal, sekali lagi ini bukan masalah materi, tetapi masalah sifat seorang pencuri. Jika Nina membiarkan dirinya untuk tetap tinggal di sini, ia lah yang akan kesal sendiri dan berdampak pada kesehatan emosinya yang akan memuncak.