"Kak, nanti gue mampir ke kost lo ya. Gue kayaknya beneran mau pindah ke sana dalam minggu ini. Masih ada kamar kosong kan?" tanya Nina, ketika ia dan Nina sedang makan siang di kantin. Tadinya Nina tidak ingin makan siang karena sedang ingin diet, tetapi Brina malah mengajaknya makan siomay di kantin. Siapa yang bisa menolak, niat Nina untuk mengurangi makan langsung runtuh begitu saja ketika mendengar nama-nama makanan.
Brina mengangguk. Ia belum sempat menjawab pertanyaan dari Nina karena mulutnya masih sibuk mengunyah potongan siomay. Setelah menelan, perempuan itu menyeruput es tehnya dengan sedotan. Brina kembali mengangguk. "Masih ada sih kayaknya. Masih kosong sampai sekarang. Cuma tinggal satu, Nin. Mending lo kasih uang muka aja dulu," kata Brina yang memberinya saran.
Nina pun ikut mengangguk. Memang yang paling aman adalah dirinya yang harus memberi uang muka kepada pemilik rumah kost, untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang menempati kamar itu sampai dirinya pindah ke sana. Namun, untuk hal ini dirinya belum bertanya lagi pada orang tuanya. Bagaimana pun Nina itu anak perantauan yang masih memerlukan pendapat orang tuanya untuk masalah apapun termasuk pindah tempat tinggal.
"Mau gue kasih nomor telepon pemiliknya atau mau gue tanyain dulu nih ke mereka?" tanya Brina kemudian. Lalu, sekejap makanannya telah habis ia santap dan membuat pipinya menggembung sempurna karena dua potong siomay yang dia masukan ke dalam mulut dalam sekali lahap.
Nina berpikir sejenak untuk bagaimana baiknya.
"Gimana?" tanya Brina lagi.
"Coba lo tanyain aja ya, Kak. Kayaknya enakan gitu dari pada gue tiba-tiba nelfon pemilik kost," ucap Nina dengan keputusannya.
"Okai. Gue w******p ibu kost ya. Semoga aja emang masih kosong." Setelah berucap, Brina langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Perempuan itu sedang bertanya pada ibu pemilik rumah kost, menanyakan tentang satu kamar yang masih kosong, apakah sudah ada yang akan menempati atau belum.
Baru saja Brina meletakkan ponselnya dan ia tinggal untuk menyeruput es teh, sekejap kemudian ponselnya bergetar. Balasan dari ibu pemilik kost langsung ia terima. Namun, setelah membaca balasan pesan dari ibu pemilik kost, raut wajah Brina nampak kecewa.
"Yah, Nin. Kata ibunya udah ada yang booking," katanya dengan nada kecewa. Nina yang mendengar pun ikut kecewa juga.
"Yah, gue kalah cepet, Kak. Padahal pengen cepat-cepat pindah," kata Nina yang tak kalah kecewanya.
"Bentar, Nin. Lo mau pindahan kapan? Ini kata ibu kost, penghuni di sebelah kamar gue mau pindah bulan depan. Eh, tapi kok gue nggak tahu ya si Nesa mau pindah," kata Brina yang masih sibuk dengan ponselnya. Wajah Nina yang mendengar itu langsung berganti bahagia, karena ada harapan untuk dirinya bisa berpindah kost bersama Brina walau masih harus menunggu satu bulan.
"Coba gue tanyain Nesa dulu, Nin."
Nina mengangguk. Ia berharap memang benar agar ia juga benar-benar bisa pindah rumah kost. Sebenarnya ada banyak pilihan rumah kost dari yang standar sampai premium, hanya saja Nina sudah cocok dengan rumah kost Brina saking seringnya perempuan itu main ke sana walau ia sangat jarang sekali masuk kamar Brina. Enaknya di rumah kost Brina adalah ada garasi untuk kendaraan, tidak seperti rumah kostnya yang menggunakan ruang tamu untuk garasi dadakan. Jadi, menurut Nina terlalu pengap saja ketika ia melewati ruang tamu apalagi ruang tamu ada di depan kamarnya.
"Oh, bener. Si Nesa mau pindah bulan depan. Lo bisa mulai nempatin kamar Nesa bulan depan. Mau?" tanya Brina yang sudah menatap Nina.
Tanpa berpikir panjang, Nina langsung mengangguk. "Mau, Kak."
Tidak apa walau masih ada lebih dari dua pekan untuk menuju akhir bulan. Setidaknya ia tidak rugi karena sudah membayar biaya sewa kamar kostnya untuk bulan ini. Semoga saja tidak ada kejadian yang membuatnya kesal. Jika ada, maka Nina harus bersabar sedikit lagi sampai akhir bulan. Setelahnya, Nina akan terbebas dari penghuni kost yang tengil seperti Areta.
"Kak Nesa itu kamarnya pas yang di sebelah lo ya, Kak?" tanya Nina memastikan.
Brina mengangguk. "Benar. Yang tiap kali dia buka pintu, pasti aroma segar stela rasa jeruk langsung nyegerin banget."
Syukurlah, ternyata memang benar jika kamar yang kosong bulan depan ada tepat di sebelah Brina. Setidaknya ia jadi semakin dekat dengan perempuan itu karena ia lumayan canggung jika harus langsung akrab dengan penghuni lama di rumah kost barunya nanti.
"Oiya, Kak. Aturannya apa aja sih?" tanya Nina lagi.
Brina pun mulai menjelaskan aturan-aturan yang ada di rumah kostnya. "Aturan standar kost putri aja sih, Nin. Kayak cowok masuk maksimal di ruang tamu, nggak boleh bertamu lebih dari jam sepuluh malam atau mending sekalian nginep, nggak boleh sering-sering pulang lebih dari jam sepuluh malam. Nggak ada jadwal piket tapi kayak kesadaran masing-masing aja, misal kalo habis masak ya kompor di lap gitu. Oh iya, setiap sebulan sekali udah ada tukang kebun yang ngurusin taman, jadi ya kudu sabar nunggu satu bulan kalo rumputnya numbuh kecepetan atau emang kita yang mau motong. Gue sih sering ngurus taman tiap minggu, itung-itung healing, Nin. Jangan lupa juga, nggak boleh bersikap yang bisa ganggu dan yang paling penting nggak boleh ngerasa paling terganggu padahal yang dilakuin penghuni lain itu masih wajar."
Nina menyimak dengan betul-betul apa saja yang diucapkan Brina. Ia sungguh menjadi lebih tertarik dan segera pindah saja. Sayangnya, lagi-lagi ia harus bersabar dan harus menunggu untuk lebih dari dua pekan lagi.
"Gimana, nggak keberatan kan?" tanya Brina untuk memastikan kesanggupan Nina dalam menaati segala peraturan yang ada di rumah kostnya.
"Nggak lah, Kak. Di mana-mana aturannya kan emang gitu. Nggak masalah sih buat gue."
Bahkan, aturan-aturan di rumah kost Brina sangat simpel sekali dan tidak berbeda jauh dengan aturan yang ada di rumah kostnya yang sekarang. Nina yakin sekali jika dirinya akan betah juga tinggal di rumah kost baru nanti.
"Jadi gue perlu bayar uang muka juga nggak, Kak?" tanya Nina meminta saran. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan kamar kost ini untuk bulan depan.
"Kalau menurut gue sih harus ya, Nin. Walau ibu kost udah ngeiyain pas gue bilang kalo teman mau nempatin. Tapi kembali lagi kan, namanya juga bisnis jadi yang ngasih duit duluan yang bakal dapet."
Nina mengangguk paham dengan penjelasan Brina. "Boleh kirimin nomor rekeningnya beliau atau langsung tunai aja, Kak?"
"Terserah aja sih, Nin. Enaknya ya transfer aja. Gue kirimin nomornya ya."
Nina mengangguk.
"Oh iya. Nanti pindahannya biar dibantuin sama Brian aja. Jadi nggak usah repot-repot bingung gimana cara bawa barang lo yang pasti banyak banget kan. Brian bisa kita manfaatin kok. Tenang aja," kata Brina dengan enteng. Padahal belum tentu Brian mau dimintai tolong. Tetapi tidak mungkin juga jika Brian akan menolak.
Kali ini Nina tersenyum. Ia langsung membayangkan bagaimana laki-laki itu membantunya mengangkut barang-barangnya yang cukup banyak. Rasanya tidak tega, tetapi jika bukan Brian, maka satu kesempatan untuk dekat dengan laki-laki itu akan hilang.
"Ngerepotin Kak Brian, Kak," ucap Nina yang berbasa-basi.
"Halah, lo kayak siapa aja. Kan Brian udah jadi teman sama lo. Toh pindahan lo masih dua mingguan lagi. Gue yakin kalo lo sama Brian bakal semakin akrab," kata Brina yang entah membuat perasaan Nina menjadi tidak karuan.
Nina senang bisa menjadi semakin dekat dengan Brian, tetapi tetap saja ada pertanyaan yang terus menancap di pikirannya mengenai Brina yang sangat santai sekali jika Nina dekat dengan Brian. Hal itulah yang membuat Nina merasa aman-aman saja untuk melakukan pendekatan pada Brian, walau Nina sadar sekali jika ia telah salah dan ia akan tetap berusaha untuk tidak akan melakukan pendekatan itu. Nina tidak mau merusak hubungan Brina dan Brian. Nina sadar, Brina sudah sangat banyak membantu dirinya.