Sepulang kuliah, Nina memang sudah ada rencana untuk mampir terlebih dahulu ke rumah kost Brina. Dirinya ingin melihat-lihat rumah kost Brina luar dan dalam, karena selama ini ia hanya sekadar ada di ruang tamu atau di kamar Brina. Seperti pada umumnya, Nina harus melihat bagaimana dapur, balkon lantai dua walau ia akan menempati lantai satu, dan pastinya juga area mencuci dan menjemur pakaian, karena menurut Nina area mencuci dan menjemur adalah area yang cukup penting. Perempuan itu tidak terlalu suka pergi ke laundry karena ia merasa mencuci pakaian manual dengan tangan termasuk dalam kegiatan healing melepas penat ketika ia benar-benar kelelahan menjalani hari-harinya. Menurut Nina, mendengarkan musik sambil mengucek pakaian dengan air dingin bisa membuat atensi akan hidupnya kembali bangkit.
"Cocok?" tanya Brina begitu mereka selesai berkeliling rumah kost. Napas mereka berdua sedikit terengah karena naik turun tangga.
Nina langsung membanting tubuhnya di atas sofa ruang tamu dan mengembuskan napasnya panjang. Ia menyempatkan diri untuk menyeruput es jus yang tadi sempat mereka beli sebelum pulang ke kost. Kemudian, perempuan itu mengangguk. "Cocok, Kak. Semoga aja gue betah ya, Kak."
Brina baru ikut duduk di samping Nina. Dirinya tadi mengambil kipas angin yang memang tersedia di sudut ruang tamu. Benar-benar kost yang nyaman, sampai ruang tamu saja disediakan kipas angin yang tidak lepas dari pengharum ruangan yang menggantung di sana.
"Iya, semoga aja betah dan harus betah dong kan ada gue di sini," kata Brian yang langsung membuat Nina mengandarkan kepala di bahu perempuan itu.
Lalu sekejap, ia langsung menegakkan tubuhnya, menoleh menatap Brina dengan serius. "Kak, tapi di sini nggak ada drama-drama yang nyebelin gitu kan?" tanya Nina yang langsung teringat dengan setiap drama yang terjadi di rumah kostnya yang sekarang ini.
"Drama gimana nih?" tanya Brina yang tidak paham dengan yang dimaksud oleh Nina.
Nina kembali mengembuskan napasnya. "Gini, Kak. Misal ada tuh penghuni yang nyebelin, terus dia tuh kayak ganggu banget, terus akhirnya bikin cek-cok, ramai deh. Gitu," kata Nina yang menjelaskan, semoag saja Brina bisa paham dengan apa yang ia katakan.
Brina mengangguk pertanda paham dengan apa yang dimaksud oleh Nina. Ia berpikir sejenak untuk mengingat-ingat apakah pernah ada drama-drama kehidupan anak kost seperti apa yang Nina katakan. "Kayaknya belum pernah deh kalau sampai parah. Selama enam semester dari zaman masih mahasiswa baru sampai hampir skripsian, belum pernah nemuin hal yang nyebelin banget. Tapi kalau nyebelin aja yang biasa kan, namanya juga hidup dalam satu rumah sama orang-orang dari berbagai daerah yang kita nggak tahu pasti gimana kebiasaan mereka. Paling sih kalau udah bikin kesel misal terlalu sering bawa temen, nanti bakal ditegur dan langsung nurut. Itu aja, Nin."
Nina mengangguk-angguk mendengar jawaban Brina yang cukup panjang. "Syukur deh, Kak. Semoga gue bisa betah sebetah lo yang udah tiga tahun di sini. Udah kayak senior aja ya."
"Ya gitu deh."
Tidak perlu banyak berpikir lagi, Nina sudah seratus persen yakin untuk pindah ke rumah kost ini. Selain ada Brina yang akan bisa menjadi tempat bercerita secara langsung tanpa harus melalui telepon atau pesan singkat saat malam hari. Selain itu, jarak rumah kost ini juga jauh lebih dekat ke kampus, jadi Nina tidak perlu repot-repot jalan kaki yang cukup jauh dan tidak perlu repot mengeluarkan ongkos untuk order ojek online.
"Mantap deh, Kak. Nanti segera gue transfer deh buat uang mukanya. Cari aman, daripada nanti keburu diambil orang, bisa-bisa gue gila kalo lama-lama di kost gue yang sekarang."
Brina mengangguk menanggapi penuturan Nina.
Hening sejenak, tetapi langsung terpecahkan oleh suara motor yang datang dan langsung parkir di halaman. Bukansuara motor matic, tetapi suara motor gede yang Nina sangat tidak asing dengan suara knalpot itu walau ada banyak suara knalpot yang sama tetapi Nina benar-benar mengenali suara itu.
Tidak lama, seseorang laki-laki muncul di ambang pintu yang terbuka. Nina dan Brina langsung mengalihkan perhatiannya pada orang yang baru datang itu.
"Loh ada kamu, Na?" tanya laki-laki itu ketika melihat Nina yang sedang duduk bersama dengan kekasihnya itu di ruang tamu.
Brian memang selalu keren apalagi saat melihat rambutnya yang sedikit berantakan setelah memakai helm, dan memang benar sekali tebakannnya bahwa suara knalpot motor tadi adalah milik Brian. Nina seperti sudah megenal laki-laki itu dari luar seutuhnya.
"Kak Brian ngapain ke sini?" Nina justru balik bertanya, padahal sudah jelas ini adalah rumah kost Brina, kekasihnya. Untuk apalagi kalau bukan untuk bertemu dengan Brina.
Brian memilih duduk di sebelah Brina, jadi saat ini mereka duduk bertiga di satu sofa panjang. Padahal masih ada dua sofa lagi yang kosong.
Brian langsung mencubit pipi Brina dan langsung membuat perempuan itu mengaduh dan menyempatkan untuk menampol laki-laki itu, tetapi Brian malah terkekeh saja.
Kemudian Brian menegakkan tubuhnya yang hendak menjawab pertanyaan Nina. "Aku mau benerin genteng yang bocor, Na," katanya dengan serius.
Tidak disangka, Nina juga menanggapi bualan Brian itu dengan serius. "Emang ada yang bocor, Kak?" Ia menatap Brina menanyakan hal itu.
Brina memilih megangguk padahal sedari tadi Brian sudah menahan tawanya karena menyaksikan Nina dengan wajah polosnya. Brian tidak menyangka jika Nina bisa sepolos ini, lucu sekali. Ditambah Brian yang ikut-ikutan serius, membuat Brian ingin segera tertawa.
"Di mana yang bocor, Kak?" Nina masih bertanya lagi.
Kemudian, Brina malah menunjuk bagian dadaa Nina. Nina bingung apa maksudnya, kepalanya miring saking bingungnya. "Di hati lo, Nin," kata Brina yang menambah rasa tidak paham Nina. Brian pun ikut-ikutan tidak paham dengan maksud adiknya itu.
"Hah, maksudnya?"
"Gue tahu lo anak baik, Nin. Masalah pertanyaan lo tentang drama di kots ini, udah gue jawab kalo semua pasti ada dramanya. Perihal hati emang nggak da yang tahu, jadi gue harap lo juga melihat dari sudut pandang hati orang lain. Lihat dulu apakah kita ada salah sama penghuni lain. oke deh, kalo drama yang ada nggak ada sangkut pautnya sama kita. Tapi aklau ada, jangan pernah malu buat minta maaf duluan walau lo nggak salah. Jangan sampai hati lo jadi bocor, karena gengsi buat minta maaf. Lo sempat cerita ke gue kalo lo sering ada drama sama penghuni di kost lo yang namanya Areta, nah lo boleh sebal tapi kalo lo selalu sebal, yang capek siapa, lo sendiri kan? Kasihan hati lo, Nin. Hati bukan cuma buat ke pasangan aja, tetapi juga buat semuanya. Jadi, di mana pun dan kapan pun, selalu libatin hati jangan cuma logika aja. Oke deh semua logika itu bisa nguatin pendapat kita, tapi tanpa hati, kita nggak bakal sadar apakah kita juga punya salah atau enggak. Lo paham maksud gue kan? Gue nggak bermaksud menggurui, gue cuma pengen lo tahu kalo ayolah seperti yang gue bilang tadi, kita hidup bareng orang asing. Nggak semua bisa berpihak pada lo dan mereka juga butuh kebahagiaannya juga. Nggak bermaksud buat selalu ngalah, tapi buat nyeimbangi aja."
Nina berusaha mencerna perkataan Brina yang cukup panjang. Ia paham sekali jika perempuan yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu sangat senang sekali mengutarakan apa pendapatnya dalam bentuk nasihat yang memang Nina perlukan. Tanpa sadar memang nina sudah sering sekali egois dalam menghadapi setiap drama yang ada di rumah kostnya yang sekarang yang melibatkan dirinya. Sementara Brian, ia masih melongo saja saking tidak percaya jika adik kembarnya yang sangat tengil itu bisa menjadi seperti orang dewasa untuk orang lain walau di matanya perempuan itu tetap saja adik kecilnya. Brian bangga dengan Brina. Ia pun tersebut menatap adiknya itu dengan senyuman bangga.
Nina mengangguk. "Makasih ya, Kak. Lo selalu ngasih nasihat buat gue. Lo udah kayak orang tua gue aja di perantauan ini. Nggak tahu lagi deh kalau nggak ada lo, gue bakal jadi apa. gue mungkin udah lebih egois lagi dalam menaggapi semuanya." Setelah mengatakan hal itu, Nina langsung memeluk Brina dan menyandarkan kepalanya di bahu Brina. "Gue sayang sama lo, Kak. Jangan bosen-bosen buat nasihatin gue ya."
"Aku juga sayang sama kamu, Brin."
Mendengar itu, membuat Brina langsung melepaskan pelukan Nina dan langsung menyikut Brian yang telah mentakan hal tadi. Brian mengaduh, sementara Brina napmak kesal. "Apaan sih!" ucapanya yang malah terdengar ketus. Padahal, Brian benar-benar sangat sayang terhadap adik kecilnya itu.
"Kamu pasti laper deh. Mau pesen makan aja apa kita makan di luar nih?" tanya Brian kemudian.
Brian bukannya langsung menjawab, tetapi ia menanyakan pada Nina terlebih dahulu ia inginnya apa. "Lo mau makan apa, Nin?"
"Tapi tadi siang kita udah makan, kak." Nina malah mengatakan hal itu padahal jelas-jelas ia tahu jika Brina sangat suka sekali sama yang namanya makan. Nina hanya tidak sadar jika perut Brina sudah kembali keroncongan setelah dua jam yang lalu mereka baru saja makan siomay di kantin.
"Na, kamu kayak nggak tahu aja kalao Brina itu punya perut karet alias ia bisa makan banyak sekaligus."