Memang sangat tidak salah jika Nina mencintai Brian. Tetapi, secinta-cintanya Nina dengan Brian, logika Nina tetap saja berjalan. Malam ini setelah magrib, Brina menyuruh Brian untuk mengantarkan Nina pulang ke rumah kostnya. Sebenarnya, hal tersebut juga pernah Brina lakukan ketika ia menyuruh Brian mengantar Nina pulang ketika hujan di kampus. Namun, tetap saja ada pertanyaan mengapa perempuan itu bisa-bisanya membiarkan kekasihnya untuk mengantar Nina yang jelas-jelas mencintainya juga. Ini bukan masalah berpasrah pada takdir, tetapi ini benar-benar tidak masuk akal saja menurut apa yang Nina pikirkan.
Kali ini Brian tidak membawa mobilnya. Sudah pasti, Nina harus duduk di jok belakang motor Brian. Walau jika menaiki motor Nina tidak perlu merasa canggung karena tidak mengobrol, tetapi duduk di jok belakang motor gede ini rasanya tidak cukup nyaman. Nina harus benar-benar fokus supaya tidak di jatuh, karena ia yang tidak berpegangan dan tidak biasa juga menaiki motor gede. Jika seperti ini, jujur saja Nina lebih memilih untuk menaiki motor ojek online yang cukup nyaman. Dari pada harus bersama dengan Brian tetapi ia tidak merasa nyaman dan aman. Beruntung Brina meminjami helm miliknya. Jika tidak, mungkin Nina lebih memilih jalan kaki saja dari pada harus menantang jantungnya sekalipun ia sedang bersama Brian.
Sebenarnya, perjalanan dari rumah kost Brina ke rumah kost Nina tidak sampai sepuluh menit. Tetapi jalanan cukup ramai dan untuk menyebrang juga lumayan sulit. Namun, ada hal yang sontak membuat Nina menepuk bahu Brian, padahal sedari tadi perempuan itu tidak menyentuhnya sekalipun hanya untuk berpegangan.
"Kak, kelewatan!" teriak Nina di samping telinga Brian yang mengenakan helm. Di persimpangan, seharusnya mereka berbelok kanan tetapi Brian masih saja lurus. "KAK BRIANNN!" Nina kembali berteriak. Seketika Brian mengerem mendadak karena di depannya ada mobil yang juga mengerem mendadak, membuat Nina langsung merosot menabrak punggung Brian.
Jujur, Nina dibuat deg-degan. Buru-buru perempuan itu kembali mundur untuk menjaga jarak.
"Na, maaf. Ada mobil ngerem mendadak!" kata Brian tak kalah berteriak. "Kamu nggak papa?"
"Nggak papa, Kak. Tapi kita kebablasan. Kost aku belokannya ada di sana tadi. Udah kelewatan, Kak!" kata Nina yang masih berusaha memberitahu Brian.
Brian tidak menggubris. Ia malah terus melaju saja, membuat Nina lagi-lagi harus menepuk bahu laki-laki itu beberapa kali. "KAK BRIAN, KITA KELEWATAN JAUH!" Nina berteriak kencang sekali, sampai-sampai menyita perhatian pengendara lain yang melewati mereka.
"KAK BRIANNNN!" Nina berteriak sekuat tenaganya. "KITA KELEWATAN JAUHHHHH!"
Setelah berteriak, Nina bisa merasakan jika pungging Brian bergetar. Perempuan itu jadi penasaran, sebenarnya Brian bisa mendengarnya atau tidak.
"KAK!" Nina kembali berteriak dan nadanya berubah menjadi kesal. "DENGER NGGAK SIH!" Perempuan itu benar-benar menjadi kesal bukan karena ia tidak mau berlama-lama dengan Brian, tetapi karena ia sudah tidak nyaman dibonceng oleh laki-laki itu.
"DENGER, NA."
Mendengarnya malah membuat Nina terdiam. Jadi, sepanjang jalan tadi Brian memang mendengar suaranya atay hanya kali ini saja, Nina nampak bingung. Ia kembali berteriak untuk memastikan. "BELOKAN KE KOST AKU UDAH KELEWAT JAUH, KAK!"
"SENGAJA."
"HAH, SENGAJA GIMANA SIH? KAK BRIAN MAU BAWA AKU KE MANA? JANGAN CULIK AKU, KAK!" ucap Nina spontan. Dirinya tiba-tiba saja menjadi ngeri karena Brian yang merubah tujuan tanpa kesepakatan dengan dirinya.
"KALO AKU MAU NYULIK KAMU, ENAKAN PAKAI MOBIL, NA. KALO PAKAI MOTOR KAN KAMU BISA TERIAK ATAU LONCAT."
"KAK, MAKSUDNYA APA?" Saking paniknya, Nina sampai tidak sadar jika ia malah berpegangan erat sekali di pinggang Brian. "KAK BRIAN NGGAK MACAM-MACAM, KAN?" Ia berteriak lagi, dan lagi-lagi membuat pengendara yang lain teralih perhatiannya.
"DUA MACAM AJA, NA."
"KAK!" Spontan, perempuan itu mengeplak bahu Brian, membuat laki-laki itu malah terkekeh di balik kaca helmnya. "AKU LONCAT SEKARANG NIH!" kata Nina yang mengancam.
"JANGAN, NA. NANTI SAKIT."
Dalam hati Nina juga berpikir. Ia tidak mungkin nekat meloncat karena ia akan tahu konsekuensinya bahkan lebih buruk dari pada sekadar sakit. Dirinya hanya mengancam Brian saja. Walau ia takut Brian akan macam-macam dengan dirinya, tetapi ia tetap yakin jika Brian itu orang baik. Brian tidak mungkin membuatnya terluka walau perasaannya kali ini benar-benar takut.
"KAK BRIAN, INI UDAH JAUH BANGET. KITA MAU KE MANA?"
Nina benar-benar tidak tahu jalanan ini. Ia menduga bahwa jalanan ini bukan ke arah kota karena semakin lama jalanan semakin luas tetapi di pinggirnya tidak ada ruko, hanya beberapa toko milik warga. Ada banyak berjejeran toko oleh-oleh dengan keranjang-keranjang berisi apel yang digantung, ukiran kayu, dan lainnya. Nina tidak tahu ini jalanan apa, tetapi ia bisa membaca keterangan Kota Batu yang baru saja mereka lewati.
"KAK BRIAN, INI KITA UDAH DI KOTA BATU?" tanya Nina, memastikan penglihatannya.
"IYA, NA."
"MAU NGAPAIN, KAK?"
"LIHAT BINTANG."
Nina tidak peduli dengan apa yang dikatakan Brian. Yang pasti saat ini dirinya benar-benar ingin pulang.
"KAK, AKU MAU PULANG AJA. NGGAK USAH LIHAT BINTANG ATAU APAPUN ITU."
"IYA NANTI KITA PULANG. SEKARANG LIHAT BINTANG DULU, YA?"
"KAK!"
"YA?"
Nina tidak menjawab. Setelah hampir satu jam, penglihatan Nina dimanjakan dengan jalanan yang mulai naik turun dan berkelok. Udara juga semakin dingin. Beruntung, Brina juga sempat meminjaminya jaket yang cukup tebal, lebih tepatnya Brina yang memaksa Nina untuk memakai jaketnya padahal jarak dari rumah kost Brina dengan rumah kost Nina cukup dekat. Apakah ini sudah rencana Brian untuk membawanya ke tempat ini dan Brian meminta Brina untuk meminjami jaketnya? Ah, itu tidak akan pernah masuk akal bagi Nina, karena saat mereka pulang tadi langit juga gerimis. Jadi, akan masuk akal jika jawabannya adalah karena Brina tidak ingin Nina kehujanan sehingga ia meminjami jaketnya. Tetapi, alih-alih jaket, seharusnya Brina meminjaminya jas hujan saja.
Nina sudah tidak memikirkan tentang mengapa Brian mengajaknya ke tempat ini, di pegunungan malam-malam. Perhatian Nina teralih pada jutaan bintang yang bertebaran di angkasa dan sesekali terlihat pemandangan lampu-lampu berkelap-kelip ketika mereka berada di ketinggian. Jujur saja Nina sudah pemadangan seperti ini. Perempuan itu juga menghirup napas dalam-dalam dan betapa menyegarkannta udara di sini menusuk paru-parunya.
Tidak lama, Brian meminggirkan motornya dan Nina baru sadar jika mereka sudah tidak di jalan raya lagi. Namun, lagi-lagi ia masih terpana dengan pemandangan di jauh sana yang sangat indah, lampu-lampu yang ia lihat dari dataran tinggi ini sungguh memajakan matanya.
"Na, turun. Udah sampai," ucap Brian yang sudah mematikan mesin motornya.
Nina pun tersadar. Ia bersusah payah untuk turun dan akhirnya kaki-kakinya bisa menyentuh tanah.
Perempuan itu melepas helmnya. Ia merapikan rambutnya yang cukup berantakan dan dirinya langsung berbalik untuk melihat pemandangan yang ada di belakangnya. Saat ini, mereka sepertinya ada di sebuah tempat parkir yang tidak cukup ramai tetapi ada beberapa motor yang terparkir.
Namun, ketika ia melihat ke belakang, Nina melihat sebuah gedung dengan beberapa lantai. Ada lampu yang bertuliskan 'SELECTA' yang tidak tidak tahu gedung apa itu, tetapi pikirannya langsung random menebak-nebak.
Nina langsung berbalik untuk menatap Brian. Ia perlu mendongak untuk menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu.
Tidak mau terkecoh oleh rambut Brian yang masih berantakan yang sejujurnya membuat laki-laki itu semakin tampan saja, Nina langsung menanyakan hal yang membuatnya merasa janggal.
"KAK, KITA NGGAK BAKAL KE SANA KAN? KAK BRIAN NGGAK BAKAL BAWA AKU KE SANA KAN, KE HOTEL ITU KAN?" ucap Nina dengan keras sambil menunjuk ke bangunan yang ada di belakangnya. Beruntung saja di sini tidak ada orang yang mendengar ucapannya.
"Itu hotel ya, Na? Aku belum pernah ke sana sih. Kamu mau nyoba ke sana?"
Mendengar Brian berkata seperti itu semakin membuat Nina membulatkan matanya. "MAKSUD KAK BRIAN APA? AKU MAU PULANG, KAK."
Brian masih dengan wajahnya yang sangat santai. "Kok pulang? Kan kita baru aja sampai." Laki-laki itu kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ini juga masih jam setengah delapan, Na."
"Tapi aku takut, Kak," kata Nina yang ucapannya menurun.
Brian jadi bingung, mengapa Nina berkata seperti itu. "Takut kenapa, Na?"
"Takut Kak Brian macam-macam," ucap Nina dengan jujurnya. Ia tidak mau menutupi apa yang sedang ia pikirkan.
Brian malah tersenyum. Memang tampan, tetapi membuat Nina semakin ketakutan. "Nggak macam-macam, Na. Dua macam aja."
"Kak ... aku mau pulang." Mata Nina sudah berkaca-kaca saja. "Aku nggak papa deh, Kak, pulang naik taksi online aja."
"Loh, kok pulang? Naik taksi online? Enggak, Na. Bahaya."
"Kak Brian khawatir?"
"Loh, ya jelas. Aku yang bawa kamu ke sini, keselamatan kamu ya jadi tanggung jawab aku, Na," kata Brian yang terlihat serius.
Nina jadi sedikit lega karena sepertinya memang Brian tidak ingin macam-macam padanya, tetapi hanya dua macam dan Nina tidak tahu dua macam apa yang dimaksud oleh Brian.
"Ayo, Na."
"Ke mana?"
Brian menunjuk tempat yang ada di belakangnya. Sepeti rumah, tetapi terdengar suara penggorengan. Apakah itu rumah makan, atau apa?
"Tempat apa itu, Kak?" tanya Nina yang masih belum bergerak dari tempatnya.
Brian tersenyum dan tidak mau menunggu lagi, ia menggenggam pergelangan tangan Nina dan membawanya ikut bersama dirinya.
"Kak Brian, kita mau ke mana?" tanya Nina lagi.
"Kamu nanti tahu sendiri, Na."
Hanya sekitar dua puluh langkah saja, Nina sudah tahu ke mana Brian membawanya. Tempat ini cukup ramai tetapi tidak penuh. Sebagian besar adalah muda-mudi yang entah bersama kekasih atau sekadar teman nongkrong. Mereka tidak hanya sekadar nongkrong, tetapi juga sedang menikmati sebuah hidangan.
"Ayo, Na."
Kali ini Nina menurut. Mereka berdua duduk di sebuah lesehan dengan bangku.
"Kak, kita mau makan?" Nina masih bertanya saja padahal jelas-jelas mereka sudah ada di tempat makan. Tetapi, yang sedari tadi Nina lihat hanyalah pengunjung yang menyantap mie instan.
Brian mengangguk. "Kamu mau?" Ia menawarinya pada Nina. "Mau pesan apa?"
Nina sedikit bingung, karena ia rasa di tempat ini hanya menyediakan menu mie instan saja. "Samain aja, Kak."
"Minumnya?"
"Samain aja, Kak."
Setelahnya, Brian bangkit untuk memesan. Tidak lama, dirinya sudah kembali dan duduk di sebelah Nina.
Sengaja sekali, Brian memilih tempat duduk yang langsung menghadap hamparan lampu-lampu yang indah. Saat ini memang mereka sedang ada di Taman Selecta, tepatnya di ketinggian 1100 meter di atas permukaan air laut, di mana sudah pasti pemandangan di bawah saja begitu indah.
"Kak."
"Hm?" Brian menoleh, menatap Nina yang memanggil namanya.
"Kok bawa aku ke sini?" tanyanya. Nina tahu betul jika tempat seperti ini bukan tempat yang wajar untuk dirinya dibawa Brian ke sini. Jika ke mall, itu masih wajar. Tetapi mereka harus menempuh perjalanan yang lumayan untuk bisa sampai ke sini, ditambah disuguhi oleh pemandangan malam yang indah.
Brian ingin menjawab, tetapi pesanan mereka sudah datang.
Dua piring mie instan dan dua gelas teh hangat sudah siap untuk mereka santap. Di lain sisi, Nina benar-benar tidak percaya jika Brian membawanya jauh-jauh ke sini hanya untuk makan mie instan dan teh hangat.
Ia pun menatap Brian dengan penuh kebingungan. Setelahnya, Brian malah terkekeh menatap dirinya yang mungkin nampak penuh teka-teki di mata Brian.
"Na, ayo makan," ucap Brian yang mempersilakan Nina untuk makan mie instannya. Brian mendahului dengan menyeruput teh hangatnya kemudian beralih menyantap mie instan.
Nina pun sama. Ia juga menyeruput teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang cukup terkena angin selama di perjalanan tadi. Ia juga memakan mie instan yang sudah ia pesan. Menurut Nina, rasanya biasa saja bahkan Nina lebih suka mie instan buatannya sendiri karena ia rasa merk mie instan yang dipakai bukanlah merk yang biasanya ia makan.
"Kak, aku masih nggak percaya aja Kak Brian ngajak aku jauh-jauh ke sini mendadak tanpa ada kesepakatan dulu sama aku," ucap Nina di sela-sela makannya.
"Kamu nggak marah kan, Na?"
Nina menggeleng. "Enggak. Tapi aku cuma nggak nyangka aja. Kenapa harus aku, Kak?"
"Karena Brina nggak bisa makan mie instan, Na." Brian terkekeh dengan ucapannya. "Kamu tahu sendiri kan kalau Brina itu bisa makan apa aja bahkan sambal cumi level tertinggi. Cuma anehnya emang dia sama sekali nggak bisa makan yang namanya mie instan. Sayang banget ya, padahal mie instan itu lumayan enak."
Perkataan Brian membuat Nina sedikit menyunggingkan senyumnya, tetapi ada goresan yang terasa perih. Rupanya Brian mengajak dirinya sejauh ini karena kekasihnya, Brina, yang tidak bisa makan mie instan. Nina memang tahu jika Brina tidak bisa makan mie instan. Tetapi ya bisa saja Brina hanya memesan minum ketika Brian makan mie instan di sini.
Rasanya tidak cocok saja. Jujur, warung mie instan sederhana ini terasa sekali hawa-hawa romantisnya ditambah dengan pemandangan yang indah. Jadi, Nina merasa sedikit sakit hati ketika alasan Brian mengajaknya ke sini karena Brina yang tidak bisa ia ajak ke sini.
"Kamu suka mie instannya kan, Na?" tanya Brian yang membuyarkan lamunannya.
Nina mengangguk. "Iya, Kak."
"Padahal rasanya biasa aja, tapi emang tempatnya dan suasana di sini yang membuat nyaman. Jadi kita bisa menikmati mie instan ini dengan rasa yang berbeda, Na."
"Mungkin lebih cocok kalo Kak Brian sama Kak Brina yang makan di sini. Romantis."