Kesalahan Brian

1091 Kata
Tidak lama, hanya sekitar satu setengah jam saja mereka ada di tempat ini untuk menikmati mie instan dan secangkir teh hangat. Tidak banyak juga yang mereka obrolkan, hanya sekadar obrolan ringan saja dan mereka lebih banyak diamnya. Harusnya dengan pemandangan indah seperti ini, Nina sudah sibuk dengan ponselnya dan memotret berkali-kali hamparan lampu yang berkilauan seperti bintang. Namun, dirinya tidak melakukan itu sama sekali. Pikirannya masih berputar-putar mengenai perkataan Brian. Kata laki-laki itu, alasan dirinya membawa Nina ke sini karena Brina yang sama sekali tidak bisa makan mie instan. Nina merasa jika dirinya hanyalah cadangan untuk Brian untuk malam ini. Jujur saja, ia kembali merasa sakit hati walau sedikit. Brian ternyata bisa mengatakan hal itu, seolah-olah hanya memanfaatkan kehadirannya saja. Padahal, Nina tidak minta banyak, hanya dekat dengan dirinya sebagai teman sudah cukup. "Na, udah?" ucap Brian yang membuyarkan lamunannya. "Eh udah, Kak," katanya yang sedikit terkejut. Ia melihat Brian yang kembali mengenakan jaket dan dirinya pun sama-sama memakai jaket Brina yang dipinjamkan padanya. "Pulang sekarang ya, Na." Nina menatap Brian sejenak. "Udah ya, Kak?" tanyanya yang tanpa maksud. "Kamu belum?" tanya Brian. Sebenarnya Nina akan lebih senang lagi jika Brian aktif mengobrol bersamanya. Tetapi, sedari tadi hanya dirinya yang mengawali obrolan. "Nggak. Ayo pulang, Kak." Mereka pun segera berjalan ke parkiran. Di parkiran, Brian terlebih dahulu mengulurkan helm Brina yang dipakai oleh Nina. "Na, makasih ya udah mau aku ajak ke sini," kata Brian yang mengucapkan terima kasih. Nina hanya tersenyum tipis saja. "Iya, Kak," jawabnya dengan singkat. Padahal tidak ada yang mengajaknya ke tempat ini. Brian dengan pendiriannya lah yang sudah membawa Nina ke tempat ini. Walau Nina takjub dengan udara segar dan pemandangan malam yang indah, tetap saja ada benaknya yang terluka. Nina tidak yakin apakah Brian paham dengan yang ia pikirkan saat ini atau tidak. "Mau langsung pulang, Na?" tanya Brian lagi setelah ia memakai helmnya. Padahal, tadi Brian sudah menanyakan hal tersebut dan yang mengajak duluan pulang adalah Brian.  Nina mengangguk saja. Menurutnya juga sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan di sini bersama dengan Brian. Jika saja ia dan Brian sudah sangat akrab, sudah pasti keadaannya akan berbeda. Nina akan sibuk mengambil foto pemandangan atau bahkan foto dirinya bersama dengan Brian.  "Naik, Na," ucap Brian ketika ia sudah naik di atas motornya, menyuruh Nina untuk naik juga.  Nina datang ke tempat ini bukan karena keinginannya bahkan tadi ia sempat merasa takut, dan saat ini dalam perjalanan pulang, Nina juga tidak merasakan bahagia. Sejujurnya, perkataan Brian masih saja teringat tentang Brina. Selama perjalanan, Nina mendengar jika beberapa kali Brian mengajaknya mengobrol tetapi Nina sama sekali tidak menanggapi. Perempuan itu hanya diam saja sampai mereka berhenti tepat di depan rumah kost Nina.  "Aku masuk dulu, Kak," kata Nina sambil menyerahkan helm Brina kepada Brian. "Na." Brian memanggil Nina tetapi perempuan itu memilih berlalu saja masuk ke dalam rumah kostnya yang kebetulan ada penghuni lain yang sedang mengobrol di luar jadi ia tidak perlu membuka pintu pagar karena pintunya terbuka. Nina langsung masuk saja bahkan tanpa mengucapkan terima kasih. --- "Hah, lo ngajak Nina ke Selecta buat makan mie?" Brina sampai harus mengulang hal yang sudah dikatakan Brian.  Sekarang sudah pukul sebelas malam tetapi Brian masih saja menyempatkan diri untuk mampir ke rumah kost Brina. Namun, karena hari sudah malam, Brian hanya bisa mengobrol dengan adiknya itu di teras.  "Kok Nina bisa mau lo ajak ke sana?" tanya Brina yang cukup bingung. Setahunya, Nina tidak akan semudah itu mau diajak ke tempat yang lumayan jauh apalagi dengan orang yang belum begitu akrab dengan dirinya. Ah, atau jangan-jangan Nina mau menerima ajakan Brian karena perempuan itu memang menyukai Brian.  "Gue nggak bilang sih sama Nina kalau mau ngajak dia. Gue cuma jalan terus aja walau dia berkali-kalai bilang kebablasan," ucap Brian dengan menyempatkan senyumannya karena mengingat kejadian tadi yang menurutnya cukup lucu. Brna sudah menduga jika ada yang aneh dari kakaknya itu karena senyum-senyum sendiri. "Lo udah mulai suka ya sama Nina?" tanyanya begitu tiba-tiba. Brian menggedikkan bahunya. "Kayaknya sih belum, cuma Nina itu lucu. Lo sadar nggak sih selama ini kalo Nina itu lucu?" "Biasa aja padahal." "Tapi, Brin. Pas pulang tadi, kayaknya Nina ngambek nggak sih?"  "Lah mana gue tahu? Kan gue nggak sama kalian!" Pertanyaan Brian yang neh itu langsung mendapatkan semprotan dari Brina. "Emang selama di sana lo ngapain Nina? Lo pasti bikin sedih Nina ya?!" tanya Brina dengan wajahnya yang mendadak kesal.  Brian langsung menggeleng dituduh seperti itu oleh Brina. "Enggak. Seriusan. Ngapain juga gue bikin Nina sedih. Yang ada gue yang bakalan sedih juga kalo lihat Nina sedih." "Emang lo ngomongin apa aja sama Nina?" tanya Brina penasaran. Brian perlu menarik napsanya panjang terlebih dahulu. "Ya lo tahu sendiri kan kalo gue kepengen gitu nyoba mie yang ada di sana. Cuma kalo sama teman-teman gue, mereka bisanya sabtu aja sedangkan lo tahu sendiri kalo sabtu bakal rame banget. Yaudah deh gue ajak Nina terus dia kan bingung kenapa gue ngajak dia ke sini, terus gue bilang aja karena lo sama sekali nggak bisa makan mie instan jadi gue ngajak Nina, gitu doang kok." Brina pun dibuat memutar bola matanya, setelah itu ia menyempatkan diri utuk menampol kepala Brian. "Dasar bodohhnya nggak kelar-kelar ya!" Brian pun tidak terima. "Kok lo malah mukul gue sih? Pakai ngatai bodohh segala. Kualat nanti lo!" ucapnya sambil menunjuk Brina. "Gimana nggak kesel si Nina. Lo kalau ngajak dia mah ya ngajak aja gitu, jangan bilang kalau lo ngajak Nina karena gue yang nggak bisa makna mie instan. Kesannya Nina cuma lo manfaatin doang dan lo jadiin cadangan kalo lo nggak bisa pergi sama gue."  Brian sampai ternganga mendapati kenyataan yang dikatakan Brina. Ia baru berpikir, memang benar juga apa yang dikatakan Brina. Dirinya telah salah mengatakan bahwa ia mengajak Nina ke tempat tadi karena Brina yang tidak bisa makan mie instan. Walau kenyataannya memang seperti itu, tetapi sebnarnya Brian ingin lebih. Brian ingin mengobrol banyak dengan Nina walau memang pada kenyataannya hanya obrolan singkat saja yang tercipta. Dirinya memang tidak pandai untuk mencairkan suasana, tetapi ia juga tidak menyangka jika perkataannya telah membuat Nina merasa dimanfaatkan.  "Gue salah ya." "Ya iyalah pakai nanya segala!" Brian lalu mnegeluarkan ponselnya. Ia berniat ingin meminta maaf pada Nina tentang dirinya yang mengatakan bahwa mengajak Nina karena Brina yang tidak bisa diajak.  "Ngapain lo malah sibuk sama hape lo? Gue lagi ngomong tahu nggak?" tanya Brina semakin kesal saja karena Brian malah mengeluarkan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya. "Mau minta maaf sama Nina." "Minta maaf secara langsung, jangan lewat w******p. Besok aja." Tidak ada yang bisa Brian lakukan kecuali menurut saja pada Brina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN