Perkuliahan hari ini hanya satu mata kuliah saja dan berakhir pada pukul setengah sepuluh pagi, karena dimulai pukul tujuh pagi. Jika sudah seperti ini, Nina memilih untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan karena bagi dirinya tidak ada teman yang cukup menyenangkan untuk diajak pergi beli es krim di mall. Sebenarnya Nina bisa melakukan seorang diri, pergi beli es krim di mall atau kemana pun perempuan itu sudah terbiasa sendiri. Tetapi, kali ini Nina sedang malas saja. Kalau biasanya ia akan langsung pulang ke rumah kostnya, kali ini ia ingin memanfaatkan waktunya sedikit untuk pergi ke perpustakaan walau tidak ada buku yang sedang ia perlukan.
Masih terbilang pagi tetapi perpustakaan sudah ramai. Nina ada di perpustakaan pusat milik Universitas Matahaya. Di sini, koleksi buku-buku jauh lebih lengkap dari pada di perpustakaan fakultas. Dan yang paling menyenangkan adalah ketika Nina tidak sedang mencari buku perkuliahan ia bisa menemukan berbagai koleksi novel. Mulai dari novel berbahasa Inggris, novel lokal, hingga novel terjemahan. Membaca novel bukanlah sebuah hobi yang dimiliki oleh Nina, tetapi terkadang ketika ia menemukan satu novel yang menarik maka Nina akan bisa menamatkan membaca novel tersebut tidak sampai dua hari.
Saat ini, Nina belum juga masuk ke dalam perpustakaan. Ia masih bimbang. Dirinya cukup haus tetapi ia sangat malas pergi ke kantin, karena jarak kantin dan perpustakaan cukup memakan tenaga. Kalau diraba-raba, perutnya juga terasa keroncongan saja. Mana bisa dirinya mencari novel yang menarik untuk dibaca jika keadaan perutnya saja tidak bisa dikondisikan.
Nina yang masih duduk di bangku panjang selasar perpustakaan itu pun bangkit dari duduknya. Ia hendak melangkah pergi ke kantin, tetapi ia kembali duduk dalam sekejap. Nina mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih memesan makanan dan minuman melalui ojek online saja. Tidak apa harus menunggu lima belas sampai dua puluh menit, asalkan dirinya tidak perlu berjalan jauh ke kantin. Waktu untuk menunggu makanannnya datang juga bisa ia manfaatkan untuk sekadar memainkan ponselnya.
Pertama, Nina membuka aplikasi ojek online bagian food delivery. Ia tidak perlu repot berpikir makanan apa yang akan ia order untuk menghilangkan rasa laparnya ini. Cukup sekali tekan dan ia sudah menemukan pilihannya. Apalagi kalau bukan manggo smoothies langganannya. Lumayan, selain bisa untuk mengganjal lapar, kesegarannya juga bisa untuk menghilangkan dahaga. Tetapi, tak lupa juga perempuan itu memesan sebotol air mineral. Sebelum benar-benar memesan, yang tidak boleh terlewatkan adalah memakai promo yang tersedia. Benar-benar mencerminkan anak kost sekali kelakuan Nina ketika memesan makanan melalui ojek online.
Nina sampai membuka mulutnya karena tidak percaya. Mango smoothies dan sebotol air mineral hanya perlu ia bayar sebesar lima ribu rupiah saja setelah ada diskon sembilan puluh persen ditambah gratia ongkir. Benar-benar surga sekali. Nina sangat bahagia jika ada promo sebesar ini dan otomatis kebahagiaannya dapat menaikkan suasana hatinya.
Lagi-lagi, sebelum benar-benar memesan, Nina berpikir lagi. Apakah ia perlu memesan makanan berat sekalian atau tidak karena promo hanya berlaku satu kali saja satu hari. Jemarinya sibuk menscroll dan dalam hatinya juga sibun menghitung-hitung.
"Kalau beli chicken sama mango smoothies nanti kekenyangan nggak ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Nina menggeleng, menandakan bahwa ia tidak jadi memesan makanan itu. "Tapi enak nih chicken di sini," katanya lagi yang merasa bimbang.
"Aduh, pusing kan. Ada promo pusing, nggak ada promo tambah pusing." Nina mengomel sendirian. Beruntung tidak ada satu orang pun yang memperhatikannya.
"Kalau ada aku, pusing nggak, Na?"
Nina hampir berjengit kaget. Dirinya langsung menoleh pada seseorang yang baru saja berkata pada dirinya. Orang itu masih berdiri di samping Nina dan malah senyum-senyum saja. Padahal, Nina sangat berusaha sekali untuk mendongak menatap wajahnya.
"Kak Brian?"
Brian beralih duduk di samping Nina. "Mau gofud ya?" tanyanya ketika kembali melirik layar ponsel Nina yang masih menyala.
"Eh iya, Kak." Bukannya memesan, Nina malah mematikan layar ponselnya. Ia seperti malu ketika ponselnya menyala dan nampak di hadapan Brian.
"Kok nggak jadi?" tanya Brian membuat Nina bingung harus menjawab apa.
Nina hanya menggeleng saja.
"Na," ucap Brian selanjutnya. Kini wajahnya berubah menjadi sedikit serius tanpa senyuman di sana. Rambutnya yang hitam sedikit berantakan karena embusan angin pagi yang cukup kencang di sini. Tetapi, anehnya kedua mata laki-laki itu menatap Nina dengan tatapan sendu.
Nina bingung dengan keadaan yang seperti ini. Hari ini perpustakaan cukup ramai dan dirinya sedang bersama Brian. Ditambah Brian yang sepertinya ingin membicarakan hal yang serius walau ia tidak tahu apa, membuat sedikit kurang nyaman. Jika sedari tadi dirinya sama sekali tidak dipedulikan oleh orang-orang, tetapi ketika Brian datang, beberapa orang menaruh perhatian pada dirinya dan juga Brian yang duduk di sampingnya.
"Kak Brian, ada apa?" tanya Nina dengan pelan. Ia sangat berusaha agar orang lain tidak bisa mendengar obrolan mereka. "Kak, di sini rame banget." Nina mengingatkan pada Brian. Yang pasti, mengenai kedekatannya dengan Nina, perempuan itu tidak mau orang-orang menjadi salah paham walau memang benar dirinya mencintai laki-laki bernama Brian itu.
Brian menyadari akan hal tersebut. Dirinya pun memutuskan untuk mengajak Nina pergi dari sini. "Na, ayo ikut aku," katanya pelan.
"Ke mana, Kak?"
"Ayo, ikut aja dulu."
Brian pun berdiri, diikuti Nina yang juga berdiri dan akhirnya mereka berdua pergi dari sana, menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil Brian untuk menghindari kerumunan.
---
"Brin, lo apa nggak pernah curiga gitu sama kedekatan cowok lo sama Nina?" Wati, salah satu pengurus himpunan yang mulutnya sangat hobi sekali untuk membicarakan orang. Ia sedang bersama Brina di sekretariat himpunan. Seperti biasanya, Brina memang rajin sekali datang ke sini walau tidak ada urusan yang membutuhkan tenaganya.
Brina tidak menggubrisnya. Ia memilih menyibukkan diri dengan menata beberapa barang yang berserakan seperti berkas-berkas dan buku-buku yang ada di atas meja.
Menyadari dirinya tidak dipedulikan oleh orang yang ia ajak bicara, Wati tersenyum miring. Bukannya diam, dirinya malah semakin penasaran saja dan berusaha mengorek informasi apapun yang bisa ia dapatkan.
Wati berjalan mendekati Brina dan ia membisikkan sesuatu tepat di sebelah telinga Brina. "Nina suka ya sama Brian?"
Brina pun menghentikan aktivitasnya mendengar bisikan Wati. Ia meletakkan buku-buku yang ia pegang dan berbalik kemudian mengembuskan napasnya tepat di samping Wati.
Saat ini kebetulan sekali mereka hanya berdua saja di ruangan ini, tidak ada orang lain.
"Stop kepo, Wat," kata Brian dengan singkat.
Wajah Wati nampak kecewa karena Brina hanya membalasnya seperti itu padahal Wati menginginkan hal lain.
Wati masih tidak habis juga rencananya. Beberapa kali ia memang penasaran sekali dengan hubungan Brina dan Brian apalagi akhir-akhir ini ia sering mendapati Nina yang dekat juga dengan Brian. Beberapa hari yang lalu, Winta juga pernah bercerita padanya jika perempuan itu melihat Nina dan Brian berduaan di selasar perpustakaan, membuat Wati begitu penasaran.
"Nggak gitu, Brin. Kan lo sama Nina itu gue lihat emang deket banget bagaikan semut sama gula yang nggak dipisahin. Tapi gue juga lihat Nina semakin dekat aja sama Brian. Wajar fong kalau gue penasaran. Kalau kasus-kasus yang udah lewat, kalau kayak gitu, biasanya si cowok bakal oleng tuh terus putusin ceweknya demi sahabat ceweknya. Lo mau Brian oleng ke Nina dan putusin lo?"
Mendengarnya membuat Brina cukup lelah. Perempuan itu benar-benar tidak mau meladeni Wati yang sedari tadi banyak bicara.
"Terserah lo deh, Wat, mau ngomong apa juga."
"Semalam, lo tahu nggak Brian sama Nina pergi ke mana?" Lagi-lagi, perkataan Wati berhasil menyita perhatiannya.
"Maksudnya?" tanya Brina. Perempuan itu menduga jika Wati tahu bahwa Brian dan Nina pergi ke Kota Batu sepulang dari rumah kostnya.
Sedikit informasi, rumah kost Wati tepat berada di depan rumah kost Nina. Jadi, Wati juga sering melihat jika Brian sangat sering datang mengunjungi Brina di rumah kostnya. Dan semalam, kebetulan sekali ketika dirinya ingin pergi ke mini market, ia melihat Brian dan Nina uang keluar dari halaman rumah kost Brina dengan berboncengan. Wati mengurungkan niatnya untuk pergi ke mini market dan ia rela sekali mengikuti Brian dan Nina sampai ke Taman Selecta, Kota Batu.
"Bukannya gue mau manas-manasin lo ya, tapi ya emang sih gue gabut banget masa. Gue ngikutin Brian sama Nina dong semalam," kata Wati yang mengawali pembicaraannya.
Brina masih memasang wajahnya yang santai, karena ia tidak masalah apa saja yang dilakukan Brina dengan Nina. Tetapi, ia cukup terkejut dengan pengakuan Wati yang bisa-bisanya mengikuti Brian dan Nina sejauh itu, apalagi semalam sempat hujan. Benar-benar manusia tertidak punya kerjaan di dunia menurut Brina.
"Dan yang paling gue nggak nyangka sih ya, Brian bawa Nina ke Selecta dong, ke mie soden, Brin!" Wati berbicara dengan penuh semangat. Ia menggebu-gebu seperti sedang melaporkan sebuh kasus perselingkuhan.
"Brin, gue tahu kalo lo nggak bisa makan mie instan. Tapi apa itu bisa dijadiin alasan buat Brian yang malah ngajak Nina pergi sejauh itu. Yah, kalau menurut gue sih jauh ya. Apalagi yang gue tahu sih ya, Nina baru akhir-akhir ini dekat sama Brian. Apa lo nggak curiga sama kedekatan mereka?" Wajah Wati benar-benar bingung selain dirinya juga ingin tahu betul urusan Brina dengan Brian dan Nina.
Brina tersenyum sesaat. Ia pun kembali merapikan sisa-sisa buku yang belum rapih. Selanjutnya, baru lah ia menanggapi perkataan Wati.
"Terus, yang lo harepin dari gue apa, Wat? Lo mau gue nanggepin gimana?"
Wati dibuat mengerutkan keningnya karena tanggapan Brina yang jauh dari ekspektasinya. Ia pikir Brina langsung marah atau menghubungi Brian atau Nina. Tetapi, saat ini, di hadapannya, Brina justru masih terlihat begitu santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kok lo nggak marah? Lo udah tahu kalau Brian emang mau ngajak Nina ke sana? Tapi masa sih lo udah tahu dan lo malah ngebolehin mereka pergi berdua? Apa lo nggak curiga sama Brian, dan apa lo nggak takut Brian oleng kayak kata gue tadi?" tanya Wati yang benar-benar rasa penasarannya sangat tinggi.
Brina sudah tidak mau menanggapi. Ia asyik duduk selonjoran di lantai sembari mendinginkan tubuhnya di depan kipas angin yang menyala-nyala.
Melihat Brina begitu santainya, membuat Wita terus penasaran. Ia pun ikut duduk di sebelah Brina. "Atau ... Brian baru bilang ke lo setelah dia pulang dari Kota Batu sama Nina?" Perempuan itu tidak hentinya menebak-nebak.
Brina mengembuskan napasnya karena merasa lelah dengan celotehan Wati. Ia menoleh menatap Wati yang wajahnya masih dipenuhi dengan rasa penasaran. "Jangan suka kepo deh, Wat. Gue nggak suka lo kepo kayak gitu."
"Yah, bukannya kepo, Brin. Cuma kan lo itu teman gue juga, gue nggak mau aja lo terus-terusan diginiin sama Brian sama Nina. Kan semua orang juga tahu kalo lo sama Brian itu pasangan terfavorit se Universitas Matahaya. Jadi, siapapun bakal belain lo kok kalo emang Brian selingkuh sama Nina."
"Mulut lo dijaga, Wat," ucap Brina yang memotong perkataan Wati. Wajah Brina nampak kesal. Memang benar jika Brina dan Brian bisa disebut primadona kampus walau tidak banyak yang ia buat untuk semua orang, hanya saja memang pasangan kekasih itu sangat terlihat adem ayem saja bahkan selama tiga tahun ini.
"Maaf, Brin. Tapi ...."
"Gue tahu, Wat, kalo lo khawatir sama gue. Tapi gue mohon sih jangan terlalu kepo juga sama kehidupan gue sama Brian. Cuma gue sama Brian yang tahu, dan jangan pernah bawa-bawa Nina. Gue nggak mau Nina kena dampaknya gara-gara kekepoan lo. Maaf ya, Wat, tapi setau gue lo bakal cerita ke siapapun tentang gosip dari yang kecil sampai besar. Dan gue nggak mau masalah Brian sama Nina yang pergi ke Kota Batu, lo sebarin ke semuanya." Brian berucap panjang lebar menatap Wati. Ia benar-benar berharap agar wati tidak melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Brina ...."
"Gue capek sebenarnya, Wat, selalu jadi bahan gosip sana sini padahal gue cuma lagi ada projekan sama si A si B, tapi orang-orang anggapnya gue selingkuh. Gue pernah jadi kahim alias ketua himpunan, jadi seharusnya gue wajar dong ada projekan sama siapa aja, tapi kenapa orang-orang ngiranya gue selingkuh sih? Kenapa juga mereka ngurusin hal-hal pribadi gue?" Brina akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terpendam.
"Karena lo itu cantik, Brin. Lo baik, lo ramah, lo hampir mendekati sempurna. Bahkan lo mahasiswi paling sempurna di kampus walau masih banyak mahasiswi lain yang bisa ngeharumin nama kampus, tapi lo paling sempurna dan paling berpengaruh di kampus ini. Brian juga sama. Dia ganteng, baik, ramah, walau dia itu mahasiswa kupu-kupu, tapi kalian berdua berpengaruh banget di kampus ini."
"Berpengaruh gimana? Berpengaruh dalam bidang pergosipan kalian? Gue sama Brian cuma kalian jadiin bahan gosip kan? Apalagi Nina yang menurut lo dekat sama Brian, pasti habis ini kalian jadiin bahan gosip juga. Iya kan?"
Rupanya, Wati sudah kehabisan kata-kata saja. Dirinya tidak bisa menanggapi perkataan Brina karena memang benar apa yang dikatakan Brina. Gosip terbesar dan termenarik selalu hadir dan berkaitan dengan Brina dan Brian.
Wati memasang wajahnya yang bersalah pada Brina. Tetapi, dalam hatinya, ia merasakan akan ada gosip terbaru dan akan menjadi gosip terpanas juga, yaitu mengenai Brian yang dekat dengan Nina. Wati belum bercerita jika dirinya mengambil beberapa foto Brian bersama dengan Nina malam tadi. Jika Wati menyebarnya ke akun media sosial, sudah pasti akan menjadi pembicaraan yang hangat. Wati tersenyum membayangkan hal itu.
"Wat ...," panggil Brina.
"Iya, Brin?"
"Gue boleh pinjam handphone lo nggak?"
"Buat apa?" tanya Wati yang penasaran. Karena ia tahu betul jika Brina sangat jarang sekali meminjam ponsel apalagi saat ini perempuan itu juga sedang membawa ponselnya. Tetapi, Wati menurut saja dan langsung memberikan ponselnya pada Brina.
Brina menerima ponsel tersebut dan ia langsung membuka galeri foto. "Wat, sorry ya gue hapus foto-foto yang lo ambil secara ilegal. Foto-foto Brian sama Nina semalam." Dengan cepat, perempuan itu menghapus foto yang ada yang ternyata lumayan banyak.
Wati sudah tidak bisa berbuat apa-apa, perempuan itu hanya diam saja tanpa melakukan penolakan.
Setelah selesai, Brina mengembalikan ponsel milik Wati. "Thanks ya, Wat. Lain kali gue minta lo jangan sembarangan ngefoto orang. Itu privasi, Wat. Apalagi kalau sampai lo sebar, lo bisa dituntut. Gue bukannya sok, tapi gue cuma mau bilangin lo aja."
Merasa selesai, Brina bangkit dari duduknya. Ia langsung mengambil tasnya dan pergi dari sana sesaat setelah berpamitan pada Wati. "Gue balik dulu, Wat."