"Kamu masih ada kelas lagi?" tanya Brian. Keduanya sudah ada di dalam mobil tanpa mesin yang menyala.
Nina menggeleng. "Enggak ada, Kak. Emangnya kenapa, Kak?"
"Mau ikut aku?"
Nina berpikir sejenak. Jika semalam Brian langsung membawanya pergi, kali ini Brian memberikan tawaran. Nina tak langsung menyetujui atau menolak. Perempuan itu harus bertanya terlebih dahulu ke mana Brian akan membawanya. "Ikut ke mana, Kak?" tanyanya.
"Ke mana aja, Na." Brian menjawab seolah-olah dirinya bukan lah orang yang sibuk. Nina memang tahu jika Brian bukan mahasiswa yang join satu pun organisasi atau unit kegiatan. Tetapi, Nina tidak menyangka jika enteng sekali Brian berucap, seolah ia bisa diajak pergi sampai Korea Utara sekalipun saat ini juga.
"Ke mana aja nya itu ke mana, Kak?" tanya Nina lagi yang kali ini nada bicaranya jauh lebih tegas.
Brian pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia mundur perlahan-lahan, memastikan semuanya aman.
"Aku belum bilang setuju lho, Kak," kata Nina ketika mobil Brian mulai melaju di jalanan kampus.
Brian tersenyum tetapi masih fokus pada jalanan kampus yang lebih banyak pejalan kaki dari pada kendaraan yang melintas.
"Kok senyum-senyum, Kak?" tanya Nina yang penasaran. Jika seperti ini, Brian membuatnya takut saja. Tetapi tetap, rasa cintanya pada Brian tidak juga terhapuskan atau barang berkurang setetes saja.
Ekspresi Brian menurun, berubah serius. "Na ...."
Nina menoleh, sedari tadi ia memang menatap Brian. Tetapi ia menyempatkan untuk membuka ponselnya. Belum sempat ia membuka ponselnya, Brian sudah memanggil namanya saja.
"Iya, Kak?"
"Aku mau minta maaf soal yang semalam ya. Soal aku yang mendadak bawa kamu sampai Kota Batu dan soal yang alasan aku bawa kamu gegara Brina yang nggak bisa makan mie instan. Maafin aku kalo kesannya aku manfaatin kamu atau jadiin kamu sebagai teman buat pergi ke sana." Brian berucap dengan tulus. Bahkan ia menatap Nina sesaat ketika mobilnya berhenti untuk menyeberang.
Nina paham. Nina juga sebenarnya sudah tidak terlalu mempermasalahkan akan hal itu. Posisinya saat ini hanya yang mencintai Brian dan tidak berharap untuk dicintai balik. Jika Brian memang hanya memanfaatkan dirinya, bagus lah, setidaknya Brian tidak memiliki perasaan pada dirinya yang mungkin malah bisa membuat hubungannya dengan Brina menjadi berantakan.
"Nggak papa, Kak. Aku ngerti kok," kata Nina selanjutnya.
"Kamu nggak marah, Na?"
Nina menggeleng. "Enggak, Kak. Soal semalam yang aku cuek pas sampai kost, maaf ya, Kak. Aku kayaknya rada kesel buat semalam. Tapi sekarang aku nggak kesel lagi kok."
"Sekali lagi maaf ya, Na."
Nina tersenyum dan mengangguk. "Iya, Kak."
Brian sudah merasa lega jika memang Nina tidak marah padanya walau ia sempat kesal pada dirinya tadi malam.
"Terus, kamu mau ke mana, Na?" tanya Brian kemudian. Padahal jelas sekali perempuan itu sedang bersama dengan dirinya.
"Harusnya ke perpus, Kak," jawab Nina dengan singkat.
"Cari referensi ya?"
Nina menggeleng. "Enggak."
"Terus? Enggak pulang ke kost?"
Nina menggeleng lagi. "Enggak. Tadi rencananya mau ngabisin waktu. Nyari novel gitu sambil nunggu rada sore."
Brian pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Tapi ini masih jam sepuluh lebih sedikit. Sore masih lama, Na. Apa nggak bosen?" tanya laki-laki itu yang penasaran.
Sebelum menjawab rasa penasaran Brian, Nina mengembuskan napasnya lelah. "Ya mau gimana lagi, Kak. Aku males banget pulang ke kost. Tahu sendiri kan aku rada kurang srek sama penghuninya. Jadi ha sebisa mungkin jangan di kost."
"Jadi nggak salah kalo kamu ikut aku, Na." Brian justru tersenyum lebar ketika Nina menampakkan wajahnya yang lelah ketika membahas mengenai rumah kostnya.
"Emangnya mau ke mana sih, Kak?" tanya Nina lagi. Sedari tadi memang laki-laki itu belum memberitahu ke mana mereka akan pergi.
"Kamu maunya ke mana, Na?" Brian justru bertanya balik.
"Kak Brina gimana, nggak marah?" Nina baru teringat dengan Brina. Setahunya memang Brina masih ada kelas hari ini. Jadi, mungkin saja Brian sengaja tidak mengajak Brina. Tetapi, tetap saja rasanya kurang nyaman jika Brina tidak tahu bahwa dirinya sedang pergi bersama dengan Brian. Ia juga baru ingat, apakah semalam Brina tahu jika dirinya pergi sampai Kota Batu bersama Brian? Jika Brina salah paham, Nina akan merasa sangat bersalah sekali.
Nina pun memutuskan untuk bertanya juga tentang semalam. "Semalam Kak Brina tahu kalo kita pergi ke Kota Batu?" tanya Nina lagi, padahal pertanyaannya yang tadi belum dijawab oleh Brian.
Brian mengangguk, membuat Nina sedikit terkejut dan tidak percaya.
"Kak Brina tahu?" tanya Nina lagi untuk memastikan dan dirinya ingin mendapatkan jawaban selain anggukan.
"Iya, Na. Semalam aku bilang kok sama Brina kalo kita pergi makan mie di Kota Batu," kata Brian dengan santai, masih mengendalikan kemudinya.
"Terus, apa kata Kak Brina? Hari ini aku belum ketemu sama Kak Brina."
"Nggak bilang apa-apa sih dia."
"Masa sih? Kak Brina nggak marah?" Nina masih saja tidak percaya dengan jawaban Brian.
"Emang kamu pernah lihat Brina marah, Na?" Brian justru balik bertanya.
Nina menggeleng. "Enggak. Tapi masa Kak Brina nggak marah waktu tahu Kak Brian sama aku pergi jauh berduaan malam-malam?"
"Brina orangnya emang gitu. Dia nggak bakal marah kalo emang aku jelasin semuanya. Toh, kita juga cuma makan aja nggak ngapa-ngapain."
"Iya, makan mie instan doang. Jauh-jauh ke Kota Batu sampai kedinginan eh kok cuma makan mie instan doang. Kalo cuma makan mie instan, di kost juga bisa. Mau di kost aku atau di kost Kak Brina juga bisa. Bahkan aku bisa bikin yang jauh lebih enak, Kak. Semalam, merek mie instannya bukan yang biasa aku makan. Jadi jujur aja sih aku ngerasa kurang cocok, Kak."
Brian tersenyum begitu mendengar ucapan Nina yang cukup panjang. Rasanya sangat mengasyikkan memang jika bisa mengobrol bersama dengan Nina seperti ini.
"Emang iya? Kamu bisa bikin mie instan yang jauh lebih enak?" tanya Brian yang tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengobrol dengan seru bersama dengan Nina.
Nina mengangguk antusias. "Bisa, Kak. Tahu resep yang pernah viral nggak?"
"Mie dikasih mayo sama telur mentah?" tanya Brian menebak-nebak.
Nina menggeleng. "Bukan, tapi mie rasa soto yang dikasih s**u full cream. Kalau resep versi aku ya, Kak. Habis dikasih s**u full cream, jangan lupa dikasih irisan cabai sama minyak cabai yang banyak. Habis itu dikasih topping sesuai selera bisa daging ayam atau sosis. Habis itu ditaburin mozarela. Dijamin enak deh!" Membayangkan saja sudah membuat Nina menginginkan makanan itu. Tetapi sayang, semalam dirinya baru saja makan mie instan, di mana aturan dalam hidupnya salah satunya adalah ia hanya boleh makan mie instan sekali dalam satu minggu.
"Mau bikin itu, Na?" tanya Brian yang sepertinya ingin juga.
Nina langsung menggeleng. "Enggak, Kak. Semalam udah makan mie. Mungkin satu minggu lagi. Sayangnya Kak Brina nggak bisa makan mie instan. Gimana dong?"
Mereka berdua berpikir sejenak.
"Brina nggak usah diajak makan mie instan, dia suruh beli mie ayam aja sana, Na," kata Brian sambil terkekeh.
"Tega kamu, Kak. Tapi Kak Brina bisa kok makan pasta. Nanti mie instannya diganti pasta aja. Kalau bumbu mienya, Kak Brina masih bisa makan kan?"
Brian mengangguk. "Bisa kok. Tapi nanti kita tanyain lagi deh buat mastiin."
"Iya deh, Kak. Emang paling benar ya pastiin dulu."
"Terus, sekarang kamu mau ke mana, Na?" Brian kembali bertanya mengenai tujuan yang Nina inginkan.
Nina kembali mengembuskan napasnya. "Ya ampun, Kak. Kita emang mau ke mana sih? Kalau nggak ada tujuan mending makan aja deh." Kebetulan sekali, perut Nina sudah semakin keroncongan. "Tapi kabarin Kak Brina dulu ya kalau kita pergi makan bareng?" ucapnya memberi saran.
"Kamu kabarin aja, Na."
Selanjutnya, Nina mengambil ponsel dan mengetikkan sebuah pesan untuk Brina tentang informasi bahwa dirinya dan Brian sedang pergi bersama. Awalnya Nina bimbang ingin memberi tahu Brina, takut perempuan itu berpikir macam-macam. Tetapi, ia akan lebih tidak tenang jika tidak memberi tahu Brina.
"Makan di mana, Na?" tanya Brian kemudian.
"Terserah aja, Kak. Yang penting jangan mie instan ya."
Brian hanya terkekeh. "Iya, Na, iya."
Rupanya, mereka berdua sudah sampai di mall. Sepertinya kali ini mereka akan makan makanan cepat saji yang ada di mall ini. Mobil sudah terparkir dan kini sudah saatnya Nina dan Brian untuk turun. Namun, selama dalam perjalanan tadi, Nina sempat memikirkan sebuah hal, yaitu mengenai hubungan Brian dengan Brina. Beberapa hari terakhir ini ia sering bersama dengan Brian tanpa Brina. Kalau dihitung, hari ini sudah kali ketiga. Ia berpikir, apakah wajar kekasih sahabatnya malah jalan berdua dengannya? Yah, walau Nina juga mencintai Brian, tetapi logikanya tetap masih jalan.
"Ayo, Na," ucap Brian yang telah melepas sabuk pengamannya. Nina pun juga melepaskan sabuk pengamannya tetapi ia enggan untuk turun.
"Kenapa, Na?" tanya Brian pada perempuan itu.
"Kak, aku mau nanya deh."
"Nanya apa?"
Nina berpikir sejenak, apakah ia perlu melanjutkan pertanyaannya atau tidak. Tetapi, bagaimana pun juga ia perlu bertanya agar semuanya jelas. "Kak Brian nggak aneh ya jalan sama aku walau cuma makan aja?" Pertanyaannya akhirnya meluncur.
"Kenapa harus aneh?" Brian malah balik bertanya. Ia tidak jadi membuka pintu mobil.
"Enggak, Kak. Maksud aku, Kak Brian itu kam pacarnya Kak Brina. Kok jalannya sama aku. Terlepas dari udah bilang sama Kak Brina. Tapi kayak aneh gitu nggak sih, Kak? Kita nggak seharusnya jalan bareng kayak gini lhoh."
"Jadi? Kamu nggak mau makan bareng aku?"
"Bukannya nggak mau, Kak. Cuma ya apa pantas aja?"
Brian beralih menatap kedua bola mata Nina dengan intens yang membuat jantung perempuan itu mendadak berdetak dua kali lebih cepat. "Apa aku perlu memantaskan diri?" ucap Brian dengan jarak yang cukup dekat, membuat Nina memundurkan wajahnya. Perempuan itu susah payah mengatur irama degub jantungnya, tetapi peluhnya terlanjut membasahi keningnya. Nina berkeringat dingin hanya karena ditatap seperti itu oleh Brian. Yah wajar sekali, karena memang Nina sebenarnya mencintai laki-laki itu.
Laki-laki itu pun terkekeh melihat Nina yang saat ini nampak gugup. "Kenapa, Na? Kok gugup gitu?" tanya Brian dengan nada bercandanya yang langsung membuat Nina kelimpungan mencari alasan.
"Enggak, Kak!" Ia menyangkal. Padahal kentara sekali keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Kamu nggak sakit kan?" Kini Brian malah menempelkan punggung tangannya di dahi Nina, membuat perempuan itu langsung menepis karena ia tidak akan bisa diperlakukan seperti ini oleh Brian.
"Nggak, Kak. Nggak papa kok!" Nina bersikeras berkata bahwa ia baik-baik saja, padahal ia sudah ingin pingsan karena sedekat ini dengan Brian.
"Jangan bergerak, Na." Brian berhasil mendapatkan dahi Nina. Ketika ia mengecek suhunya, tangan Nina bergetar karena gugup.
"Na, dingin, Na," kata Brian. "Kamu seriusan nggak papa?" tanya Brian yang awalnya bercanda, kini berubah menjadi khawatir. "Apa yang kamu rasain, Na? Nggak pusing kan? Nggak kliyengan kan?"
"Aku gugup, Kak. Kak Brian jangan gini, nanti aku bisa pingsan." Tidak mau berbasa-basi, Nina pun berkata yang sesungguhnya.
Mendengar perkataan Nina yang menurutnya lucu itu justru membuat telinganya memerah, malu.
"Hah." Brian mengembuskan napasnya. Pandangannya beralih ke depan. Ia menahan senyumnya karena salah tingkah. Entah mengapa, perkataan Nina sukses membuatnya ingin tersenyum.
"Emang Kak Brina nggak pernah cerita kalau aku suka sama Kak Brian bahkan sejak aku masih maba?"
"Hah? Gimana, Na?"
Rasanya Nina ingin memukul mulutnya sendiri. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu kepada Brian ketika mereka sedang berdua di dalam mobil ini. Beruntung saja Brian tidak terlalu fokus dengan apa yang ia bicarakan.
"Na, gimana maksud kamu?" tanya Brian lagi.
"Enggak, Kak. Lupain aja."
Namun, selanjutnya yang ada hanyalah perasaan yang canggung satu sama lain. Bahkan ketika mereka sudah turun dan menuju tempat makan, Nina masih merasa canggung saja.
"Kamu mau apa, Na?" tanya Brian menanyakan menu yang ingin dipesan Nina.
Nina masih merasa canggung dan bodoh. Padahal, Brian juga sudah bersikap biasa saja. Memang benar, laki-laki itu sama sekali tidak memiliki perasaan padanya selain hanya sebatas teman.
"Na, kamu mau pesan apa?" tanya Brian lagi.
"Um ... samain aja, Kak."
Brian pun mengangguk dan kembali membaca buku menu yang ada. "Kamu mau mie goreng udang?" tanya Brian selanjutnya.
Nina langsung menggeleng. "Enggak, Kak."
"Loh, katanya samain. Aku pesannya itu, Na."
Nina harus mengatur napasnya. Ia sadar sekali jika Brian sengaja bercanda dengan dirinya yang bahkan masih merasa canggung karena perkataannya di mobil tadi.
"Oke deh, Na. Kamu mau apa?" tanya Brian yang sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum, Kak?" Nina bertanya dengan perasaan kesal.
"Kamu lucu, Na."
Setelahnya, Nina semakin dibuat kesal saja. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan pipinya yang memerah dan juga gelitik kupu-kupu yang berterbangan di dalam hatinya.
Nina tidak salah mencintai seseorang. Brian, laki-laki yang ada di hadapannya itu memang lama-lama mengesalkan tetapi perasaannya padanya sungguh semakin kuat saja. Walau Nina tahu Brian adalah kekasih sahabatnya, tetapi ia tetap ingin mempertahankan perasaannya ini walau akan terluka, Nina tidak takut.