"Brin, kok lo nggak pernah bilang kalau Nina suka sama gue?!"
Laki-laki itu baru saja memarkirkan mobilnya di halaman kost Brina. Ketika melihat keadaan kost yang cukup sepi, laki-laki itu langsung menyelonong masuk saja ke kamar Brina.
Brina yang sedang video call dengan teman-temannya semasa SMA langsung terkejut. Ia menutupi kamera ponselnya agar Brian tidak terlihat oleh teman-temannya, walau mereka tahu jika Brian adalah saudara kembarnya, tetapi Brian sendiri yang meminta jika ia tidak suka wajahnya atau fotonya dilihat oleh teman-teman Brina semasa SMA, entah apa tujuannya.
"Apaan sih lo main nyelonong aja?" tanya Brina dengan berbisik. "Gue lagi video call sama teman-teman SMA dulu," lanjutnya.
"Lo milih teman-teman lo waktu SMA yang pernah bully lo, atau milih kakak lo yang ganteng ini?" kata Brian memberikan pilihan, yang langsung membuat Brina memutar bola matanya. Ia pun menurut saja pada Brian dan langsung berpamitan pada teman-temannya untuk meninggalkan obrolan melalui video call ini.
Selanjutnya, Brian langsung duduk di ranjang Brina. "Dek, gue tanya serius. Kenapa lo nggak bilang kalau Nina suka sama gue!"
"Masa belum sih? Kayaknya udah deh," jawab Brina dengan santai.
"Brina, lo belum cerita. Emang kapan lo cerita?"
"Lupa gue."
Mendapat tanggapan yang ogah-ogahan seperti itu membuta Brian gemas. Ia langsung meminting leher Brina hingga membuat perempuan itu berteriak dengan reflek. Selanjutnya, Brian melepaskan lengannya yang mengunci leher Brina. "Berisik, anjiiir!"
"Ya lo ngapain juga sih? Nanti kalau ada yang denger bisa bahaya. Keluar sana!" Brina malah menanggapi dengan ketus sekali dan mengusir kakaknya itu dari kamar.
Brian tak menggubrisnya. Ia tetap berada di sana sampai Brina memberikan jawaban.
Awalnya Brina tidak memedulikan laki-laki itu. Tetapi setelah lima belas menit Brian tidak kunjung pergi dari sana, ia pun memberitahunya tentang yang sebenarnya.
"Yan!" ucapnya membangunkan Brian yang sempat tertidur. "Lo ngapain tidur di sini, tidur sana di rumah kost lo sendiri!"
Brian langsung terduduk. "Brin, coba deh cerita sama gue, sebenarnya gimana Nina sama gue itu? Dia seriusan suka sama gue dari zaman mahasiswa baru?"
"Lo suka sama Nina?"
"Kok lo malah balik nanya sih, Dek?!"
"Iya. Nina suka sama lo sejak mahasiswa baru. Dia jujur sama gue sekalipun dia tahu kalo gue itu pacar lo."
Brian membulatkan dua bola matanya. "Seriusan lo? Nina jujur sama lo walau tahu sahabatnya alias lo itu pacar gue?"
"Natapnya biasa aja kali." Brina menyempatkan untuk menampol wajah Brian. Tetapi, Brian tidak membalasnya. Laki-laki itu malah sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi ya, Dek. Kalau Nina suka sama gue, kenapa dia nggak ngejar-ngejar gue kayak cewek lain?"
Lagi-lagi, Brina menampol pipi Brian walau tidak ada tanggapan yang berlebih. "Sok keren najiis banget!"
"Nggak gitu, Brin. Kan lo tahu sendiri kalo gue itu emang keren." Brina berhasil dibuat memutar bola matanya malas. "Dan orang-orang khusunya cewek-cewek itu suka banget ngejar-ngejar gue. Atau minimal ngasih mawar, ngasih coklat. Lah ini si Nina nggak pernah gue lihat ngasih coklat ke gue."
"Kak Brian yang gantengnya melebihi pangeran kodok, kan katanya lo ketemu Nina di perpus. Harusnya lo sadar dong kalau Nina suka sama lo."
Brian mengingat-ingat kejadian itu. "Iya juga. Tapi gue nggak nyangka aja kalau dia bilang ke elo kalau suka gue, padahal setahu dia kan gue pacar lo, Dek."
"Itu istimewanya Nina." Brina kini tersenyum memulai ceritanya. "Sekalipun Nina suka sama lo, tapi dia nggak pernah nekat kayak cewek-cewek lain. Dia selalu ngelihat lo dari jauh asal lo tahu aja, dia selalu perhatiin setiap kali lo lewat di depan mata dia. Dan gue nggak tahu kenapa dia nggak godain lo kayak cewek lain. Entah karena dia sahabat sama gue sebagai pacar lo atau gimana. Yang pasti kalau lo nanya Nina itu cocok nggak buat dijadiin pacar, gue sih yes."
Brian tidak menyangka dan tidak terima dengan kalimat terakhir yang diucapkan Brina. "Apaan sih lo. Kan yang pacaran itu kita. Masa lo nyuruh gue jadiin Nina sebagai pacar. Itu sama aja kita harus ngumumin putus ke publik. Emang li mau? Lo mau lo digodain sama cowok-cowok yang ngakunya kerjain proker bareng eh taunya modus. Gue juga belum siap buat jadiin Nina pacar. Masih seumur jagung masa perkenalan gue sama Nina."
"Tapi mau?"
Brina berpikir. "Ya mau lah kalau emang Nina itu bikin gue nyaman. Tapi lo gimana, Dek?" Brian masih menyempatkan menanyakan kondisi Brina. Karena seperti yang diketahui, mereka berpura-pura pacaran karena mereka berdua tidak ingin didekati selama berkuliah. Brian karena ia merasa lelah dengan perempuan yang hanya mengincar wajah tampannya, kemudian Brina yang masih mencintai orang yang ia cintai semasa SMA walau orang itu membuatnya merasa sepanjang tahun selama sekolah menengah atas.
Brina menyibukkan dirinya mengemasi novel buku-buku yang memang barusan ia baca. "Jangan pikirin gue."
"Tapi kalo lo digodain cowok hidung belang gimana?"
"Gue jago silat."
"Gue serius, Brina."
Sejujurnya, Brina belum siap jika harus berstatus jomlo setelah putus dari Brian nanti. Bukan karena ia yang tidak siap jika ada laki-laki yang mendekatinya, tetapi ia lebih tidak siap jika publik mengira Nina lah yang membuat hubungannya dengan Brian menjadi runyam. Brina masih ingin bersahabat dengan Nina selamanya. Dengan Nina yang menjadi kekasih Brian, pasti publik akan menilai jika Nina adalah perempuan perebut dan perusak hubungan orang lain, apalagi sahabatnya sendiri. Brina belum siap jika nama baik Nina menjadi jelek karena dirinya.
Contohnya saja si Wati. Dia bahkan memergoki Brian dan Nina bersama di Kota Batu semalam dan dirinya langsung menilai jika Nina itu akan merebut Brian dari dirinya. Brina benar-benar tidak siap dengan semuanya.
"Brina, Brina. Lo mikirin apa sih?" tanya Brian karena sedari tadi Brina malah diam saja.
"Gue nggak siap bikin nama baik Nina jadi jelek di mata teman-teman gue satu himpunan sama di mata fans lo," kata Brina yang akhirnya berterus terang.
"Hah, maksud lo gimana?" Rupanya Brian belum paham juga.
"Lo mikir nggak sih kalo lo dekat sama Nina sedangkan kita putus, Nina bisa dicap sebagai perusak hubungan!" ucap Brina dengan ketus.
"Lah kok ketus amat sih lo ngomongnya?"
"Bodo amat lah, pikir aja sendiri."
Brian lalu berpikir. Sepertinya yang dikatakan Brina memang ada benarnya. Jika Nina sampai dicap sebagai perusak hubungan orang, berarti dirinya sama saja juga telah menyakiti Nina. Brian jelas sekali tidak mau hal itu terjadi. Walau saat ini perasaanya pada Nina masih sekadar sebagai teman walau Nina sangat lucu dan menyenangkan, Brian tidak bisa menjamin jika dirinya tidak akan mencintai Nina di masa depan. Apalagi dengan sikap Nina yang selalu merasa bersalah dan membahas Nina setiap mereka bersama berdua saja, Brian merasa Nina adalah perempuan yang baik. Jadi, benar sekali apa yang dikatakan adiknya itu. Brian juga tidak siap dan tidak akan siap jika Nina akan mendapatkan dampak buruk jika dirinya dan Brina putus lalu ia mendekati Nina.
"Kayaknya benar kata lo, Brin. Kita nggak boleh putus atau Nina yang bakal kena imbasnya," kata Brian setelah memahami maksud Brina.
"Semuanya rumit. Sorry, Yan."
"Gue sih yang harusnya minta maaf. Kalau aja gue nggak ngide buat kita pura-pura pacaran, mungkin nggak bakal serumit ini walau gue belum ada rasa sama Nina. Tapi ya mau gimana lagi."
"Lha emang iya lo yang salah, Yan. Sekarang mending lo pulang aja deh. Udah malam tau. Gimana kalau ada penghuni yang mergokin kita. Lo ke sini pakai mobil? Lo parkir di halaman?"
Brina mengangguk. "Iya nggak papa lah kalo dipergokin. Kita ngaku aja gimana sih?"
"Jangan!"
"Kenapa, Dek? Bukannya mending gitu nggak sih. Alhasil kalau gue deket sama Nina, Nina nggak bakal dicap sebagai perusak hubungan orang. Atau mending kita jujur aja sama Nina, biar dia tahu kalo kita itu sebenarnya saudara kembar. Jadi ya sah-sah aja kalau misalnya gue nanti pacaran sama Nina walau masih diam-diam. Jadi lo masih pacaran nih sama gue ceritanya, tapi aslinya gue pacaran sama Nina."
"Emang Nina mau sama lo?" tanya Brina yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Brian yang gampang sekali ditebak.
"Lah, kata dia sendiri ke gue tadi. Terus kata lo juga kan kalau Nina suka sama gue. Pasti lah dia mau kalo kita pacaran."
"Emang lo udah suka setara cinta sama Nina?"
"Ya belum sih. Tapi siapa tahu gue bisa cepat suka sama Nina. Dia itu lucu, Dek."
"Terserah lo deh. Kalau menurut gue sih mending jalanin aja dulu. Baru deh sebulan dua bulan lo kenal Nina, lo bisa nyimpulin kalo lo itu suka atau enggak sama Nina."
Brian langsung memegang kepala Brina dan langsung mencium kening adiknya itu. "Muach ... pinter banget sih adek gue yang satu ini kalau ngasih saran." Sekali lagi, Brian mencium kening adiknya walau Brina sudah mencoba menepisnya. "Muach ... sayang banget gue sama lo, Dek!"
Sementara Brina sibuk mengelap bekas kecupan sang kakak, Brian justru terkekeh melihat Brina yang tengah sebal. Namun, bagaimana pun juga saran dari Brina memang yang terbaik. Dirinya tidak boleh terlalu buru-buru dan minimal ia harus menunggu satu sampai dua bulan untuk bisa mengenal Nina. Sudah lama Brian ada di posisi membohongi publik dengan pura-pura berpacaran dengan Nina. Jadi sama saja sudah tiga tahun lebih juga Brian menjadi seorang jomlowan.
"Yan, gue harap lo keluar sekarang. Udah malem ini. Plisssss, atau gue teriak!"
Brian pun berdiri dari duduknya. Ia mengacak puncak rambut Brina. "Iya deh iya." Sebelum ia melangkah pergi, Brian mengulurkan tangannya di depan wajah Brina.
"Apa? Mau minta uang saku?" tanya Brina yang tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan Brian.
Brian berdecak sebentar. "Salim woy."
Bagaimana pun juga Brian itu kakaknya. Akhirnya Brina mencium punggung tangan Brian sebelum laki-laki itu keluar dari kamarnya untuk pulang. Beruntung, tidak ada penghuni kost yang ada di lantai bawah dan keadaan juga sepi. Semoga saja begitu, karena Brian dan juga Brina tidak mau ada yang mencurigai dirinya karena sudah masuk ke kamar Brina.