Brina hanya duduk termenung di ujung kamarnya di dekat jendela. Ia hanya memandang pemandangan di luar dengan tatapan kosong. Perasaannya terasa sangat tidak nyaman setelah ia dan Brian membicarakan tentang perpisahan mereka tentang pacaran yang walau pura-pura ini. Bukannya Brian tidak mau untuk putus dengan Brian, tetapi Brina hanya belum siap saja. Brina masih merasa tidak nyaman dengan seseorang yang selalu menguntitnya, ah bukan, tetapi selalu dekat dengannya ketika ada di kampus. Namanya Zufar, teman seangkatannya hanya beda program studi saja. Brina dan Zufar sama-sama pengurus himpunan dan hampir tiap kali ada urusan dengan himpunan, pasti mereka berdua selalu bertemu. Zufar seperti berusaha dekat dan akrab dengan dirinya, tetapi Brina menolak. Brina masih belum bisa move on dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya walau orang itu secara tidak langsung juga membuatnya menjadi seseorang yang terbully ketika SMA.
Brina masih mencintai laki-laki itu yang sekarang entah ada di mana. Perempuan itu tidak tahu kabarnya dan sengaja sekali ia juga tidak ingin mencari walau hanya dari sosial medianya. Brina benar-benar ingin melupakan laki-laki itu tetapi tidak bisa. Brina tidak bisa melupakannya walau sudah beberapa kali banyak laki-laki yang emncoba mendekatinya. Hal itu lah yang membuat Brina setuju dengan ide Brian kala itu jika mereka berpura-pura menjadi sepasang kekasih saja. Namun, ketika Brian sudah mulai menemukan perempuan yang membuatnya nyaman, Brina belum menemukan pengganti Fajar.
Jika Brina membuka ponselnya, ruang obrolannya bersama Zufar adalah yang terletak paling atas. Bagaimana tidak, hampir setiap waktu laki-laki itu mengirimi pesan untuk Brina. Entah itu pesan yang penting maupun tidak. Seperti saat ini, Zufar mengatakan bahwa dirinya sudah ada di depan rumah kostnya ketika sekitar satu jam yang lalu dirinya mengabari akan datang dengan membawakan makanan.
Dengan langkah gontai dan malas-malasan, Brina berjalan untuk membuka pintu bagi Zufar. Setelah ia membuka pintu, yang Brina lihat adalah Zufar yang berdiri di depan pagar rumah kostnya dengan mebawa satu kantong belanja dan juga wajahnya yang cengar-cengir.
Brina tidak membalas senyum yang dilontarkan Zufar. Perempuan itu sibuk membuka pintu untuk Zufar.
"Gue bawain martabak manis spesial buat lo, Brin," kata Zufar dengan senyumannya yang mentereng sesaat setelah pintu gerbang berhasil terbuka. Zufar terlihat sangat bahagia bisa menemui Brina kali ini, karena memang beberapa kali Brina menolak ketika Zufar ingin main ke rumah kostnya. Satu-satunya alasan adalah, Brina ingin mencoba melupakan Fajar dan membiasakan diri ketika Zufar dekat dengannya.
Brina memaksakan seulas senyumnya. "Ah iya, masuk, Far," kata Brina yang mempersilakan laki-laki itu untuk masuk. Jika saja Zufar tidak selalu ingin dekat dengannya, pasti rasanya Brina sangat senang karena Brina menganggap semuanya sebagai teman. Tetapi, berbeda dengan Zufar yang sangat kentara sekali ingin selalu dekat dengan dirinya padahal semua orang juga tahu jika Brina adalah kekasih dari Brian, membuat Brina kurang suka terlalu dekat dengannya dan ia sering sekali menjaga jarak dengan Zufar.
"Gue ambilin minum dulu ya, Far." Setelah Zufar duduk, ia meninggalkan laki-laki itu sejenak untuk membuatkannya minum. Tidak perlu susah, segelas es nutrisari rasa jeruk sudah siap diantar untuk Zufar.
"Kok pakai repot-repot, Brin," ucap Zufar yang berbasa-basi. Padahal jika ia disajikan minuman, berarti dirinya bisa berlama-lama di sini mengobrol bersama dengan Brina.
Brian hanya tersenyum tipis. Ia kemudian duduk di sofa yang berbeda dengan Zufar. "Ada yang mau dibicarain ya, Far?" tanya Brina. Sebenarnya perempuan itu berusaha untuk bisa membaur bersama Zufar, tetapi rasanya sangat sulit. Jika saja Zufar sama seperti teman-teman laki-lakinya yang lain, pasti Brina tidak segan untuk mengorol bahkan ia bisa cepat membaur.
"Nggak ada yang penting sih, Brin. Tapi gue seneng aja lo udah ngizinin gue main ke sini." Beberapa saaat Zufar hanya tersenyum menatap Brina yang hanya diam saja. "Makasih ya, Brin."
"Ah, iya."
"Oh iya, Brin. Ini martabak spesialnya buat lo," kata Zufar yang memebrinya martabak manis dalam kantong belanja itu. Syukurlah jika Zufar membawa kantong belanja, jadi lebih ramah lingkungan. Hanya karena itu, Brina bisa dibuat tersenyum, membuat Zufar lebih melebarkan senyumnya.
Di dalam hatinya, Brina malah mendumal. Ia ingin segera Zufar untuk pergi dari sini. Tetapi, ia juga ingin bisa mengobrol bersama laki-laki itu, untuk persiapan jika Brian telah ingin mengakhiri hubungan mereka yang hanya pura-pura.
"Um ... gue ambilin piring dulu deh, Far. Biar kita bisa makan bareng." Brina kembali bangkit untuk pergi ke dapur mengambil piring. Tidak sampai satu menit, perempuan itu sudah kembali dengan dua piring kecil dan tiga garpu kecil.
Brina meletakkan satu piring dan satu garpu di hadapan Zufar. Sementara satu pasang yang lainnya ada di hadapannya. Kemudian, hening kembali menyapa. Ketika Brina mengalihkan pandangannya pada Zufar, laki-laki itu malah menatapnya tanpa berkedip sekalipun.
Brina merasa tidak nyaman. Ia pun menegur Zufar karena tatapannya itu. "Far, kenapa?" tanyanya yang langsung membuat Zufar sadar. Laki-laki itu tergelak, kemudian mengalihkan pandangannya pada piring yang sudah ada di hadapannya.
"Ayo, Brin." Zufar mengawali membuka kantong belanja yang di dalamnya ada satu kotak martabak spesial. Kalau dilihat dari kotaknya, warnanya kuning terang dan terlihat sangat premium. Tidak perlu berpikir, Brina sudah tahu dari aromanya sebelum kotak martabak itu dikeluarkan dari kantong belanja, bahwa itu adalah martabak favoritnya yang hanya bisa ia nikmati maksimal satu bulan sekali, bukan hanya karena harganya yang cukup mahal tetapi kandungan gula yang berlebihan juga tidak baik bagi dirinya, sudah pasti karena Brina bisa menghabiskan satu kotak martabak spesial ini seorang diri hanya semalaman saja.
Ketika Zufar membuka kotak martabak itu, semerbak aroma wangi adonan dan coklat yang nikmat langsung memenuhi ruangan. Brina sudah tidak sabar saja ingin menikmatinya, karena memang minggu ini ia berencana ingin membeli martabak spesial ini tetapi sudah keduluan Zufar yang membawakannya untuk dirinya.
"Ayo, silakan ambil, Brin," kata Zufar yang mempersilakan Brina terlebih dahulu untuk mengambil.
Tetapi, Brina menolak. Yang membeli dan membawakan martabak itu adalah Zufar, jadi menurutnya Zufar lah yang berhak untuk mengambil potongan martabak itu untuk kali pertama. "Lo ambil duluan aja, Far."
"Lo duluan aja, Brin."
"Lo aja, Far."
"Lo, Brina ...."
Karena perdebatan yang tak kunjung usai, Brina pun mengalah dan mengambil dua potong martabak untuk ia taruh di atas piringnya. Brina tidak langsung menikmati martabak itu, tetapi ia justru menyodorkannya pada Zufar. Otomatis laki-laki itu langsung senyum-senyum sendiri. Pipinya memerah saking ia senangnya merasa diperlukan spesial oleh Brina.
"Brin, makasih ya," katanya menerima dua potong martabak di tas piring kecil. Sementara Brina hanya berdeham.
Tidak mau berpikir panjang, Zufar gantian mengambilkan martabak untuk Brina. "Gue ambilin ya," katanya yang sudah bersiap dengan piring kosongnya.
Brina tidak membalas. Ia membiarkan Zufar mengambilkan potongan martabak manis itu di atas piring tetapi sepertinya Zufar terlalu berlebihan.
"Zufar, kebanyakan!" ucap Brina yang shock karena potongan martabak itu sudah menggunung memenuhi piring yang kecil.
Zufar tidak mendengarkan Brina. Ia mengambil sepotong lagi dan menaruhnya ke ujung tumpukan potongan martabak itu. Langsung saja ia memberikan pada Brina dengan memamerkan senyumnya dan juga deretan gigi-giginya yang rapi. "Buat lo, Brin," katanya yang diterima Brina dengan sangat hati-hati.
Tetapi, tetap saja perempuan itu merasa kesal hingga mengomel di hadapan Zufar. "Kebanyakan kali ah, kan bisa dua potong aja!" katanya yang meletakkan sepiring penuh martabak itu di atas meja.
"Gue tahu lo suka banget sama martabak spesial ini. Jadi ya ini khusus buat lo."
"Iya, tapi nggak usah sebanyak ini. Nanti kalo kurang kan bisa ambil lagi. Kesannya kayak gue maruk banget, Far!" Brina masih mengomel saja, padahal sepotong martabak berhasil itu kunyah memenuhi mulutnya.
"Lo lucu deh, Brin, kalo lagi makan martabak. Makanya gue suka."
Uhukkkkkk
Sekoyong-koyong, Brina dibuat terbatuk oleh ucapan Zufar. Langsung saja laki-laki itu memberikan minumannya pada Brina. "Brina, minum dulu," katanya dengan membantu Brina minum.
Setelah habis setengah gelas, akhirnya Brina lega juga. Gara-gara ucapan Zufar yang tanpa aba-aba, membuatnya jadi terkejut dan tersedak seperti ini. "Lo ngomong apa, Far?" tanya Brina yang ingin memastikan ucapan Zufar yang berhasil membuatnya tersedak suapan pertama martabak spesialnya.
Zufar menggeleng. Ia tidak mau mengubah suasana jika ada pembahasan mengenai dirinya yang menyukai Brina. Bagaimana pun dirinya harus sadar jika Brina sudah mempunyai kekasih yaitu Brian.
"Enggak, Brin. Enggak ngomong apa-apa. Gue bilang kalo martabak ini kesukaan lo, jadi gue bawain buat oleh-oleh," katanya yang akhirnya mendapatkan alasan.
Bukannya menanggapi alasan Zufar, Brina justru salah fokus pada minuman Zufar yang malah ia minum. "Zufar, ini minuman lo. Kenapa lo kasih ke gue sih?" tanya Brina yang bersungut-sungut. Alisnya tertekuk sempurna karena tidak terima telah meminum minuman milik Zufar.
Zufar pun bingung. "Ya gimana, Brin. Cuma ada itu doang di sini. Lagian lo sekarang nggak kenapa-kenapa kan setelah minum, minumannya kan juga belum gue sentuh. Jadi aman aja, nggak ada bekas bibir gue kok di sana," kata Zufar yang berterus terang.
Bukan masalah itu sebenarnya, hanya saja Brina jadi tidak enak dengan Zufar. Harusnya minuman yang ia buat itu untuk Zufar, bukannya malah ia minum sendiri.
"Ya udah deh, bentar, gue buatin lagi." Brina langsung bangkit. Ia membawa gelas yang tinggal setengah itu dan menggantinya dengan minuman baru. Tidak lupa, ia juga menyiapkan minuman untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau tersedak lagi dan malah kembali minum minuman untuk Zufar.
Brin kembali dengan dua gelas yang berbeda namun dengan isi yang sama-sama es nutrisari rasa jeruk. Gelas polos yang tadinya untuk Zufar, sekarang untuk dirinya. Sementara Zufar, harus terima jika ia memakai gelas bergambar jerapah. Brina bisa melihat alisnya yang terangkat sebelah ketika Brina memberi Zufar gelas bergambar jerapah itu. Tidak apa yang penting sama-sama bisa dibuat minum.
"Kok gue yang jerapah?" Ternyata Zufar memang benar-benar tidak terima sampai ia harus mempertanyakan mengenai gelas bergambar jerapah yang ada di hadapannya.
Brina perlu mengembuskan napasnya sejenak. "Ya udah, nggak papa. Lo emang mau pakai gelas bekas gue? Gue nggak punya gelas lain. Cuma ini doang, Far," ucapnya dengan ketus.
"Iya, Brin. Galak amat sih."
"Enggak galak. Cuma kesal aja. Terima aja kenapa nggak usah banyak protes!"
Zufar malah tersenyum melihat Brina bisa banyak bicara dan malah kesal karenanya. Pasalnya, ketika di kampus perpuan itu sangat jarang sekali bisa mengobrol dengannya. Brina selalu menghindarinya padahal ia hanya ingin dekat dengan perempuan itu.
"Kok senyum-senyum? Ada yang salah?" tanya Brina yang hampir memasukkan sepotong martabak manis ke dalam mulutnya, hanya saja perhatiannya teralih pada Zufar yang malah senyum-senyum menatap dirinya.
Zufar menggeleng. "Enggak, kamu lucu, Bin."
"Emang gue badut, lucu?"
"Badut mah kalah lucu dari lo."
Tidak lagi kesal, Brina menahan senyumnya entah karena apa, yang pasti omongan Zufar yang baru saja itu terdengar lucu bagi dirinya.
"Kok lo malah senyum-senyum, Brin?" Zufar balik bertanya. Seketika senyum perempuan itu memudar.
"Apaan sih?" Brina melihat jam yang ada di ponselnya. Sudah cukup malam. Sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan Zufar. Padahal tadi perasaannya sangat menolak kehadiran laki-laki itu. Tapi kali ini ia ingin sekali menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Zufar. Hanya saja sudah hampir pukul sepuluh. Padahal Zufar datang pukul delapan dan selama hampir dua jam di sini, Zufar tidak ngapa-ngapain kecuali Brina yang membuat onar. Mulai dari yang mengomel karena Zufar yang mengambilkan banyak potongan martabak, hingga drama tersedak. Brina tidak menyangka jika waktu mereka habis selama hampir dua jam.
"Far, bukannya gue mau ngusir lo. Tapi sekarang udah hampir jam sepuluh. Boleh lanjut besok aja nggak ngobrolnya? Takut ganggu penghuni lainnya," kata Brina yang tiba-tiba merasa tidak enak.
"Oh gitu ya? Jadi, besok gue boleh dateng lagi ke sini buat ngobrol sama lo?"
"Hah?" Brina kelimpungan, tetapi ia tidak bisa memberikan jawaban lainnya. "Hah iya. Nggak papa," katanya. Sejujurnya memang tidak apa-apa. Tetapi rasanya aneh saja, padahal sebelumnya perempuan itu tidak suka dengan Zufar yang terlalu dekat dengan dirinya.
Zufar malah nampak girang. "Oke deh, Brin. Besok gue main lagi ya ke sini. Lo mau dibawain apa?" tanya Zufar yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari perempuan itu. "Ah, lo belum mikirin ya? Kalau gitu, besok lo kasih tau gue aja lo mau titip apa. Pasti gue bawain deh. Oiya, kayaknya besok gue mainnya rada sorean ya, biar bisa ngobrol banyak sama lo. Lo nggak keberatan kan?"
Bukan keinginannya, tetapi otomatis Brina mengangguk mengiyakan permintaan Zufar.
Zufar pun bangkit dari duduknya. "Oke deh, Brin. Kalau gitu gue pulang dulu ya. Jangan lupa martabaknya dihabisin dan jangan lupa gosok gigi sebelum tidur."
Brina mendengus. "Iya, gue tahu!"
"Haha. Ya udah deh, Brin. Gue pulang dulu ya!" Akhirnya laki-laki itu berpamitan. Tetapi, Zufar tak kunjung melangkah keluar.
"Ng ... kok malah diam?" tanya Zufar pada Brina yang malah diam saja.
"Hah? Apa?"
"Lo nggak mau nganterin gue sampai depan, Brin? Kan ini rumah kost lo dan lo juga perlu nutup gerbangnya lagi kan?" Ini hanya akal-akalan Zufar saja. Laki-laki itu langsung cengar-cengir ketika Brina menyadari jika harus melakukan hal tersebut.
"Thanks ya, Brin. Tungguin gue buat main ke sini lagi besok ya!" ucap Zufar yang sudah di luar pagar. Zufar tidak menaiki motor, karena rumah kostnya tidak jauh dari sini dan kebetulan sekali laki-laki itu memang tidak punya dan tidak bisa menaiki motor. Dulu, saat ingin pergi mengunjungi sponsor untuk sebuah acara, semua orang baru tahu jika Zufar tidak bisa naik motor.
"Gue balik ya, Brin."
"Iya."
Zufar pun berbalik dan mulai melangkah. Namun, langkahnya terhenti ketika Brina memanggil namanya. "Zufar!"
Zufar menoleh. "Ada apa, Brin?"
"Makasih ya," ucap Brina dengan senyum tipisnya. Bagaimanapun juga ia harus berterima kasih pada laki-laki itu yang telah mengunjuinya dan membawakannya martabak manis kesukaannya.
Jantung Zufar berhasil dibuat berdenyut. Laki-laki itu langsung melebarkan senyumnya dan mengangguk. Rasanya ia ingin berteriak karena Brina yang berterima kasih padanya padahal ia hanya datang dan membawakannya martabak.