Bicara Dengan Winta

2922 Kata
Jujur saja jika Nina tidak banyak memiliki teman apalagi teman dekat. Satu-satunya yang ia anggap sebagai sahabat adalah Brina. Nina tidak memiliki teman dekat di kelasnya, di himpunan pun hanya Brina dan Winta. Beruntung saja masih ada Winta yang cukup dekat dengannya karena mereka memang seangkatan dan cukup sefrekuensi. Tetapi, Winta tak seperti Brina di mana Nina bisa blak-blakan soal semuanya. Nina masih enggan bercerita secara detail masalah pribadinya. Biasanya, mereka hanya bercerita dan mengobrol tentang kesehariannya. Selebihnya, Winta lah yang lebih sering curhat ke Nina daripada dirinya. Namun, tiba-tiba saja saat ini Nina ingin bercerita banyak pada Winta. "Jadi, mau cerita apa nih? Tumbenan minta ketemuan. Biasanya kita juga ngobrol-ngobrol ringan kalau ketemu. Berhubung lo yang minta ketemu, pasti ada sesuatu. Apa tuh?" ucap Winta yang sudah penasaran saja karena memang tidak biasanya Nina mengajaknya ketemuan. Paling tidak, mereka bertemu di sekretariat himpunan atau tidak sengaja bertemu di kantin dan berakhir ngobrol-ngobrol. Namun, kali ini Nina sengaja meminta Winta untuk bertemu dengan dirinya. "Gue pengen minta masukan sama lo, Win," kata Nina. "Tumben, biasanya kan lo selalu curhat sama ngobrolin apapun itu sama Kak Brina. Lo lagi marahan ya sama Kak Brina? Gara-gara Kak Brian juga?" Winta malah asyik menebak-nebak dan langsung membuat Nina cemberut. "Mau nggak? Kalau nggak mau dengerin cerita gue ya mending gue pergi aja sih!" ucapnya dengan ketus, sudah bersiap akan berdiri namun berhasil ditahan oleh Winta. "Eh, iya deh iya. Gitu aja ngambek lo!" Sebenarnya Nina tidak benar-benar ngambek. Ia seharusnya tahu diri juga karena saat ini ia sedang membutuhkan Winta sebagai tempat untuk curhat. Tadi, Nina hanya berpura-pura ngambek saja. Beruntung Winta langsung menahannya. Jika tidak, sudah pasti setelah perempuan itu pergi dirinya akan kembali lagi untuk menghampiri Winta dan hasilnya Winta akan menertawakan dirinya. "Jadi gimana?" tanya Winta lagi, sudah tidak sabar untuk mendengar curhatan dari Nina. "Tapi lo janji jangan diceritain ke siapa-siapa ya?" Belum mulai bercerita, Nina sudah mengulurkan jari kelingkingnya saja. Ia harus membuat kesepakatan terlebih dahulu pada Winta agar perempuan itu tidak membocorkan apa yang ingin ia katakan nanti. Winta mengangguk saja. Ia juga mengulurkan kelingkingnya dan langsung mengaitkan ke kelingking Nina. "Udah janji nih. Nggak bakal deh gue ceritain ke siapapun. Gue bukan Kak Wati ya yang lambenya itu beuhhhh, kayak nggak ada remnya kalo udah ngomongin orang," kata Winta. "Eh lagian dengan lo ngomong seperti itu, sama aja lo juga lagi ngomongin Kak Wati loh, Win." Winta meringis. "He he, iya sih. Tapi kan nggak separah Kak Wati. Iya nggak?" "Hm ... iya deh iya." "Sebelum gue cerita, lo mau order camilan atau apa gitu nggak?" tanya Nina. Kebetulan mereka berdua saat ini sedang berada di sebuah gazebo yang ada di taman depan perpustakaan. Sore hari dengan angin yang semilir, sangat cocok untuk bercengkerama bersama teman apalagi kalau sambil memakan camilan. Wanti nampak berpikir. "Bentar, Nin. Gue coba cek dulu ya." Dirinya kemudian mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi ojek online untuk memilih camilan apa yang sekiranya mampu menemani mereka bercengkerama. Nina hanya berdeham dan menunggu camilan apa yang ingin dipesan Winta. "Nin, gimana kalo beli mie seitan aja? Pengen yang pedes-pedes nih. Lo mau kan?" Winta sudah menaik-turunkan alisnya agar Nina mau juga membeli menu yang sama seperti yang ia inginkan. Tetapi, sedetik kemudian bahunya melemas ketika Nina menggeleng. "Gue lagi nggak pengen yang pedes-pedes, Win. Yang lain aja kenapa sih? Jangan makan pedes mulu lo, nanti sakit perut, siapa yang repot? Ya elo sendiri kan?" Winta mendengus. "Kirain lo yang bakal repot kalo gue sakit, Nin." "Ye ... ngapain juga gue repot? Orang sakit ya karena lo sendiri yang nggak bisa jaga diri, nggak bisa jaga kesehatan." Winta kalah. "Hm ... iya deh. Terus mau makan apa nih? Gue pengen makan berat terus sama camilan juga. Enaknya ap? Kasih saran dong, kan lo yang sering makan." "Mekdi aja gimana? Camilannya pangsit di mi seitan itu atau sama dimsumnya," ucap Nina yang memberikan saran. "Tapi ada promo kan? Gue nggak mau kalo nggak ada promo, mending ke mini market beli ciki." "Bentar, gue lihat." Sekitar satu menit Winta sibuk dengan ponselnya. Setelahnya ia tersenyum. "Ada kok, emang ada ini." "Iya deh. Mekdi aja sama dimsum sama pangsit goreng di mie seitan ya, Win." Winga mengangguk. "Okai deh. Minumnya mau apa, Nin? Order lagi atau cukup sepaket sama mekdinya?" Nina berpikir sejenak. "Order di mi seitan deh gue, mau air mineralnya. Tapi tetap mekdinya pake cola ya." Winta memgangguk lagi. "Okai deh. Kalo gitu gue samain ya." "Bisa buat order dua kali langsung kan?" "Bisa. Gue ulang ya pesannya. Mekdi dua, pangsit goreng satu, siomay satu, udang keju satu, udang rambutan satu, sama air mineral dua botol ya," ucap Winta yang mengulangi pesanan mereka. Nina pun mengangguk ketika pesanannya sudah tepat. "Udah gue pesan." "Sip deh." "Terus, lo mau cerita apa?" Winta kembali membahas tujuan Nina ingin bertemu dengannya yaitu untuk menceritakan sesuatu. Ia sudah penasaran saja sejak tadi. Karena memang jarang sekali Nina bercerita padanya. "Jadi gini, Win. Lo kalau jadi gue, pilih lanjut atau udahan?" kata Nina yang tiba-tiba malah memberikan pertanyaan kepada Winta. Padahal Winta tidak tahu apa-apa, tidak tahu sebabnya, tetapi Nina sudab melontarkan pertanyaan semacam itu. Sontak saja Winta mengangkat kedua alisnya karena bingung ingin menjawab apa. "Lo laper banget ya, Nin?" Ditanya seperti itu, otomatis Nina mengerutkan keningnya. Dirinya mulai merasa kesal karena Winta terlihat selengekan, padahal ia sedang bersungguh-sungguh. Nina mengembuskan napasnya panjang. "Gue serius, Win ...." "Kalo serius, kenapa lo langsung nanya kayak gitu tanpa konteks yang jelas? Gue kan jadinya bingung banget, Nin." Nina sadar dengan kekurangannya dalam memberikan penjelasan untuk Winta. Ia pun meringis dan Winta malah mendengus. "Jadi gini, Winta. Gue lagi deket sama cowok sebagai teman, tapi cowok itu punya pacar. Nah, menurut lo gue lanjut aja atau harus udahan?" ucap Nina dengan penekanan pada kata 'dekat'. Winta malah memincingkan matanya. "Lo deket sama cowok, jangan bilang kalau cowok itu cowoknya Kak Brina alias Kak Brian? Iya? Iya nggak?" Belum sempat Nina menjawab, ponsel Winta bergetar. Ada panggilan masuk dari driver ojek online yang mengantarkan makanannya, yang mengalihkan perhatian mereka berdua. "Iya, Pak. Saya ada di taman perpustakaan. Bapaknya di mana? Oh di depan pintu masuk ya? Saya ke sana, Pak. Oke, Pak." Setelah menutup ponselnya, Winta bergegas pergi untuk mengambil pesanan mereka yang sudah sampai. "Gue ambil dulu ya, Nin. Tahan dulu ceritanya. Habis ini kita lanjutin. Oke?" "Hm ...." Tidak membutuhkan waktu yang lama, Winta sudah kembali saja dengan dua kantong plastik sekaligus. Rupanya, makanan yang ia pesan di dua resto yang berbeda itu datangnya bersamaan. Bagus kalau begitu, jadi Winta tidak perlu bolak-balik. Seperti ini saja sudah membuat napasnya terengah, apalagi jika harus dua kali bolak-balik. "Makan dulu yuk, Nin," kata Winta, yang kembali duduk dan langsung membuka dua kantong plastik dan mengeluarkan semua makanan yang ada. Aroma sedap langsung menyerang rongga hidung Nina. Awalnya ia ingin bercerita sambil makan, tetapi sepertinya akan lebih nikmat jika mereka memang makan dulu saja. "Ini punya lo, Nin." Winta menggeser satu kotak nasi dengan ayam dari restoran cepat saji yang cukup terkenal. Tanpa banyak berpikir, Nina langsung membuka kotak itu. "Males cuci tangan, Nin," kata Winta. Nina punya jurus seribu bayangan yang bisa menghemat tenaga mereka. Dari pada harus berjalan lagi untuk pergi ke tempat cuci tangan, Nina punya cara lain. Ia mengeluarkan hand sanitizer yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menyemprotkan cairan pembunuh kuman itu ke kedua telapak tangannya. Winta yang melihat itu langsung bergidik karena merasa aneh saja dengan apa yang sedang dilakukan Nina. "Lo yakin cuci tangan cuma pakai itu?" tanyanya yang merinding. "Kata siapa?" ucap Nina. Ia langsung mengambil satu botol air mineral dan membukanya. Air mineral itu ia tuangkan sedikit ke tangannya untuk membasuh tangannya yang tadi sudah ia semprot dengan hand sanitizer. Selanjutnya, perempuan itu mengambil tisu dan mengelap kering tangannya. Winta cukup terkejut dengan ide Nina. Ia pun langsung mengikuti saja apa yang dilakukan Nina. Ia langsung mengambil hand sanitizer dan melakukan hal yang sama dengan Nina, termasuk membasuh tangannya dengan sedikit air mineral dan mengeringkannya dengan tisu. "Tadi aja nggak yakin, sekarang malah ikut-ikutan," kata Nina yang menyindir Winta. Lantas, perempuan itu hanya cengengesan saja. Tidak ada yang lebih nikmat dari makan makanan enak. Sore ini masih banyak waktu sampai menuju malam nanti. Makanan berat mereka yaitu nasi dan ayam goreng tepung sudah habis mereka santap. Cuci tangan pun mereka melakukan hal yang sama. Memang dasar pemalas, bahkan di samping perpustakaan banyak tempat cuci tangan, dan mereka memang malas. "Jadi kita tadi sampai mana, Nin?" tanya Winta sembari menggigit pangsit goreng yang masih utuh. Satu porsi pangsit goreng berisi lima buah. Sebenarnya tidak banyak, bahkan mereka bisa menghabiskan seporsi sendirian tetapi karena mereka ingin memesan camilan lain, jadi cukup satu porsi saja pangsit yang mereka pesan. "Inget-inget aja sendiri, Win. Nggak seru masa gue harus ngulang cerita dari awal." Winta tidak banyak menyangkal. Ia pun langsung teringat dengan apa yang tadi Nina sempat katakan. "Lo deket sama Kak Brian? Masa? Sejak kapan?" Mata Winta mendadak membulat dengan mulutnya yang penuh dengan pangsit goreng. "Kok lo deket sama Kak Brian sih?" "Kunyah dulu, telan, habis itu baru ngomong, Win." Winta menuruti perkataan Nina. Ia mengunyah lalu menelan pangsitnya secara perlahan. Setelahnya, ia menyempatkan untuk menyeruput minuman kolanya yang sudah tidak dingin lagi. "Lo suka sama Kak Brian?" tanya Winta setelah meletakkan gelas kolanya. Nina hampir saja tersedak bola-bola udang yang baru saja ia kunyah. Tangannya reflek memukul lengan Winta. "Sembarangan!" ucapnya. Padahal, yang dikatakan Winta seratus persen tidak ada salahnya. "Kok gue digeplak sih!" Winta tak terima. Wajahnya sudah bersungut-sungut karena kesal. "Kan gue cuma nanya doang, Nin!" "Tapi jangan nanya kayak gitu dong!" "Kenapa? Kan lo tanya harus lanjut atau udahan. Kalo lo nggak suka sama Kak Brian ya udah lanjut aja sebagai teman. Kalo alasan lo takut Kak Brian bakal suka sama lo, ya nggak mungkin, Nin. Kak Brian itu pacarnya Kak Brina yang bahkan entah sejak kapan. Nggak mungkin lah Kak Brian bisa suka sama lo." "Se-nggak mungkin itu ya Kak Brian suka sama gue?" tanya Brina dengan nadanya yang menurun. "Ya nggak mungkin. Kak Brina itu mendekati sempurna, Nin. Sedangkan-" Ucapan Winta dipotong oleh Nina. "Sedangkan apa? Sedangkan gue jauh dari kata sempurna?" Winta mengangguk setuju dengan ucapan Nina. "Iya. Lo jauh dari kata sempurna, Nin." Seketika suasana hati Nina jadi memburuk. "Gue juga jauh dari kata sempurna. Jadi jangan sampai deh suka sama makhluk Tuhan paling sempurna di kampus ini alias Kak Brian. Yang ada lo cuma bisa mendem doang, apalagi Kak Brian itu pacarnya Kak Brina yang deket banget sama lo. Kak Brina sahabat lo kan?" Nina pun mengangguk pelan. Apa yang dikatakan Winta memang benar. Brian tidak akan pernah memilihnya jika ia saja sudah menjadi milik perempuan cantik dan cerdas yang bernama Brina. Nina harus tahu diri kalau Brian tidak akan menoleh ke arahnya selain sebagai teman. Tetapi, bukankah selama ini Nina sudah cukup tahu diri dengan rasa cintanya pada Brian hang ia tidak mendambakan balasan? Melihat Nina yang hanya diam saja, membuat Winta kembali memincingkan matanya ke arah Nina. "Lo suka sama Kak Brian ya, Nin?" tanyanya lagi. Winta benar-benar bisa menebaknya dan memang gampang sekali ditebak. Kali ini, Nina tidak mau mengelak. Ia masih diam saja sembari mengunyah bola-bola udangnya. "Kan suka kan ...." Winta mulai menggoda Nina yang masih belum mengangkat wajahnya. Kunyahannya pun semakin memelan. "Nin ...?" panggil Winta. "Lo nggak papa?" Rasanya melihat Nina diam seperti ini memang tidak nyaman. Nina dan Winta cukup akrab, jadi jika diam-diam saja seperti ini sudah pasti rasanya sangat tidak nyaman. Perasaan Winta jadi tidak enak karena telah mengatakan hal tadi. Winta tidak tahu apakah Nina menyukai Brian atau tidak. Jika saja ia, sebenarnya itu bukan urusannya tetapi Winta terlanjur membuat Nina diam seperti ini. "Na, gue ada salah ngomong ya?" kata Winta yang sampai memiringkan wajahnya agar bisa menatap mata Nina. "Na, maafin gue ya." Akhirnya Nina menggeleng. "Nggak, Win. Lo nggak salah kok." Dirinya mulai mengangkat wajahnya dan menghirup napasnya panjang serta mengembuskannya. "Emangnya kenapa sih? Maksudnya apa?" Nada bicara Winta kembali penasaran dan mengesalkan. Winta mendengus lagi. "Lo ah, kalo cerita cuma setengah-setengah. Kan kita udah janji. Jadi lo percaya aja sama gue, gue nggak akan bocorin semuanya." Nina menatap Winta sejenak. Ia berusaha membaca mata Winta yang berbicara, apakah perempuan itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak. "Kok lo natap gue kayak gitu sih?" tanya Winta yang penasaran. Setelah berpikir, sepertinya Winta memang bisa menjaga rahasia dengan dirinya. Toh beberapa rahasia Winta juga ia pegang, seperti dirinya yang tidak sengaja memimpikan salah satu kakak tingkat, dan masih banyak lagi. Saat ini, mungkin adalah waktu yang tepat bagi Nina untuk bercerita pada orang lain selain Brina. "Kalai gue boleh jujur-" Belum juga Nina menyelesaikan ucapannya, Winta sudah memotong saja. "Ya jelas boleh dan emang harus jujur dong, Nin. Lo nggak boleh bohong!" ucapnya dengan tegas. Nina perlu menarik napasnya dan mengelus dadanya. Melihat itu, membuat Winta sadar dan perempuan itu malah cekikikan. "Sorry, Nin. Ayo, lanjutkan!" Ia menepuk bahu Nina, menenangkan perempuan itu yang kesal karena kelakuannya. "Huh." Nina mengembuskan napasnya kasar, membuat Winta semakin cengengesan saja. "Iya. Gue suka sama Kak Brian." "HAH? SEJAK KAPAN?" Jelas sekali Winta terkejut. Mata perempuan itu membulat sempurna dan mulutnya terbuka. Saking terkejutnya mendengar penuturan Nina, perempuan itu sampai membeku. "Kagetnya biasa aja," kata Nina yang malas dengan ekspresi berlebihan Winta. "Oh, sorry sorry, Nin." Winta kembali cengengesan. "Jadi, lo suka sama Kak Brian? Sejak kapan, Nin?" tanya Winta kemudian. "Sejak lama. Sejak kita masih mahasiswa baru. Bahkan sejak gue belum akrab sama Kak Brina." Winta hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya sangat sulit untuk dipercaya. Setahunya, Nina itu sangat dekat sekali dengan Brina, dan siapa sangka jika Nina suka dengan Brian di mana laki-laki itu adalah kekasih dari Brina. Winta masih tidak bisa mempercayainya, tetapi saat ini yang ia lihat adalah ekspresi tanpa kebohongan di wajah Nina. "Terus, selama ini lo sahabat sama Kak Brian?" Nina sudah menduga jika Winta akan menanyakan hal ini. Bagaimanapun juga ia tidak akan berbohong pada Winta karena juga tidak ada untungnya. Ia sudah cukup mempercayai jika Winta akan menempati janjinya jika ia tidak akan membocorkan semua curhatannya hari ini kepada siapapun. Nina ingin mempercayai Winta. "Gue sahabatan sama Kak Brina ya itu beneran sahabat, Win. Gue nggak lantas jadiin Kak Brina sebagai jembatan buat gue bisa dekat sama Kak Brian. Bahkan, gue dekat sama Kak Brian baru beberapa hari terakhir ini, itu pun Kak Brina yang ngenalin gue sama Kak Brian." Winta masih terperangah. Ia tidak bisa mempercayai jika Nina tidak memanfaatkan Brina untuk dirinya dekat dengan Brian. Yang ia lihat di sinetron-sinetron, tidak ada persahabatan yang tulus jika kedua sahabat mencintai laki-laki yang sama. Namun, anehnya selama ini yang ia lihat, dirinya tidak pernah melihat Nina dan Brina bertengkar. Bahkan Brina sangat bersikap baik sekali kepada siapapun termasuk Nina yang mengaku mencintai kekasihnya, Brina. Ada satu hal yang membuat Winta kembali penasaran dan harus segera ia tanyakan kepada Nina. "Nin, Kak Brina nggak tahu kan kalo lo suka sama Kak Brian? Nggak tahu dong harusnya. Kan kalian berdua itu sahabatan, bestiee." Nina menggedikkan bahunya. "Enggak. Enggak betul maksudnya." "Hah?" "Iya. Kak Brina tahu kalo gue suka sama Kak Brian." Jangan ditanya ekspresi Winta, sudab pasti rupa syok itu membuat wajah perempuan itu membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. "Kok bisa?!" tanyanya kemudian. "Ya bisa. Kak Brina nggak pernah ambil pusing, mungkin menurutnya gue bukan apa-apa. Kan lo tahu sendiri kalo banyak banget cewek yang mencoba deketin Kak Brian bahkan sampai godain dia." "Tapi lo bukan salah satu yang godain Kak Brian kan?" Nina menggeleng. Kedua matanya menatap lurus ke depan entah memandang apa. Yang ada hanyalah taman penuh pohon dan bunga-bunga. "Gue nggak sanggup. Ngelihat dia aja udah bikin gue deg-degan." "Itu artinya lo beneran suka alias cinta sama Kak Brian, Nin!" "Jangan sok tahu lo. Beberapa hari terakhir gue dekat sama Kak Brian ya karena udah kenal. Awalnya emang gemetaran, tapi lama-lama gue bisa nyesuaiin diri, nggak gemetaran lagi." Nina menjelaskan semuanya pada Winta, agar Winta tahu semua yang dirinya rasakan. "Itu berarti lo udah nyaman sama Kak Brian. Terlepas lo masih cinta apa enggak sama dia, itu cuma lo yang tahu." Nina terdiam. Omongan Winta sudah cukup jelas, bahwa dirinya memang sudah merasa nyaman dekat dengan Briam walau sesekali masih diserang deg-degan dan rasa canggung. Tetapi, ada kalanya ketika Nina berada di samping Brian, perasaannya bisa menjadi sangat tenang. "Jadi gimana menurut lo, Win?" Nina kembali menanyakan pertanyaan awal tadi. "Gimana apanya, Nin?" Winta malah bingung sendiri. Sepertinya ia sudah lupa dengan pertanyaan Nina di awal obrolan. Nina dibuat memutar bola matanya. "Dahlah, lo pelupa." Nina cemberut. Winta lagi-lagi cengengsan. "Hehe yang mana, Nin? Ulangin lagi dong ucapan lo. Kan lo tahu sendiri kalo gue nggak sepintar lo." Dengan pelan, Nina menampol pipi Winta. "Padahal jelas-jelas IP lo sempurna. Masih sok merendah untuk meroket. Dasar!" "Hehe ... Nina jangan marah dong. Lo ngomong apa sih tadi? Minta saran kan ya? Iya kan?" kata Winta setelah mengingat ucapan Nina di awal. Nina hanya berdeham saja. "Hm ...." Sementara itu, Winta sudah mempersiapkan jawabannya. "Jadi, menurut gue ya senyamannya lo aja. Kalau lo bisa mendem rasa cinta lo ke Kak Brian tanpa membuat lo sakit hati, ya pendem aja nggak papa. Biarin hanya lo sama Kak Brina yang tahu. Tapi nggak ada salahnya juga kalo lo juga jujur sama Kak Brian. Tanpa mengharapkan rusaknya hubungan Kak Brian sama Kak Brina, pokoknya gue dukung lo seutuhnya." "Kalau gue sengaja atau tanpa sengaja ngerusak hubungan Kak Brian sama Kak Brina, gimana?" Selanjutnya, Winta tidak bisa memberikan jawaban. Ia hanya diam saja, menatap Nina dengan matanya yang berbinar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN