Tadi, Winta pulang terlebih dahulu sementara hari sudah malam dan Nina memutuskan untuk berpindah ke selasar perpustakaan saja. Dirinya masih enggan untuk pulang karena ia masih memikirkan apa yang disarankan olen Winta.
Jujur saja, Nina tidak masalah jika Brian tidak pernah tahu perasaanya yang sesungguhnya. Namun, dalam lubuk hatinya, sudah pasti perempuan itu ingin Brian memahami perasaannya walau mungkin perasaannya ini tidak penting untuk laki-laki itu.
"Loh, Nina."
Nina hampir terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Malam ini sedikit berbeda karena perpustakaan tidak seramai biasanya dan yang pasti suasana menjadi sedikit menyeramkan. Perlu beberapa waktu untuk Nina menyadari bahwa yang baru saja hadir di sampingnya adalah Brian.
"Kamu di sini?" tanya Brian. Laki-laki itu memberi kode pada Nina agar sedikit menggeser duduknya karena Brian juga ingin duduk di samping Nina.
"Kak Brian?" Selanjutnya, Nina menggeser duduknya dan Brian pun duduk di sebelahnya.
Brian agak bingung kenapa semalam ini Nina masih ada di selasar perpustakaan. Di meja di hadapan Nina sama sekali tidak ada buku atau laptop. Nina benar-benar tidak melakukan aktivitas apapun ketika ia melihatnya tadi. Dam sekarang, perempuan itu justru terlihat linglung, sukses membuatnya penasaran sekaligus khawatir.
"Na, kamu kenapa?" tanya Brian dengan menatap kedua bola mata Nina yang sudah nampak lelah. Yang ditanya masih diam saja, membuatnya kembali melontarkan pertanyaan untuk perempuan yang ada di sampingnya itu. "Na?" Brian memegang bahu Nina. Bahkan ia sampai memiringkan kepalanya untuk memastikan bahwa Nina baik-baik saja. "Na?" panggilnya lagi.
Nina memejamkan matanya sejenak sambil menghirup napas panjang. Selanjutnya ia membalas tatapan Brian dan memaksakan seulas senyuman. "Aku nggak papa, Kak," katanya. Padahal ia sedang tidak baik-baik saja. Perasaannya pada Brian begitu kuat, sehingga ia tidak tahu harus berterus terang pada laki-laki itu atau tidak. Alasannya bukan Brina, tetapi ketakutannya jika Brian malah kehilangan simpati pada dirinya.
Brian tidak mau percaya begitu saja. Jelas sekali Nina tampak berbeda dan rasanya sangat aneh jika dirinya hanya sendiri di sini tanpa teman dan bahkan tanpa buku atau laptop untuk mengerjakan sebuah pekerjaan seperti selayaknya orang-orang yang suka berlama-lama di perpustakaan.
"Kamu bohong ya? Kamu kenapa, Na?"
Nina terkejut karena semudah itu Brian tahu jika dirinya berbohong. Perempuan itu menatap manik legam milik Brian. Tatapan yang ia rasakan sungguh tulus. Laki-laki itu khawatir padanya dan menanyakan keadaannya. Satu-satunya yang membuat Nina membeku adalah ketika Brian malah merangkulnya dan membawanya bersandar di bahunya. Jelas sekali adegan yang tidak pernah Nina bayangkan. Perempuan itu keringat dingin dengan air matanya yang menggenang, berusaha agar tidak pernah pecah.
"Kamu kalau ada masalah bisa cerita sama aku, Na. Jangan dipendam sendiri. Kan katanya kita teman." Ketika Brian mengucapkan kalimat itu, hatinya terasa sangat sakit sekali seperti dihantam ribuan belati. Kenyataan bahwa mereka berdua hanyalah teman memang sungguh menyakitkan sampai-sampai Nina tidak menyadari jika sebagai teman saja Brian seperhatian ini.
"Kak Brian ...," ucap Brian dengan lemah. Kepalanya masih bersandar di bahu laki-laki itu, tanpa peduli jika ada orang yang melihat mereka berdua.
Brian berdeham, memberikan tanggapannya dengan suara hangatnya. "Kenapa, Na?"
Nina pun memilih mengangkag kepalanya dan menggeser duduknya agar berjarak dengan Briam. Ia sedikit merapikan rambutnya dan setelahnya tidak ada keinginan untuk dirinya menatap laki-laki itu.
"Na, ada apa?" Brian masih bertanya. Pandangannya tidak bisa lepas dari Nina.
"Aku nggak papa, Kak," kata Nina yang memaksakan seulas senyumnya.
"Jangan bohong, Na. Aku kenal kamu walau baru sebentar. Kamu tahu nggak, kalau bohongin aku, nanti kamu dosa lho," ucap Brian dengan senyum yang terukir manis di wajah tampannya. Karena itu, Nina jadi bisa tersenyum, setidaknya raut wajahnya tidak lagi murung.
"Nggak cuma bohong sama Kak Brian yang dosa. Tapi bohong sama siapapun ya sama-sama dosa." Akhirnya Nina mau menanggapi perkataannya yang mengandung sedikit unsur bercanda.
"Tapi kalau bohong sama aku, dosanya double."
"Kok bisa?"
"Bisa lah."
"Kenapa, Kak?"
"Karena kalo kamu bohongin aku, nanti aku kecewa. Jadi kamu dosa karena udah bohongin aku dan juga udah bikin aku kecewa, Na."
Nina berhasil dibuat terkekeh. "Kamu kayak anak kecil, Kak."
"Nah gitu dong ketawa," ucap Brian yang melebarkan senyumnya.
"Kak Brian kok belum pulang sih?" tanya Nina yang berusaha mengalihkan pembicaraannya tadi pada Brian, tentang mengapa dirinya masih ada di sini. Tetapi, pertanyaan yang ia lontarkan sepertinya salah, karena sama saja Brian akan kembali pada pertanyaannya untuk dirinya.
"Kamu sendiri kenapa belum pulang?" Brian balik bertanya. Benar saja apa yang telah ditebak Nina. Perempuan itu juga tidak menyiapkan jawaban yang bisa ia pakai untuk berkilah.
"Jangan bohong, Na," kata Brian. Padahal Nina masih diam. Tahu saja laki-laki itu jika Nina sedang mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari dirinya. "Kamu pasti lagi mikir buat bohongin aku ya, Na?"
Nina hanya meringis saja karena sudah tertebak oleh Brian.
"Kenapa mau bohong?"
"Kak, nggak semua harus aku ceritain ke Kak Brian kan?" Sedetik kemudian, perempuan itu meruntuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mengucapkan kalimat itu kepada Brian dengan nada yang agak menyindir. Sekarang Nina jadi tak enak kalau Brian benar-benar merasa tersindir.
Tetapi, Brian bukannya marah dan malah tersenyum. Ia juga mengangguk. "Iya, Na. Apapaun itu, kalau emang kamu nggak mau cerita, nggak papa. Asal kamu jangan sendirian di sini malam-malam hampir jam sembilan. Bahaya, Na."
"Kak Brian yang terlalu khawatir. Selama aku masih di lingkungan kampus, aku merasa aman, Kak. Semua gerbang ada satpam dan di kampus nggak ada orang jahat." Nina bersikeras dengan isi kepalanya.
"Itu kalau kamu masih di kampus. Kalau udah di luar kampus, misalnya di perjalanan pulang, gimana?" Pertanyaan Brian sulit untuk Nina jawab dan laki-laki itu malah senyum-senyum sendiri. "Nggak bisa jawab kan? Ojek online nggak ngejamin keamanan kamu, apalagi jalan kaki."
Nina malah mengalihkan pandangannya ke penjuru lain. Di sekelilingnya memang masih area kampus yaitu taman perpustakaan, tetapi tetap saja, yang namanya lampu taman tidak bisa mengalahkan temaramnya malam.
"Kamu mau nyuruh jemput pacar kamu, emang kamu punya pacar?" tanya Brian dengan tiba-tiba. Langsung membuat Nina tertohok karena selama berkuliah di sini dirinya bisa disebut jomlo abadi. Namun, yang paling menjengkelkan adalah kejomloannya itu dikarenakan dirinya yang terlalu mencintai Brian.
"Kok diem, Na?" tanya Brian kemudian.
"Kak Brian dari tadi ngomong nggak ada habisnya. Aku bingung mau ngomong kapan."
"Sekarang juga bisa ngomong."
"Mau ngomong apa?"
"Anterin aku pulang dong, Kak." Brian memperagakan ucapannya dengan nada manja. "Kayak gitu misalnya, Na." Laki-laki itu tidak bisa menahan kekehannya.
Sementara Nina berdecak. "Aku nggak manja kayak yang Kak Brian praktikkin sih," ucapnya.
"Iya, nggak manja, tapi lucu kalo lagi kesel, Na." Entah Brian sadar atau tidak, perbuatannya yang mengacak puncak kepala Nina sudah sangat keterlaluan. Perempuan itu hampir pingsan karena detak jantungnya yang sangat cepat, bahkan napasnya pun hampir tersenggal. Beruntung, dengan kekuatannya Nina mampu menahan rasa ingin terbang melayang ke angkasa karena sikap Brian padanya.
-
Sudah bisa ditebak jika pada akhirnya Nina harus pulang bersama dengan Brian. Laki-laki itu benar-benar memaksa padahal Nina bisa pulang sendirian. Dengan alasan keamanan, jadilah Nina duduk di sebelah bangku kemudi yang sudah ada Brian di sana. Brian belum menyalakan mesin mobilnya karena ia masih ada urusan dengan ponselnya, mengetikkan sesuatu di sana.
Nina tidak mau terlalu ikut campur urusan Brian. Ia juga tidak mau mempertanyakan sedang apa dirinya sampai beberapa menit mereka di dalam sini tetapi Brian belum juga melajukan mobilnya. Nina tidak mau banyak bertingkah. Ia ingin menjadi dirinya yang apa adanya saja, walau dengan tidak banyak bertingkah bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Diri Nina yang sebenarnya adalah keingintahuannya yang tinggi. Dulu, ia pernah diantar kekasihnya ketika masih SMA. Kekasihnya itu sangat sering bermain ponsel padahal sedang menyetir di tengah jalanan yang cukup padat. Ketika Nina bertanya apakah ada yang penting dan menyarankan untuk minggir terlebih dahulu sampai urusan kekasihnya dengan ponselnya itu selesai, kekasihnya itu malah tidak memedulikannya. Hingga pada akhirnya, mobil yang mereka berdua tumpangi menabrak gerobak ketoprak. Syukurlah mereka tidak apa-apa walau harus membayar ganti rugi. Masalahnya bukan itu. Tetapi, ketika ponsel milik kekasih Nina itu tergeletak dekat dengan kakiny, Nina langsung mengambil dan membaca isi pesan di layar yang masih menyala. Saat itu, untuk pertama kalinya Nina merasa dikhianati oleh laki-laki dan ia sangat merasa sakit hati. Walau kekasihnya itu berkali-kali menjelaskan, Nina tidak pernah mau peduli dan pada akhirnya mereka berpisah karena Nina memilih berkuliah di luar kota.
Setelah merasa cukup, Brian meletakkan ponselnya di dashboard. Ia tidak melupakan Nina. Laki-laki itu justru menoleh menatapnya dengan senyuman tampan seperti biasanya.
"Na, kamu tahu nggak siapa yang barusan aku chat?" tanya Brian, menyuruh Nina untuk menebak-nebak.
Sebenarnya Nina tidak mau tahu, tetapi senyuman Brian membuatnya tahu siapa yang tadi berkirim pesan dengan dirinya.
"Kak Brina?" ucap Nina yang berusaha menebak dan perempuan itu yakin sekali jika tebakannya benar.
"Kok kamu tahu?"
Spontan saja Nina memutar bola matanya. Padahal, ia sudah berjanji ingin menjaga sikapnya ketika bersama dengan Brian. "Aku cenayang," kata Nina singkat.
Laki-laki itu tidak mempermasalahkan jawaban Nina yang singkat dan terdengar ketus. Justru, dirinya semakin banyak bercerita. "Kamu tahu nggak?"
"Enggak."
Brian bisa merasakan ada rasa kesal di dalam benak Nina. Tetapi, ia tidak mau membahasnya dan tetap melanjutkan perkataannya. "Penasaran nggak?" tanyanya yang berniat bercanda.
"Enggak."
Entah mengapa, Nina hanya memandang lurus ke depan dan hal itu membuat dirinya tersenyum memandangi wajah Nina yang nampak masam dari samping, tetapi tetap terlihat lucu.
"Aku tadi habis ngabarin Brina kalau mau nganterin kamu pulang, Na."
Perlahan, Nina menoleh dan menatap Brian. Kedua matanya berkaca-kaca, tetapi tetap berusaha untuk baik-baik saja. Apakah ini cara Tuhan untuk membuat Nina semakin jatuh cinta saja pada Brian? Laki-laki itu sepertinya sangat bertanggung jawab dengan hubungannya bersama Brian. Hanya untuk mengantarnya pulang saja Brian harus meminta izin pada Brina, padahal jika Brian tidak meminta izin pun Brina juga tidak akan tahu dan hal tersebut tidak akan menjadi masalah. Tetapi, Brian memilih bersikap terbuka pada Brina, kekasihnya. Jika sudah seperti ini, rasanya Nina semakin mencintai laki-laki yang tidak akan pernah bisa ia miliki.
"Sekarang mau pulang atau mampir makan?" Brian malah bertanya demikian.
"Pulang lah, Kak. Kan Kak Brian izin ke Kak Brina buat anterin aku pulang."
"Nggak cuma itu kok. Aku udah izin ke Brina juga mau ajak kamu mampir makan. Nggak percaya? Mau lihat chatting aku sama Brina?" Brian sudah mengambil ponselnya dan langsung memberikan ponselnya kepada Brina dalam keadaan layar yang mati.
Nina enggan menerima ponsel Brian. "Enggak usah, Kak."
"Kamu percaya kan sama aku?"
"Kata siapa? Aku mau tanya sama Kak Brina aja."
Dengan santainya Brian menjawab, "Oh oke, sialakan, Na."
Nina pun langsung mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia mengetikkan pesan di ruang obrolannya bersama Brina. Jujur saja mengetikkan pesan ini membuat Nina merasa tidak nyaman karena malah jalan bersama Brian sang kekasih Brina. Namun, mau bagaimana lagi, Nina harus mengirimi pesan pada Brina.
Nina: Kak Brina ... Kak Brina tahu enggak gue pulang sama siapa?
Kak Brina: Sama Brian kan? Mampir makan dulu sekalian, Na. Kata Brian, dia ketemu lo di perpus sendirian. Lo ngapain sih ada di perpus malam-malam gini? Sendirian pula. Kenapa? Setahu gue lo bukan tipe orang yang suka ngerjain tugas di perpus deh. Kalau ada masalah mah cerita aja, Nin. Kalau nggak mau cerita sama gue, gue pinjemin Brian deh buat lo cerita.
Membaca balasan dari Brina malah membuatnya mendengkus. Kakak tingkat yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri itu memang bawel sekali, apalagi kalau ketahuan dirinya sedang ada masalah. Brina yang paling pertama maju dan menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik.
Namun, masalahnya Nina kali ini tidak bisa didengarkan oleh Brin. Ia tidak mungkin jika harus menanyakan apakah harus terus mencintai Brian atau berhenti dan tidak lagi menemui laki-laki itu. Sudah pasti Brina akan menolaknya, karena Brina tidak keberatan sama sekali ketika dirinya pergi bersama dengan Brian seperti malam ini.
"Na, udah tanya ke Brina?" tanya Brian yang melihat wajah masam Nina ketika membaca pesan Brina.
Nina mengangguk. "Udah, Kak."
"Apa katanya? Dia ngizinin kita buat makan malam dulu kan?"
Nina mengangguk lagi.
"Kan, bener. Aku nggak bohong sama kamu, Na. Kalau aku udah izin sama Brina ya berarti emang aku izin sama Brina. Aku nggak ngada-ngada-"
Belum juga menyelesaikan ucapannya, perkataan Brian sudah dipotong oleh Nina. "Kenapa harus izin sama Kak Brina, Kak?" tanyanya yang langsung membuat Brian kicep. "Bukannya nggak usah bilang sama Kak Brina, Kak Brina juga nggak bakal tahu ya?"