Permintaan Untuk Tidak Saling Bertemu

1156 Kata
"Na, kamu tahu nggak kenapa kamu aku ajak ke sini?" tanya Brian. Saat ini mereka sudah ada di sebuah restoran cepat saji yang buka selama dua puluh empat jam.  Di depan mereka, sudah tersaji dua porsi nasi beserta ayam goreng tepung. Padahal, tadi sore Nina sudah makan ayam goreng tepung. Dan kali ini ia harus memakan menu yang sama. Sebenarnya tidak apa, hanya saja dirinya sepertinya sangat lelah sekali malam ini. Ia tidak bersemangat padahal di hadapannya ada Brian.  "Na, kamu kenapa diam aja?" tanya Brian yang penasaran mengapa sedari tadi perempuan itu hanya diam saja, padahal dirinya sedang mengajaknya bicara. Sudah pasti, rasa tidak enak pada Brina selalu datang menghampiri Nina. Brina memang sudah mengetahui jika mereka berdua akan mampir makan terlebih dahulu, tetapi justru itulah yang membuat Nina merasa bersalah. Namun, dalam lubuk hatinya ada sebuah kelegaan. Jika ia merasa bersalah saat sudah meminta izin kepada Brina, maka Nina akan sangat merasa bersalah jika samapi dirinya merebut Brian dari Brina. "Na?" "Eh ... iya, Kak?" Nina tersadar dari lamunannya. Nasi ayam milik Brian bahkan telah habis, tetapi nasi ayam milik Nina baru berkurang satu suapan. "Apa kamu lagi nggak enak badan, Na?" tanya Brian memastikan kondisi Nina. Nina menggeleng. "Enggak, Kak. Aku nggak papa kok." Kemudian, perempuan itu memasukan suapan kecil nasi beserta ayam goreng krispi ke dalam mulutnya. "Na, kamu nggak nyaman ya jalan sama aku?" tanya Brian yang langsung membuat Nina tersedak. Buru-buru Brian memberinya air mineral, karena kebetulan yang mereka pesan adalah dua botol air mineral.  "Makasih, Kak," ucap Nina ketika ia sudah merasa baik-baik saja. "Maaf, Na, udah bikin kamu tersedak." "Kak, ayo pulang." Nina merasa ingin cepat pulang, padahal nasi dan ayam krispinya masih banyak. "Kok pulang? Kamu nggak cocok ya sama ayam kaefci?" Nina menggeleng. "Bukan gitu, Kak. Tapi aku pengen pulang." "Kenapa, Na?" "Kak ...." Kini Nina merasa menjadi orang yang egois karena ia sudah memaksa Brian untuk cepat-cepat mengantarkannya pulang, padahal makanan Brian belum habis dan makanannya juga masih tersisa cukup banyak. Namun, Brian tidak mau menolak. Bagaimanapun juga yang mengajak Nina ke sini adalah dirinya, yang awalnya perempuan itu menolak. Tidak lama, mereka berdua sudah ada di dalam mobil. Brian perlu mengembuskan napasnya panjang karena ia merasa ada yang salah dengan perempuan yang ada di sampingnya itu.  "Na," ucap Brian yang memegang satu tangan Nina, membuatnya begitu terkejut. Nina langsung menepisnya.  Berada di situasi seperti ini sungguh tidak enak rasanya. Brian sudah tahu jika Nina menyukainya bahkan Nina juga pernah bercerita padanya. Tetapi, Brian tidak mau menjadikan hal tersebut menjadi penghalang untuk pertemanan mereka. Jadi, Brian seolah bersikap biasa saja ketika bersama dengan Nina, tanpa Nina ketahui Brian juga mulai memiliki perasaan kepada perempuan itu. Akhirnya Brian menyerah. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan sepanjang perjalanan Nina hanya diam saja. Sengaja Brian tidak ingin mengajak Nina berbicara, karena sepertinya memang Nina sedang tidak ingin berbicara apa-apa. Tidak lama, mereka sudah sampai di depan rumah kost Nina. Brian sudah berhenti tepat di depan pintu gerbangnya. Namun, beberapa detik berlalu, Nina belum juga turun dari mobilnya sementara Brian juga tidak berniat untuk menegur perempuan itu. Dua menit sudah berlalu, tetapi Nina masih diam saja di dalam mobil. Tidak ada pergerakan dari perempuan itu bahkan tatapannya hanya lurus menatap jalanan kosong di depan sana. "Kak." Setelah hening yang lumayan lama, akhirnya Nina memanggil Brian. Laki-laki itu langsung menoleh, tetapi tatapan Nina masih lurus saja ke depan. Namun, perlahan Nina mengarahkan pandangannya pada Brian tetapi dengan tatapan sayu. "Kayaknya kita nggak usah ketemuan dulu ya, Kak, buat beberapa hari. Kalau misal Kak Brian lihat aku di kampus, nggak usah nyapa. Kalu ketemu aku di perpustakaan juga nggak usah nyamperin aku kayak tadi, Kak." Brian dibuat bingung dengan ucapan Nina. "Loh, kenapa, Na?" tanyanya yang tidak terima. "Kak, Kak Brian itu pacarnya Kak Brina. Kak Brian tahu kan aku suka sama Kak Brian? Aku nggak mau banyak berharap kalau setiap hari ketemu Kak Brian. Gimana pun juga aku punya perasaan ke Kakak. Dan aku nggak bisa setiap hari atau terlalu sering ketemu Kak Brian." "Tapi, Na. Kenapa?" "Karena hati aku sakit, Kak. Hati aku sakit tiap jalan sama Kak Brian. Ada kenyataan di mana Kak Brian nggak bisa jadi milik aku, tapi kenapa aku sering banget jalan sama Kakak? Bukannya ini nggak adil? Harusnya aku nggak usah kenalan sama Kak Brian pas di perpus waktu itu. Harusnya aku cuma jadi pengagum rahasianya Kak Brian aja." Brian kehilangan kata-katanya. Bahkan, ketika Nina berterima kasih padanya karena sudah mengantar pulang, Brian tidak menanggapi. Baru ketika Nina membuka pintu mobil untuk keluar, satu tangannya ditahan oleh Brian.  "Na." Pergerakan Nina terhenti. Tubuhnya membeku, menjadi keringat dingin ditahan seperti ini oleh Brian.  "Kamu kenapa kayak gini, Nin? Kemarin kamu nggak kenapa-kenapa kan?" Brian masih tidak bisa terima jika Nina memutuskan dengan sepihak untuk tidak bertemu dengannya lagi. Padahal, Brian baru ingin memulai hari-harinya bersama dengan Nina.  Nina melepaskan genggaman tangan Brian di pergelangan tangannya.  "Kak, aku-aku aku kayaknya cukup sampai di sini aja. Aku nggak bisa nggak tambah cinta sama kamu, Kak, tapi kenyataannya Kak Brian milik Kak Brina. Aku bisa apa, Kak? Perjuangin perasaanku sendirian itu nggak mungkin. Yang ada aku sakit hati, Kak. Maaf kalau kesannya berlebihan. Tapi kayaknya emang lebih baik aku diam-diam aja suka sama Kak Brian. Aku mau masuk dulu ya, Kak, udah malam. Makasih, Kak." Ketika Nina membuka pintu mobil, tangannya kembali ditahan oleh Brian.  "Na, dengerin aku dulu," kata Brian, ingin Nina tetap bersamanya. "Aku nggak mau, Na. Kenapa nggak kita perjuangin bareng-bareng aja, Na?" Ucapan Brian jelas membuat Nina menganga dan menggelengkan kepalanya. "Kak, Kak Brina itu udah aku anggap kayak kakak kandung aku sendiri. Aku nggak mungkin lah ngekhianatin Kak Brina." "Tapi gimana kalau aku juga suka sama kamu, Na?" Brian menatap dua bola mata Nina yang sudah berkaca-kaca. "Gimana kalau pada akhirnya aku suka sama kamu dan aku pilih kamu, bukan Brina?" "Nggak bisa. Nggak bisa, Kak. Kak Brina bakal sedih banget dan aku lebih milih Kak Brina daripada Kak Brian. Maafin aku, Kak. Aku harus masuk. Udah malam." Nina masuk ke dalam rumah kostnya dengan badan yang bergetar. Bahkan air matanya berhasil lolos setelah ia menginjakkan kaki di dalam kamar. Perempuan itu melemparkan tasnya ke sembarang tempat. Tidak peduli dengan pakaiannya yang sudah bau keringat karena seharian ini ia ada di kampus, Nina langsung menerjunkan dirinya di atas ranjang. Ia membekap wajahnya di antara dua bantal dan setelahnya adalah saat yang tepat untuk menangis.  Mungkin ini memang terlalu cepat untuk mengakui segala hal yang ia rasakan pada Brian. Tetapi memang benar apa kata Winta, kalau menyakiti memang lebih baik diungkapkan. Namun, bukan kelegaan yang Nina rasakan, tetapi sebuah rasa takut, talut jika Brian benar-benar pergi dari kehidupannya. Bagaimana pun Nina tetap mencintai Brian, ingin melihat Brian setiap saat, hanya saja ia tidak ingin berkomunikasi secara langsung.  Tanpa Nina sadari, tangisnya telah membawanya hanyut dalam tidur. Mimpi-mimpinya mengiringi kesedihannya malam ini. Menyadari Brian tidak akan menjadi miliknya, memang lebih baik untuk tidak pernah bersamanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN