"Ada yang lihat Nina nggak ya?" tanya Brina pada teman-temannya sepengurusan himpunan. Padahal, mereka ada jadwal rapat rutin tetapi kali ini Nina tidak hadir. Sedari tadi Brina berusaha menelponnya, tetapi tidak juga ada jawaban. Nina mengabaikan pesannya, sudah pasti ada yang salah dengan perempuan itu.
Rapat sudah berakhir. Satu per satu pengurus membubarkan diri untuk pulang atau pergi ke mana terserah mereka. Tetapi, tidak sedikit pula yang tetap bertahan di dalam ruangan hanya untuk sekadar rebahan dan menggosip ria seperti biasanya. Dan Brina, dirinya masih memilih untuk tetap ada di sini untuk berjaga-jaga barangkali Nina akan mampir ke sini walau kemungkinannya kecil.
"Brin, kok tumben banget Nina nggak keliatan sama lo? Kemana itu anak?" tanya Zufar yang tiba-tiba saja menghampirinya. Brina langsung menggeleng saja karena dirinya juga tidak tahu di mana Nina sekarang.
"Gue nggak tau, Far. Dari pagi nggak bisa gue hubungin. w******p gue juga nggak dibales sama dia. Tumben banget memang," kata Brina dengan raut wajah khawatirnya. "Kira-kira Nina tadi masuk kelas nggak ya? Atau jangan-jangan dia sakit?"
"Lo nggak punya kontak teman sekelasnya Brina?" tanya Zufar kemudian. Brina menggeleng karena memang dirinya tidak memiliki satupun nomor kontak teman satu kelas Brina. Namun, tidak berselang lama, Brina baru ingat jika Winta cukup dekat juga dengan Brina. Perempuan itu langsung mencari-cari di mana Winta, semoga saja ia belum pulang.
Akhirnya, Brina menemukan Winta yang sedang bergosip ria dengan yang lainnya. "Winta," panggil Brina yang langsung membuat Winta mendongak.
"Apaan, Kak?" kata Winta.
Brina melambaikan tangannya agar Winta bisa mendekat padanya. Setelahnya, ia tinggal menanyakan keberadaan Nina pada teman yang cukup dekat dengan Nina. Semoga saja memang Winta tahu di mana keberadaan Nina.
"Win, lo tahu nggak sih Nina ke mana? Kok dia nggak keliatan ya hari ini? Dari pagi juga w******p gue nggak dibales lho sama dia. Gue jadi khawatir, Win."
Sudah pasti Winta teringat dengan Nina yang sempat curhat dengan dirinya di perpustakaan sore kemarin, tetapi ia tidak seratus yakin jika ketidak hadiran Nina dalam rapat ini karena ada hubungannya dengan curhatannya kemarin.
Winta ingin memberitahu Brina mengenai kemarin, tetapi dirinya sudah berjanji pada Nina untuk tidak membocorkan curhatan Nina ke siapapun itu.
"Gue nggak tahu, Kak. Gue juga seharian ini nggak ada chatting sama dia sih, Kak."
"Apa mungkin dia sakit ya, Win?"
Winta menggeleng.
"Lo punya nomor temannya Nina yang sekelas nggak? Kita bisa tanyain apa tadi Nina datang ke kampus atau enggak. Gue takutnya dia sakit, Win."
"Tapi barusan gue ketemu sama Nina sebelum datang ke sini, Kak. Dia ada di perpustakaan sih nggak tau ngapain."
"Perpustakaan?"
Winta mengangguk.
"Ngapain, Win? Bukannya Nina nggak suka ke perpus ya? Terus lo negur dia nggak?"
Winta mengangguk lagi. "Ya negur, Kak. Kita ngobrol bentar kayak biasanya aja."
Brina jadi semakin bingung. Sebenarnya ada apa dengan Nina. Ia pikir semuanya akan baik-baik saja karena semalam Nina diantar pulang oleh Brian walau Brina tidak tahu alasan Nina duduk seorang diri di selasar perpustakaan di malam hari.
"Win, boleh lo telefon Nina nggak?" pinta Brina pada Winta, kare kemungkinan jika yang melepon adalah Winta maka Nina mau mengangkat teleponnya.
Tetapi, ternyata sama saja. Telepon Winta tidak diangkat oleh Nina walau sambungannya terhubung.
Karena sudah tidak ada kegiatan lagi, Brina memutuskan untuk pergi sana ke rumah kost Nina, tetapi sebelumnya ia ingin mencari Nina di perpustakaan. Perempuan itu benar-benar mengkhawatirkan Nina.
Brina mengemasi barangnya untuk masuk ke dalam tas. Baru saja ia ingin mencangklong tasnya, sebuah foto diperlihatkan oleh seseorang tepat di depan wajahnya. Sontak saja hal itu bukan hanya membuat Brina teekejut tetapi semua pengurus yang masih tersisa di dalam kelas.
Brina langsung menyahut foto itu dan menyembunyikannya di dalam remasan tangannya. "Lo dapat foto ini dari mana, Wat?" Jangan ditanya, tidak salah dan tidak bukan, Wati lah yang menyodorkan Brina sebuah foto yang menggambarkan Nina dan Brian yang sedang makan bersama di restoran cepat saji.
Sebenarnya itu semua tidak masalah bagi Brina. Tetapi, jika orang lain tahu Nina dan Brian semalam pergi makan bersama, maka akan ada gosip buruk yang beredar dan membuat nama baik ketiganya menjadi teecemar.
Di saat yang lain terkejut, Wati malah cengar-cengir tanpa dosa. "Sekarang lo tahu kan, kalo Nina itu nggak sebaik yang lo kira. Dia akhirnya deket sama Brian. Lo kecolongan, Brin," kata Wati sekenanya. Selanjutnya, dengan pongan perempuan itu meninggalkan Brina dan para pengurus yang masih ada di ruangan dengan rasa terkejutnya.
"Seriusan itu, Brin? Nina nusuk lo dari belakang dong, dia makan bareng sama Brian. Asyik banget nih berita," ucap salah seorang pengurus. Namanya Desi, mulutnya sangat hobi sekali membicarakan orang lain apalagi berita hangat seperti ini.
"Hari ini Nina nggak datang rapat, gue bisa pastiin dia lagi jalan sama cowok lo. Kasihan banget lo, Brin." Desi berucap lagi. Setelah meramal apa yang sedang dilakukan Nina saat ini seperti peramal gadungan, Desi memasang wajah prihantinnya pada Brina.
Sedetik kemudian, suara riuh bisik-bisik sudah dapat Brina dengar. Walau mereka yang ada di ruangan ini mengaku keluarga, tetapi tetap saja jika ada berita hangat mereka tidak akan segan-segan untuk membahasnya sampai tuntas, apalagi berita itu menarik seperti kisah Brina yang ditinggal selingkuh oleh sahabatnya sendiri.
Brina belum mau ambil pusing. Untuk saat ini semoga saja gosip ini hanya beredar di ruangan ini dan tidak sampai keluar. Saat ini, Brina sudah melangkah meninggalkan sekretariat himpunan untuk menuju ke perpustakaan mencari Nina. Tetapi tidak ada. Brina pun mencari Nina di taman kampus dan perempuan itu sudah mengelilingi kampus tetapi tidak menemukan Nina juga.
Brina menyempatkan untuk duduk di sebuah bangku taman. Ia ingin menelpon Nina sekali lagi, tetapi tetap tidak diangkat.
Rupanya, gosip menyebar sangat cepat. Brina bisa mendengar, beberapa orang yang lewat membicarakan dirinya bahkan menatap sinis ke arahnya.
Lagi-lagi, Brina tidak ingin memedulikan hal itu terlebih dahulu. Ia berganti menghubungi Brian untuk menanyakan apakah dirinya melihat Nina atau tidak. Yang pasti, Brian juga khawatir jika Nina kenapa-kenapa. Maka dari itu, Brian akan mendatangi Brina dan mereka akan sama-sama mencari Nina.
-
"Brin!"
Brina menoleh. Brian sudah sampai di taman dengan langkah yang teegopoh.
Bisikan-bisikan orang-orang yang lewat langsung terdengar kembali. Apalagi keadaan mereka hang sama-sama cemas, sama-sama bisa meyakinkan mahasiswa lain jika hubungan mereka sedang renggang dan itu karena Nina.
"Ayo kita ngobrol di mobil, Brin." Brian langsung menarik lengan Brina dan membawanya ke parkiran. Di dalam mobil adalah tempat yang paling aman agar tidak diketahui orang lain.
"Gue nggak peduli sama gosip yang ada. Sekarang yang penting Nina di mana? Masa gue telepon tapi nggak diangkat," kata Brina yang mengatakan semuanya pada Brian.
"Kok bisa? Dia tidur di kostnya paling, Brin." Brian berusaha tenang, tetapi tetap saja ia tidak bisa menenangkan dirinya karena kejadian tadi malam. Di tambah hari ini ada gosip yang menyebar, membuat nama baik Nina menjadi buruk, semakin membuat Brian khawatir saja.
Brina dibuat mengembuskan napasnya panjang. "Kalai di tidur, nggak mungkin telepon gue dimatiin."
"Bisa aja nada deringnya ganggu."
"Enggak, Yan. Kalo gitu sekarang kita ke rumah Nina ya?"
Brian mengangguk dan langsung tancap gas menuju rumah kost Nina.
Tidak perlu waktu yang lama, mereka berdua sudah sampai di depan rumah kost Nina.
Brina yang turun dan Brian tetap ada di dalam mobil. Perempuan itu menekan bel beberapa kali sampai ada seseorang yang membukakan pintu.
"Maaf, Kak. Nina nya ada di kost nggak ya?" tanya Brina dengan ramah pada penghuni kost yang sepertinya lebih dewasa dari pada dirinya.
Dia adalah Kak Syalaby. Kebetulan sekali hari ini ia libur. "Nina belum balik dari tadi. Kamarnya masih gelap dan dikunci kok. Gue juga belum lihat Nina masuk. Kenapa nggak telepon dulu?" tanya Kak Syalaby selanjutnya.
"Um ... benar nggak ada di kost ya, Kak?" tanya Brina lagi yang ingin memastikan.
Kak Syalaby menggeleng dan akhirnya Brina berpamitan untuk pergi.
"Ya udah, Kak. Makasih ya," ucap Brina. Perempuan itu langsung berbalik dan menaiki mobil.
"Nggak ada, Yan," kata Brina yang memberi laporan kepada Brian.
Brian terlihat sangat khawatir. Nina tidak diketahui keberadaannya dan tepat tadi pagi ketika dirinya ia mengirimi pesan ucapan selamat pagi untuk Nina, perempuan itu juga tidak menanggapi.
"Brin, sebenarnya kemarin terjadi sesuatu," kata Brian yang memutuskan untuk menceritakan saja semuanya agar Brina tahu. Brian menceritakan semuanya secara runtut.
Brina cukup terkejut dan yang pasti ada rasa bersalah yang terbesit dalam benaknya. Bagaimana tidak, Nina menyukai Brian yang orang-orang tahu Brian adalah kekasihnya. Padahal semua itu hanya pura-pura. Semua orang tertipu termasuk Nina.
"Nina nggak bakal kenapa-kenapa kan, Yan?" tanya Brina pada Brian.
Brian menggeleng. "Nina pasti baik-baik aja, Brin. Lo nggak usah sedih gitu. Kita cari Nina bareng-bareng."
"Tapi mau dicari ke mana?"
"Lo tau nggak tempat kesukaan Nina kalau lagi sedih?"
Ditanya seperti itu, Brina tidak bisa menjawab. Bukan karena ia tidak tahu, tetapi memang setahunya Nina tidak memiliki tempat khusus yang ia datangi ketika merasa sedih. Malah, seringnya perempuan itu bercerita masalah apapun dengan dirinya.
"Gue nggak tau, Yan."
"Lah, katanya lo sahabatnya, kok nggak tau?"
"Ya karena tiap kali dia sedih pasti larinya ke gue. Tapi kenapa sekarang Nina malah nggak ada sih?"
--
"Kak, makasih ya."
"Kenapa lo nggak mau temuin mereka? Mereka nyariin lo."
Nina tidak menjawab. Ia hanya menggeleng saja lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya terlalu berat bagi dirinya untuk bertemu Brian apalagi Brina. Selama ini Nina hampir lepas kontrol untuk merebut Brian dari Brina. Namun, semalam, dengan tekatnya akhirnya ia bisa mengatakan apa yang ia rasakan. Ia sudah tidak ingin ada urusan lagi dengan Brian. Semoga saja ia tidak pernah bertemu dengan Brian. Dan untuk Brina, Nina akan menjaga jarak sampai akhir periode kepengurusan nanti. Setelahnya, Nina sudah memutuskan untuk keluar dari kepengurusan himpunan dan ingin fokus saja di perkuliahannya.
Memang ada rasa bersalah karena sudah membuat Brina dan Brian khawatir. Tetapi, Nina butuh waktu untuk sendiri. Jika dirinya sudah merasa baik-baik saja dirinya benar-benar ingin kembali berteman bersama dengan Brina seperri biasanya namun tanpa mengenal Brian.
Mengenal Brian hanya membuatnya tidak karuan. Jika ia menahan perasannya, semuanya akan sakit, dan saat ini ia belum juga bisa melepaskan perasaan cinta yang tumbuh selama dua tahun ini.
Nina berharap keputusannya kali ini benar. Hampir satu minggu rasanya sangat cukup untuk ia bisa dekat dengan Brian. Nina tidak menginginkan rasa cintanya pada Brian dihapuskan oleh Tuhan. Ia hanya ingin semuanya kembali normal seperri sebelumnya, di mana ia hanya mengagumi Brian dari jauh.
Tetapi, semuanya tidak semudah itu. Hari ini Nina bisa menghindar. Tetapi belum tentu untuk esok hari. Karena Nina belum tahu, jika ada gosip besar yang melibatkan namanya, bahkan nama baiknya sedang dipertaruhkan karena gosip yang beredar dari seseorang yang tidak berganggung jawab.
Setidaknya, biarkan Nina menenangkan diri hari ini agar bisa mempersiapkan diri untuk hari-hari yang lebih mengejutkan esok.