Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya. Sedari tadi, ketika Nina berjalan ke kelas, ada saja yang menatapnya dengan aneh. Bukan hanya adik tingkat, tetapi juga kakak tingkat bahkan para laki-laki juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.
Nina tidak terkejut lagi, karena ia sudah bisa menebak tanggapan dari orang-orang mengenai kabar kemarin di saat dirinya dan Brian pergi makan malam bersama di restoran cepat saji. Ada orang yang melihat mereka berdua dan akhirnya memotret kebersamaan mereka. Padahal, mereka tidak melakukan apa-apa lagi setelah makan.
Foto-foto yang diambil orang tidak bertanggung jawab itu tersebar dan bahkan hingga ke media sosial mahasiswa Universitas Matahaya. Banyak sekali yang memberi komentar buruk terhadap foto itu, dan tidak sedikit, bahkan sebagian besar menyalahkan Nina karena dirinya dianggap telah mendekati Brian, padahal Brina adalah kekasih Brian.
Beruntungnya, hari ini Nina datang ke kampus dengan mengenakan masker penutup sebagian wajahnya. Walau orang-orang tetap tahu bahwa dirinya adalah perempuan yang kemarin malam makan bersama dengan Brian, dirinya tetap berjalan dengan percaya diri untuk sampai ke dalam kelas. Ia memang merasa tidak nyaman, tetapi bagaimana pun juga hari ini ada kuis dadakan yang membuatnya harus datang. Jika hari ini bukan hari penting, jujur sejujur-jujurnya Nina ingin tinggal di dalam kamar saja sembari mengamati berita heboh ini akan sampai kapan.
Nina pikir, sesampainya di dalam kelas dirinya akan bebas melepas masker dan bercengkerama dengan temannya walau teman-temannya satu kelas hanya sebatas akrab sebagai teman saja. Tetapi, baru saja ia menginjakkan kaki di dalam ruangan, semuanya menatap Nina dengan ratapan sinis dan tidak suka. Beginilah kondisi Nina jika tidak mempunyai teman dekat di dalam kelas, otomatis ia harus menerima semuanya tanpa dukungan siapa-siapa. Nina berusaha tegar. Walau menurutnya berita ini cukup memalukan, bukan karena ia malu makan bersama dengan Brian, tetapi ia malu dianggap sebagai perebut pacar orang.
Nina menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya duduk di kursi yang kosong. Dirinya langsung menaruh tas di atas meja dan mengeluarkan ponselnya. Perempuan itu berusaha tidan peduli dengan orang-orang aneh di dalam kelas ini.
Tetapi, baru saja ia memasang earphone di telinganya, seseorang yang ada di sampingnya mencolek lengan Nina. Nina pun menoleh dan earphonenya otomatis ia lepas agar perempuan itu mampu mendengar dengan baik sebenarnya apakah ada yang ingin dibicarakan.
Berprasangka baik hanya omong kosong yang tidak berguna untuk saat ini. Nina langsung mendapat omongan pedas dari teman sekelasnya itu.
"Lo kok bisa-bisanya makam berduaan sama Kak Brian sih? Padahal lo itu sahabatan sama Kak Brina. Gue pikir lo sahabat yang tulus, eh ujung-ujungnya lo uler juga."
Celetukan itu tidak membuat Nina marah, hanya dirinya merasa cukup kesal. Nina tidak mau menanggapi. Ia memilih diam sembari mengembuskan napasnya pelan. Setelah merasa cukup orang di sampingnya itu mencemoohnya, Nina kembali menyumpali pendengarannya dengan alat yang bisa membuatnya merasa lebih tentram karena mendengarkan musik dari lagu-lagu yang ia sukai.
Walau irama lagu sangat mengasyikkan, tetapi pikiran Nina benar-benar tidak bisa tenang. Nina masih belum bertemu dengan Brina ataupun membalas pesan dari Brina. Begitu pula dengN Brian, ia juga tidak mau memedulikan.
Sebenarnya, Nina takut jika Brina termakan oleh gosip di mana memberitakan dirinya yang telah dekat dengan Brian. Dunia perkuliahan memang bukan hanya tentang organisasi dan IPK, tetapi juga tentang romansa. Dan kasus tidak berguna dan tidak menguntungkan bagi siapapun kecuali penikmatnya ini benar-benar membuat dirinya seolah menjadi buronan yang harus segera diinterogasi dan keterangannya sangat dibutuhkan oleh publik.
Kali ini Nina sedikit beruntung karena dosen baru saja datang, membuat teman-temannya satu kelas berhenti untuk menatapnya dengan tatapan yang aneh dan juga membicarakan dirinya terang-terangan di depannya.
Kuis berjalan lancar. Walau Nina otaknya pas-pasan, tetapi ia bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secara lisan. Walau ketika ia menjawab banyak dari teman-temannya yang menatap dengan tatapan tidak suka dan berusaha untuk menggangu konsentrasinya, tetapi Nina tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yang penting semuanya lancar dan Nina ingin segera pulang untuk kembali bersembunyi di balik selimut.
"Pantes aja di kelas lo nggak deket sama siapapun, semua cuma sebatas teman doang. Emang lo-nya aja yang ternyata nggak bisa dijadiin sahabat. Gue ngeri ngebayangin lonjadi sahabat gue!" celetuk seseorang temannya yang menghalangi jalannya ketika ia ingin keluar ruangan.
Nina hanya menatapnya dengan tatapan mata yang datar, wajahnya masih ia tutupi dengan kain masker.
"Ngapain sih pakai masker segala, lo malu ya?" sindir yang lainnya yang muncul dari belakang.
Nina merasa terhimpit, tetapi ia tidak mau kalah. Dengan langkahnya yang lebih percaya diri bahkan terlihat pongah, Nina menghempas beberapa orang yang mengerubunginya hanya untuk mencemooh dirinya.
Akhirnya, perempuan itu lepas dari neraka yang disebut teman satu kelas. Tetapi, ia harus melalui kembali neraka universitas alias orang-orang yang ramai berdiri di koridor membuat Nina harus cepat-cepat jalan agar telinganya tidak terlalu panas dan untuk tetap menjaga kewarasannya.
"Nina!"
Teriakan seseorang dengan suara yang cukup familiar itu tidak membuat Nina berhenti berjalan cepat. Orang itu sampai harus berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Nina.
"Na, kabar yang beredar itu bener ya?" tanya Winta, di mana ia sangat ngos-ngosan karena baru saja mengejar Nina. Wajahnya agak miring karena harus menatap Nina dan langkahnya dengan Nina harus sinkron agar ia tidak tertinggal.
Nina masih memandangai ke arah depan dengan tatapannya yang tajam namun terasa kosong. "Lo tahu gue suka sama Kak Brian. Tapi lo bukan orang bodoh yang percaya gosip kan?" kata Nina yang langsung membuat Winta membungkam mulutnya. "Kalau lo percaya, mending lo jauh-jauh dari gue. Gue nggak butuh orang kayak lo."
Nina mempercepat langkahnya. Selanjutnya, Winta terpaksa menghentikan langkah perempuan itu dengan mencengkeram pergelangan tantangannya hingga langkah Nina terhenti.
"Lo ngapain sih, Win?" omel Nina yang langsung menepis tangannya.
"Nin, gue percaya sama lo." Dari sorot matanya, tidak ada satu tanda kebohongan yang nampak. Walau Nina jarang bercerita dengan Winta, tetapi Winta sering curhat dengannya. Alhasil, Nina cukup tahu dengan sifat perempuan itu. Saat ini, menurutnya Winta sama sekali tidak berbohong. Ia malah menawari bantuan untuk Nina.
"Nin, lo boleh nyeritain apapun yang boleh gue denger. Gue bakal luangin waktu buat lo. Kita juga bisa cari jalan keluar buat kembaliin nama baik lo, Nin." Walau Winta sudah menawari, tetapi Nina menolak tawaran itu. Winta nampak kecewa, tetapi apadanya, itulah Nina.
"Perlahan semuanya bakal lenyap, Win. Lo nggak usah repot-repot jadi pendengar gue lagi. Lo nggak usah repot-repot buat bantuin gue bersihin nama baik gue. Gue bukan orang terkenal kayak Kak Brina. Jelas, orang-orang nggak bakal betah dengar berita ini. Paling satu atau dua hari lagi berita ini bakal lenyap. Lo santai aja. Gue mau pulang dulu." Setelahnya, Nina berbalik. Langkahnya belum terlaksana, tetapi tangannya kembali ditahan oleh Winta.
"Apa lagi?" tanya Nina dengan ekspresi dan nada malas.
Yang tadinya serius, kali ini Winta malah berubah menjadi meringis. "Gue main ke kost lo ya, Nin? Kita masak mie sama-sama kayak dulu banget pas kita masih malu-malu," kata Winta yang sedikit menyinggung masa lalu. Memang, pertama kali Nina dan Winta berkenalan waktu ospek mahasiswa baru, Nina pernah mengajak perempuan itu main di kostnya dan memasak mie instan bersama-sama. Tetapi, itu hanya sekali dan sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal yang biasa jadi rutinitas anak kost tersebut.
Nina hampir menolak, tetapi tatapan wajah Nina seperti tak mau ditolak. Akhirnya Nina mengangguk dan membuat Winta zanbat bersemangat.
Baginya, tidak apa jika memang Winta ingin main ke rumah kostnya walau sebenarnya ia ingin tidur siang. Siapa tahu juga Winta bisa ia ajak untuk bercerita karena saat ini dirinya benar-benar tidak bisa untuk menghubungi Brina.