Mie Instan dan Winta

1061 Kata
"Hmm ... gue selalu suka aroma kamar lo, Nin. Seger gitu bawaannya," kata Winta yang baru saja dipersilakan masuk ke dalam kamar kost oleh Nina. Semerbak aroma wangi pengharum ruangan yang segar langsung merasuk ke indra penciuman. Saat pendingin ruangan dinyalakan, udara semakin segar saja, membuat Winta langsung bisa rebahan di atas kasur milik Nina. "Win, sorry. Bukannya gue sok bersih jadi orang, tapi gue nggak suka lo tiba-tiba rebahan di kasur gue. Gue nggak suka kasur gue dipakai orang lain," kata Nina langsung sedetik setelah Winta rebahan. Perempuan yang disindir itu langsung bangkit saja dari rebahannya. "Eh sorry ya, Nin. Gue nggak tau." Winta tidak merasa tersindir. Tetapi ia sadar jika ia telah salah tiba-tiba rebahan. Ia pun merasa tidak enak pada Nina. "Iya, nggak papa. Lain kali, kalo enggak tau, mending jangan langsung ngelakuin hal yang emang sih menurut lo biasa aja. Tapi bisa jadi orang lain bisa risih. Hal itu berlaku juga kalo tuan rumah belum mempersilakan duduk, jangan duduk. Bukannya banyak ngatur, tapi lebih ke etika aja." Nina berkata seperti itu sembari masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam hati Winta sudah sangat tidak enak saja. Ia takut Nina marah karena keteledorannya yang suka semena-mena menganggap Nina itu sahabat baiknya yang tidak ada jarak di antara mereka. Padahal, ia juga tahu yang menganggap sahabat hanyalah dirinya, tidak untuk Nina. Tidak lama, Nina sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Melihat Winta yang hanya berdiri saja membuatnya bingung. "Kok berdiri di situ aja, ngapain?" tanyanya. "Tadi lo bilang ...." "Oh, ya maksud gue cuma mau sharing aja sih. Tapi sekarang lo boleh duduk kok. Tapi di karpet ya." Winta pun menurut. Yang tadinya ia merasa santai, kini malah tegang. "Lo mau ngapain, Nin?" tanyanya kemudian ketika Nina sibuk dengan lemari kecil. Perempuan itu seperti sedang mencari sesuatu. "Ambil mie instan. Katanya mau makan mie instan," jawab Nina tanpa berbalik. Sesaat kemudian dua bungkus mie instan sudah ada di tangannya. "Mau dimasak sekarang apa nanti, Win?" tanyanya pada Winta. "Terserah deh, Nin. Kalau lo udah laper ya sekarang nggak papa. Kalo belum, ya nanti nggak papa." "Kayaknya sekarang aja nggak sih?" "Iya deh, Nin." "Ayo, ke dapur." Nina mengajak Winta ke dapur. Perempuan itu melangkah terlebih dahulu. Tetapi, belum juga ia keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti karena ucapan Winta. "Nin, lo yakin nggak papa?" tanya Winta yang menghentikan pergerakan Nina. Nine menoleh, menatap Winta seolah-olah tidak paham dengan maksud dari pertanyaannya. "Maksud lo apa sih, Win? Gue baik-baik aja kok." "Sini dulu, Nin." Winta menepuk tempat kosong di sampingnya, meminta Nina untuk duduk. "Apa sih?" tanyanya lagi, tetapi Nina juga menurut dan langsung duduk di sebelah Winta. "Apa?" "Lo nggak papa sama gosip yang beredar di kampus?" tanya Winta. Nina sudah tahu jika pertanyaan perempuan itu akan menyinggung hal tersebut. Tetapi, Nina tetap berusaha santai saja. "Kayak kurang kerjaan banget nggak sih kalo gue harus mikirin gosip itu? Jelas-jelas gue sama Kak Brian cuma makan doang, itu pun Kak Brina juga tahu. Jadi ya ngapain harus mikirin gosip kalo gue ngerebut Kak Brian dari Kak Brina? Toh hubungan mereka juga baik-baik aja. Namanya juga gosip, Win, bakal ada masanya buat tranding dan ngilang seketika." Mendengar jawaban panjang Nina justru membuat Winta yakin sekali jika Nina sedang memikirkannya. "Tapi kenapa lo nggak angkat telepon Kak Brina?" Nina terdiam seketika. Jujur saja ia tidak bisa melakukan itu. Nina juga merasa bersalah. Karena dirinya, Brina juga terbawa-bawa oleh gosip murahan orang yang tidak bertanggung jawab. Nina juga memilih untuk memblokir nomor ponsel Brian. Dirinya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menemui laki-laki itu lagi. Walau berat, tetapi dirinya harus tetap berusaha. Dan masalah cintanya, ia tidak mau bersusah payah untuk mengurangi atau mencoba melupakan, tetapi Nina membiarkan saja semesta yang bekerja urusan perasaannya pada Brian. "Na, Kak Brina khawatir loh sama lo." "Nggaklah, kan gue nggak kemana-mana." "Tapi lo nggak peduliin telepon dia, chat dia, semua nggak lo balas." Nina mengalihkan pandangannya dan juga berusaha mengalihkan pembicaraan. "Eh, lo mau minum apa? Gue sampai lupa nawarin minum. Mau es jeruk nggak?" Buru-buru perempuan itu langsung beranjak keluar kamar. Dirinya tidak ingin membahas hal tersebut atau ia akan kembali merasa bersalah. "Gue udah bilang sama Kak Brina kalo lo ada di kost sama gue. Sebentar lagi Kak Brina mau ke sini katanya." Ucapan Winta yang muncul di balik punggungnya itu membuatnya termenung di depan kulkas yang pintunya terbuka lebar. "Lo nggak perlu ngehindarin Kak Brina, Nin. Lo itu sahabat baiknya Kak Brina. Semua ini bisa kalian lewatin bareng-bareng. Gue yakin juga kalo Kak Brina sama Kak Brian bakal ngeberesin ini semua." Nina tersadar dari lamunannya. Ia sudah mengambil es batu di dalam kotak. "Lo mau esnya banyak atau dikit, Win?" Nina malah mengalihkan pembicaraan lagi, membuat Winta mengembuskan napasnya. "Eh, mau es teh atau es jeruk aja nih? Kalau mau es teh, berarti harus seduh tehnya dulu. Tapi sebentar doang kok. Lo mau apa?" tanya Nina yang bersikap seolah-olah Winta tidak membicarakan apapun. "Terserah deh, Nin," jawab Winta yang merasa lelah. Tetapi sebenarnya Winta ingin memahami posisi Nina. Mungkin Nina memang tidak sesantai seperti yang ia katakan tadi. Hanya saja Nina ingin merasakannya sendiri sembari berpikir jalan keluarnya. Winta tidak ingin terus menekan Nina perihal masalah ini. Ia tidak ingin Nina menjadi banyak pikiran. Saat ini, memang yang paling tepat adalah memasak mie instan. Kebetulan sekali, hari tiba-tiba saja hujan. "Nin, mana panci yang buat masak mie? Dipanasih sekalian airnya," kata Winta yang meminta panci. "Itu di rak," jawab Nina yang menunjuk panci kecil yang berada di rak dengan dagunya. Winta langsung mengamb panci tersebut. "Airnya pakai air apa, Nin?" tanya Winta memastikan. Ia biasanya menggunakan air kran untuk memasak mie instan di kostnya, karena memang kebersihan airnya terjamin. Tetapi ia tidak tahu dengan di kost Nina. "Pakai air kran aja, bersih kok," kata Nina yang langsung membuat Winta mengeksekusi memasak mie instan. "Mau pakai telur berapa, Win?" tanya Nina yang kembali membuka kulkas untuk mengembalikan sisa es batunya. "Dua aja, Nin. Atau tiga juga boleh deh." "Mau tambah sosis, bon cabe, saus sambal, keju mozarella?" tawar Nina lagi. Winta tidak mungkin menolak. Dulu, ketika untuk pertama kali mereka memasak mie bersama, semua bahan makanan Nina yang ada akan disatukan untuk menjadi topping. Baru Nina dan Winta sadari jika mereka memiliki selera yang sama dalam memasak mie instan, yaitu anti polosan, harus ada banyak tambahan topping seperti telur dan sosis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN