Dua mangkuk mie instan dengan dua es jeruk sudah tersaji di meja ruang tamu. Tidak perlu ditanya, sudah pasti Nina tidak akan mengizinkan siapapun bahkan dirinya untuk makan di kamarnya, apalagi makan mie instan yang aromanya bisa menyebar ke mana-mana. Keduanya sudah siap dengan sendok dan garpunya masing-masing. Tetapi, tadi Winta sempat menghentikan pergerakan Nina ketika ia akan mulai mencicipi mie instan dengan telur, sosis, keju, dan bon cabai buatannya itu. Kebiasaan Winta dari dulu tidak pernah berubah, yaitu dirinya selalu memotret makanan sebelum memakannya. Di atas meja, bukan hanya dua mangkuk mie instan dan dua gelas es jeruk saja. Tetapi, Nina juga sempat menggoreng kentang goreng beku yang ia simpan di dalam kulkas, tidak lupa dengan saus sambalnya. Walau Nina sangat menjaga pola makannya agar berat badannya terjaga, tetapi Nina tidak bisa melakukan itu semua saat dirinya merasa stress. Dan sekarang, Nina sedang stress. Seharusnya hari ini bukanlah jadwal dirinya untuk makan mie instan apalagi dengan topping yang berlimpah dan juga kentang goreng, tetapi Nina butuh semua itu agar ia bisa menjalani kehidupannya dengan normal alias untuk mengembalikan suasana hatinya.
"Sudah, Nin. Silakan dimakan," kata Winta, masih sibuk dengan ponselnya. Sudah bisa ditebak, perempuan itu tengah mengedit sedikit hasil fotonya dan langsung mengunggahnya di lama media sosial milik dirinya.
Tidak peduli dengan yang dilakukan Winta, Nina langsung mencicipi kuah mie instannya.
Udara yang sejuk karena rintikan hujan masih turun dan kuah mie instan yang masih mengepul adalah perpaduan yang berhasil membuat suasana hatinya langsung membaik. Nina tersenyum menatap hidangan yang ada di hadapannya. Setelahnya, ia kembali melirik Winta yang ternyata masih asyik dengan ponselnya.
"Win, makan dulu, Win. Keburu dingin," kata Nina, mengingatkan Winta untuk segera makan mie instannya.
Winta menurut dan memang sudah merasa cukup dengan foto yang baru saja ia unggah. Sama seperti Nina, ia mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Kemudian, matanya langsung membulat menatap Nina. Wajahnya langsung segar dengan senyum yang mengembang.
"Sumpah, ini enak banget, Nin. Emang ya, mie instan itu paling enak kalo dibikin pedes terus ditambahin topping macem-macem!" kata Winta. Dengan semangat, perempuan itu langsung melahap dengan nikmat mie instannya. Tidak lupa, dirinya juga mencomot kentang goreng dengan sambalnya. Tetapi, Nina masih belum banyak menanggapi. Keduanya larut dalam hening untuk menghabiskan mie instan ternikmat yang pernah Winta makan.
Tidak butuh waktu lama, mangkuk berisi mie instan telah kosong. Keduanya merasa sangat kenyang. Tak lupa, mereka meminum es jeruk yang segar setelah memakan mie instan yang cukup creamy karena telur dan keju.
"Sumpah. Lain kali kita harus bikin kayak gini lagi, Nin." Winta sampai harus menyandarkan punggungnya di sofa saking penuhnya perutnya.
"Kalau mau bikin ya tinggal bikin aja sendiri," jawab Nina dengan nadanya yang datar.
Winta menampakkan wajahnya kecewa. "Yah ... lo nggak asyik, Nin. Kan lebih enak kalo makannya bareng-bareng," katanya yang beralasan. Winta juga tidak mempunyai teman dekat, tetapi ia bisa akrab pada siapapun. Tetapi, menurut Winta, dirinya jauh lebih dekat dengan Nina walau Nina tidak menganggap demikian.
Lagi-lagi Nina tidak menanggapi. Dirinya lebih memilih menggigit kentang goreng saja. Toh, dirinya juga tidak berniat untuk makan mie instan lagi bersama dengan Winta. Ia sadar Winta itu banyak bercerita pada dirinya. Tetapi, ia tetap tidak bisa sedekat itu dengan Winta seperti Winta yang mencoba untuk selalu dekat dengannya. Entah mengapa, hanya Brina yang bisa dekat dengan Nina. Padahal, Nina bukan tipe pemilih teman. Hanya saja ia memang susah untuk dekat dengan orang lain dan selalu memberi jarak walau hanya untuk pertemanan.
"Oh iya, Nin. Gue baru sadar deh kalo dulu pas masih mahasiswa baru kan kita sempat banyak ceritanya ...," kata Winta yang mulai menyindir masa lalu.
Nina masih asyik mengunyah kentang goreng sambil memperhatikan Winta untuk melanjutkan bicaranya.
"Dan gue baru ingat kalo lo pernah cerita, lo suka kating yang namanya Kak Brian."
Uhukkkk
Nina langsung tersedak kentang goreng. Cepat-cepat ia meminum es jeruknya untuk menetralkan tenggorokan.
Nina yang tersedak tidak terlalu mencuri perhatian Winta. Perempuan itu hanya menyimak ketika Nina batuk-batuk. Setelah reda, ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Kenapa gue baru ingat ya, yang pasti gue nggak nyangka aja kalo rasa suka lo sama Kak Brian udah dua tahun aja, Nin. Keren." Winta mengacungkan dua jempolnya untuk Nina.
"Keren apaan sih?" ucap Nina dengan ketus.
"Ya elo keren aja gitu, bisa suka sama Kak Brian selama itu. Padahal, selama ini gue nggak pernah lihat lo ngobrol apalagi jalan sama lo. Bener-bener sih gue baru lihat kemarin itu."
"Lihat foto gue sama Kak Brian yang diambil diam-diam?"
Winta langsung merasa tidak enak. "Ng ... iya, Nin. Tapi gue percaya kok kalo lo nggak pernah ada niatan buat ngerebut Kak Brian dari Kak Brina."
"Kok lo yakin banget? Apa lo nggak curiga kenapa selama ini gue dekat bahkan sahabat sama Kak Brina? Kalau bukan buat ngerebut Kak Brian, terus buat apa?" Pertanyaan Nina sangat menantang Winta. Perempuan itu perlu berpikir sejenak agar Nina tidak salah paham dengan apa yang ada di pikirannya. Walau ia sempat berpikir ulang mengenai ucapan Nina barusan, yaitu mengenai tujuannya dekat dan sahabatan dengan Brina.
"Kalo lo mau ngerebut Kak Brian, kenapa nggak dari dulu?"
Winta benar-benar pandai berkata-kata. Nina berguman sendiri, ia memilih kembali meminum es jeruknya.
"Nin, lo jangan biarin gosip itu benar dan bikin nama baik lo jadi jelek. Lo kudu bisa nyelesaiin ini, Ni." Winta berkata dengan sepenuh hati.
Nina meletakkan gelasnya dengan kasar kemudian ia mengembuskan napasnya. "Win, biarin lah, jangan mikirin urusan gosip itu. Entar juga ilang sendiri."
"Gosipnya ilang sendiri, tapi nama baik lo nggak bakal balik. Lo tahu sendiri kan gimana eksisnya Kak Brina sama Kak Brian di kampus? Nggak ada yang kenal mereka loh."
"Lo ngomong mah gampang, Win. Gue yang ngerasain, gue yang mikir, dan gue juga yang mumet nggak bisa tahu jalan keluarnya gimana."
Suasana berubah tegang. Rintikan hujan juga sudah tidak lagi terdengar. Ruangan menjadi hening karena tidak ada penghuni kost yang tinggal. Mereka semua sedang berada di luar melakukan aktivitasnya masing-masing.
Wajah Nina nampak muram. Harusnya, setelah makan mie instan yang sedap ini suasana hatinya membaik. Tetapi, kini kembali buruk. Sejujurnya Nina memang selalu memikirkan nasibnya nanti walau ia tidak mau memikirkan, tetapi tetap saja kepikiran. Ditambah perkataan Winta yang terus menerus memintanya untuk segera menyelesaikan semuanya, membuat kepala Nina semakin pening saja.
"Nin, lo harus kabarin Kak Brina."
"Gue nggak bisa. Gue belum siap."
"Kenapa? Lo bisa minta tolong Kak Brina sama Kak Brian buat jelasin ke orang-orang kalo lo nggak ada apa-apa sama Kak Brian."
"Nggak segampang itu." Nina berucap dengan ketus. Pokoknya untuk pilihan menemui Brian dan Brina, Nina belum siap.
"Kenapa?"
Winta tidak tahu saja. Nina juga tidak tahu mengapa. Pokoknya ia tidak mau bertemu lagi dengan Brian karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindari laki-laki itu. Dan untuk Brina, ia tidak mau bertemu dengan Brina karena takut perempuan itu akan mengungkit Brian jika mereka bertemu.