Prasangka Nina dan Winta

1037 Kata
Apa yang lebih enak dilakukan setelah makan selain rebahan dan bermalas-malasan?  Setelah mencuci mangkuk dan mengisi kembali air di dalam gelas, sambil menunggu hujan benar-benar reda, Nina dan Winta hanya rebahan saja di atas sofa di ruang tamu. Tidak ada yang mereka lakukan selain hanya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tadi, Nina mengalihkan pembicaraan ketika Winta bertanya mengapa Nina tidak mengambil cara suapaya gosip yang beredar segera terselesaikan. Winta sudah tidak mau memaksa lagi, ia membiarkan Nina sampai benar-benar siap saja yang entah itu kapan.  Tetapi, namanya Winta, dia itu orangnya tidak sabaran. Winta berdeham dalam heningnya suasana. Ia masih bermain ponselnya tetapi perhatiannya sesekali tertuju pada Nina yang masih tenang menonton video di youtube.  Melihat tidak ada reaksi dari Nina, Winta berdeham sekali lagi dan kali ini agak keras. Perhatian Nina berhasil tertuju pada Winta. "Win, serak ya? Mau gue ganti pakai air putih? Barangkali lo nggak bisa minum es jeruk," kata Nina yang sudah memegang gelas milik Winta, dirinya hendak berdiri untuk mengganti minuman Winta dengan air putih.  Winta hanya bisa mengembuskan napasnya sembari menatap Nina yang berjalan melewatinya untuk pergi ke dapur. Tidak lama, perempuan itu telah kembali dengan gelas yang berisi air putih. Nina meletakkan gelas itu di atas meja. "Minum air putih aja ya, Win. Nanti kalau masih serak, lo bisa minum obat pereda tenggorokan. Gue masih ada kok, masih bisa diminum. Belum lama ini gue salah makan gorengan, jadi ya sakit tenggorokan. Nanti ambilin di kamar kalo butuh," kata Nina yang kembali duduk. Ia kembali menyaksikan tontonannya di ponsel. Dari sini saja sudah bisa diketahui kalau Nina itu sebenarnya sangat peduli dengan Winta. Hanya saja kepeduliannya itu sangat tersembunyi dan memang muncul di waktu yang tepat. "Na," panggil Winta. "Mau gue ambilin obat, Win?" Nina langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel.  Winta menggeleng. "Enggak." "Terus?" "Gue mau tanya sesuatu ke lo sebenarnya."  Nina mengangkat sebelah alisnya. "Tanya apa?" tanyanya yang penasaran. Dirinya sudah tidak lagi berfokus pada ponselnya bahkan video yang ia tonton sudah ia matikan. "Soal Kak Brina." Nina mengembuskan napasnya dan kembali merebahkan punggungnya di sofa. Ia juga kembali membuka ponselnya karena dirinya benar-benar tidak mau untuk membahas Brina.  "Bukan Kak Brina sama Kak Brian, tapi Kak Brina sama Kak Zufar." Tubuh Nina membeku. Jemarinya kaku, seolah telinganya telah salah mendengar. Ia melamun sepersekian detik untuk memikirkan apa kira-kira yang terjadi diantara Brina dan Zufar. Selama ini menurutnya mereka berdua berteman baik dan tidak ada apa-apa yang mencurigakan. Atau memang pikirannya saja yang sekarang menjadi curiga dengan mereka berdua.  Nina masih berada di posisinya ketika Winta bertanya, "Bukannya apa ya, Nin. Tapi seriusan deh gue itu kayak curiga sama Kak Brina, kok sekarang ini makin lama makin deket sama Kak Zufar." Perkataan Winta membuat Nina bingung, tetapi perempuan itu menjadi sangat tertarik dengan pembahasan yang ada. Nina bangkit dari rebahannya. "Maksud lo apa sih, Win? Kok lo bisa ngomong kayak gitu?" tanya Nina penasaran.  "Gue tahu kalau Kak Brina itu masih pacaran sama Kak Brian, tapi gue lihat beberapa hari yang lalu Kak Zufar datang ke kost Kak Brina. Waktu itu gue mau ngembaliin helm Kak Brina yang sempat gue pinjam. Tapi gegara gue lihat Kak Zufar masuk, waktu itu emang masih belum terlalu malam sih, tapi tetap aja gue curiga. Sayangnya gue pilih pulang aja dari pada ganggu mereka berdua." "Kok lo langsung pulang sih?" Nina langsung memotong perkataan Winta. "Harusnya kan lo tetap ada di sana, biar lo tahu mereka bicarain apa. Bukan maksudnya buat suudzon, tapi buat mastiin dan daripada sekarang ini lo yang malah suudzon." Winta tidak menjawab apa-apa. Dirinya hanya manyun saja, membenarkan apa yang dikatakan Nina. Memang, sudah seharusnya waktu itu dirinya tidak pergi begitu saja. Dan memang benar juga yang dikatakan Nina, dirinya mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Brina dan juga Zufar. Apalagi setelah beredar kabar jika hubungan Brina dan Brian mulai retak, ketika melihat foto Nina bersama dnegan Brian, Winta semakin yakin saja jika memang ada yang tidak beres dari hubungan Brina dan Brian, tetapi ia tidak bisa apa-apa karena Winta memang bukanlah siapa-siapa. "Win, kok diem?!"  "Ah iya, Nin." "Lo jangan nuduh Kak Brina selingkuh, Win. Gue beberapa kali jalan sama Kak Brina sama Kak Brian juga dan mereka masih baik-baik aja kok. Bahkan Kak Brian juga minta izin ke Kak Brina pas dia mampir makan malam sama gue." Walau terbesit sebuah hal yang tidak baik dalam pikirannya, tetapi Nina tetap membela Brina. Ia yakin dan lebih tepatnya berusaha meyakinkan diri jika memang tidak ada apa-apa diantara Brina dan juga Zufar.  "Lo pernah mikir nggak, Nin, kenapa Kak Brina ngasih izin lo buat makan malam sama Kak Brian? Jangan karena lo suka juga sama Kak Brian, lo jadi nggak mikir sampai ke sana." Yang dikatakan Winta seratus persen salah. Walau Nina sangat mencintai Brian, tetapi akal sehatnya masih berjalan. Ia juga bertanya-tanya mengapa Brina bisa mengizinkan Brian untuk makan malam dengannya bahkan bukan hanya itu, Brian pernah mengajaknya jalan. Yang paling Nina ingat, Brina malah pernah menyuruh dirinya untuk menemani Brian ke toko buku. Semua yang pernah ia lakukan dengan Brian, menjadi penguat akan prasangka buruknya pada Brina.  "Kok lo sekarang yang diem? Lo baru mikirin apa yang gue katakan kan?" Bahkan Nina tidak menanggapi. Perempuan itu masih berpikir dalam benaknya, yang sebenarnya antara Brian dan Brina sedang ada keretakan dan entah itu terjadi sejak kapan. Namun, Nina tidak boleh langsung menyimpulkan. Perempuan itu nyaris meremas rambutnya saking ia bingung, beruntung dirinya masih bisa menahan karena di sini ada Winta.  Satu pikiran kembali terbesit dalam benaknya. Bukankah itu adalah kabar yang bagus jika memang diantara Brina dan Brian sedang ada keretakan hubungan? Nina bisa menajdi lebih leluasa lagi untuk mendektai Brian, walau sebenarnya niat awalnya tidak ingin merusak hubungan Brian dan Brian, tetapi memang hubungan mereka yang mungkin saja sudah rusak  bukan karena dirinya.  Nina menggeleng. Dirinya tidak boleh berpikiran seperti itu. Bagaimana pun juga Brina adalah sahabatnya dan Brian adalah laki-laki yang ia cintai. Dirinya tidak perlu repot-repot berprasangka buruk, dirinya hanya perlu menunggu waktu saja jika memang itu kenyataannya. Ah, atau mungkin dirinya perlu untuk mengintai pergerakan Brina saat bersama dengan Zufar. Ia sadar jika niatnya itu bukanlah hal yang baik, tetapi ia terlalu mencintai Brian dan dirinya tidak akan membiarkan siapapun bisa menyakiti perasaaan Brian sekalipun itu adalah Brina. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN