Menjelang magrib, Winta baru izin pulang dari rumah kost Nina. Sebenarnya Nina ingin lebih banyak mengobrol lagi dengan Winta perihal prasangka perempuan itu, tetapi Winta harus buru-buru pulang karena hari akan segera malam dan mumpung juga hujan sudah reda.
Nina mengembuskan napasnya panjang di balik pintu. Ia masih tidak bisa membayangkan jika sebenarnya Brina dekat dengan Zufar alias selingkuh dari Brian. Yang ia lihat selama ini, mereka memang baik-baik saja tetapi ia memang tidak tahu sampai akarnya. Sebenarnya, itu semua bukan menjadi urusannya. Tetapi karena Nina mencintai Brian, ada rasa ingin melindungi Brian dari kesakithatian jika memang ucapan Winta benar adanya.
Nina baru ingin melangkah untuk membereskan gelas sisa dirinya dan Winta. Tetapi, seseorang mengetuk pintu dan membuatnya berbalik untuk melihat siapa yang datang melalui jendela.
Brina. Yap, benar sekali, yang datang adalah Brina. Nina bingung. Dirinya sama sekali tidak berkomunikasi dengan Brina hari ini dan tiba-tiba saja Brina datang ke rumah kostnya. Seharusnya, Brina biasa menghubunginya terlebih dahulu dan ini terlalu tiba-tiba.
Nina sempat bingung apakah dirinya membukakan pintu atau tidak. Tetapi, Brina masih saja mengetuk pintu. Jika Nina membiarkan, pasti Brina akan tetap mengetuk pintu sampai ada yang membukakan pintu. Di lantai satu, memang tidak ada penghuni karena mereka semua belum pulang kecuali dirinya. Tetapi, di lantai atas, Nina tidak mengerti, karena beberapa dari mereka tidak memiliki motor jadi tidak dapat dipastikan apakah ada orang di lantai atas atau tidak.
Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya Nina membukakan pintu untuk Brina. Perempuan itu langsung melebarkan senyumnya begitu tahu jika yang membukakan pintu adalah Nina.
"Nina!" ucapnya, lalu memeluk Nina begitu saja. "Lo kenapa sih nggak bales chat gue atau angkat telepon gue? Kan gue jadi khawatir," katanya, tepat di samping telinga perempuan itu.
Nina agak kikuk, sedikit canggung juga. Jujur, ini adalah kali pertama Nina tidak bertemu Brina lebih dari sehari selain hati libur dan untuk pertama kalinya juga Nina tidak berkomunikasi dengan Brina cukup lama.
Pelukan terlepas. Brina memasang wajahnya yang cemberut karena Nina hanya diam saja. "Kok diem aja sih!"
"Duduk dulu, Kak." Nina pun mempersilakan Brina untuk duduk. Ia membereskan meja terlebih dahulu, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Brina.
Tidak lama, Nina sudah kembali dengan dua kotak jus buah. Sengaja sekali perempuan itu menyuguhi Brina jus buah, karena Nina tahu sekali jika Brina sangat menyukai jus buah jambu ini.
"Asyik, makasih, Nin!" katanya ketika Nina meletakkan dua kotak jus buah di atas meja. Namun, Brina tidak langsung meminum jus itu. Ada obrolan yang ingin ia mulai dengan Nina.
"Nin, masalah yang kesebar, lo jangan terlalu ambil pusing ya," kata Brina. Nina mengangkat sebelah alisnya, tetapi ia tidak berbicara. "Gue sama Brian bakal cari jalan keluarnya ko, Nin."
Nina bergeming, tidak mau memandang bola mata Brina yang mengajaknya bicara.
"Yang pasti lo harus bodo amat sama omongan orang. Pelan-pelan gosip itu juga bakal hilang, Nin. Gue juga minta maaf, karena gue sama Brian, lo jadi susah kayak gini."
Hening sesaat. Hujan yang tadinya sudah reda, kini berganti gerimis yang kembali menyapa. Suara rintikannya jelas terdengar dan lama kelamaan hujan deras pun datang.
"Kak, gue mau tanya sama lo. Entah pertanyaan ini udah berapa kali gue tanyain sama lo, atau mungkin belum pernah gue tanyain."
Brina sudah memasang telinganya diantara suara derasnya hujan. Sebelum melanjutkan omongannya, Nina menyempatkan untuk menutup pintu demi meredam suara hujan yang cukup bising.
Kemudian, ia kembali duduk di sofa semula. Kali ini ia berani untuk menatap mata Brina.
"Kak, gue minta lo jujur sama gue ya. Kok lo bisa ngizinin gue dekat sama Kak Brian? Lo seolah-olah ngasih gue kesempatan buat lebih dekat lagi sama Kak Brian, padahal lo tahu sendiri kalau gue suka sama Kak Brian dari dulu," kata Nina yang membuat Brina sedikit terkejut.
Nina belum selesai dengan perkataannya. Ia tetap menatap intens kedua bola mata Brian, pertanda jika ia ingin mendapatkan jawaban sejujur-jujurnya. "Gue nggak mau lo jawab kalau lo mau ngikutin arusnya, ngikutin takdir, atau sebagainya yang susah diterima akal. Gue minta lo jawab jujur, alasan lo ngebiarin gue dekat sama Kak Brian."
"Nin ...." Brina menghentikan ucapannya. Ia perlu berpikir sejenak. "Lo suka sama Brian, lo berhak buat dekat sama dia, Nin."
Nina terperangah. Bisa-bisanya ia mendengar perkataan itu dari seorang Brina. Perempuan itu semakin berprasangka buruk saja mengenai hubungan Brina dengan Brian. Ia jadi berpikir bahwa Brina memang benar-benar sudah mulai melunturkan perasaannya. Ia kira Brina adalah sosok yang sangat cocok untuk Brian, tetapi perempuan yang ada di hadapannya itu malah berkata demikian.
Nina sampai menggelengkan kepalanya. "Kak, lo sadar nggak kalau Kak Brian itu pacar lo. Buat apa juga lo mikirin gue, bikin gue dekat sama Brian?" tanyanya dengan berharap jawaban yang cepat dan sejujur-jujurnya.
"Nin, apa salahnya gue ngebiarin lo dekat sama Brian? Bukannya lo senang ya?" tanya Brian, yang malah membuat Nina semakin kesal.
"Kak, awalnya gue seneng. Seriusan. Tapi semakin lama, gue mikir, kenapa lo bisa sebaik ini sampai ngebiarin perempuan yang suka sama cowok lo, deket-deket sama cowok lo."
"Nin ...."
"Kak." Nina menghentikan ucapan Brina. "Lo nggak selingkuh kan dari Kak Brian?" tanyanya, sejurus menusuk telinga Brina. Brina sempat berpikir bahwa wajar saja Nina mengatakan hal itu, tetapi menurutnya pikiran Nina terlalu jauh. Walau ia memang ingin membuat Nina dekat dengan Brian, tetapi ia tidak ingin Nina sampai salah paham seperti ini kepada dirinya.
Brina menggeleng. "Nggak gitu, Nin. Gue pacaran sama Brian udah lama, udah lama banget. Gue sama Brian bukan lagi yang suka uwu-uwuan. Gue sama Brian pacaran ya layaknya orang temenan, tapi bukan berarti gue selingkuh sama dia. Gue nggak bosen sama dia, perasaan gue masih sama. Tapi nggak menutup kemungkinan juga kalau ada saatnya gue sama Brian bakal berpisah, walau seharusnya gue nggak ngomong kayak gini. Tapi seriusan, gue ikhlas kalo emang harus putus sama Brian. Dan gue bakal tambah ikhlas kalo lo adalah pengganti gue, Nin," kata Brina dengan panjang lebar. Maniknya yang legam itu berkaca-kaca menatap Nina.
Nina semakin tidak habis pikir saja. "Kalau emang hubungan lo sama Kak Brian itu baik-baik aja, kenapa lo ngeharapin sesuatu yang buruk, Kak? Dan lo pikir dengan lo jadiin gue sebagai pengganti lo ke Brian, semuanya akan baik-baik aja?" Nina mulai bersungut-sungut. "Kak, lo lihat aja deh sekarang. Keadaan jadi ribet hanya karena foto gue sama Kak Brian yang lagi mampir makan kesebar. Padahal kita nggak ada apa-apa. Terus, apa tanggapan fans lo sama Kak Brian kalau sampai mereka tahu kalian putus gara-gara gue?"
"Bukan gara-gara lo, Nin. Tapi mungkin udah waktunya aja kalau kami harus putus."
"Kak, lo ngomong kayak gini sadar nggak? Lo kelihatan banget mau putus sama Kak Brian."
Brina terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak dengan satu aliran air mata yang melintas di pipinya.
"Okai. Gue jujur. Gue pengen nyelesaiin hubungan gue sama Brian."
Nina benar-benar terkejut. "Kak! Kenapa?" tanyanya dengan mata yang melotot.
"Nin, lo tenang aja. Mau gue putus atay enggak sama Brian, lo bakal tetap bisa jalan sama Brian. Soal masalah ini, besok gue sama Brian juga bisa konfirmasi."
"Konfirmasi apa? Konfirmasi putus? Lo semakin bikin gue kesel sekaligus jadi bulan-bulanan para fans lo, Kak!"
Nina perlu menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya.
"Kak, jangan putus sama Kak Brian. Kalau emang mau putus, gue harap lo pikir-pikir lagi. Kalian itu cocok banget satu sama lain dan bahkan aura kalian itu mirip. Kata orang, orang yang mirip itu bakal berjodoh."
Nina belum tahu saja, mereka memiliki kemiripan karena mereka memang anak kembar.
"Atau ini ada hubungannya sama Kak Zufar?"
"Zufar?"
Detik itu juga Brina merasa bingung, mengapa Nina membawa-bawa nama Zufar.