Pertemuan Tiga Orang

1334 Kata
Brina sengaja mengatur semua ini. Di kafe dekat kampus, perempuan itu sudah duduk manis di sebelah Brian. Di hadapan keduanya hanya tersaji dua gelas minuman dan sepiring kentang goreng saja, mereka sengaja tidak memesan makanan berat karena masih ada seseorang yang mereka tunggu kehadirannya.  "Brin, gue ke toilet dulu ya." Brian yang sudah menghabiskan segelas air minumnya itu izin untuk pergi ke toilet. Laki-laki itu langsung melipir saja karena sudah tidak tahan.  Sudah hampir satu jam Brina dan Brian ada di kafe ini. Satu-satunya orang yang mereka tunggu adalah Nina, tetapi ia belum juga menampakkan batang hidungnya. Tetapi Brina tetap sabar menunggu dan ia yakin jika Nina akan datang. Sebab, Brina tidak memberitahu Nina jika dirinya ada dengan Brian. Jika seperti itu, mungkin saja Nina akan menolak.  Kesabaran Brina dalam menunggu Nina membuahkan hasil. Perempuan itu muncul di balik pintu kafe dengan pandangannya yang menyebar untuk mencari-cari dirinya. Brina langsung melambaikan tangan sehingga Nina tahu keberadaannya. Dengan santai, Nina berjalan ke arahnya. "Sorry ya, Kak, gue telat. Tadi abang ojolnya lama banget deh seriusan. Jadi gue telat hampir satu jam. Gue kira lo udah nggak ada di sini, eh ternyata masih ada di sini," kata Nina yang menyerocos seperti biasanya.  Mendengarnya membuat Brina tersenyum. Ia suka mendengar Nina yang banyak bicara seperti ini daripada kemarin, ketika ia dan Nina membahas mengenai Brian, walau nanti pada akhirnya mereka juga akan membahas mengenai Brian dan bahkan Brian agar segera muncul ketika sudah selesai dengan urusannya di toilet.  "Santai, Nin. Lo mau pesen minum apa nih?" tanya Brina yang langsung menawari Nina minum. Brina juga tahu saat ini Nina sedang sedikit ngos-ngosan karena ia yang terburu-buru untuk sampai ke tempat ini.  "Gue mau yag seger-seger tuh apa ya, Kak?" Nina malah berbalik bertanya pada Brina. Selanjutnya, pandangannya menangkap juga dua gelas yang ada di hadapannya. Nina jadi penasaran gelas milik siapa ini, padahal di sini Brina hanya terlihat seorang diri. "Kak, ini gelas siapa aja kok dua?" tanyanya pada Brina. "Gelasnya Brian," jawab Brina dengan jujur. Perempuan itu berpikir jika ia berbohong pada Nina, tidak ada gunanya juga. Yang pasti Brian juga akan segera kembali ke sini dan Nina akan tahu jika Brian memang ada di sini.  Nina terdiam sesaat. Dirinya bergeming. Selaman beberapa hari ini ia sengaja untuk menghindari Brian dan tidak mau bertemu dengan laki-laki itu lagi entah untuk sesaat atau bahkan selamanya. Tetapi, ternyata Brina malah memintanya datang ke sini dan sudah pasti ini adalah rencana mereka berdua agar Nina bisa bertemu dengan Brina sekaligus dengan Brian. Menurut Nina, jika memang mereka ingin mengatakan dan membicarakan sesuatu, apapun itu, bagi Nina tidak penting. Nina belum siap untuk bertemu dengan Brian.  Namun, sedetik kemudian Brian sudah muncul saja. "Nina," panggil laki-laki itu, membuat Nina menoleh. Wajah  tampan itu rasanya baru beberapa hari tidak ia lihat, tetapi Nina sudah merasa rindu sekali. Nina ingin melupakan Brian tetapi semakin tidak bisa saja. Ditambah dugaannya mengenai hubungan Brina dan Brian yang mulai renggang, membuatnya semakin menginginkan laki-laki itu, tetapi ia tetap menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa.  "Kak Brian." Brian tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.Ia menatap Nina dengan dua bola matanya yang cerah., "Aku seneng bisa ketemu kamu lagi, Nin. Kamu blokir nomor aku ya?" Nina tidak bisa menjawab walau dirinya memang sudah memblokir nomor Brian.  "Na,  tolong buka blokir aku ya," pinta Brina pada perempuan itu. Walau Nina masih diam saja, Brina yain sekali jika sebenarnya sahabatnya itu ingin membuka blokir nomor Brian hanya saja ia menahannya. Brina yakin jika Nina masih mencintai kakak kembarnya itu hanya saja terhalang oleh hubungan palsu antara keduanya, ditambah foto yang beredar yang membuat nama Nina terseret. "Na, kan kita udah jadi teman. Kamu nggak usah khawatir sama berita yang beredar, nanti aku yang bakal selesaiin semuanya." Benar apa kata Brian, bahwa memang mereka berdua hanyalah teman. Nina tidak bisa memiliki Brian layaknya laki-laki itu saat ini yang dimiliki oleh Brina dan Nina juga tidak bisa berharap lebih jika Brian akan menganggapnya lebih dari teman.  "Iya, Nin. Lo nggak usah khawatir masalah itu. Lo nggak perlu ngejauh dari kita dan lo bisa temenan lagi sama kita, jalan bareng sama kita. Kalau emang kalian berdua nggak ada apa-apa, lo nggak perlu menghindar. Biarin orang berkata apa." Brina menambahi. Ada kalanya ia merasa bersalah pada Nina, karena dirinya lah Nina menjadi seperti ini. "Mungkin lo ngerasa risih, tapi coba deh buat bodo amat, dan kalau semua udah diurus sama Brian, semuanya pasti bakal selesai kok," sambungnya. "Apanya yang selesai, Kak? Hubungan lo sama Kak Brian?"  Sontak saja Brina dan Brian terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut yang Nina secara tiba-tiba itu. Keduanya membeku menatap Nina yang merasa tidak ada salah dengan ucapannya. Kemudian, Nina tiba-tiba terkekeh. "Kak, mungkin Kak Brian bakal konfirmasi ke semuanya, tapi kalo akhirnya kalian bakal putus, sama aja gue yang bakal kena lagi." Brian melirik Brina. Ia merasa memang Brina sudah menunjukkan pada Nina jika hubungan mereka berdua akan segera mereka akhiri walau belum tahu kapan. "Gue pulang duluan ya, Kak." Setelahnya, Nian langsung berdiri dari duduknya dan pergi dari sana. Tidak ada yang mengejarnya, entah Brina atau Brian. Dua saudara kembar itu masih termenung di bangkunya masing-masing. Beberapa saat menjadi hening diantara mereka berdua. Setelahnya, Brian melemaskan pundaknya. Ia mengembuskan napasnya panjang, merasa lelah. "Iya, gue udah bilang ke Nina kalau mungkin hubungan kita nggak bakal bertahan lama." Sebelum Brian bertanya, Brina sudah memberi tahu laki-laki itu. Brian semakin mengembuskan napasnya saja, semakin merasa lelah. "Kok lo ngomong kayak gitu ke Nina?" tanya Brian yang tidak terima. "Emang lo yakin kalau kita putus, semuanya bakal baik-baik aja? Keadaan lagi kayak gini, setidaknya lo buat kita semakin kelihatan romantis, bukan malah bilang ke Nina kalau mau putus. Emang lo udah bisa nyaman sama cowok-cowok yang deketin lo?" Seketika Brina jadi teringat dengan Zufar dan perkataan Nina mengenai Zufar dan dirinya. Ia belum sempat menanyakan mengapa Nina menduga jika dirinya dekat dengan Zufar. Brina juga mulai merasa nyaman dengan laki-laki itu, jadi menurutnya memang tidak asalah jika Brina berkata pada Nina jika dirinya dan Brian ada kemungkinan untuk mengakhiri hubungannya.   "Yan, kalau kita putus, lo jadi bisa leluasa dekat sama Nina. Lo tahu kan Nina suka sama lo, dan lo bilang juga kalau Nina itu lucu, lo nyaman sama dia. Jadi, semuanya bakal baik-baik aja." Brian mencoba meyakinkan Brian mengenai hal ini. "Baik-baik aja gimana, Brina? Oke, awalanya akan baik-baik aja kalau aja nggak ada foto gue sama Nina yang lagi makan itu kesebar. Harusnya kita putus dulu, baru deh gue bisa dekat sama Nina. Tapi ini posisinya mereka, orang-orang tahu gue deket sama Nina sebelum kita putus. Yang ada nama baik Nina keseret juga, Brin. Gue kira lo pinter ya, ternyata sama aja." Jujur, Brian sudah kesal saja dengan adiknya itu. "Ayolah, Brin. Kita selesaiin dulu satu-satu, habis itu kalau lo mau deket sama cowok yang menurut lo udah bikin lo nyaman, ya sah-sah aja. Asal jangan munculin korban kayak Nina yang nggak tahu apa-apa." Brian menggenggam satu tangan Brina. Perempuan itu sudah menunduk saja ketika dinasihati oleh Brian. "Dek, gue minta lo jangan buru-buru ya. Sabar dikit, kalau semuanya udah beres. Gue yakin lo bisa deket sama cowok itu," kata Brian yang nada bicaranya berubah menurun. "Eh tunggu, emang cowok itu siapa sih?" Brian mendadak penasaran.  "Rahasia, lo nggak perlu tahu," jawab Brina dengan singkat. Brian tidak terima. "Loh, kok rahasia sih? Jangan rahasia-rahasiaan ah." Brina masih belum mau menjawab. Brian pun mencoba untuk memahami adiknya itu. "Iya deh, Brin, kalo lo emang belum mau cerita. Tapi gue cuma mau ngasih sedikit saran aja, kalau emang lo suka sama cowok itu, pastiin cowok itu baik-baik ya. Pastiin juga lo nggak bakal bikin Nina jadi sengsara. Ya maksud gue sih kembali ke awal, kalau lo harus sabar sedikit setidaknya sampai semuanya adem ayem." Brina paham dan mengerti apa yang dimaksud Brian, memang untuk kebaikannya dan juga Nina. Ia pun mengangguk, tetapi setelahnya mengamuk karena Brian yang mengusap rambutnya tetapi malah membuat rambutnya berantakan.  "Yan, Rambut gue!"  Dan Brian, kakak yang usil itu hanya bisa terkekeh tanpa merasa bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN