Kembalinya Nina

1021 Kata
Berjalan sendirian dengan berbagai sindiran memang membuat telinganya panas. Tetapi, Nina harus tetap percaya diri. Saat ini dirinya sedang berjalan melewati kantin untuk menuju ke ruang sekretariat himpunan. Sepertinya sudah beberapa hari ia tidak mengunjungi tempat itu dan beberapa rapat juga telah ia lewatkan. Nina tahu jika dirinya salah, jadi hari ini ia ingin datang dan menjalani hari-harinya seperti biasa walau masih ada saja yang menyebutnya sebagai pengganggu hubungan orang. Nina yakin, cepat atau lambat semua ini akan berakhir. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah kesabaran dan juga kekuatan. Nina juga berpikir, jika kembali bersahabat dengan Brina memang pilihan terbaik dan bersikap seperti teman pada Brian juga tidak ada salahnya. Hal tersebut malah bisa membuat semua orang yakin jika memang dirinya bukanlah pengganggu hubungan Brina dan Brian dan membuktikan bahwa mereka dan juga dirinya masih berhubungan baik. Soal Brina yang ingin putus dengan Brian, Nina tidak mau terlalu ambil pusing. Nina hanya berharap jika kejadian itu benar-benar terjadi, saat itu adalah saat di mana orang-orang sudah melupakan foto dirinya dan Brian yang tersebat saat makan malam bersama.  Awalnya Nina nampak ragu untuk melangkah masuk ke dalam ruangan. Tetapi, kebetulan sekali saat ia masih di depan pintu, Brina datang dengan kantong plastik yang ia duga berisi makanan. Brina memang sangat suka sekali mentraktir makanan ringan.  "Nina, nggak masuk lo?" tanya Brina dengan santai. Brina juga berharap Nina bisa menanggapi dengan santai seperti sebelumnya.  "Ah, ntar dulu, Kak." Namun, Nina menjawab dengan terbata. Ia yakin jika Nina masih merasa ragu.  "Nin, lo percaya sama gue kalau semuanya bakal baik-baik aja dan bisa kembali seperti sebelumnya kan?" Brina menatap Nina untuk meyakinkan perempuan itu.  Nina berpikir sejenak. Setelah ia melihat senyum tipis terukir di wajah Brina, Nina mengangguk dan tersenyum. Tanggannya pun menggandeng tangan Brina seperti biasanya dan kini mereka berdua masuk ke dalam ruangan bersama-sama. Ketika mereka berdua masuk, suasana yang tadinya ramai mendadak hening. Banyak dari mereka yang menatap Nina dan Brina yang datang bersamaan seperti biasanya, padahal saat ini sedang ada berita buruk yang mengikutsertakan kedua perempuan yang masih berdiri di sana. "Ada yang mau snack?" tanya Brina sembari mengangkat kantong plastiknya, berniat mengubah perhatian mereka semua. "Gue mauuuuuuu!" "Mau jugaaaa!" Benar sekali. Teman-teman himpunannya bagai anak kecil yang memang mudah disogok dengan makanan ringan agar perhatian mereka terhindarkan dari Nina. Perempuan itu pun mengajak Nina untuk duduk di sampingnya dan mengangguk setelah menatap perempuan itu beberapa saat, memberi kode agar Nina bisa bersikap biasa saja seperti memang tidak terjadi apa-apa.  "Hai, Nin. Lama lo nggak datang ke sini." Zufar menggeser duduknya mendekat pada Brina, tetapi pandangannya mengarah pada Nina karena sedang mengajaknya mengobrol.  "Sorry, Kak, gue akhir-akhir ini rada nggak enak aja pikirannya. Sorry, gue banyak ngelepas tanggung jawab harian gue," kata Nina.  Zufar adalah wakil ketua himpunan. Yang Nina dengar dari Winta, laki-laki itu sedang dekat dengan Brina. Pantas saja ia menanyai Nina seperti itu, biasanya Zufar adalah orang yang cuek walau Nina kerap kali melihat laki-laki itu berusaha membuka obrolan dengan Brina. Kini Zufar seperti mengikutsertakan dirinya untuk bisa jauh lebih akrab lagi dengan Brina.  Selama di ruangan ini rapat dan evaluasi mingguan berjalan dengan lancar. Tidak ada yang membahas mengenai berita yang sedang hangat di kampus ini. Nina bersyukur, setidaknya telinganya akan merasa baik-baik saja dan ia tidak perlu mendelik untuk menghindari semuanya.  Namun, ketika satu persatu anggota mulai meninggalkan ruangan dan tinggal dirinya dengan Brina, Wati yang masih ada di luar ruangan ini entah bersama dengan siapa menyindirnya habis-habisan. "Di mana-mana, ular itu nggak baik buat dijadiin sahabat. Kalau sampai dijadiin sahabat, dia bakal ngerebut orang yang kita sayang." Kira-kira seperti itulah perkataan Wati yang dapat didengar dengan jelas oleh Nina dan Brina, dan juga Zufar yang tadi sedang pergi ke toilet dan sekarang sudah kembali.  Nina masih berusaha sabar. Memang banyak orang di kampus ini yang membicarakan dirinya, tetapi ia baru mendengar sindiran dengan keras dan jelas seperti ini. Jujur saja Nina hampir emosi. Rasanya ia ingin pergi keluar menemui Wati dan langsung menjahit mulutnya yang tidak bisa dijaga ketika berbicara. Tetapi, beruntungnya ada Brina yang langsung memegang tangannya. Perempuan itu seolah sedang mentransfer energi positif untuk meredakan emosi Nina. Setelahnya, ia tidak lagi mendengar perkataan Wati lagi, mungkin saja perempuan itu sudah pergi meninggalkan tempat ini.  "Mau makan nggak, Nin?" tanya Brina pada Nina. Sebenarnya Nina masih merasa canggung dengan Brina, tetapi bagaimana pun juga Brina adalah sahabatnya yang selama ini selalu berbagi suka dan duka dengan dirinya. Ia tidak mau menolak. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika ia akan tetap menjadi sahabat Brina. Nina mengangguk. "Gue juga laper, Kak. Mau makan apa nih? Udah sore gini pasti bakso di dekat rektorat udah habis." "Bakso di dekat restoran punya cabang di rumahnya. Biasanya baru buka jam tiga sore. Rasanya sama-sama enak. Mau ke sana?" Bukan Brina yang berbicara, tetapi Zufar yang langsung menyambar.  Nina dan Brina sempat saling tatap sejenak.  "Mau nggak, Nin?" tanya Brina. Dalam pikirannya, ini mungkin kesempatan yang bagus untuk Nina melihat seberapa Brina dan Zufar dekat. Kalau kata Winta mereka saling dekat, Nina benar-benar harus menyaksikannya. Ia tidak pernah bisa membayangkan ada perempuan yang selingkuh dari Brian. Jadi, ada baiknya memang Nina mengambil tawaran ini.  Perempuan itu akhirnya mengangguk. "Boleh, Kak." Nina bisa melihat raut wajah yang berubah bahagia di wajah Zufar. Kalau masalah itu sepertinya bisa dibilang wajar, karena dari dulu memang Zufar yang selalu berusaha mendekati Brina dan Brina tidak banyak memberikan respon.  Ketika Nina beralih menatap wajah Brina, tidak ada perubahan yang signifikan. Wajah Brina masih cantik dan ceria seperti sebelumnya. Mungkin memang belum ketahuan saja, atau memang tidak pernah Brina menyukai Zufar. Ah, Nina tidak tahu. Pokoknya untuk saat ini yang terbaik adalah makan bakso terlebih dahulu sembari mengamati interaksi antara Brina dan Zufar.  "Mau sekarang, atau mau ke mana dulu kalian?" tanya Zufar lagi. Tetapi bola matanya hanya menatap Brina, tidak dengan Nina.  "Lo mau mampir ke mana gitu nggak, Nin?" Brina seperti mentransfer pertanyaan Zufar kepada dirinya. Padahal, Nina juga tahu Zufar berkata apa.  Nina menggeleng. "Enggak deh, Kak. Langsung makan aja. Perut gue udah laper banget nih." Nina tidak terlalu peduli dengan Zufar yang tidak menatap dirinya. Pokoknya ia terlalu lapar hari ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN