Memang musimnya sedang musim hujan, jadi wajar saja jika hampir setiap hari akan turun hujan apalagi jika sudah di atas jam dua belas malam. Beruntungnya Nina, Brina, dan juga Zufar yang baru saja sampai di warung bakso sayur. Jadi, kenikmatan bakso sayur yang memang sudah nikmat ini akan lebih nikmat lagi karena dimakan dalam kondisi cuaca yang sedang hujan lumayan deras.
Ketiganya langsung memesan bakso. Ah, bukan memesan, tetapi sistem makan bakso sayur ini sama dengan bakso-bakso khas Malang di mana pembeli bisa mengambil sendiri seberapa banyak pentol bakso dan isian lainnya, alias prasmanan. Bukan hal yang mengejutkan lagi jika mereka bertiga pernah terkejut dengan sistem ini karena mereka bukan berasal dari Malang dan daerah di sekitarnya. Tetapi, setelah cukup lama di sini, akhirnya mereka paham jika memang bakso prasmanan ini salah satunya merupakan strategi marketing. Jika kalap, satu orang bisa mengambil sepuluh pentol dengan harga rata-rata dua ribu rupiah per pentol. Walau tidak jarang, ada juga yang hanya mengambil bakso dengan satu pentol saja.
Kalau Nina dan Brina, jangan ditanya. Bakso sayur yang ada di sebelah rektorat adalah bakso kegemarannya dan kali ini mereka sedang ada di cabangnya. Masing-masing dari mereka mengambil delapan butir pentol bakso, tanpa tambahan tahu, pangsit rebus, atau mie. Mereka benar-benar hanya mengambil pentol bakso saja dan sebagai pelengkapnya tidak lupa irisan selada, kol, dan tauge yang berlimpah. Mumpung topping sayurnya gratis, maka mereka berdua selalu memanfaatkannya dengan baik.
Brina kira Zufar itu orangnya kalem, porsi makannya juga akan kalem. Tetapi ternyata sama saja. Zufar mengambil delapan butir pentol bakso, ditambah empat pangsit rebus dan sayuran yang berlimpah. Brina hampir geleng-geleng kepala melihat mangkuk bakso milik Zufar yang penuh, tetapi tidak jadi ketika ia bandingkan dengan mangkuk baksonya yang ternyata sama saja.
"Plis, gue kira lo kalem-kalem gini, ternyata makannya banyak juga ya, Far!" celetuk Brina setelah melihat mangkuk bakso milik Zufar.
"Kak, kita makannya juga banyak loh." Nina pun menyindir Brina.
"Iya, Nin. Kan emang dari dulu makan kita banyak kalo soal bakso sayur ini." Brina menjawab. Ia menyendok kuah bakso yang masih mengepul itu. "Tapi gue nggak yakin sih, apa sama enaknya sama yang di samping rektorat ya?" kata Brina, yang tidak yakin jika bakso di tempat ini akan sama enaknya. Yah, walau kata Zufar sama enaknya, tapi belum tentu menurutnya juga enak.
"Cobain dulu, Brin. Sama enaknya kok," kata Zufar meyakinkan.
Setelah memastikan kuah dalam sendoknya tidak lagi mengepul karena panas, perlahan Brina memasukkan kuah yang terlihat segar itu ke dalam mulutnya. Lidah dan penjuru mulut bagian dalamnya meneliti setiap rasa yang ada. Brina itu hobi makan, jadi jangan anggap remeh jika perempuan itu sudah mereview makanan, pasti akan sangat detail sekali.
"Gimana, Kak?" tanya Nina yang penasaran.
Zufar ikut tegang, karena Brina tak kunjung mengucapkan bagaimana rasa kuah bakso yang belum diracik dengan saus, sambal, dan kecap itu.
Brina mengangguk-angguk. "Sama. Sama enaknya!" katanya. Kemudian setelah memastikan kuah bakso tersebut enak, ia baru bisa meracik menjadi kuah yang tak hanya enak, tetapi juga pedas dari sambal, sedikit asam dari saus, dan manis dari kecap.
Nina juga sama. Setelah ia mencicipi, memang benar-benar rasanya sama enaknya. Yah, namanya juga satu produksi.
"Kan, apa gue bilang. Jadi kalau emang pagi sampai siang kalian bisa makan yang ada di samping rektorat. Kalau udah sore sampai malam, bisa makan di sini," kata Zufar yang menjadi satu-satunya orang yang tidak perlu mencicipi kuahnya tetapi langsung ia racik dengan sambal dan kecap, karena dirinya sudah sering makan di sini. Biasalah, wakil ketua himpunan tidak hanya sibuk di himpunan, tetapi di organisasi lain yang membuatnya sering pulang sore, berbeda dengan Brina dan Nina yang lebih suka menjadi mahasiswi kupu-kupu alias kerjaannya hanya kuliah lalu pulang ke kost, kecuali jika ada rapat.
Selagi mereka makan, tidak ada suara obrolan yang berarti. Hanya sesekali mereka mengobrolkan soal rasa sambal yang lebih pedas, atau es teh yang Nina rasa sangat kurang es batunya. Selain itu, hanya hening yang ada di tengah hujan yang semakin deras saja.
Hujan deras, warung bakso ini semakin ramai. Orang-orang yang awalnya hanya berniat untuk meneduh, akhirnya kepincut dengan aroma kuah bakso yang menggoda. Padahal, ketika mereka bertiga tiba di sini, tidak terlalu ramai, namun sekarang kursi-kursi sudah penuh.
Akhirnya, mereka bertiga menghabiskan baksonya dalam waktu yang hampir bersamaan. Mangkuk yang ada di hadapan mereka masing-masing sudah kosong. Es teh dan es jeruk yang dipesan pun tinggal sedikit. Wajah mereka nampak merona karena rasa pedas kuah dengan sambal. Yang paling kentara adalah Brina, karena wajahnya yang cerah mulus itu membuat hidungnya terlihat memerah.
"Brin, pakai tisu," kata Zufar. Ia menyerahkan satu kotak tisu yang ia ambil dari meja sebelah.
Brina pun langsung menerimanya dan mengusap wajahnya yang berkeringat karena pedas itu dengan tisu.
Nina bisa melihat bagaimana perlakuan Zufar pada Brina. Memang wajar saja jika Zufar memberi Brina tisu. Tetapi, yang terlihat tidak wajar adalah tatapan laki-laki itu yang tidak berpaling dari Brina. Sebenarnya, Nina sudah mengamati mereka berdua sejak berangkat, mengobrol di dalam mobil, dan sampai makan bakso di sini.
Kedua bola mata Zufar selalu berbinar ketika menatap Brina. Walau Nina tidak melihat hal yang sama di mata Brina, tetapi Nina juga bisa merasakan jika Brina semakin akrab saja dengan Zufar. Padahal, ketika mereka berada di ruang sekretariat himpunan, mereka tidak seakarab ini dan tidak banyak mengobrol juga.
Brina mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Ia memakainya untuk melihat pantulan wajahnya, memeriksa apakah masih ada keringat atau sesuatu yang membuat aneh.
"Udah cantik, Brin," celetuk Zufar tanpa aba-aba.
Nina yang sedang menyedot es tehnya yang tak lagi dingin itu hampir saja tersedak. Beruntung, Brina dan Zufar tidak menyadari itu.
"Gue emang cantik," jawab Brina dengan santainya, seperti telah akrab sekali dengan Zufar.
Zufar pun terkekeh mendengar jawaban dari Brina. "Buat apa cantik, tapi bukan pacar gue."
Nina tahu jika Zufar tidak bercanda dengan kata-katanya, tetapi sayangnya hal tersebut dianggap bercanda oleh Brina.
"Lo keduluan Brian sih, Far."
"Kalau lo putus sama Brian, gue bisa dong jadi pacar lo."
Obrolan macam apa ini. Mengapa mereka berdua mengobrol seolah-olah tidak ada Nina di sini. Perempuan itu sampai mengembuskan napasnya samar dan memutar bola matanya.
"Gue juga cantik nggak, Kak?" Nina tiba-tiba bertanya pada Zufar. Ia meringis menatap laki-laki itu. Walau rasanya canggung karena tidak terlalu akrab, tetapi Nina tidak mau jadi obat nyamuk di antara keduanya.
"Semua perempuan itu cantik, Nin. Kalau ganteng, itu gue."
Nina tergelak, sementara Brina reflek memukul lengan Zufar.
"Bisa aja lo, Far ... Far."
Nina pun beralih menatap Brina. "Kak Brina, Kak Zufar sama Kak Brian gantengan mana?"
Pertanyaan Nina bukan hanya membuat Brina membulatkan matanya, tetapi juga membuat Zufar terkejut.
Laki-laki itu nampak tidak terima jika ketampanannya harus dibandingkan dengan Brina. "Nin, gue itu ganteng ala bule Australia. Sementara Brian kan ada keturunan Korea."
"Lah, siapa bilang Brian ada keturunan Korea?" tanya Brina kemudian.
"Padahal Kak Brian seratus persen jowo tulen." Nina menambahi.
"Tapi tetap gantengan gue kan, Nin?" tanya Zufar yang sudah sangat percaya diri saja.
Nina langsung menggeleng. "Gantengan Kak Brian. Sorry, Kak."
Bahu Zufar melemas, merasa kecewa tetapi hanya bercanda.
Brina pun mengusap bahu laki-laki itu untuk memberi semangat. "Lo juga ganteng kok, Far."
Wajahnya yang lemas langsung berubah semangat. Nina hampir berprasangka jika Brina memang suka dengan Zufar. Tetapi, ucapan Brina setelahnya membuat Nina sadar jika Brina memang tidak ada perasaan dengan laki-laki itu.
"Karena semua laki-laki itu tampan, termasuk lo apalagi Brian."