Air hujan yang jatuh dari langit masih mengalir deras membasahi lingkungan sekitar. Nina, Brina, dan Zufar sudah selesai dengan kenikmatan bakso yang mereka makan. Karena masih hujan, mereka bertiga memutuskan untuk tetap duduk manis di bangkunya masing-masing, karena tempat Zufar memarkir mobilnya cukup jauh dari warung bakso ini. Memang menyebalkan, ketika warung abkso yang selalu ramai ini malah tidak memiliki tempat parkir yang strategis. Alhasil, jika hari hujan seperti ini, akan menyulitkan pengunjung yang ingin ssegera menuju mobilnya untuk pulang, karena mereka pasti akan kebasahan karena tidak membawa payung.
Menunggu hujan memang tidak pernah membosankan. Nina tidak memiliki rasa benci sedikitpun pada suasana seperti ini. Bahkan ketika cuaca panas, walau ia sangat tidak suka terkena sinar matahari secara langsung, tetapi bukan berarti dirinya membenci hari ketika matahari bersinar terang. Semua cuaca dan semua kondisi bisa Nina terima. Hanya saja perempuan itu agak takut dengan petir yang kilatnya menyambar-nyambar.
Tidak ada yang tahu, benda apa yang akan dilewati oleh petir, tidak ada yang tahu benda apa yang akam dibuat terbakar dan gosong oleh petir. Ditambah suara gemuruhnya yang cukup berisik, bisa membuat jantungnya berdegub fua kali lebih kencang, tetapi Brian lah yang masih menjadi pemenang dalam hal membuatnya jantungan.
Beruntung saja hujan kali ini cukup damai. Tidak ada kilatan ataupun suara petir, tidak angin yang membuat basahnya kemana-mana. Sebenarnya, tipe hujan deras seperti ini sangat Nina suka sebab ia jadi teringat waktu kecil dulu ketika ia masih suka bermain di bawah hujan. Saat kecil, Nina mempunyai banyak teman dan bisa bergabung dengan siapa saja. Nina tidak memikirkan apakah dirinya terlalu sok kenal dan sok dekat atau apapun itu yang ia rasakan sekarang setiap bertemu dan dekat dengan orang yang sebelumnya ia rasa asing, seperti Zufar.
Kehadiran Zufar di sini sedikit banyak mempengaruhi apa yang biasa Nina lakukan. Ketika hanya bersama dengan Brina, Nina akan cerewet dan bisa melakukan apapun tanpa harus memikirkan rasa malu dan sebagainya. Tetapi, ketika ada Zufar di sini, sikapnya terasa harus dibatasi. Simpelnya, Nina memiliki sifat yang berbeda ketika ada orang lain masuk dalam kehidupannya.
"Kapan ya hujannya berhenti?" Nina bertanya pada dirinya sendiri karena ia yakin jika dengan suara bising rintikan hujan yang menerpa atap ini membuat tidak ada yang mempu mendengarnya. Perempuan itu hanya menopang d**a dengan menatap kosong ke pemandangan hujan yang ada di depannya. Jangan lupa, mangkuk bakso yang telah kosong masih nangkring di hadapannya meninggalkan aroma khas kuah bakso.
Terbukti. Brina dan Zufar juga sama tidak banyak bicara. Bedanya, ketika Brina juga menatap kosong derasnya hujan, Zufar malah bermain dengan ponselnya.
"Kak, hujan-hujan nggak boleh main hape," kata Nina yang menegur Zufar.
Zufar langsung tersadar. "Loh, kenapa? Nggak ada petir kan?" tanyanya.
Nina menggedikkan bahunya. "Bukan cuma karena petir, tapi juga karena di sini ada gue sama Kak Brina. Ajak ngobrol dong biar kita nggak diem-diem aja." Jarang sekali kalimat tersebut keluar dari mulut Nina. Jika Brina tersenyum mendengar hal tersebut dari Nina, berbeda dengan Nina yang sempat merasa terkejut dengan ucapannya itu.
Akhirnya Zufar menyimpan ponselnya di atas meja. Pandangannya sepenuhnya beralih ke Nina dan Brina secara bergantian.
"Sebenarnya ada yang pengen gue tanyain nih sama kalian berdua," ucap Zufar. Dalam hati Nina dan Brina, sama-sama menebak hal apa yang ingin ditanyakan oleh Zufar.
"Jadi gini ...." Zufar mulai untuk berbicara, sementara Nina dan Brina asyik menyimak. "Maaf ya sebelumnya. Maaf kalau gue pengen tahu banget, tetapi sebenarnya gue itu penasaran sama hubungan kalian bertiga. Maksud gue, hubungan kalian sama Brian."
Ternyata benar tebakan Nina dan Brina, jika Zufar akan membahas hal itu, tetang hubungan Nina dan Brina bersama dengan Brian.
"Sebenarnya ini bukan urusan gue dan apapun yang terjadi di balik foto lo sama Brian, itu juga bukan urusan gue, Nin. Tapi kalau yang terjadi sampai kayak gini, lo banyaj dicerca orang-orang karena dituduh ganggu hubungan Brina dama Brian, dan lo ngilang dari himpunan, itu kayak jadi urusan gue."
Nina kikuk. "Maaf, Kak. Gue nggak bermaksud buat ngilang." Nina langsung merasa tidak enak. Ia tahu betul perannya di himpunan memang tidak cukup penting, tetapi juga dibutuhkan. Apalagi Zufar ini orangnya peduli dengan semuanya termasuk Nina walau Nina tidak begitu akrab dengan laki-laki itu.
"Sorry, ini juga karena gue sama Brian, keadaan jadi runyam gini." Brina menambahi, ia meminta maaf.
"Oh, enggak-enggak. Kalian nggak perlu minta maaf. Ya namanya pasangan paling favorit di kampus pasti sering jadi bahan obrolan." Melihat Zufaf yang santai seperti ini, sedikit bisa menghangatkan perasaan Nina ketika membahas mengenai fotonya dan Brian ketika makan malam. "Cuma karena udah terlanjur terjadi dan semakin panas aja, gue minta lo jangan pasrah ya, Nin. Gue emang nggak tahu yang sebenarnya terjadi itu kayak gimana, tapi gue minta kalian semua bisa semangat gitu menghadapinya. Jangan malah ditinggal ya, atau malah bikin semua orang membenarkan berita yang kesebar."
Nina mengangguk paham. Ia juga ingin seperti itu, tetapi memang sedikit susah saja. "Makasih sarannya, Kak."
"Brin, gue harap kalian juga secepatnya ambil tindakan ya. Bukan sekali aja kasus kayak gini terjadi, dan emang cuma lo sama Brian yang bisa nyelesaiin. Lo sama Brian bikin postingan bareng aja, semuanya bakal teratasin kayak dulu kok."
Brina mendengarkan saran Zufar. "Iya. Gue sama Brian juga udah ada rencana kayak gitu cuma Briannya masih sibuk aja jadi kami belum sempat foto."
Setelahnya, hening sempat menyapa. Rintikan hujan yang deras kini semakin deras kemudian tiba-tiba mulai mereda. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka bertiga, tetapi pandangan Zufar sedari tadi tidak pernah berpindah, hanya memandangi wajah ayu Brina yang kalem.
Nina sadar dengan hal tersebut. Ia sedikit tersenyum ketika melihat Zufar asyik memandangi Brina sementara Brina asyik memandangi hujan. Melihat hal tersebut, Nina menjadi yakin jika sebenarnya Zufar lah yang menyukai Brina, bukan sebaliknya.
Rasanya masih aman, ketika ia belum melihat kenyataan jika Brina menyukai Zufar padahal ia kekasih dari Brian.
Nina jadi ikut tersenyum. "Kak Zufar, ngapain dari tadi lihatin Kak Brina mulu?" tegur Nina dengan cengengesan.
"Ah, apaan sih, Nin?" Zufar berusaha mengelak dengan rasa canggung. Ia tidak sadar jika sedari tadi Nina ternyata memperhatikan dirinya ketika memandangi Brian.
"Kak Zufar suka sama Kak Brina? Sayang banget ya, Kak Brina sudah punya Kak Brian. Jadi kalian berdua hanya bisa berhubungan sebatas teman."
Sebenarnya, tujuan Nina berkata seperti itu juga untuk menyadarkan dirinya bahwa Brian hanya akan menjadi temannya karena laki-laki itu sudah menjadi milik Brina.