Nina setuju dengan saran Brina untuk menganggap jika seperti tidak terjadi apa-apa, walau rasanya memang luar biasa. Pagi ini Nina sengaja berangkat ke kampus bersama dengan Brina walau pagi ini dirinya tidak ada kelas. Sengaja sekali Nina dan Brina berjalan berdua dan bergandengan tangan, membuat semua tatap mata tertuju padanya.
"Mereka masih akrab-akrab aja kenapa sih? Padahal si Nina udah selingkuh sama Brian. Dasar."
"Kayaknya mata hati Brina ketutup sama Nina yang suka cari muka deh. Jelas-jelas dia ngedeketin primadona kampus ini, masih aja dijadiin sahabat!"
"Gue nggak nyangka, persahabatan mereka ternyata ada maksud yang tersembunyi, selingkuh sama pacar sahabat sendiri."
"Kalau gini mah, mending gue nggak usah punya sahabat aja kali ya."
"Lihat-lihat, si Nina si pelakor. Jijikk banget deh!"
"Kalau gue jadi Brina, nggak lagi-lagi gue temanan sama orang yang udah deketin pacar gue. Bisa-bisanya ih!"
"Nggak tau malu banget sih jadi orang!"
Ucapan-ucapan pedas itu hanya sedikit dari yang Nina dan Brina dengar ketika berjalan bersama menuju kantin untuk sarapan. Kebetulan sekali, kelas Brina pagi ini dibatalkan jadi mereka bisa pergi untuk mengisi perut bersama-sama. Yang menjadi kebetulan lagi adalah terakhir kali mereka makan adalah kemarin sore ketika bersama-sama dengan Zufar makan bakso, jadi wajar saja jika pagi-pagi seperti ini perut mereka sudah keroncongan saja.
Walau banyak pasang mata memperhatikannya, banyak yang menyindir dan membicarakannya, tetapi mereka tetap cuek-cuek saja walau dalam hati berhasil dibuat mendumel dan ingin mengomel tetapi tidak bisa dan harus ditahan. Terbukti, Brina dan Nina berhasil membuat orang-orang jadi menyindir mereka berdua. Setelah mereka mendapatkan tempat duduk, Brina sangat paham jika Nina merasa gugup dan tidak nyaman. Tetapi perempuan itu tetap memberi kode pada Nina untuk tetap percaya diri di tengah sindiran-sindiran yang ia dengar dari orang-orang yang selalu mensupport hubungan Brina dengan Brian.
"Lo mau sarapan apa nih, Nin?" tanya Brina kemudian.
Nina berpikir sejenak sembari menatap deretan kios makanan. Ada yang sudah buka, ada yang baru saja buka, dan bahkan ada yang masih tutup. Memang mereka benar-benar pagi sekali ke sini. Tetapi itu tidak membuat kantin sepi, karena pagi hari juga banyak mahasiswa yang membutuhkan sarapan untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
"Sarapan gado-gado aja kali ya? Lo mau apa, Kak?"
Mendengar Nina mengucapkan ingin sarapan gado-gado, membuat Brina ingin sarapan menu yang sama juga. "Gue juga mau deh. Okai, jadi gado-gado ya? Gue pesenin ya."
Nina mengangguk. "Gue nggak usah pakai tahu goreng ya, Kak."
Brina mengacungkan jempolnya. Setelahnya, perempuan itu berdiri dari duduknya untuk menuju kios gado-gado.
Sekarang, Nina sendirian. Sindiran-sindiran yang ia dengar semakin jelas saja. Dirinya benar-benar merasa tidak nyaman. Bahkan keringat di dahinya mulai bercucuran.
"Nina!"
Huh, Nina hampir saja jantungan. Winta tiba-tiba saja datang menghampirinya dan langsung duduk di hadapannya.
"Lo ngapain di kantin sendirian, nggak makan apa-apa lagi. Kenapa? Galau?" tanya Winta. Entah perempuan itu sadar atau tidak mengenai cibiran-cibiran orang sekitar.
Nina sedikit lega karena Winta hadir saat ini, membuatnya tak lagi merasa sendirian dengan banyaknya cibiran yang ia dengar.
"Gue sama Kak Brina, Win. Dia lagi pesen gado-gado. Lo mau nggak?" Nina tidak lupa untuk menawari Winta, tetapi Winta langsung menolak.
Perempuan itu menggeleng. "Enggak deh, gue tadi udah sempat sarapan roti kan karena buru-buru, eh ternyata dosen gue nggak masuk kelas. Sebel banget nggak sih? Ya udah, karena gue masih rada ngantuk, jadi pengen beli es kopi aja."
"Pagi-pagi udah minum es kopi aja, Win." Nina menyindir, karena ia kelewat sering melihat Winta yang sangat suka es kopi.
"Yah, lo nggak tahu gue aja, Nin. Eh, Nin ...." Winta menurunkan nada bicaranya sembari melirik sekitar. Sepertinya Winta mulai sadar jika banyak orang yang memasang tatapan tidak enak ke arah mereka. "Lo ngerasa nggak sih kalau ditatap aneh sama orang-orang?" tanyanya.
Nina jelas mengangguk. "Iya. Sejujurnya gue ngerasa nggak nyaman, Win."
"Terus, kenapa lo masih ada di sini? Lo lagi uji nyali apa gimana?"
Nina menggedikkan bahunya. "Entahlah, Win. Ini sih saran dari Kak Brina. Kayaknya gue harus ngelawan mereka tanpa menyentuh, dengan bersikap bodo amat buat buktiin kalau gue nggak ada apa-apa sama Kak Brian."
Winta mengangguk paham, tetapi dirinya tetap saja tidak habis pikir dengan Nina yang dirasa cukup kuat menghadapi orang-orang.
"Lo keren, Nin. Tapi lo nggak perlu maksain diri ya."
Nina mengangguk dan tersenyum menatap Winta. "Iya, Win. Iya. Lo nggak usah khawatir sama gue."
"Oiya, Nin. Gue pesen kopi sebentar, ya. Habis itu gue balik lagi ke sini. Gue boleh gabung sama li sama Kak Brina kan?"
Jelas saja Nina mengangguk. Winta dan Brina juga satu himpunan dengan dirinya, mereka juga saling akrab, jadi tidak ada alasan untuk dirinya menolak keinginan Winta. "Iya, Win." Kemudian, Nina kembali duduk sendiri dengan cibiran yang masih saja bisa ia dengarkan.
Beruntungnya, hanya beberapa detik kemudian Brina sudah datang dengan dua piring berisi gado-gado. "Tadaaa, sarapan gado-gado sudah datang!" katanya dengan riang, langsung membuat wajah Nina ceria.
"Asyik, enak nih!" ucap Nina yang sudah tidak sabar menikmati sayuran rebus dengan bumbu kacang itu.
"Lo makan duluan, Nin. Lo mau minum apa, gue pesenin yak biar cepet." Brina hampir berjalan pergi untuk memesan minum, tetapi ditahan oleh Nina.
"Nggak usah, Kak. Gue ada bawa air putih kok. Lo minum air gue aja. Pagi-pagi jangan minum es teh, Kak."
Brina memutar bola matanya jika sudah dinasihati seperti itu oleh Nina. Perempuan itu kembali duduk di bangkunya, kemudian Nina mengeluarkan sebotol air mineral yang akan mereka bagi daripada harus memesan es teh.
"Tadi Winta ke sini, Kak. Dia lagi pesen kopi, sebentar lagi juga gabung,"kata Nina sebelum memasukan sesendok gado-gado ke dalam mulutnya.
"Oya? Tumben banget dia udah ada di kampus. Biasanya suka telat nggak sih. Terus kenapa juga di kampus pagi-pagi gini, biasanya juga pilih rebahan di kost atau di sekretariat himpunan."
"Ya kayak lo, Kak. Dosennya nggak datang dan terlanjur di kampus. Mau apalagi kalau nggak jajan aja." Nina terkekeh mengakhiri ucapannya.
Walau orang-orang masih memperhatikan mereka berdua, tetapi mereka bisa dibilang berhasil untuk menulikkan pendengaran dari cibiran-cibiran yang membuat telinga merasa panas. Setidaknya, orang-orang akan capek sendiri telah membicarakan Nina dan Brina. Pokoknya, Nina dan Brina sudah berjanji untuk tidak merespun yang membuat mereka sakit hati.
"Hallo, Kak Brina." Winta sudah datang dengan satu cup es kopi susunya. Ia langsung duduk di satu bangku yang masih kosong di antara mereka berdua.
"Hai, Win. Sarapan?" tawar Brina.
Winta menggeleng. "Udah tadi, Kak. Sekarang ngopi aja, ngantuk."
"Ngantuk mah tidur, Win." Nina berceletuk.
"Ye ... gue maunya juga gitu, tapi semesta tidak mengizinkan."
"Lah, biasanya juga tidur di sekretariat." Kini Brina yang menambahi.
Winta pun terkekeh. "Ya kan gue pengen berubah aja, Kak. Pengen punya semangat pagi."
Mendengarnya membuat Nina dan Brina hanya menggelengkan kepala. Namun, merak yang masih menjadi pusat perhatian orang-orang itu semakin membuat sebal saja.
Orang-orang berpikir bahwa mereka masih bisa santai dan mengobrol seperti biasanya, padahal mereka berdua telah membuat berita yang paling hangat sepanjang tahun ini.
Bisa dibilang, pagi ini Brina dan Nina berhasil. Tetapi, mereka belum menang, karena hari-hari berikutnya masih akan datang.