"Kalian apa nggak risih sih, satu ruangan sama perempuan perebut pacar sahabatnya sendiri?"
Suara itu terdengar sangat jelas dari luar sini. Nina, Brina, dan Winta sontak menghentikan langkah mereka, menunda untuk masuk ke dalam ruang sekretariat himpunan. Ketiganya sangat mengenali suara lantang itu berasal dari siapa lagi kalau bukan Wati.
Benar, sepertinya Wati adalah satu-satunya kawan sepengurusan himpunan yang sangat blak-blakan benci dengan Nina, sampai Nina terkena berita buruk ini, ia menjadi sangat mengurusi.
"Gue nggak habis pikir ya. Di luar aja kelihatan sahabatan, eh ternyata nikung sahabatnya sendiri. Awalnya nggak percaya, tapi ada bukti foto ya mau ngelak gimana lagi, tetap aja tukang tikung!"
Sepertinya hasutan Wati cukup berhasil mempengaruhi yang lain. Buktinya, Nina juga bisa mendengar jika yang lain ikut merasa kesal pada dirinya. Ah, mungkin itu bukan karena hasutan Wati, tetapi memang dirinyalah yang pantas untuk dihujat.
"Nin?" ucap Brina. Nina masih diam tak menanggapi perempuan itu.
Sementara itu, Winta memutuskan untuk masuk terlebih dahulu mendahului Nina dan Brina.
"Pagi, guys!" ucap Winta begitu masuk ke dalam ruangan. Perempuan itu langsung didatangi Wati.
"Win, gimana rasanya punya temen pelakor?" ucap Wati tak selantang tadi, tetapi tetap bisa didengar oleh Nina dan Brina dari luar sini.
Winta menggedikkan bahunya. "Ya mana gue tahu?" Ia malah bertanya balik dengan cuek.
"Lah, kan temen lo si Nina itu pelakor. Masa lo masih nggak percaya juga sih, kan ada buktinya!" Wati berucap dengan menggebu-gebu, ingin sekali membuktikan pada siapapun jika Nina adalah seorang perusak hubungan. Namun, sayang sekali Winta tidak semudah itu terpengaruhi karena Winta percaya jika Nina tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Bahkan, Winta tahu jika Nina menyukai Brian sejak lama, tetapi baru kali ini ia melihat foto Nina berdua dengan Brian yang langsung dijadikan permasalahan. Padahal, jika memang Nina juga mengenal Brian dengan baik, foto makan malam berdua itu tidak ada artinya.
"Masa gue harus percaya sama lo? Emang lo siapa? Ahlinya pelakor?"
Wati berhasil dibuat memutar bola matanya dengan malas. Ia merasa kesal karena Winta masih juga dengan pendiriannya.
"Yah gue cuma bilang aja sih sama lo. Lo pernah denger pepatah nggak sih kalau kita itu harus pilih-pilih dalam berteman? Gue heran aja kalau masih ada yang mau temenan sama pelakor."
"Gue juga heran aja sih, masih ada aja orang yang gampang percaya sama provokator." Winta membalas perkataan Wati dengan tepat, membuatnya kicep seketika.
Awalnya, Wati tidak bisa berkata-kata lagi. Ia perlu berpikir sejenak, tentang bagaimana caranya untuk menghasut Winta supaya terpengaruh ucapannya. Wati memang sesebal itu dengan Nina dan Brina sejak dulu. Entah karena apa, tidak ada alasan yang jelas dengan hal tersebut. Pokoknya Wati sangat tidak suka dengan dua makhluk cantik yang ada di himpunan dan sering mendominasi. Ketika ada berita yang melibatkan Nina dan Brina, Wati bahagia karena jadi memiliki bahan untuk menggunjing mereka berdua.
"Kehabisan kata-kata buat ngehasut gue supaya benci sama Nina?" tanya Winta menantang. Matanya meremehkan Wati yang masih tidak bisa berkata-kata. Apalagi, kedua tangan Winta yang terlipat di depan dadaa dan kepalanya yang condong ke depan.
Setelahnya, Winta menatap yang lainnya. "Kalian benci juga ya sama Nina? Kalian berhasil kehasut omongan Winta hanya karena Nina makan malam sama Kak Brian?" tanyanya pada mereka semua yang ada di sini, sekitar lima sampai enam orang. Tidak peduli ada yang lebih tua darinya, Winta tetap harus mengatakan apa yang memang ia harus katakan. "Ayolah, Guys! Kalian tahu sendiri kalo Nina itu sahabatan sama Kak Brina. Salah ya emang kalo Nina juga temenan atau bahkan sahabatan juga sama Kak Brian? Masa cuma gegara foto makan di mekdi berduaan aja kalian permasalahin sampai kayak gini? Sampai ngehujat? Apa kalian nggak malu sama uang kuliah kalian yang sampai puluhan juta itu alias kuliah mahal-mahal tapi masih ada terpengaruh sama hasutan orang?"
Semuanya diam. Entah mereka memikirkan apa yang dikatakan Winta atau justru merasa tidak ada yang harus ditanggapi dari ocehan perempuan itu.
"Kalian paham kan Nina seramah apa, sebaik apa sama kalian? Emangnya dengan ada foto itu, bikin kalian jadi dirugiin? Kalau nyatanya emang iya, Nina ngerugiin apa? Kepercayaan kalian selama ini atau apa?"
Satu orang mengambil satu langkah, ingin bersuara. "Emang sih enggak ngerugiin gue secara langsung, tapi moralnya itu lho, etikanya, nggak ada sama sekali. Diselingkuhin itu nggak enak, Win. Lo belum ngerasa aja. Makanya kita semua dan bahkan orang-orang di luar sana yang tahu berita ini benci banget sama Nina."
"Lah, Kak Brian selingkuh sama Nina gitu maksud lo?" Winta bertanya dengan lantang dan yang lainnya mengangguk membuat Winta mengembuskan napasnya lelah. "Logikanya kalau Kak Brian yang selingkuh sama Nina, Kak Brina mana mau masih jalan berdua sama Nina, masih ke mana-mana bareng Nina, dan masih berhubungan baik sama Nina sepertu biasanya?"
"Ya itu sekarang, pas beritanya keluar, terbukti Nina nggak ada kabar, lo inget waktu itu kan?" celetuk yang lainnya, membuat yang lain juga setuju dengan pernyataan itu.
Winta pun terdiam dan terpikir oleh hal tersebut. Memang benar jika Nina pernah tidak masuk dan sulit dihubungi bahkan oleh Brina di hari ketika foto itu muncul. Tetapi, tetap saja Winta berpikir dengan positifnya jika Nina bukan lah seorang pelakor atau perusak hubungan Brina dan Brian.
Winta hampir berbicara lagi, tetapi ucapannya terhenti ketika Nina dan Brina memutuskan masuk ke dalam ruangan.
Seketika semua pasang mata tertuju pada mereka. Termasuk Wati, yang menatap Nina dengan tatapan tidak suka.
"Aduh, kok tiba-tiba panas banget ya udaranya?" Wati mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya. Ia berpura-pura merasa kepanasan untuk menyindir Nina dan Brina yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Hati sama pikiran lo dipenuhi hawa setan, makanya panas, padahal lo pas banget di depan kipas angin. Ini juga masih pagi, mungkin lo lupa mandi," celetuk Brina yang dalam hatinya juga sangat kesal sekali pada Wati. Padahal, selama ini Brina terkenal dengan tutur katanya yang lembut dan tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun apalagi Wati yang memang terkenal problematik. Bukan hanya Nina, dahulu juga Wati pernah membesar-besarkan masalah internal himpunan hingga ke luar hanya karena egonya.
Wati jelas merasa tersindir, sementara Winta menatapnya dengan penuh kemenangan. "Coba ke rumah sakit, cek hati sama otak lo. Ada api nggak kira-kira," ucap Winta sefrontal itu pada Wati.
Akhirnya, Wati melipir dari sana dan tidak ingin berdebat lagi. Ia tidak mau merasa kalah, hanya saja cukup untuk pagi ini karena Wati ada kelas yang sebentar lagi akan dimulai.
Sementara Nina, ia antara percaya dan tidak percaya jika Winta sebaik itu padanya, rela membelanya tanpa tahu isi hatinya bahwa sebenarnya Nina juga mau jika memang Brian berpaling kepada dirinya.