Mau tidak mau, Nina harus menuruti permintaan Winta yang mengajak dirinya dan juga Brina untuk pergi liburan bersama, alasannya karena hampir setiap hari mereka selalu disibukkan dengan tugas kuliah dan mengurus proker-proker yang ada di himpunan. Padahal, jika dilihat lagi, hari-hari Nina lebih banyak ia habiskan untuk rebahan saja daripada melakukan apa yang dikatakan Winta.
Nina sedang mengemasi barang-barangnya ketika Winta dan Brina sudah mengetuk pintu rumah kostnya. Akhir-akhir ini Nina kembali nyaman tinggal di rumah kost ini karena tidak ada lagi gangguan. Nina jadi berpikir untuk membatalkan kepindahannya ke rumah kost Brina, tetapi sayang sekali dirinya sudah membayar uang muka untuk sewa kamar kost mulai bulan depan. Dan ya, kali ini Nina mengemasi barang-barangnya bukan karena ingin pindahan kost, tetapi karena diajak liburan oleh Winta dan Brina selama dua hari dengan menginap di sebuah hotel yang ada di Kota Batu. Kata Winta, udara yang segar bisa mengobati sedikit stres yang mendera mereka, apalagi Nina yang akhir-akhir ini dihadapkan dengan keadaan yang tidak mengenakkan.
Buru-buru Nina membukakan pintu untuk mereka berdua dan mempersilakan keduanya untuk masuk terlebih dahulu. Mereka berdua sama saja dengan dirinya. Ada satu koper yang masing-masing mereka bawa dan tas kecil. Seperti ingin liburan dengan waktu yang lama saja, padahal mereka hanya pergi selama dua hari di akhir pekan ini.
"Mau minum apa nih? Ada jus jeruk sama es teh botol." Nina menawari keduanya minuman. Hari ini memang sudah siang dan matahari terasa sangat terik sekali. Jadi, tanpa menunggu meminta, Nina sudah paham jika Winta dan Brina membutuhkan minuman untuk melepas dahaga mereka.
"Apa aja deh, Nin. Asal jangan es teh ya, gue lagi nggak bisa minum es teh botolan nih. Tapi kalau lo nyeduh sendiri tehnya, gue mau."
Nina memutar bola matanya mendengar permintaan Winta yang aneh-aneh itu. Dirinya langsung pergi ke dapur tanpa mau mendengar lagi kalau-kalau Winta akan meminta yang lebih meribetkan dirinya.
Tidak lama, Nina kembali dengan dua gelas es jeruk dengan es batu yang cukup melimpah. "Es jeruk aja ya, Win. Gue males banget harus nyeduh es teh buat lo," kata Nina dengan ketus. Ia pun beralih bertanya pada Brina, "Kak, es jeruk nggak papa ya."
"Santai aja lah, Nin. Gue kan bisa minum dan makan apa aja." Brina kemudian menyengir. "Lo udah selesai beres-beres?" tanyanya kemudian, menengok ke dalam kamar Nina yang sudah siap satu koper.
"Udah sih, Kak. Tinggal masukin alat mandi aja sih. Oh iya, emang udah booking hotelnya ya?"
"Siapa bilang kita tidur di hotel? Kan kita tidurnya di tenda," kata Winta yang langsung membuat Nina membuka mulutnya.
"Nggak usah kaget gitu dong, Nin."
"Maksudnya gimana? Masa di tenda? Di luar ruangan? Outdoor?" Nina sudah melemaskan tubuhnya saja. "Gue nggak jadi ikut deh kalau gitu. Musim hujan nanti banyak hewan-hewan. Harusnya kalau nginepnya mau di outdoor atau pakai tenda itu pas nggak musim hujan." Nina mengomel cukup panjang. Dirinya merasa kecewa. Walau iya awalnya ogah-ogahan untuk ikut liburan kali ini, tetapi akhirnya ia mau karena ia juga ingin menyegarkan pikirannya aplaagi mereka akan berlibur di daerah pegunungan. Tetapi, kalau tahu mereka akan menginap menggunakan tenda, lebih baik Nina batal ikut saja.
Brina dan Winta tidak banyak menanggapi. Mereka hanya mendiamkan Nina sembari menyeruput es jeruk yang terasa segar itu.
Nina juga bergantian menatap mereka berdua. Tidak ada tanggapan, sepertinya memang benar jika mereka tidak membutuhkan dirinya. Entah Nina ikut atau tidak, sepertinya tidak akan mempengaruhi mereka.
"Ya udah, deh. Gue nggak usah ikut aja ya," kata Nina dengan sungguh-sungguh. Perempuan itu benar-benar ingin liburan, bukan ingin tidurnya terganggu karena was-was ada binatang liar. Binatang liar yang dimaksud Nina adalah cacing, kaki seribu, lintah, dan sebagainya yang kerap kali mudah ditemui di tanah yang lembab.
Nina pun duduk di samping Brina. Ia tidak mau melanjutkan mengemasi barangnya. "Kalian berangkat aja, nggak usah nunggu gue. Gue nggak bakal ikut ya, sorry."
"Yah, kok gitu, Nin?" ucap Brina yang kecewa. "Kalau nggak ada lo, nggak bakal seru," lanjutnya, tetapi Nina tetap tidak mau ikut jika mereka menginap di dalam tenda sekalipun di bumi perkemahan yang dijaga ketat kebersihannya.
"Kak, lo sama Winta aneh-aneh aja sih. Kan lo tahu, Kak, kalo gue nggak bisa tenang kalau udah lihat cacing dan kawan-kawannya. Sorry ya, Kak."
Brina bersalih menatap Winta. "Lo sih, Win. Kan gue udah bilang, cari hotel yang normal aja." Brina malah menyalahkan Winta.
"Tapi lo juga setuju kan, Kak. Kalo lo nggak setuju mah gue juga nggak bakal ambil." Sementara Winta juga tidak ingin disalahkan.
"Kalau gitu kayaknya lain kali aja ya, Kak, Win."
Brina masih terus berusaha untuk membujuk Nina. Bagaimana pun juga, ia ingin Nina ikut dalam liburan kali ini. "Nin, kita kan rencana liburan juga buat lo. Biar lo nggak stres setelah apa yang terjadi di kampus. Ikut ya, okai?"
Nina menggeleng. "Gue nggak bisa, Kak. Karena gue nggak yakin."
"Kalau pindah lokasi, mau?" Winta menawari.
"Kan udah booking, Win."
"Hidup lo kurang canggih atau gimana sih, Nin? Kan bisa dibatalin kapan aja."
"Masa?"
Winta mengangguk. Kemudian perempuan itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pembatalan pemesanan hotel bertenda di depan mata Nina. "Tuh udah gue batalin."
Sementara itu, Brina tidak terima. "Loh, kok dibatalin sih, Win?"
Winta meringis. "Hehe, kali ini kita nginep di hotel normal dulu ya, Kak. Kasihan Nina butuh liburan. Kita nginep di bumi perkemahannnya kalau cuaca kering aja nggak sering hujan kayak gini."
Brina mengangguk pasrah. "Jadi, ikut kan, Nin?"
Mengetahui hotel normal yang akan menjadi tempat tinggal selama berlibur dua hari, Nina jadi mau ikut. Dirinya mengembangkan senyum dan mengangguk. "Mau."
"Oke, gue cariin dulu ya."
"Sekali lagi sorry ya, Kak, Win."
"Santai aja, Nin. Namanya juga Nina, orang paling ribet di seluruh dunia." Winta menyindir Nina, tetapi perempuan itu sama sekali tidak marah. Semakin ke sini, Nina semakin sadar saja jika sebenarnya dirinya dan Winta itu cukup dekat. Hanya saja Nina terlalu fokus dengan pertemanannya bersama dengan Brina, tanpa mau menyadari pertemanannya yang begitu erat pula dengan Winta.
"Mau sekalian ke Bali aja nggak sih?" celetuk Winta yang masih sibuk dengan ponselnya.
Brina dan Nina kompak melirik Winta. "Nggak usah ngada-ngada, Win. Kita cuma liburan dua hari doang, ngapain jauh-jauh ke Bali?"
"Bisa diperpanjang sampai seminggu, Kak, Nin, liburannya."
Nina sempat menyetujui perkataan Winta, tetapi berbeda dengannya, Brina menolak mentah-mentah.
"Kita aja curi-curi waktu buat liburan dua hari di Kota Batu, eh lo malah ngide ke Bali. Nggak, lain kali aja pas bener-bener senggang."
"Ngogheyy."