Nina, Brina, dan Winta memang bisa dibilang seorang anak dari keluarga menengah ke atas. Tetapi tetap saja sebagai mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis di Universitas Matahaya itu, mereka menerapkan prinsip ekonomi dalam setiap tindakannya. Apalagi untuk saat ini, walau liburan selama dua hari ke depan bisa dibilang mendadak, hotel termurah namun tetap nyaman adalah pilihan mereka. Hanya sekitar dua ratus ribuan saja per malamnya, Nina, Brina, dan Winta sudah dapat menikmati kenyamanan ditambah dengan lingkungan di sekitar hotel yang merupakan perkebunan dan pegunungan yang membuat udara terasa lebih sejuk dan segar.
"Akhirnya liburan juga!" ucap Nina yang sangat senang sekali ketika pintu kamar hotel baru saja dibuka. Ia langsung berlari dan membanting tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Tidak lupa, menghirup aroma ruangan hotel adalah salah satu kesukaannya. Katanya, ada aroma kenikmatan di setiap hirupan napasnya.
Berbeda dengan Nina, Brina memilih langsung menuju jendela balkon. Ia membuka tirai dan jendela kaca itu lebar-lebar sehingga udara sejuk dapat mereka rasakan walau di dalam ruangan sudah ada penyejuk. Aroma khas pegunungan membuat mereka merasa sangat nyaman sekali, ditambah siang menjelang sore seperti ini kabut sedang turun dan menambah sejuk udara.
"Tadi aja katanya nggak mau, tapi sekarang kelihatan paling senang!" ucap Winta yang menyindir Nina. Perempuan itu juga merebahkan tubuhnya di ranjang yang berbeda dengan Nina. Menatap langit-langit kamar hotel ini entah mengapa membuatnya merasa tenang dan terlupakan oleh tugas-tugas kuliah yang ada.
Merasa puas memandangi pemandangan yang sebagian besar tertutup kabut, Brina berbalik. Ia menatap dua adik tingkatnya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu dengan senyuman hangat. Kemudian, ia berjalan dan duduk di ujung ranjang.
"Udah waktunya makan siang nih. Mau makan apa kalian?" tanyanya. Walau mereka juga membawa camilan yang sempat dibeli di mini market selama perjalanan tadi, tetapi tetap saja yang namanya Brina itu hobinya makan dan makan makanan enak adalah salah satu kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang kegiatan sehari-harinya.
"Gue ngikut deh, nggak terlalu laper sebenarnya," ucap Nina yang memejamkan matanya. Perempuan itu benar-benar menikmati nyamannya rebahan di atas kasur yang empuk ini.
Sudah pasti Brina tahu jika Nina berucap seperti itu, tandanya Nina sedang lapar tetapi berusaha untuk menahannya. Brina menepuk kaki Nina, berniat membangunkan perempuan itu. "Nggak usah diet dulu, Nin. Kita lagi liburan, jadi makan apa aja yang lo pengen. Pokoknya kita harus seru-seruan," ucap Brina.
Winta yang tadinya rebahan, kini langsung duduk dan menatap Nina juga Brina. Ia setuju dengan perkataan Brina barusan. "Benar itu, Nin. Buat apa sih lo diet-diet? Ya maksud gue, jangan lah diet pas lagi liburan gini. Kan gue pengen ngajak lo sama Kak Brina makan bakso, makan seafood, makan steak, makan sate padang, dan makan apa aja yang kita temui di dekat sini. Pasti surga banget deh kalau bisa ketemu makanan yang enak-enak."
Brina mengangguk setuju dengan ucapan Winta. Sementara Nina membuka matanya. Ia memang sedang diet karena menurutnya setiap hari adalah hari dietnya kecuali jika ia benar-benar sedang lapar dan membutuhkan banyak kalori. Nina benar-benar takut dengan berat badannya yang akan naik drastis di saat ia hanya makan sepiring mie goreng atau nasi goreng. Tetapi, bagaimana pun juga ia harus menyadari bahwa saat ini mereka sedang pergi berlibur bersama. Dua orang teman baiknya itu sangat suka makan dan sudah pasti akan ada agenda wisata kuliner. Nina bisa saja menolak, tetapi hal tersebut sudah pasti akan membuat Brina dan Winta kecewa. Nina harus berpikir lagi untuk memilih antara berat badannya atau kebahagiaan mereka ketika liburan. Dan sudah pasti, Nina akan memilih untuk bahagia bersama dengan Brina dan Winta yaitu dengan cara makan apa saja yang mereka inginkan. Hanya dua hari saja selama liburan ini, dan setelahnya Nina akan berjanji untuk kembali berjuang untuk menurunkan dan menjaga berat badannya.
Nina pun bangkit dari rebahannya. Brina dan Winta yang menatapnya, membuat perempuan itu merasa tidak enak jika menolak permintaan mereka. Untung saja Nina sudah berniat untuk ikut mereka makan apa saja yang mereka inginkan.
Nina tersenyum dan mengangguk menatap keduanya. "Iya, gue mau deh makan apa aja sama kalian," ucapnya yang langsung membuat senyum keduanya mengembang. Sedetik kemudian, pelukan hangat dari Brina dan Winta mampu menggetarkan tubuhnya yang diselimuti rasa sejuk.
"Asyik! Akhirnya lo mau makan-makan bebas sepuasnya sama gue, Nin!"
"Nah, gitu dong, Nin. Sekali-kali cheating mah nggak papa. Biar lo tahu rasanya bahagia itu kayak gimana. Bahagia bisa makan semuanya!"
Tidak mau menunggu berlama-lama lagi, mereka bertiga langsung membereskan barang bawaannya. Setelahnya yang akan mereka lakukan adalah pergi mencari makan siang karena perut mereka yang sudah keroncongan saja.
Pilihan mereka ada di restoran hotel. Padahal, di dekat hotel ini menurut ponsel pintarnya ada semacam food court yang pasti terdapat banyak makanan di sana. Sayangnya, hari mendadak hujan cukup deras. Hal yang sangat lucu jika mereka harus menembus hujan demi makan siang. Pada akhirnya mereka mengalah pada ketetapan semesta, yaitu memilih cari aman saja dan makan di restoran hotel juga tidak ada salahnya.
"Kesel banget nggak sih, malah hujan. Padahal kan pengen nyobain cumi bakar." Berbeda dengan Brina dan Winta yang sudah menerima jika mereka memang tidak bisa keluar, Nina masih menggerutu saja dan merasa kesal karena hujan datang.
"Kan masih ada nanti sore, nanti malam, atau besok, Nin. Masih ada banyak waktu. Santai aja. Di resto ini makanannya juga enak-enak kok," kata Winta yang berusaha membuat suasana hati Nina kembali tentram.
Nina masih saja enggan menerima. "Bukan gitu. Kalau makan di sini, menunya ya ini-ini aja. Nggak ada yang spesial. Jadi berasa sia-sia cheating gue." Perempuan itu sampai memanyunkan bibirnya saking kesalnya.
"Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, Nin."
Selanjutnya, Nina tidak meanggapi Winta. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada Brina yang sedari tadi sedang asyik saja bermain dengan ponselnya.
Bukan hanya Nina, tetapi Winta juga merasakan hal yang sama. Perempuan itu pun menyeletuk, "sibuk bales chat siapa sih, Kak? Kak Brian atau Kak Zufar nih?" tanya Winta tanpa aba-aba.
"Kok Kak Zufar?" tanya Nina pada Winta dengan pelan.
Winta hanya menggedikkan bahunya, sementara Brina masih saja mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Jujur saja Nina jadi penasaran, apalagi ketika Winta menyebutkan nama Zufar, membuatnya menjadi berprasangka buruk saja pada perempuan itu. Kemarin, yang ia lihat memang Zufar dan Brina sangat dekat sekali. Nina benar-benar tidak mau berprasangka buruk, tetapi ia juga tetap tidak akan membiarkan jika memang hal tersebut terjadi, Brian, seseorang yang ia sayang akan menjadi sakit hati.