"Kak, emang lo nggak ada rencana gitu sama Kak Brian di weekend ini?"
Ditanya seperti itu ketika Brina sedang menikmati daging steaknya, membuat perempuan itu tidak banyak menanggapi. Brina hanya menggeleng saja tanpa menambahkan ucapan karena mulutnya yang penuh dengan makanan. Sementara Winta yang bertanya dan hanya dijawab seadanya pun tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, walau sebenarnya ia juga sama-sama penasaran dengan hubungan dua primadona kampus itu. Tetapi, Winta tidak mau banyak bertanya, ia takut jika Brina malah curiga mengapa Winta sangat ingin tahu sekali tentang dirinya dan juga Brian, yang di mana sebenarnya tidak ada untungnya juga Winta mengurusi hal tersebut kecuali karena rasa ingin tahunya saja.
"Emang kalau orang pacaran, harus ada waktu bareng-bareng terus ya? Harus keluar bareng tiap weekend?" tanya Nina dengan nada yang menyindir. Sesungguhnya Nina sedikit kesal karena Winta menanyakan hal tersebut pada Brina, karena telah membuat dirinya menjadi teringat dengan Brian. Sudah pasti Nina akan kembali berangan-angan jika dirinya bisa berpacaran dengan Brian, pasti setiap kali ada waktu mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama-sama, tidak peduli ketika weekend atau bahkan weekday sekalipun, mereka akan terus bersama. Sayangnya, itu semua hanyalah angan Nina yang tidak pernah kesampaian sampai saat ini juga.
Brina dan Winta menatap Nina yang terlihat sebal. Mulutnya cemberut walau sembari mengunyah kentang goreng pesanannya. Sementara dua tangannya sibuk memegang pisau dan garpu, berusaha memotong daging steak yang sebenarnya tidak sulit, tetapi karena Nina sudah terlanjur sebal jadi semuanya terlihat sulit. Setelah berhasil ia potong, barulah daging panggang itu masuk ke dalam mulutnya. Nina mengunyah dengan sebal dan ia tidak sadar jika sedari tadi Brina dan Winta sudah menatapnya dengan bingung. Tidak biasanya perempuan itu menekuk wajahnya saat makan makanan lezat ini.
"Nin, udah lah lupain diet. Biar lo makannya bisa sambil senyum. Masa lo makan sambil murung kayak gitu? Emang enak apa?" tanya Winta kemudian. Ia hanya tidak tahu saja jika Nina sebal bukan karena ia memikirkan diet, tetapi ua sedang memikirkan Brian yang muncul dan tidak mau pergi dari pikirannya. Sedangkan Brina, perempuan itu seratus persen yakin jika Brian adalah penyebab Nina murung seperti ini.
"Nin, makan yang nyaman dong. Lo sakit ya? Atau pusing?" tanta Brina yang berbasa-basi walau ia tahu yang sebenarnya, ia tidak mungkin mengatakan apa yang ia pikirkan langsung di hadapan Nina.
Nina hanya menggeleng saja ditanya seperti itu oleh Brina. Selanjutnya perempuan itu menegak habis es jeruk yang bahkan es batunya sudah mencair. "Ih, ini es jeruk atau air es aja dikasih jeruk sih! Mana es batunya kok nggak ada!" gerutu Nina setelah meletakkan gelas yang isinya sudah habis ia tegak di atas meja dengan sedikit kasar, membuat Brina dan Winta nampak terkejut.
"Santai lah, Nin. Lo lagi PMS ya?" tanya Winta menebak-nebak, membuat Nina semakin kesal saja, tetapi Nina tidak mau menanggapi.
Sebenarnya masalah es batu yang mencair ini memang mengesalkan dari dulu, tetapi karena ditambah suasana hati Nina yang memburuk, perempuan itu menjadi semakin kesal saja.
"Tau ah. Resti macam apa yang nyediain es batu tapi mencair!" Nina masih bersungut-sungut. Padahal, es jeruk itu juga telah habis ia tegak.
Brina hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Walau Nina sedang kesal, menurutnya Nina tetaplah Nina yang juga lucu. Brina selalu terhibur jika Nina protes atas makanan atau minuman yang ia pesan. Entah mengapa, itu menjadi hiburan tersendiri bagi Brina.
"Lain kali bawa es batu sendiri aja kalau gitu!" Winta kembali menanggapi dengan serius. Sepertinya ia kepancing kesal juga dengan Nina.
"Ya mana bisa? Mending nggak usah pesen sekalian!" Nina membalas dengan kedua alisnya yang bertaut. Perdebatan pun tidak dapat dihindarkan lagi, sementara Brina hanya senyam senyum saja melihat tingkah mereka berdua dengan melipat kedua tangannya di atas meja.
Setelah puas berdebat, Winta pun menegak air minumnya yang tinggal sedikit. "Ih, nggak dingin."
"Tuh, kan!"
Brina tergelak. Baru saja perdebatan sengit tapi lucu itu selesai, Nina malah mau memulainya lagi.
"Kan gue udah bilang, nggak profesional banget es batunya dikit sampai mencair!" Nina tidak perlu berbisik untuk menyindir pelayanan di restoran ini ketika ada seorang pelayan yang melewati meja mereka. Bahkan ketika Brina memelototinya untuk menegurnya karena dinilai kurang sopan, Nina malah menjadi-jadi. "Kak, ya gimana ya ... gue itu nggak bisa kalau minuman gue udah nggak ada es batunya. Padahal kita belum selesai makan tapi minuman udah nggak nikmat. Ini kita di dataran tinggi, di pegunungan yang harusnya awet es batunya nggak gampang mencair kayak di gunung sahara!"
"Gurun Sahara." Winta yang spontan membenarkan ucapan Nina, spontan membuat perempuan itu mendengkus.
"Udah belum?" tanya Brina kemudian kepada Nina dan Winta. "Ayo balik ke kamar, tidur siang dulu. Biar nanti sore setelah hujannya reda, kita bisa jalan-jalan sampai tengah malam."
"Yah, capek dong kalau dari sore sampai malam kudu jalan kaki," kata Winta yang sok polos, langsung mendapat pukulan dari sendok es di bagian kepalanya oleh Brina dan membuatnya memekik. Aw...!
"Bukan jalan yang jalan kaki, tapi keluar jalan-jalan!"
"Iya, Nin. Iya. Gue tahu. Kan gue bercanda doang!"
"Jangan bercanda dong!"
"Sensi banget sih lo!"
"Biarin!"
Lagi-lagi, Brina hanya bisa menggelengkan kepala. Walau usia dirinya dengan Nina dan Winta hanya terpaut satu tahun saja, tetapi saat ini jelas sekali perbedaannya dan perannya di sini adalah seorang kakak. Brina benar-benar melihat Nina dan Winta seperti adik kecilnya sendiri, menggemaskan.
"Ayo, udah." Sekali lagi, Brina mengajak mereka untuk segera kembali ke kamar hotel.
Sesampainya di kamar, Nina dan Winta tak lagi nampak ribut. Keduanya justru sedang duduk di kursi yang ada di balkon sambil menikmati gerimisnya hujan dengan udara yang sejuk.
Sementara itu, Brina diam-diam mengambil potret mereka berdua. Alasannya simpel, karena Brina ingin mengabadikan seluruh momen yang ada.
"Kak Brina! Kalau mau foto ya bilang dong, kan gue bisa gaya yang keren!"
Akhirnya Brina ketahuan oleh Nina. Lagi-lagi perempuan itu cemberut karena dirinya tidak suka di foto jika tidak sedang bergaya.
"Iya deh, sorry. Sekarang action kalau gitu, biar gue bisa foto yang keren."
Nina pun mulai bergaya. Tidak berlebihan, dirinya masih menatap gerimis dengan tatapan yang indah. Di foto dari samping oleh Brina adalah salah satu kesukaannya karena ia suka dengan angel foto tersebut.
"Gimana, cantik nggak, Kak?"
"Lo selalu cantik, Nin."
Nina pun senyum-senyum sendiri melihat hasil jepretan dari Brina. Selanjutnya, perempuan itu juga ingin mengambil beberapa foto dirinya di sini yang pasti bersama Brina dan Winta juga.
"Win, ayo foto." Jika Winta sudah diajak, Winta tidak akan menolak. "Kak Brina, ayo foto lagi!" Nina sedikit berteriak untuk mengajak Brina berfoto bersama ketika Brina sudah kembali masuk dan duduk di ujung ranjang untuk memainkan ponselnya.
"Ya, bentar!" jawab Brina dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Nina tidak tahu saja apa yang sedang dilakukan Brina, yaitu mengirim foto Nina yang Brina ambil dengan ponselnya kepada Brian. Setelahnya, Brina senyum-senyum sendirian.