Lebih dari dua jam adalah waktu yang sangat lama yang mereka bertiga habiskan untuk tidur siang. Apalagi saat ini mereka sedang liburan dan sedang berada di hotel, menghabiskan waktu untuk tidur sebenarnya adalah hal yang sia-sia apalagi ini adalah tidur siang di mana kegiatan ini bukanlah kebutuhan primer seorang Nina, Brina, dan Winta. Namun, mereka sangat nyenyak sekali tidur siang. Mungkin karena mereka yang cukup lelah dengan keseharian, dan bisa juga karena cuaca yang masih kurang bersahabat yang masih saja turun rintikan hujan walau tidak sederas tadi. Tetapi, bagusnya adalah mereka dapat mengistirahatkan pikirannya sejenak dengan melakukan tidur siang.
"Gue tidur berapa jam sih?" ucap Nina yang menjadi orang terakhir yang bangun. Brina dan Winta sudah asyik mengobrol sembari menonton televisi di siaran kartun Upin dan Ipin. Nina perlu menggaruk kepalanya karena gatal. Rambutnya sukses dibuat berantakan dan wajahnya sangat muka bantal. Melihat Brina dan Winta yang masih mengenakan pakaian yang sama, membuat Nina kembali merebahkan tubuhnya. Perempuan itu juga menarik selimut, selanjutnya ia memutuskan untuk kembali memejamkan matanya.
Winta mengetahui itu. Langsung saja ia beraksi dengan akal tengilnya. Tidak perlu banyak berpikir, perempuan itu langsung menarik selimut yang dipakai Nina sehingga Nina langsung terganggu dari tidur sorenya, ya karena ini sudah sore jadi bukan lagi tidur siang namanya.
"Woi, Nin, bangun! Lo mau ikut apa enggak sih. Kita dari tadi nungguin lo bangun loh!" ucap Winta sekenanya. Padahal saat ini Brina dan Winta belum memutuskan untuk pergi ke mana pun karena memang hari yang masih hujan. Winta terpaksa mengatakan hal tersebut karena ia sudah lelah sendiri melihat Nina dengan tidurnya yang cukup panjang. Padahal kali ini mereka sedang berlibur bertiga, tidak sepantasnya Nina hanya menghabiskan waktunya untuk tidur. Mereka bisa saja pergi keluar dan bermain hujan, atau mungkin sekadar mengobrol di tengah rintikan air yang jatuh dari langit.
Nina hanya membuka matanya, tetapi masih tersipit-sipit. "Apa sih, Win? Mau ke mana?" tanyanya dengan suara rendah khas orang yang baru bangun tidur dan masih mengantuk.
"Udah jam empat sore, Nin. Jangan tidur mulu, ntar lo jadi makin gendut!"
Mendengar hal tersebut, Nina langsung membuka kedua matanya dan ia langsung duduk. Ia menoleh pada cermin yang menempel di dinding di samping ranjangnya untuk mengecek apakah wajahnya baik-baik saja karena siang tadi ia memang hanya makan steak tetapi dengan menu pendamping kentang yang digoreng adalah dosa besar bagi dirinya walau sedang tidak diet.
"Masih cantik, Nin." Brina pun menanggapi. "Udah sana, lo mandi duluan gih. Nanti kalau udah reda kita tinggal berangkat."
Nina menoleh pada Brina dan Winta. "Emang kalian udah mandi?" tanyanya dengan polos, yang langsung diberi gelengan oleh Brina dan Winta.
Nina pun meniup rambut yang menutupi wajahnya. "Lo duluan aja deh, Kak. Badan gue kayak sedikit anget nih. Harus nunggu beberapa menit dulu biar efek tidur siang yang kelaman ini berkurang." Nina memang seperti ini. Jika dirinya terlalu lama tidur siang, maka suhu tubuhnya akan naik alias ia akan merasakan meriang. Jadi, sangat tidak memungkinkan jika setelah bangun tidur perempuan itu langsung mandi.
"Perlu obat nggak?" tanya Brina kemudia.
Nina menggeleng sembari memijat lehernya yang juga terasa linu.
Berbeda dengan Brina, sikap Winta memang perhatian tetapi khas sekali emak-emak Indonesia. "Makanya, udah dibilangin jangan tidur siang terlalu lama. Ini lo malah ngeyel. Meriangkan jadinya?"
Nina membuang napas. Ia menatap Winta dengan datar di mana perempuan itu bersikap seolah-olah dia adalah ibunya. "Iya, terus sekarang apa?" Nina menantang meminta jawaban.
"Ya udah. Ya mau gimana lagi?" jawab Winta yang tidak memberikan solusi, membuat Nina memutar bola matanya.
"Solusinya lo yang mandi duluan, Win," celetuk Brina yang berupaya menengahi. Entah karena ia yang paling tua di sini atau karena perkataannya sungguh ajaib, Nina dan Winta menyetujui hal tersebut.
"Habis Winta selesai mandi, gue yang mandi. Lo sekarang duduk dulu sini," kata Brina yang menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta Brina agar tidak hanya di tempat tidur saja. "Lo duduk sambil nonton tv, jangan selimutan. Gue bikinin teh deh bentar." Saking perhatiannya, Brina sampai membuatkan Nina teh. Yah, memang seperti itu perempuan kekasih Brian. Sangat perhatian kepada siapapun termasuk dirinya. Brina sangat perhatian dengan detail kecil. Ia mampu mengobati setiap Nina merasa sedih bahkan meriang seperti ini. Pantas saja Brian terlihat sangat menyayangi Brina, ditambah orang-orang yang ada di kampus juga selalu memandang Brina dengan pandangan yang sedikit lebih tinggi dari dirinya karena Brina memang di atas mahasiswa biasa kedudukannya.
"Kak," ucap Nina yang perkataannya itu menghentikan Brina menyeduh secangkir teh.
"Apa?" Brina menoleh.
"Gulanya dikit aja. Setengah sachet aja ya," katanya diakhiri deretan giginya yang ia pamerkan.
"Hm ...."
"Manja lo!" Winta menyeletuk. Bersikap sombong di hadapan Nina sambil berjalan ke kamar mandi.
"Apa lo? Iri?" Balasan Nina pun juga tidak mau kalah. Rasa-rasanya mereka sudah seperti sahabat dekat saja.
Tidak ada lima menit, teh yang dibuatkan Brina untuk Nina sudah tersaji di hadapan perempuan itu. Nina meringis menatap Brina untuk mengucapkan terima kasih. "Kak, makasih ya tehnya," katanya sembari tangannya memegang cangkir yang cukup panas, untuk menghangatkan tubuhnya.
Brina hanya mengangguk, kemudian beralih lagi fokusnya pada ponsel. Seketika ia senyum-senyum sendiri menatap ponselnya.
"Pantas aja Kak Brian kayaknya jatuh cinta banget sama lo, sayang banget sama lo, soalnya lo selalu perhatian. Gue yakin sih lo perhatian banget sama Kak Brian."
Bahkan, saking Brina fokus pada ponselnya, perkataan Nina tidak ia gubris.
"Kak?"
"..."
"Kak?" Nina pun menyenggol bahu Brina.
"Eh, iya? Apa, Nin?" tanya Brina yang terkejut.
Nina pun memincingkan matanya. "Lo lagi chattingan sama Kak Brian ya sampai senyum-senyum kayak gitu dan bahkan omongan gue nggak lo tanggepin, cie ... chatting tentang apa sih? Kepo dong?!" Saking ingin tahunya, walau hanya bercanda, Nina sampai mengintip-intip layar ponsel Brina.
Perempuan itu menghindar dan menyembunyikan ponselnya dalam dekapan dadanya. "Eits ... anak kecil nggak boleh kepo ya."
"Ye ... gue sama lo juga cuma beda setahun, Kak."
"Sama aja, itu namanya lo lebih muda dari gue. Berhubung gue ini awet muda, makanya gue malah yang kelihatan muda," celetukan Brina membuat Nina tergelak.
"Eh pede banget lo, Kak!" Nina pun meletakkan cangkirnya di atas meja.
Ia berniat untuk menggelitiki Brina, tetapi niatnya terhenti karena pertanyaan Brina.
"Nin, lo masih blokir nomor Brian? Kenapa nggak lo unblokir? Bukannya semuanya bisa dibilang udah baik-baik aja ya?"
Nina terdiam beberapa saat. Iya, memang, semua kondisi di kampus atas berita yang sempat beredar kini mulai reda. Tetapi tetap saja, ia belum bisa kembali berkomunikasi dengan Brian seperti sebelumnya walau ia sangat menginginkannya. Nina benar-benar berusaha untuk tetap mencintai Brian walau tanpa komunikasi seperti dahulu, agar semuanya juga baik-baik saja.