Pesan Makanan

1330 Kata
Setelah magrib, Brina dan Winta sudah rapih dengan pakaiannya yang siap untuk membawa mereka keluar jalan-jalan menikmati hawa siang hari dan membeli banyak makanan ringan. Namun, Nina masih meringkuk di atas kursi dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya pun terpejam dan wajahnya terlihat pucat. "Ah, lo nggak asik ah, Nin. Diajak liburan malah sakit gini." Winta menghampiri Nina. Walau ia mengomel karena Nina yang malah sakit, tetapi perempuan itu tetap perhatian pada Nina. Ia m ngecek suhu tubuh Nina dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Nina. "Agak anget sih, Nin," ucapnya kemudian. "Nanti gue beliin wedang jahe, diminum ya, Nin." Brina berucap ketika ia masih sibuk dengan rambutnya yang ia kuncir kuda. Namun, Nina malah menggeleng. "Enggak usah, Kak. Kan udah minum teh anget." "Ya biar lebih anget lah, Nin," celetuk Winta. "Lo jangan rewel deh kalo lagi sakit. Nurut aja kenapa!" Mendengar Winta yang mengomeli Nina, membuat Brina mengembuskan napasnya. Ia menatap dua perempuan itu dengan menggelengkan kepalanya. Sejenak, ia merasa terenyuh karena sebelumnya belum pernah melihat adegan seperti ini. "Nggak mau, pokoknya gue nggak mau wedang jahe!" Nina tetap tidak mau dibawakan wedang jahe. Padahal, ia cukup menyukai minuman itu. "Gue maunya angsle!" katanya selanjutnya, membuat Winta memutar bola matanya malas. "Gue titip angsle ya, Win?" "Tapi angsle ada santannya nggak sih, Nin? Lo kan lagi sakit, masa konsumsi santan?" "Kan gue meriang aja, bukan batuk atau pilek, jadi ya nggak masalah kalau makan angsle." Winta kembali menggeleng. "Nggak boleh, Nin. Kemanisan juga." Nina pun beralih menatap bayangan Brina di cermin. "Kak Brina ...." Brina berbalik. "Iya, nanti gue bawain angsle, Nin." Nina langsung merekahkan senyumnya. "Awww, Kak Brina kan baik, nggak kayak lo!" katanya yang menyindir Winta. "Tapi syaratnya harus langsung sembuh ya, Nin. Besok biar kita bisa jalan." Brina menambahi, sementara Nina mengangkat dua jempolnya. "Siap, Kak." "Nanti kalau kemalaman, gue minta staf hotel buat nganterin ke sini. Di depan ada yang jualan angsle kayaknya, jadi biar nggak bolak-balik. Nggak papa kan, Nin?" "Nggak papa, Kak. Yang penting ada angsle aja. Udah lama banget tahu gue nggak makan angsle. Terakhir pas malam-malam kita nonton teater setahun yang lalu nggak sih, Win?" Nina beralih pada Winta. Tetapi perempuan itu hanya menggedikkan bahunya. "Lupa gue," jawabnya dengan singkat. "Cie .... marah lo?" "Biarin lah, dikasih tahu kalo sakit nggak boleh makan santan. Masih ngeyel!" Rupanya Winta masih ngambek persoalan santan yang ada di angsle. Nina pun langsung memeluk Winta. Padahal biasanya ia sangat anti dengan pelukan semacam ini. "Nggak papa, Winta. Perut gue bisa nerima apapun kok. Lo nggak usah khawatir gitu dong sama gue." "Jangan peluk gue, nanti gue ketularan!" kata Winta yang berusaha melepaskan pelukan hangat yang benar-benar hangat karena suhu tubuh Nina yang naik. Bukannya melepaskan, Nina malah memeluk Winta dengan erat. "Nggak mau lepasin ah!" "Ninaaaaaaa, baju gue nanti kusut!!" teriak Winta, masih dengan mencoba melepaskan pelukan itu. Setelahnya, mereka berpamitan pada Nina. "Kita berangkat dulu ya, Nin. Lo mau dibawain apalagi selain angsle?" tanya Brina. Nina berpikir sejenak. Sejujurnya sejak makan siang tadi, perutnya sudah keroncongan, tetapi ia tetap harus mengontrol nafsu makannya apalagi hari sudah malam. Namun, yang namanya Nina itu memang suka diet sekaligus suka makan, apalagi katanya di dekat hotel ini ada food court yang menjual berbagai makanan. "Lo tau gurita yang dibakar nggak, Kak? Gue mau itu satu dong, sama sosis bakarnya juga satu, terus sama corndog juga satu," ucap Nina setelah berpikir beberapa saat. "Tambah jasuke juga satu, Kak, bilang aja jagung sama s**u sama kejunya banyakan terus bubuk baladonya banyakan-" "Alias porsi jumbo," celetuk Winta memotong perkataan Nina. Perempuan itu sampai memutar hola matanya saking ada banyak yang diminta Nina. "Katanya diet, tapi kok pesen banyak!" ucapnya kemudian, Nina hanya meringis saja. Sementara itu, Brina mendengarkan sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya. Entah itu apa, mungkin saja ia sedang mencatat pesanan Nina. "Itu aja, Nin?" tanya Brina. Winta menyeletuk ketika Nina kembali berpikir. "Ada lagi?" Nina mengangguk. "Kayaknya gue juga mau mini crab yang digoreng terus dikasih bumbu bubuk itu, Kak." "Ya ampun, Nina. Itu kan digoreng. Lo yakin makan gorengan kayak gitu malam-malam?" Winta tidak habis pikir dengan pesanan Nina yang sangat banyak. "Lo yakin bisa habisin semuanya?" Nina pun mengangguk lagi. "Iya, gue bisa kok habisin semuanya. Apalagi kalau titipan gue datangnya nggak terlalu malam." Nina meringis di akhir ucapannya. "Terus, lo pikir kita berdua bakal pergi buat ngebeliin lo makanan terus balik lagi ke sini?" Winta sudah bersungut-sungut saja, sementara Nina menjawab dengan santainya. "Ya kalau mau ya nggak papa." Rasanya, Winta benar-benar ingin mencekik Nina saja. "Emang lo siapanya gue, hah?" Nina memasang wajah yang sok imut. "Cahabat acuuuu!" katanya yang juga dengan suara diimut-imutkan, lalu memeluk Winta yang membuat perempuan itu kembali mengerang. "Lepasin, Nin!" "Jadi, lo tadi mau angsle, gurita, sosis, corndog, jasuke porsi jumbo, sama mini crab?" Brina membaca layar ponselnya yang berisi pesanan Nina. Setelah mendengarkan, Nina mengangguk. "Betul banget, Kak. Cukup itu aja." Winta mengulang kalimat Nina dengan nada mengejek. "Cukup itu aja." "Oke. Nanti angslenya yang datang duluan kalau ada di depan, yang lain nyusul ya." Nina mengacungkan kedua jempolnya. "Siap. Makasih, Kak Brina!" Ia juga melirik menatap Winta. "Maacih, Winta tayanggggg," ucapnya yang masih dengan nada imut. "Serah lo!" Winta berbalik untuk mengambil tasnya. Sebelum pergi, Brina menyempatkan untuk mengecek suhu tubuh Nina. "Oh, udah nggak seanget tadi. Semoga lo besok udah benar-benar fit, biar kita bisa pergi bareng. Masa udah jauh-jauh ke sini lo malah sakit." "Iya deh iya, Kak. Sorry, gue yang emang kelamaan tidur siang jadi pas bangun malah meriang. Tapi gue janji deh, nggak bakal sakit lagi setelah makan nanti." Setelah berucap, Nina memamerkan deretan giginya. "Awas aja kalo lo masih sakit!" Yang berucap adalah Winta, mengancam Nina supaya segera sembuh. -- Suasana di dalam kamar hotel mendadak sepi karena Brina dan Winta sudah pergi barusan. Nina sebenarnya sangat ingin ikut, tetapi ia sadar jika ia ikut maka ia akan lebih banyak makan. Sebenarnya juga, tubuhnya meriang tetapi masih kuat untuk jalan, hanya saja memang kembali ke alasan awal jika ia takut kalap ingin membeli semuanya. Nina hanya bisa duduk santai masih dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Televisi juga menyala-nyala menampilkan sinetron entah apa, sebelumnya Nina belum pernah menontonnya tetapi cukup seru. Ia pun hanya menghabiskan waktunya di depan televisi sembari menunggu Brina dan Winta datang membawa makanan dan ah ... Nina lupa jika angsle pesanannya seharusnya akan segera tiba karena Brina berkata akan membeli angsle terlebih dahulu dan menitipkan kepada staf hotel untuk mengantarkan ke kamar mereka. Nina mengecek ponselnya, baru lima menit yang lalu Brina dan Winta pergi, tetapi ia merasakan kesepian sekali. Untungnya Nina tidak takut berada di dalam kamar hotel sendirian, padahal biasanya ia akan takut dan berpikir macam-macam. Ketika sedang asyik menonton televisi, Nina dikejutkan dengan suara pintu yang diketuk. Ia pun bergegas bangkit tanpa melepaskan selimut yang menempel di tubuhnya. Ia tidak mau repot-repot menata rambutnya dan penampilannya karena ia yakin sekali jika yang mengetuk pintu adalah staf yang mengirimkan angsle pesanannya. Atau mungkin itu adalah Brina dan Winta yang mengantarkan langsung angsle pesanannya, tetapi itu terlalu tidak mungkin. Winta pasti enggan untuk kembali ke hotel hanya untuk mengantarkan angsle untuk dirinya. Pintu kembali di ketuk, padahal Nina sedang berusaha memakai sandal hotelnya. Maklum saja, lantai di sini sungguh terasa dingin hingga kakinya merasa tidak kuat. "Sebetar!" teriak Nina yang pintunya kembali di ketuk. Setelah sampai di belakang pintu, Nina langsung membukanya tanpa bertanya dahulu siapa yang datang. Mungkin ini memang jadi satu kesalahannya yang tidak menanyakan tentang siapa yang ada di luar sana. Nina langsung membuka pintu dan ia dikejutkan dengan orang yang ada di hadapannya saat ini. Tubuh Nina jadi membeku. Yang awalnya ia merasa tidak enak badan dan meriang, kali ini ia kembali merasakan tubuhya yang semakin terasa tidak nyaman saja ditambah keringat dingin yang mengalir di seluruh tubuhnya. Ia menatap dua mata indah itu setelah beberapa hari. Senyumnya masih sama, menawan yang selalu membuat Nina ingin pingsan. "Hallo, Na." Setelahnya, Nina benar-benar dibuat ambruk ke lantai, kesadarannya hilang, dan dirinya benar-benar pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN