Kehadiran Brian dan Nina Yang Sadar

1093 Kata
Nina merasakan sesuatu yang dingin yang menempel di dahinya. Perempuan itu pun membuka matanya dan mengambil benda apa yang telah membuatnya merasa tidak nyaman. Ternyata ada sebuah sapu tangan kecil yang dilipat dan dibasahi dengan air. Nina tahu, bukan orang iseng yang melakukan ini, tetapi orang yang peduli kepadanya lah yang telah melakukannya. Sapu tangan yang dilipat dan dibasahi itu jelas sekali adalah untuk mengompres dirinya. Nina sadar jika ia sempat pingsan saat membuka pintu kamar hotel, yang Nina kira staff hotel yang datang untuk mengantarkan angsle pesanannya pada Brina, tetapi rupanya yang muncul di hadapannya adalah Brian. Nina benar-benar masih belum bisa mempercayai hal itu, tetapi saat ini laki-laki itu sedang duduk di samping ranjang tempatnya berbaring. Laki-laki-laki itu belum menyadari jika Nina sudah bangun. Ia malah sibuk duduk sembari memejamkan mata, mungkin saja dia sedang tertidur. "Kak Brian ..." panggil Nina perlahan. Ia juga sudah duduk dari posisinya yang sebelumnya adalah berbaring. Brian masih terlelap saja dari tidurnya, membuat Nina tidak tega jika harus melihat Brian tidur tetapi dalam posisi duduk seperti ini. Sejenak, ia melirik ke arah jam dinding yang rupanya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pantas saja jika Brian mengantuk menunggu dirinya yang bangun dari pingsannya, karena jika dihitung Nina sudah pingsan selama lima jam. Entah Nina yang benar-benar pingsan selama itu, atau ia memperpanjang waktunya untuk tidur lagi.  Nina melihat di sekitar kamar ini. Masih sepi, tidak ada tanda-tanda ada Brina dan Winta. Apakah mereka belum pulang? Tunggu. Lalu, kenapa Brian bisa ada di sini padahal Brina dan Winta belum pulang?  Pandangan Nina kemudian tercuri ke sebuah bungkusan berkantong plastik bening, apalagi kalau bukan angsle. Aromanya juga tercium sangat harum. Seketika membuat Nina menggeleng tidak percaya. Tidak mungkin jika Brian membawakannya angsle, ditambah sangat tidak mungkin jika Brina lah yang meminta Brian untuk mengantarkan angsle kepada dirinya.  Nina melihat Brian masih nyenyak dalam tidur di posisi duduknya. Ia langsung mencari-cari ponselnya yang rupanya ada di samping televisi, membuatnya harus bangkit dan berjalan untuk mengambilnya. Nina sedikit kesusahan, pasalnya ia harus bergerak dengan pelan supaya tidak membangunkan Brian.  Setelah berjuang beberapa detik, akhirnya Nina bisa turun juga dari ranjang dan pergi untuk mengambil ponselnya. Dirinya sedikit terkejut, karena kepalanya yang mendadak pusing ketika ia gunakan untuk berdiri. Nina hampir oleng, tidak bisa menjaga keseimbangan, tetapi perlahan ia melakukannya dan akhirnya bisa.  Nina mencoba menghubungi Brina, tetapi sayang sekali perempuan itu sedang tidak mengaktifkan data selulernya hingga pesan yang Nina kirim tidak langsung Brina terima.  Perempuan itu menengok lagi pada sosok tinggi tegap yang tengah nyenyak itu. Ia masih tidak habis pikir Brian ada di sini sejak tadi setelah magrib. Nina tidak memiliki pikiran buruk apapun itu, karena Nina yakin Brian adalah orang baik. Yang menjadi beban bagi Nina untuk berpikir adalah bagaimana Brian bisa sampai di sini, merawatnya dengan memberikan kompresan, dan menunggunya hingga ia sendiri tertidur.  Nina pun berjalan mendekatin Brian. Kali ini ia sedang tidak memakai sandalnya, sudah pasti telapak kakinya terasa dingin sekali menginjak lantai hotel ini.  "Kak Brian?" ucap Nina perlahan.  Tidak ada respon, Brian masih tertidur. Bisa-bisanya laki-laki itu tidur sambil menunduk dan duduk, terlihat seperti orang yang sedang kelelahan sekali.  "Kak ...." Kali ini Nina menoel lengan Brian, berharap ada respon dari laki-laki itu. "Kak Brian, bangun ...." Nina benar-benar sangat berhati-hati. Ia ingin membangunkan Brian, tetapi tidak ingin sampai mengejutkannya.  "Kak Brian ...." Brian pun mengerjap. Kepalanya langsung ia angkat begitu matanya terbuka. "Ah, Nina?" ucapnya melihat Nina yang sudah berdiri saja di sampingnya, padahal tadi perempuan itu sedang tidak sadarkan diri dan ia membawa ke atas ranjang. "Kamu udah sadar?" tanya Brian kemudian.  Nina mengangguk pelan, merasa canggung dengan situasi yang ada. Brian juga sama saja, merasa bingung dengan situasi kali ini. "Kak Brian-" "Na-" Mereka berdua berucap bersamaaan lalu terdiam, semakin membuat suasana menjadi semakin canggung saja.  "Kamu dulu, Na." Nina mengangguk. Tanpa basa-basi lagi ia bertanya, "Kak Brian kok bisa ada di sini?"  Brian sudah menduga jika pertanyaan itulah yang akan dilontarkan oleh Nina. Seharusnya ia sudah menyiapkan jawaban itu sejak awal, tetapi entah mengapa ia menjadi merasa gugup. Brian hanya diam saja, seperti seseorang yang tengah mencari-cari alasan. "Kak Brian kok bisa tahu kalau aku lagi di hotel ini? Ah, kenapa juga bisa tahu kalau aku lagi pesen angsle?" Semakin pertanyaan Nina tidak Brian jawab, semakin menambah saja pertanyaan itu dan akan semakin susah bagi Brian untuk menjawabnya, karena bagaimana pun juga Brian perlu merangkai jawaban hingga terdengar wajar. "Kak Brian?"  Brian tergelak. "Eh iya, Na?" Nina bisa membaca ekspresi Brian yang kebingungan. "Kak Brian nggak papa?" Brian pun menggeleng. "Ah, nggak papa. Kamu masih pusing kah? Atau demam kamu gimana? Tadi badan kamu panas, jadi aku kompres pakai air dingin." Sangat kentara sekali jika Brian berusaha mengalihkan pembicaraan.  "Makasih, Kak, udah ngerawat aku." Nina tidak lupa untuk berucap terima kasih. "Aku udah nggak papa, walau masih rada pusing."  "Demam kamu gimana?" tanyanya dengan reflek bangkit dari duduknya dan mengecek suhu tubuh Nina dengan menempelkan punggung tangannya di dahi perempuan itu.  Kedua pipi Nina langsung memanas. Ia gemetaran diperlakukan seperti itu oleh Brian. Kali ini jarak tubuhnya dan Brian hanya sekitar beberapa senti saja, bahkan perempuan itu bisa merasakan embusan napas Brian.  Syukurlah, Nina langsung tersadar dan mundur satu langkah menjauh dari Brian, membuat laki-laki itu kebingungan. "Maaf, Kak," kata Nina. "Kak, Kak Brina yang nyuruh Kak Brian ke sini?" Ia langsung bertanya lagi. Dirinya tidak suka menunggu jawaban terlalu lama.  Akhirnya Brian mengangguk. "Iya, Na." "Kok bisa?" Nina semakin bingung saja. Bisa-bisanya Brina menyuruh kekasihnya itu mengantarkan angsle kepada perempuan lain, di hotel pula. Harusnya, Brina sangat menghindari itu. Karena bagaimana pun juga, logikanya, seorang kekasih tidak akan membiarkan kekasihnya menemui orang lain di kamar hotel. Brian nampak mencari-cari jawaban. Nina paham betul dengan hanya melihat wajah Briam yang sedikit kebingungan. "Kak Brian, jangan cari alasan ya. Aku pengen jawaban jujur," kata Nina, langsung membuat laki-laki itu menatap dirinya.  "Iya, Na. Brina yang nyuruh aku buat anterin angsle ke kamu," kata Brian. Nina tidak menyangka jika Brian berkata dengan jujur. Setelah dipikir-pikir, mungkin saja memang sebenarnya Brian ingin bertemu dengan Brina, tetapi sebelum itu Brina meminta Brian untuk mengantarkan angsle terlebih dahulu untuknya, dan tiba-tiba saja Nina pingsan yang membuat Brian harus merawatnya sekitar lima jam.  "Kak Brina mana?" tanya Nina kemudian. Karena jika memang benar apa yang dikatakan Brian, setidaknya laki-laki itu harus menghubungi Brina dan seharusnya juga Brina dan Winta sudah ada di sini karena Nina yang sakit. Tetapi, nyatanya sampai hampir tengah malam begini mereka berdua malah belum menunjukkan batang hidungnya.  "Ah, Brina lagi ...." Kentara sekali jika Brian tengah berpikir untuk mencari alasan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN