Winta tidak pernah menyangka jika Brina bukan hanya suka makan, tetapi porsi makannya pun tidak pernah ia bayangkan. Sejak tadi, Brina masih terus mengajak dirinya untuk mencicipi satu per satu makanan yang ada di food court ini. Mulai dari sate-satean forzen food, cumi bakar, gurita bakar, bakso, sempol, leker, jasuke, dan masih banyak lagi makanan yang ada di sini. Pokoknya jika disebutkan satu per satu tidak akan selesai-selesai.
"Eh, itu ada lontong kupang, Win!" kata Brina dengan excitednya. "Kupang itu apa sih, Win?" Rupanya Brina tidak mengetahui makanan jenis apa yang membuatnya sangat penasaran itu. "Ayo nyoba!" Brina kembali menarik tangan Winta dan mengajaknya ke sana.
Jelas saja Winta hanya bisa pasrah. Jelas juga perut Winta serasa tidak ada ruang lagi bahkan untuk mengisi udara. Rasanya Winta sungguh kenyang dan ingin rebahan saja, tetapi apa daya Brina yang masih betah berlama-lama di tempat yang lumayan mahal untuk seukuran food court di pinggir jalan alias street food. Tetapi jangan diherankan, karena di sini merupakan tempat wisata jadi banyak sekali turis lokal yang rela jauh-jauh ke sini hanya untuk bisa makan makanan yang padahal bisa ditemui di tempat lain. Ah, selain menjual makanan, di sini juga menjual suasana sejuk khas pegunungan.
"Kak," ucap Winta yang membuat langkah keduanya terhenti. "Lo yakin masih mau makan lagi? Lontong kupang? Lo tahu lontong itu apaan kan, Kak?"
"Lontong? Lontong ya lontong, Win. Nasi yang dimasak pakai daun pisang terus bentuknya lonjong. Masa lo nggak ngerti?" Rupanya Brina memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Winta.
"Bukan gitu, Kak. Maksud gue, perut lo segede apa sih, Kak, dari tadi nggak berhenti makan dan malah lo bakal makan lontong kupang."
"Nggak sama lontongnya, Win. Kita coba tanpa lontong aja yuk!" Tidak peduli dengan kode yang diberikan Winta, Brina tetap mengajak mencicipi menu lontong kupang yang baru saja ia dengar hari ini.
Winta pasrah saja. Semakin ia berdebat dengan Brina, mungkin akan semakin lama lagi waktu mereka untuk kembali ke hotel. Toh kali ini mereka sedang berlibur dan tidak setiap hari bisa merasakan suasana seperti ini.
"Lo mau nggak, Win?" tanya Brina sebelum memesan. Sementara Winta menanggapi dengan gelengan. Brina pun beralih ke penjual lontong kupang tersebut untuk memesan makanannya. "Bu, mau satu porsi tapi lontongnya tiga potong aja ya," katanya. Winta yang mendengar itu dibuat geleng-geleng kepala.
Cukup menunggu beberapa detik saja, pesanan Brina sudah tersaji di hadapannya. Satu piring makanan dengan visual yang unik sempat membuat Brina ragu untuk mencicipinya karena tampilan yang Brina sendiri sebenarnya kurang yakin kalau makanan ini akan cocok di lidahnya. Butuh beberapa menit untuk Brina meyakinkan dirinya bahwa makanan dengan kerang dan lontong hang disiram kuah ini memiliki cita rasa yang lezat.
"Kok nggak dimakan?" tanya Winta, penasaran mengapa Brina masih diam saja padahal pesanannya sudah ada di hadapannya.
Brina meyakinkan dirinya untuk kesekian kalinya. Perlahan ia mengangkat sendok dan mengambil sedikit kuah. Perlu banyak-banyak berdoa, berharap tidak ada rasa amis seperti yang ia bayangkan. Ketika sedikit kuah dalam sendok itu berhasil masuk ke dalam mulutnya dan meresap dalam lidahnya, membuat kedua mata Brina membulat. Unik. Rasanya sama sekali tidak ada yang aneh, justru cenderung ke gurih dan segar.
"Winta, ini enak loh!" ucap Brina, yang kemudian memgambil lebih banyak suapan lagi untuk masuk ke dalam mulutnya. "Lo udah pernah cobain? Kalau belum, cobain deh, Win!" Kemudian Brina menggeser piringnya.
Sebenarnya Winta juga penasaran karena dibalik visualnya yang tidak menggoda, kata Brina makanan ini enak rasanya. Ia pun tidak mau melewatkan kesempatan ini walau perutnya sudah penuh. Ia mengambil sedikit kuah beserta kerang kupang yang sudah dikupas, jadi tinggal lahap saja. Perlu beberapa detik untuk meyakinkan lidahnya bahwa makanan ini memang unik rasanya, gurih dan juga segar. Lontong kupang bukan tipe makanan kesukaan Winta karena perempuan itu tidak terlalu suka olahan seafood seperti ini, tetapi masih bisa diterima di lidahnya. Ia tidak terlalu menunjukkan ekspresinya setelah makan lontong kupang ini pada Brina.
"Gimana, enak kan?" tanya Brina, menunggu respon dari Winta yang sedang menegak air mineralnya.
Winta tidak menggeleng, tetapi juga tidak mengangguk. "Bisa dimakan, cuma bukan tipe makanan yang bakal gue beli, Kak. Tahu sendiri gue kurang suka sama seafood dikasih kuah bening kayak gini. Gue lebih suka dikasih saus padang atau asam manis sih, Kak," katanya menjelaskan kesukaaannya.
Brina hanya mengangguk saja. Kemudian ia kembali untuk menyantap habis lontong kupang ini walau perutnya juga sudah merasa penuh, tetapi Brina masih sanggup untuk menghabiskannya.
"Habis ini langsung balik ke hotel yuk, Kak. Udah jam setengah dua belas malam loh ini. Kasihan Nina nggak ada temannya."
"Nina ada temannya kok."
Sial. Brina keceplosan. Sontak saja Winta merasa aneh dengan pendengarannya setelah Brina mengatakan hal tersebut. "Apa, Kak? Teman apa? Lo jangan ngada-ngada deh, Kak!" Bukannya bertanya siapa yang menemani Nina, Winta malah nampak ketakutan. Sepertinya perempuan itu salah sangka tentang teman yang dimaksud Brina. Winta malah menangkap ucapan Brina dengan makhluk halus yang menjadi teman Nina di hotel.
Meninggalkan Nina yang ditemani Brian berduaan saja di hotel mungkin bukanlah ide yang bagus. Apapun bisa terjadi di antara mereka berdua termasuk hal-hal buruk sekalipun. Bagaimana pun juga Nina dan Brian adalah dua manusia yang sudah menginjak usia dewasa dan hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi kapan saja. Namun, Brina memang kelewat percaya dengan kakaknya itu bahwa ia yakin Brian tidak melakukan hal-hal di luar batasan. Brina sangat yakin, makanya ia sempat meminta Brian untuk datang ke hotel dan mengantarkan angsle untuk Nina. Satu tujuan Brina yaitu, ia ingin Nina menjalin hubungan yang lebih baik dengan Brian seperti beberapa waktu yang lalu. Kebetulan juga Nina sedang tidak enak badan dan Brian adalah orang yang selalu menjadi obat ketika Brina sakit. Siapa tahu, kehadiran Brian untuk merawat dan menemani Nina bisa membuat hati Nina kembali luluh, walau Brina sadar jika perasaan Nina pada Brian tetap sama. Semoga saja setelah ini, Nina dan Brian kembali berbaikan dan tidak ada lagi rasa canggung di antara keduanya.
Brina dibuat bengong karena memikirkan Nina dan Brian. Tidak heran jika Winta dibuat bingung dengan itu.
"Kak, lo kenapa? Lo bukan anak indigo yang bisa lihat setan kan? Di hotel nggak ada setan kan, Kak?" Winta sudah kalang kabut saja. Ia khawatir dengan makhluk-makhluk yang tak kasat mata yang mungkin menjadi penghuni hotel tempatnya menginap. "Kak, Nina gimana? Aman nggak? Atau kita pindah aja cari hotel yang lain?"
Brina masih diam saja, tidak mendengar ucapan Winta.
"Kak!"
"Hah?"
"Ih, kok lo malah bengong? Lo beneran bisa lihat setan?"
"Apaan sih, Win. Kan emang kita hidup berdampingan sama mereka. Nggak usah kaget deh!"
Jangan sampai ketika mereka pulang, Brian masih ada di hotel. Brina harus segera menghubungi Brian, karena terakhir Brian mengabari bahwa Nina sempat pingsan. Brina khawatir, jelas saja, tetapi ia juga tahu jika Brian pandai dalam segala hal termasuk mengurus orang yang sedang pingsan. Walau Brian belum mengabarinya lagi, tetapi ia tetap tenang. Dan hal tersebut juga menjadi tanda bahwa Brian masih bersama dengan Nina karena laki-laki itu belum mengabarinya bahwa ia telah pergi meninggalkan hotel.
"Gue tanya Nina dulu deh ya, gue jadi khawatir."