Lewat Tengah Malam

1091 Kata
Brina berhasil dibuat mengembuskan napas lelah ketika ia belum juga menerima pesan dari Brian. Kali ini sudah lewat jam dua belas malam dan dirinya bersama Winta masih berada di sini, di sebuah food court yang sangat terkenal di Kota Batu. Satu per satu konter makanan mulai tutup dan pengunjung mulai berkurang, tetapi keduanya masih betah saja di sini. Ah, ralat, tetapi Brina lah yang memaksa Winta untuk tetap di sini sampai beberapa saat lagi. Alasannya satu, yaitu Brina masih ingin mencoba satu menu lagi. Padahal perutnya sendiri juga sudah penuh. Tetapi, apa boleh buat, sebelum ia mendapatkan pesan dari Brian, ia tidak boelh kembali ke hotel. Perempuan itu tidak mau jika Winta tahu tentang kehadiran Brian ke hotel untuk menemui Nina. Sekali lagi, Brina percaya kepada kakaknya itu. Jadi, ia tidak akan khawatir jika terjadi sesuatu pada Nina.  "Sorry, Kak. Itu perut apa gentong sih? Kok banyak banget yang lo makan, tapi lo nggak kenyang-kenyang? Jangan-jangan lo cacingan ya?" Winta benar-benar tidak percaya jika Brina masih saja mampu mengunyah kerak telor yang baru saja diangkat dari wajan. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan juga telur bebek itu bahkan masih mengepul ketika Brina menggigitnya, tetapi Brina sama sekali tidak merasa kepanasan. Lagi-lagi, membuat Winta terheran-heran.  Brina hampir tersedak ketika Winta mengatakan bahwa dirinya cacingan. Ia langsung meletakkan kerak telurnya dan beralih untuk menegak air mineral yang ia bawa kemana-mana. Jelas sekali menu minuman yang Brina pilih adalah air mineral, karena ia tidak mau cepat kenyang jika minum selain air mineral, walau saat ini dirinya sudah sangat kenyang.  "Lo kalo ngomong jangan sembarangan dong, Win!" kata Brina dengan sewot, tidak terima jika dirinya dikata cacingan oleh perempuan itu.  "Habisnya lo itu dari tadi nggak berhenti makan, Kak. Kan gue curiga." Brina pun mencebik. "Bilang aja lo iri sama gue, lo udah kenyang padahal masih pengen makan semua makanan yang ada di sini kan?"  Winta bergeming. Sebenarnya jika perutnya tidak penuh, ia juga ingin sekali makan semua makanan yang dijual di sini. Namun, sayang sekali, perutnya sudah hampir ingin meledak dan melihat Brina makan dengan lahap sama sekali tidak membuatnya kepengen. "Ayok lah, Kak, cepat habisin. Keburu titipannya Nina dingin nih," kata Winta yang menunjukkan beberapa kantong plastik berisi makanan titipan Nina.  Brina sudah tahu dan sudah yakin jika makanan pesanan Nina pasti sudah dingin sejak tadi. Keju mozarela yang ada di dalam corndog pasti sudah membeku saking dinginnya makanan itu ditambah udara di sini juga semakin dingin saja. Beruntung mereka berdua memakai pakaian yang cukup tebal dan dapat menhambat udara dingin langsung menyengat pori-pori kulit keduanya.  Bukannya cepat-cepat menghabiskan kerak telurnya seperti apa yang diminta Winta, Brina justru kembali mengecek ponselnya dan menganggurkan kerak telur yang masih tersisa separuh itu. Winta yang melihatnya pun dibuat mengembuskan napasnya karean ia sudah merasa cukup lelah. Brina tahu jika Winta sudah lelah, ia pun juga lelah. Tetapi, mau bagaimana lagi, Brian masih belum juga mengirimi pesan pada dirinya. Brina jadi berpikir, sedang apa mereka berdua sampai lewat tengah malam seperti ini kok belum ada kabarnya.  --- Sejujurnya sangat mudah ditebak jika kedatangan Brian ke sini karena permintaan dari Brina. Tetapi, Nina masih belum paham apa alasan Brina meminta Brian untuk datang menemui dirinya. Jika memang alasannya agar Brian menemani dirinya yang sendirian di hotel ini, rasanya terlalu tidak mungkin. Bagaimana pun juga Brian adalah seorang laki-laki dewasa di mana apapun bisa saja terjadi di kamar hotel ini apalagi mereka hanya berdua saja.  "Kak Brina ya yang nyuruh Kak Brian buat datang ke sini?" tanya Nina. Keduanya ada di balkon, melihat pemandangan yang tiba-tiba cerah padahal tadi sempat hujan. Jutaan bintang bertaburan di langit yang gelap, cukup membuat Nina tersenyum walau wajahnya diterjang angin malam yang sangat dingin.  Brian tidak menjawab. Laki-laki itu hanya diam yang menandakan memang betul apa yang ditebak oleh Nina.  Perempuan itu pun mengembuskan napasnya panjang-panjang. Ia beralih menatap Brian yang hanya menatap ke depan dengan tatapan kosongnya. "Kak," panggil Nina. Brian menoleh, menatap Nina dengan mata sendunya. "Sebenarnya Kak Brian kenapa? Kak Brian kenapa tiba-tiba muncul di sini, Kak?" Nina tidak akan berhenti bertanya sebelum laki-laki itu menjawab pertanyaannya. Tadi tatapan Brian terasa kosong dan sekarang laki-laki itu malah tersenyum pada Nina. Ia juga meletakkan punggung tangannya di dahi Nina untuk mengecek suhu tubuhnya, tetapi langsung ditepis oleh Nina. "Kak ...." Ucapan Nina terdengar memohon. Brian malah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Na, udah hampir jam satu. Aku mau pamit pulang dulu ya. Paling Brina sama Winta sebentar lagi juga balik. Kamu istirahat ya, Na." Nina memilih untuk melengos dan terkekeh. "Kamu lucu banget, Kak. Nggak ada hujan nggak ada angin. Ah ...." Nina mengoreksi ucapannya. "Walau tadi sempat hujan, tapi nggak ada angin, Kak. Dan Kak Brian emang aneh. Aneh banget sumpah, aku sampai bingung." Brian tersenyum sekali lagi. Selanjutnya, ia mengacak puncak kepala Nina dengan lembut. "Ayo, masuk. Nanti kamu sakit lagi, Na." Nina menurut ketika ia dituntun oleh Brian untuk kembali masuk. "Na, aku pamit dulu ya. Kamu jangan sakit." Perkataan Brian pada Nina seolah Nina adalah perempuan yang istimewa bagi laki-laki itu. Tidak usah ditebak, yang pasti jantung Nina serasa berdetak dua kali lebih cepat. Brian terlalu perhatian dengan dirinya bahkan di saat yang tidak terduga seperti saat ini.  Ketika Nina mengangguk, Brian kembali mengembangkan senyumnya. Sudah saatnya ia kembali. Sudah cukup untuk malam ini walau enam jam bersama dengan Nina, lima jam ia habiskan untuk merawat dan menunggu Nina yang pingsan dan tertidur hingga ia hanya memiliki sekitar satu jam saja untuk memgobrol dengan perempuan itu. Ia tahu, ketika ia memaksa Brina untuk bisa mempertemukannya dengan Nina memang penuh risiko. Risiko utama adalah Nina yang curiga tentang hubungannya dengan Brina apakah baik-baik saja. Sejujurnya Brian ingin mengatakan dan membongkar semuanya pada Nina, tetapi ia belum seratus persen siap. Brian yakin setelah Nina tahu jika Brina adalah adik kembarnya, sudah pasti dirinya akan lebih mudah untuk dekat dengan Nina. Tetapi, bagaimanpun juga, yang orang-orang tahu adalah ia dan Brina sudah berpacaran lama dan Nina adalah sahabat dari Brina. Kabar berita kemarin saja baru mereda, Brian tidak boleh gegabah untuk segera membongkar semuanya. Ketika Brian akan berjalan menuju pintu, tangannya ditahan oleh Nina, membuat Brian berbalik dan menatap perempuan itu. Beberapa detik mereka gunakan untuk saling menatap dalam diam sebelum akhirnya Nina berucap. "Kak Brian." "Iya, Na?" "Jangan pernah bikin Kak Brina sedih ya." Setelahnya Brian baru sadar, walau Nina menyukai dirinya, tetapi Nina masih memikirkan perasaan Brina yang perempuan itu ketahui sebagai kekasih Brian. Dengan sikap Nina yang seperti itu, malah membuat Brian semakin tertarik saja pada Nina. Ah, Brian sepertinya memang benar-benar menyukai Nina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN