Liburan menjadi tidak berarti, sungguh. Bukan hanya karena Nina yang sedang sakit, tetapi keadaan yang buruk juga semakin membuat acara liburan mereka bertiga tidak berjalan lancar. Malah, liburan kali ini hanya terasa liburan Brina dan Winta saja, sementara Nina selalu asyik tidur di kamar hotel tanpa ikut mereka keluar jalan-jalan menikmati pemandangan yang indah. Sampai akhirnya waktunya telah usai, mereka harus segera kembali ke kost masing-masing untuk mengerjakan tugas karena besok adalah hari senin dan semua aktivitas perkuliahan akan berjalan seperti biasanya. Mau tidak mau mereka harus merelakan liburan tiga hari ini yang sangat tidak berarti. Mereka bertiga tidak kecewa, hanya sangat tidak puas saja dengan waktu yang sudah diberikan apda mereka tetapi tidak mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ketiganya telah siap dengan kaopernya masing-masing. Barang-barang mereka sudah dikemas dan mereka sudah siap untuk meninggalkan hotel ini malam ini. Mereka bertiga nampak asyik sendiri dengan ponsel masing-masing, tanpa ada obrolan atau bercandaan basa-basi yang terlotar di mulut mereka bertiga. Padahal, biasanya mereka bertiga sangat cerewet satu sama lain. Tetapi entah mengapa malam ini semuanya terasa berbeda. Semenjak sore tadi, setelah Brina keluar entah dengan siapa sejak siang, perempuan itu juga tidak banyak bicara, semakin membuat Nina dan Winta juga ikut-ikutan utnuk tidak banyak bicara. Alhasil ruangan kamar hotel ini terasa sangat sepi. Jika Brina mungkin saja memang ada perlu dengan ponselnya seperti juga Winta, berbeda dengan Nina yang tidak memiliki kepentingan dengan ponselnya kecuali untuk bermain game kali ini. Ya, benar, alih-alih mengajak Brina dan Winta mengobrol atau memulai obrolan, Nina memilih ikutan diam dan bermain game di ponselnya saja.
Sebenarnya Nina sudah siap dengan semua barangnya dan sudah ia kemas semuanya dan masuk ke dalam koper. Yang ia lihat, Winta juga demikian. Tetapi karena Winta memang anak organisasi yang jauh lebih sibuk dari dirinya, jadi tidak heran jika perempuan itu tak lekas mengajak Nina dan Brina untuk segera check out. Winta masih sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali ia juga berusaha untuk menelpon seseorang. Nina sama sekali tidak mau mengganggu Winta, karena ia tahu betapa mumetnya mengurusi sebuah acara organisasi, apalagi Winta berperan sebagai ketua pelaksana. Itu yang Nina tahu dan juga yang membuat Nina bertanya-tanya mengapa Winta memilih untuk menghabiskan hari liburnya untuk liburan bertiga bersama dengan dirinya dan Brina. Padahal, bisa saja Winta asyik istirahat di rumah kostnya dan menghemat tenaga untuk acara organisasinya itu.
Sementara itu, Brina masih mengecek ke kamar mandi dan wastafel barang kali ada alat mandi mereka yang tertinggal. Tidak lupa, ponsel perempuan itu selalu ada di tangannya dan setiap ada kesempatan pasti Brina berhenti bergerak untuk sekadar mengetikkan sesuatu di benda pipih itu.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Brina pun menatap Nina di mana tatapan Nina juga tepat ke arah kedua bola matanya. Rasanya sangat canggung dan menyebalkan sekali. Harusnya Nina bisa banyak bicara dan berbasa-basi ataupun bercanda dengan Brina. Tetapi kali ini dirinya hanya bisa diam saja walau mereka saat ini sedang saling tatap. Rasanya seperti sedang bertelepati saling berkomunikasi dengan hati. Entah sampai atau tidak, yang ingin Brina dan Nina katakan adalah mereka hanya ingin mengobrol seperti biasanya tanpa harus merasakan kerenggangan di ruangan yang dingin ini.
"Udah semua?" ucap Brina pada Nina dan Winta dengan menatapnya bergantian. Lalu kedua perempuan yang ditatapnya itu mengangguk.
Selanjutnya, mereka keluar dari kamar hotel dan langsung menuju ke bagian receptionis untuk segera check out.
"Udah ada yang order taksi online?" Kali ini bagian Winta untuk bertanya.
Nina menggeleng, sementara Brina menjawab, "tadi gue udah minta tolong Brian buat jemput. Nggak papa kan?"
"Ya nggak papa banget dong! Malah gratis ongkir!" seru Winta dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Nina yang malah diam-diam mengembuskan napasnya.
"Gratis ongkir, lo kira barang?" Brina melengos dan kembali fokus pada ponselnya. Barangkali ia sedang berkomunikasi dengan Brian.
Untuk menunggu sampai jemputan mereka datang, Nina, Brina, dan Winta duduk di sofa yang disediakan. Lagi-lagi tidak ada obrolan yang seru. Sepertinya diam adalah kenikmatan sehingga tidak ada satu orang pun yang memulai percakapan.
Jujur saja Nina menjadi bingung di situasi semacam ini. Ia memang sempat kecewa dengan penuturan Brina yang katanya Brian menyukai dirinya, tetapi Nina tidak bisa terlalu lama kecewa dengan sahabatnya itu. Ia ingin sekali membicarakan hal lain selagi hal tersebut masih belum bisa mereka bicarakan lagi karena ada Winta, tetapi rasanya tidak bisa. Mulut Nina terkunci seolah dilarang untuk membuka obrolan yang bahkan untuk mengobrol dengan Winta dengan tujuan memecah keheningan.
Bersyukurnya adalah Winta sedang cukup sibuk jadi kemungkinan besar perempuan itu tidak menyadari bahwa mereka bertiga sudah beberapa menit ini hanya saling diam saja tanpa adanya obrolan ringan apalagi obrolan yang berat.
Tidak lama, mobil yang dikendarai Brian sudah nampak dan menyadarkan Brina dari lamunannya. Sesekali Brina sadar, jika untuk hari ini memang dirinya merasakan kerenggangan hubungan antara dirinya dan Nina.
"Itu Brian," kata Brina yang sudah berdiri. Ia menatap Nina dan Winta bergantian. "Ayok."
Di dalam mobil, semuanya tidak banyak bicara pun juga Brian. Padahal, sewajarnya Brian perlu berbasa-basi pada Nina ataupun Winta. Tetapi kali ini tidak sama sekali. Brian hanya menyapa mereka ketika masuk ke dalam mobil. Lantas setelah mobilnya berjalan, Brian diam dan memilih untuk memutar lagu kesukaan untuk menembus macetnya jalanan.
Rasanya sungguh tidak nyaman. Nina memang tidak bisa melepaskan tatapannya dari Brian, tetapi mengingat bagaimana Brina berkata bahwa ia menyukai dirinya membuat Nina merasakan sedikit perih yang menjalar di hatinya. Ia bisa melihat dua sejoli itu duduk berdampingan di bagian depan, sesekali mengobrol singkat. Yah, walau bukan adegan romantis, tetapi sama saja di mata Nina, Brina dan Brian itu selalu romantis. Tapi mengapa Brina bisa berkata demikian? Ah, Nina memilih menutup matanya saja sembari menenangkan pikirannya dengan iringan lagu yang mendayu-dayu.
Jika saja benar Brian menyukai dirinya, mungkin Nina bukanlah perempuan yang bahagia karen ia sadar betul Brian adalah milik Brina. Jika saja mereka putus, tetap saja Brian pernah menjadi milik Brina dan Brina adalah sahabatnya.
Bukan masalah hati dan perasaan, tetapi ini seperti sebuah etika. Kalau saja mereka berdua putus, sepertinya Nina tidak akan sanggup untuk dekat lagi dengan Brian. Sepertinya hubungannya dengan Brian pun akan merenggang dan sangat sulit untuk membayangkan jika Nina menggantikan posisi Brina di samping Brian.
Nina masih waras dan sadar betul, jika mencintai Brian tanpa memilikinya adalah sebuah kenyataan.