Mencari Ide

1557 Kata
“Lo nggak makan, Win?” tanya Nina, ketika Winta menaruh satu kotak bebek goreng berukuran cukup besar. Walau begitu, Nina sanggup untuk menghabiskannya seorang diri. Tetapi tetap saja, Winta yang membawakannya makanan ini, jadi etikanya memang ia harus menawari Winta terlebih dahulu. Walau begitu, jika memang Winta mau, Nina juga tidak akan merasa kesal dan akan dengan senang hati membagi satu ekor bebek goreng itu kepada Winta dan makan bersama-sama. “Udah deh, lo makan aja nggak usah nawarin gue. Gue tau banget lo pasti lagi lapar-laparnya. Lagian gue kan udah makan juga tadi. Lo aja yang sok-sokan bangun siang dan nggak sarapan, nggak makan siang juga.” Akhirnya, Winta malah mengomeli Nina padahal niatnya baik yaitu ingin makan bersama-sama dengan Winta. Nina pun mengembuskan napasnya di depan bebek goreng yang ada di pangkuannya itu. “Ya udah deh, makasih ya udah bawain bebek goreng yang kayaknya enak banget nih dari baunya. Satu ekor lagi!” ucap Nina yang berubah menjadi ceria, padahal sedari tadi ia cukup sedih dan merasa kecewa setelah mengobrol sebentar dengan Brina ketika Winta sedang mandi. “Ya kenapa lo nggak cuci muka cuci tangan dulu sih, jorok banget!” ucapan Winta yang penuh sindiran itu berhasil menghentikan tangan Nina yang hampir menyomot bebek goreng yang sudah berteriak ingin minta dimakan. Nina pun meringis sejenak menatap Winta, sementara Winta hanya memutar bola matanya dengan malas karena melihat kelakuan Nina yang memang kalau sudah melihat makanan terkadang suka lupa untuk cuci tangan. Mau tak mau, Nina harus menuruti apa yang dikatakan Winta. Walau sampai saat ini dirinya belum pergi ke mana-mana, tetap saja ia perlu mencuci tangan karena sudah beberapa kali tangannya memegang ponsel yang tidak sedikit kuman bersarang di sana. Ia pun beranjak dari kasurnya dengan menenteng satu kotak bebek goreng. “Jangan dibawa ke kamar mandi juga kali, Nin!” seru Winta ketika tanpa sadar Nina membawa kotak bebek goreng itu sampai di depan kamar mandi. Nina kembali meringis dan berbalik, lalu meletakkan sekotak bebek goreng itu di atas meja. “nggak gue comot, gue udah makan, Nin!” ucap Winta mempertegas, Nina semakin meringis saja. Setelah keluar dari kamar mandi dan mencuci tangan di wastafel, buru-buru Nina mengeringkan tangannya dan mengambil satu kotak bebek goreng tersebut untuk ia makan di atas ranjang. “Gue makan di kasur nggak papa kan, Win?” tanyanya sebelum benar-benar mencicipi lezatnya bebek goreng itu. “Terserah,” jawab Winta dengan singkat. Perempuan itu fokus pada ponselnya, entah apa gerangan yang membuatnya begitu fokus melihat layar ponsel. Padahal Nina juga tidak perlu untuk meminta izin pada Winta karena Nina sendiri tahu jika kebiasaan Winta di kostnya memang makan di atas kasur apalagi jika udara sedang dingin karena lantai akan sangat dingin. Jangan ditanya mengapa tidak menggunakan kursi atau karpet karena Winta tidak memiliki dua benda itu di dalam kamar kostnya. Nina beberapa kali datang berkunjung ke sana, dan memang tipa kali makan di kamar kost Winta, kasur adalah tempat yang paling nyaman apalagi makannya sambil menonton siaran drama korea favorit mereka berdua. *** Brian hampir kehilangan kesabaran dan ingin menempeleng kepala adiknya yang hanya cengar-cengir di hadapannya. Bagaimana tidak, Brina baru saja berkata bahwa dirinya mengatakan kepada Nina tentang perasaan Brian pada perempuan itu. Jelas saja hal yang dikatakan Brina memnag tidak salah, tetapi bagaimana pun Brian tidak siap dengan itu semua. Rasanya akan lebih baik jika dirinya yang jujur pada Nina tentang perasaannya, tanpa perantara yaitu Brina, apalagi setahu Nina Brina adalah kekasihnya. Sangat tidak masuk akal jika seorang kekasih malah memberitahu orang lain jika kekasihnya mencintai orang lain tersebut apalagi orang lain itu adalah sahabatnya sendiri. “Kanjeng Mas Brian, lo kan suka sama Nina dan gue bantuin lo walau emang yah gue tau konsekuensinya. Tapi seriusan deh, gue itu udah capek banget sama drama ini. Apalagi semalam lo sempet ke hotel buat nemuin Nina.” Brina berucap santai dan sekarang menyempatkan diri untuk mengunyah kentang goreng pesanannya. “Terus, rencana lo selanjutnya apa?” Brian bertanya pada Brina. Dirinya sedang tidak bisa berpikir, karena bagaimana pun juga ia sudah pasti tidak bisa bersikap biasa saja pada Nina setelah Brina mengatakan semuanya. Bukan masalah Nina yang tahu perasaannya apalagi Brina sendiri yang mengatakan, tetapi Brian malah takut jika Nina merasa dipermainkan padahal Brina adalah kekasihnya di mata Nina. “Ya kita putus,” jawab Brina dengan santainya, padahal Brian hampir tersedak jus jeruk yang sedang diminumnya. Brian membulatkan kedua bola matanya menatap Brina yang sampai sekarang masih santai-santai saja. Bahkan perempuan itu kembali memasukkan beberapa potong kentang goreng ke dalam mulutnya. Sampai-sampai kakak kandungnya itu menganga karena tidak sepercaya itu dengan indra pendengarannya mendengar ucapan Brina. “Itu sih pilihan paling tepat. Setelah semua orang tahu kalau kita putus, yaudah, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi dan lo bisa deket secara terang-terangan sama Nina, tanpa takut hate comment dari orang-orang,” ucap Brina yang menjelasaknan maksudnya. Tetapi Brian tidak butuh itu, karena hal tersebut sama sekali tidak membantunya. Justru, itu semua akan membuat orang-orang semakin membenci Nina saja. “Ya kalo orang-orang pikirannya pada positif semua. Lo tahu sendiri kalao ornag-orang lebih suka kabar menggemparkan daripada kabar bahagia. Gue deket sama Nina setelah putus sama lo, itu nggak banget! Orang-orang tahunya lo itu pacar gue dan Nina dalah sahabat lo. Kok gitu aja nggak mudeng sih? Padahal dulu lo yang paling nggak mau kalau kita putus, tapi sekarang lo malah pengen kita putus dan gue segera deket sama Nina. Apa jangan-jangan lo udah punya cowok? Ah, maksud gue lo udah suka sama cowok dan lagi deket sama cowok?” Perlu beberapa detik bahkan hampir satu menit untuk Brina menanggapi perkataan Brian yang panjang lebar itu. Dirinya jelas sekali tahu ke arah mana Brian akan berbicara dan ia juga sudah menyiapkan semuanya. Brina bukan seorang perempuan yang bergerak tanpa berpikir, jadi Brina juga sudah mengantisipasi jika semua yang dikatakan Brian itu akan kejadian. “Rencana lo apa sih sebenarnya?” tanya Brian lagi, dengan nada suara yang lebih tegas. Brina menggeleng. “Nggak susah kok.” “Apa?” Brian sudah tidak sabar saja. Brina perlu memundurkan wajahnya karena Brian yang terlihat cukup mengerikan untuk saat ini. “Lo jangan main-main ya, Dek. Ini bukan lagi masalah kita berdua, tapi ada Nina juga. Apa lo tega sih lihat Nina bakal jadi bahan omongan orang bahkan dibully secara verbal?” “Tenang dong, Mas!” “Gimana gue bisa tenang?” Brina mengembuskan napasnya kasar-kasar. “Kalau aja lo nggak aneh-aneh bikin drama kayak gini, pasti kita nggak bakal kayak gini sekarang ini.” “Lah, siapa suruh lo setuju?” Brina diam. Memang benar semua ini adalah bentuk kesepakatan mereka berdua, tentang kepura-puraan menjadi sepasang kekasih padahal aslinya mereka adalah saudara kandung. Ya mau bagaimana lagi, dahulu Brina menyetujui hal tersebut karena memang Brina juga sedang tidak mau dekat dengan laki-laki lain selain kakaknya sendiri. Tetapi saat ini, bukan karena Brina sudah menyukai seseorang, tetapi memang Brina yang merasa jika semua ini lebih baik diselesaikan secepat mungkin. “Dek, lo suka sama cowok?” tanya Brian yang kali ini intens menatap mata Brina. “Siapa?” Brina langsung mengerutkan keningnya. “Nggak ada.” “Lo yakin?” Brina diam, tidak lagi menjawab. “Lo udah punya pacar ya di belakang gue?” Ekspresi Brian pun berubah lebay, seperti seorang yang sedang sakit hati tetapi dilebih-lebihkan. “Aduh, lo berani-beraninya khianatin gue?” Brina muak. Ia langsung menyumpali mulut Brian dengan kentang goreng yang sudah ia cocol dengan saus sambal, padahal Brian paling tidak bisa makan pedas. Cepat-cepat laki-laki itu mengambil jus jeruknya yang sisa sedikit dan kemudian menegaknya sampai habis. Beruntung saus sambal ini tidak terllau pedas baginya walau ia tetap saja kepedasan. “Mas, udah saatnya kita nggak usah peduliin orang-orang. Sama kayak saus sambal, omongan mereka bisa reda kalau ada penangkalnya.” “Apa penangkalnya?” tanya Brian. “Ya dengan lo nggak usah nanggapin aja, pasti semuanya segera berakhir kok.” Brian hampir saja melempari Brina dengan potongan lemon yang bertengger manis di mulut gelasnya. “Ya gue bisa-bisa aja abai sama omongan orang-orang, tapi belum tentu Nina bisa. Kan gue udah bilang kalau sekarang yang bakal kena dampaknya itu bukan kita aja, tapi juga sama Nina juga.” Rupanya Brian tidak setuju dengan idenya. Brina juga baru sadar ternyata idenya dengan hanya abai dengan omongan orang-orang memang cukup riskan apalagi bagi Nina. Brina pun harus memutar otak lagi supaya menemukan ide yang lainnya. “Bingung kan lo?” “Halah, lo juga bingung kan, Mas?” “Ya udah, kalau sama-sama bingung mending jangan bertingkah!” “Yah, gimana dong? Kan gue udah terlanjur bilang ke Nina kalau lo suka sama dia.” “Anggap aja lo Cuma bercanda.” Brina malah mengembuskan napasnya panjang-panjang. “Kalau gue bilang bercanda, yang ada Nina malah marah sama gue nggak sih? Karena gue kan juga tahu kalau dia suka sama lo bahkan sejak maba sampai sekarang, tapi malah gue bercandain dia kayak gitu?” Brina mengangguk. “Jelas. Dia bakal marah sama lo, terus dia nggak mau lagi temenan sama lo!” “Ya nggak gitu juga dong! Nina sekanak-kanakan itu, Mas!” Brian pun menggedikkan bahunya. “Ya siapa tahu? Banyak loh persahabatan yang rusak gara-gara rebutan cowok. Apalagi cowoknya ganteng kayak gue, primadona kampus lagi!” Brina hanya bisa memutar bola matanya malas, tidak mau menanggapi kakaknya itu lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN