Sekotak Bebek Goreng

1035 Kata
Sudah lewat jam makan siang tetapi Nina belum juga mengisi perutnya dengan makanan. Terakhir, ia hanya meminum sebotol air mineral saja. Boro-boro untuk makan siang, untuk berdiri dari tempat tidurnya saja Nina merasa sangat enggan, bukan malas, tetapi benar-benar tidak mau beranjak dari tempat tidur dan hanya ingin tiduran di balik selimut saja. Padahal, sedari tadi Winta sudah menyuruhnya dan mengajaknya untuk makan siang bersama, tetapi Nina tetap menolaknya. Sementara Brina, perempuan itu tahu jika Nina sedang kecewa atas ucapannya yang ia sadari sudah menyakiti Nina. Jadi, Brina menganggap jika ia perlu membiarkan perempuan itu tanpa mengganggunya sampai suasana hati Nina kembali membaik dan saat itulah Brina akan berbicara lagi kepada Nina. Walau saat ini Brina dan Winta sedang keluar entah ke mana, mereka tidak berkata secara pasti ingin pergi ke mana, yang pasti Nina tidak mau ikut. Winta sempat mengembuskan napasnya merasa kesal ketika Nina tidak mau pergi bersama mereka berdua. Winta jelas kecewa karena tujuan mereka memang untuk liburan bersama tetapi sejak kemarin malah belum ada kesempatan untuk mereka bertiga pergi menghabiskan waktu bersama-sama bertiga. Tetapi mau bagaimana lagi, Winta pikir Nina masih tidak enak badan, jadi memang tidak bisa dipaksakan. Nina pun membuka selimutnya. Ia menatrap langit-langit kamar hotel ini dengan tatapan kosong. Ia benar-benar merasa kasihan pada dirinya sendiri. Bukan karena ia yang menjomlo sejak lama, tetapi karena nasibnya saja yang tidak mendukung untuk menjalani kehidupan sebagai seorang jomlowati. Ditambah perkataan Brina tadi, masih membekas jelas diingatannya betapa ia merasa sangat kecewa lebih tepatnya seperti direndahkan ketika Brina mengatakan bahwa Brian menyukai dirinya, padahal teknisnya Brian dalah kekasih Brina. Yang jelas perutnya sangat lapar tetapi ia enggan untuk makan. Tenggorokannya mulai haus lagi tetapi air di botol yang disediakan juga telah habis. Nina mengembuskan napasnya kasar-kasar setelah menengok di nakas, melihat kosongnya botol air mineral. Suasana hatinya benar-benar buruk untuk saat ini, ia benar-benar merasa sangat kesal pada dirinya sendiri pun kepada orang lain. Tetapi, sedetik kemudian dirinya menyadari. Nina sadar jika sedari tadi pagi dirinya belum makan dan sekarang pun sudah lewat jam makan siang. Selain perkataan Brina yang membuatnya merasa kecewa dan kesal, ia yakin sekali jika berkurangnya keceriaan hari ini ada hubungannya dengan perut. Yap, namanya juga Nina, satu hal yang paling memengaruhi suasan hatinya adalah makanan. Nina adalah perempuan yang masih waras dengan segala rasa kesal dan rasa kecewanya. Ia tidak bisa membiarkan perutnya kosong walau tidak merasa lapar, tetapi sebagai gantinya suasanya hatinya yang akan menyedihkan. Nina pun mengambil ponsel yang tergeletak di bawah selimut. Cepat-cepat ia membuka ponselnya dan mencari aplikasi ojek online agar ia bisa memesan makanan. Yah, ternyata liburan di hotel dan di kost sama saja, perlu memesan melalui aplikasi ojek online agar bisa makan. Tetapi, baru saja Nina membuka aplikasi penyedia layanan pesan antar makanan itu, ada sebuah notifikasi masuk yang membuat Nina menghentikan aktivitasnya. Ada sebuah pesan dari Winta, yang berisi peringatan supaya Nina tidak usaha memesan makanan melalui ojek online. Winta: Nggak usah order gofud, Nin. Ini gue sama Kak Brina udah bawain lo bebek goreng. Bentar lagi juga sampai, ini udah perjalanan. Nina mengangkat sebelah alisnya. Tumben sekali Winta kepikiran untuk membawakannya bebek goreng, yang pasti semua makanan adalah makanan kesukaan Nina. Nina tadi sempat melihat dengan sekilas menu bebek goreng di aplikasi, dan sekarang justru bebek goreng akan segera meluncur. Nina sadar, pasti bukan Winta yang kepikiran untuk membelikannya bebek goreng. Nina sudah paham betul jika teman dekatnya itu akan lebih suka membelikannya makanan cepat saji seperti burger atau ayam krispi. Jadi, sudah pasti untuk membelu bebek goreng adalah ide Brina. Ah, padahal Nina sedang kesal dengan perempuan itu, tetapi perempuan itu masih memikirkan dirinya juga. Tidak lama, tidak sampai sepuluh menit, suara pintu terbuka pun terdengar. Entah saking inginnya Nina makan atau bagaimana, aroma bebek goreng langsung menusuk indra penciumannya dan ia yang tadinya sedikit lemas kini kembali bersemangat setelah melihat Winta masuk dengan satu kantong yang ia yakini berisi bebek goreng yang cukup terkenal di Malang Raya karena bisa dilihat dari kantong yang bertuliskan nama restorannya tersebut. “Loh, Kak Brina mana?” tanya Nina yang spontan karena melihat Winta yang hanya masuk seorang diri, tidak diikuti oleh Brina di belakangnya. Nina sampai melihat di belakang punggung Winta siapa tahu perempuan itu tidak kelihatan karena berdiri di belakang Winta. Winta meletakkan sekantong makanan lezat itu di meja terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Nina. Bukan hanya itu, perempuan itu juga mengeluarkan sebotol air mineral yang sempat ia beli dan menegaknya hingga setengah, sementara Nina masih sabar untuk menunggu jawaban dari Winta. “Kak Brina keluar sebentar,” kata Winta, meletakkan sisa minumnya di atas botol, kemudian ia juga mengeluarkan satu kotak bebek goreng dari kantongnya. “Lo makan dulu nih, Nin. Enak kayaknya bebeknya,” ucap perempuan itu sembari membuka kotak tersebut yang rupanya berisi satu ekor bebek goreng utuh lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Perhatian Nina tidak teralih walau aroma bebek goreng sungguh menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Ia malah terfokus pada ucapan Winta yang berkata bahwa Brina sedang keluar sebentar. Ada beberapa pertanyaan yang langsung hinggap di kepalanya seperti untuk apa dan dengan siapa Brina keluar, padahal katanya ini adalah hari liburan mereka bertiga dan Nina sudah bisa menduga bahwa Brina sedang bertemu dengan Brian entah untuk apa, Nina tidak bisa menebaknya. “Ye malah bengong. Ini gue sama Kak Brina udah jauh-jauh loh ya beli bebek goreng ini khusus buat lo.” Nina pun sadar dari lamunannya. “Hah?” “Heh hah heh hoh, buruan makan! Lo dari pagi belum makan, diajak makan siang juga nggak mau!” Winta sudah ngamuk-ngamuk saja saking sebalnya. “Lo itu kalo sakit kan biasanya makan banyak. Sarapan bisa bubur terus jam sembilan makan soto lagi. Tapi kenapa kali ini beda, malah nggak mau sarapan sama makan siang. Lo kenapa sih?” Rupanya Winta sadar sekali jika Nina sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Baru saja Nina ingin membuka mulutnya dan mengatakan sebuah alasan yang pasti adalah sebuah kebohongan, tetapi Winta terlebih dahulu menyodorkan sekotak bebek goreng tepat di pangkuannya. “Makan dulu deh, Nin. Lo kasih alesannya nanti aja setelah makan, dan gue harap sih alesan lo itu bukan sebuah kebohongan.” Nina tergelak, belum pernah ia melihat Winta begitu mengenal dirinya seperti saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN