Sebelum Winta selesai mandi, Nina benar-benar ingin mengumpulkan informasi sebanyak apapun yang ia bisa dari Brina. Satu hal yang menjadi pertanyaannya sejak Brian datang ke kamar hotel ini tadi malam, yaitu sebuah alasan apa yang membuat laki-laki itu dengan senang hati mau datang ke sini bahkan sampai larut malam hanya untuk menunggu dirinya yang sempat pingsan.
Nina dan Brina saat ini duduk berhadapan, masih di atas ranjang. Nina tidak melepaskan pandangannya pada Brina, sementara Brina selalu menghindari tatapan itu. Tatapan Nina lebih tajam dari elang dan lebih mengerikan daripada ditatap setan, yah walau Brina hanya mengalami ditatap setan saat menonton film bergenre horor saja.
"Gue cuma penasaran, Kak," kata Nina sekali lagi, berharap agar Brina bisa jujur tanpa jawaban yang dibuat-buat untuk Nina segera percaya begitu saja. Nina butuh jawaban yang pasti, jawaban yang tidak hanya membuat Nina berkata "oh" atau mengangguk paham.
"Brian suka sama lo, Nin."
Nina bergeming. Tatapannya masih belum lepas dari kedua mata Brina. Keterkejutannya membuat dirinya tidak tahu harus berkata apa. Perempuan itu membeku namun alisnya berkerut. Rasanya seperti sedang halu saja mendengar penuturan dari Brina. Jadi, ia memutuskan untuk tetap diam tanpa memberikan tanggapan pada perempuan yang ada di hadapannya.
Brina sadar jika Nina tengah terkejut. Brina bisa melihat itu semua dari ekspresi Nina yang berubah drastis walau Nina hanya diam saja sejak ia mengatakan hal tersebut. Brina pun memutuskan untuk kembali mengulang perkataannya untuk meyakinkan Nina. "Iya, Nin. Brian suka sama lo," katanya lagi, membuat tangan Nina bergetar.
Menurut Brina, mungkin sekarang sudah saatnya bagi Brina untuk mengatakan semuanya walau sudah pasti Brian belum siap. Brina sebenarnya sama saja, ia belum siap untuk menyandang status abru di depan orang-orang sebagai mantan kekasih dari Brian. Tetapi, mau bagaimana lagi, Brina tahu jika Brian mencintai Nina dan Brina tidak mau status mereka akan menghambat semuanya. Bagi Brina, lebih baik seperti ini saja dari pada publik tahu bahwa sesungguhnya dirinya dan Brian adalah saudara kandung. Brina lebih tidak siap dengan hal itu, apalagi kalau harus menerima konsekuensi berupa serangan orang-orang terhadap dirinya dan Brian yang dinilai sudah melakukan pembohongan publik. Kalau dipikir-pikir memang lucu. Brina dan Brian bak selebriti dalam dunia entertainment, padahal mereka hanyalah dua mahasiswa biasanya di mana publik saja yang berekspektasi besar terhadap keduanya sehingga memunculkan imaji yang mereka buat sendiri.
Keterkejutannya membuat Nina pening. Perempuan itu menyempatkan untuk memijit pelipisnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya senyuman tipis dan lirikannya seolah menampar Brina, membuat Brina merinding ketakutan.
"Kak, jangan mentang-mentang gue suka sama Kak Brian. Lo bisa seenaknya ngomong kayak gini ke gue. Iya, Kak, gue tahu kalo lo itu pacaran sama Kak Brian udah bertahun-tahun, tapi nggak gini juga caranya buat lo ngejek gue. Gue nggak nyangka aja lo bisa bercanda sekejam ini. Lo pikir dengan lo bilang kalau Kak Brian suka sama gue, itu semua lucu gitu?"
Jelas saja Brina lebih terkejut mendengar tanggapan dari Nina. Perempuan itu mengelak bahwa apa yang dikatakan Brina adalah sebuah kejujuran. Ia malah merasa tersindir habis-habisan oleh ucapan Brina yang mengatakan bahwa Brian menyukai dirinya.
"Nin, yang gue omongin ini benar." Brina berusaha untuk meyakinkan Nina tentang sebuah kebenaran, tetapi Nina selalu menolaknya. Nina membuang muka dan enggan berdebat lagi dengan Brina yang sebenarnya membuat hatinya merasa getiran sakit.
Bukan. Awalnya memang Nina terkejut dan memiliki sedikit harapan jika memang Brian menyukai dirinya. Tetapi, kalau dipikir-pikir, ucapan Brina seperti hanya sebuah bualan saja yang siap untuk menejeknya kapanpun itu. Nina jadi berpikiran buruk, jika alasan Brian datang ke sini semalam atas permintaan Brina di mana Brina hanya ingin membuat Nina semakin menginginkan laki-laki itu saja. Atau mungkin Brina ingin menguji seberapa setianya Brian pada Brina, dan atau mungkin ia lah yang sedang diuji oleh Brina tentang bagaimana sikap dirinya menanggapi ketika ada kekasih dari sahabatnya mengunjungi dirinya.
Mata Nina sudah memerah saja, sudah berkaca-kaca dengan air mata yang menggenang dan siap untuk ditumpahkan. Ia masih tidak percaya saja jika Brina melakukan hal ini kepada dirinya. Padahal selama ini ia mati-matian untuk menahan dan bersikap biasa saja ketika bersama dengan Brian, tetapi Brina malah sengaja mengatur ini semua hanya untuk mengetahui apakah diirnya setia sebagai sahabat, atau Brian setia padanya sebagai kekasih.
"Nin, gue nggak mengada-ngada. Brian beneran suka sama lo," ucap Brina. Ia begitu bersusah payah untuk meyakinkan Nina.
Perempuan itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menggeleng, tidak mau mendengar ucapan Brina tentang Brian yang katanya menyukai dirinya. Masa bodoh dengan perasaannya pada Brian, hatinya saat ini sedang sakit karena merasa dipermainkan oleh Brina walau Brina mengatakan bahwa semua yang keluar dari mulutnya tidak pernah ia ada-adakan tetapi merupakan kenyataan.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi sudah tidak terdengar. Hening hadir ketika keduanya saling diam, dan berbarengan dengan itu air mata Nina berhasil menetes membasahi pipinya. Ketika pandangannya buram karena air mata yang terus ingin keluar, perempuan itu mengusapnya dengan kasar sambil terus menatap Brina dengan tatapan yang kecewa. Ia masih tidak paham mengapa Brina melakukan ini semua pada dirinya pada mereka berdau adalah sahabat. Nina justru lebih suka jika Brina tidak usah mengatakan sebuah komedi tentang Brian yang menyukai dirinya. Biarkan saja Brian bersama dengan Brina dan biarkan juga Nina dengan perasaannya. Nina tidak akan terluka, karena pada kenyataannya mendengar Brian menyukai dirinya dari mulut Brina membuatnya jauh merasa terluka.
Ketika terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Nina memilih langsung menarik selimut dan menenggelamkan dirinya di bawah selimut. Ia tidak mau Winta tahu tentang semua ini. Walau Winta tahu jika dirinya menyukai Brian, bagaimana pun juga Winta tidak pernah tahu dan tidak boleh tahu tentang obrolan yang baru saja ia dan Brina bahas.
Di bawah selimut, dalam kegelapan, Nina bersusah payah untuk mengatur napasnya dan mengatur perasaanya yang terasa sangat nyeri. Sangat susah bagi dirinya untuk mengehntikan getaran pada punggunggya. Nina sampai membekap mulutnya sendiri agar tidak ada isakan yang tercipta. Ia berpikir beberapa kali bahwa dirinya tidak pernah membuat kesalahan fatal kepada Brina tetapi mengapa Brina bisa sampai setega ini kepada dirinya. Ia tidak menyangkan jika skenario yang Brina buat berhasil membuat Brian menurut dan hadir di kamar hotel ini tadi malam.
Lalu, setelah itu apa? Setelah mengetahui jika Brian datang ke sini dan berada di sini selama beberapa jam, apakah Brina akan marah pada laki-laki itu atau Brina yang sudah tidak mau menjadi sahabatnya lagi?
Akhirnya isakan Nina lepas begitu ia memikirkan hal itu. Namun, sedetik setelah isakannya terdengar ada suara lagu yang diputar sangat keras. Nina tahu betul lagu tersebut adalah lagu wajib Brina setiap harinya, daftar putar yang harus Brina putar minimal satu kali dalam sehari. Berkat itulah suara isakannya tersamarkan dan tidak mencuri perhatian Winta karena Winta juga cukup menyukai
lagu tersebut hingga perempuan itu bernyanyi bersama alunan lagu, kontras dengan Nina yang berusaha untuk menghentikan isakannya.