Satu-satu hal yang kembali bisa membuatnya bernapas lega adalah seekor kucing yang tertidur pulas di teras rumah kostnya. Entah ada pemiliknya atau tidak, tubuhnya sangat terawat, bulu-bulunya halus, dan tidak ada tanda-tanda jamur atau kutu yang terlihat. Nina berjongkok mengelus kepala bola bulu berwarna hitam itu. Matanya yang memanas selama dalam perjalanan berhasil menjatuhkan cairan bening di atas bulu-bulu halus yang membuat kucing kampung itu terbangun. Matanya yang legam tepat menatap Nina, seolah mengerti apa yang sedang dirasakan perempuan itu.
Nina kembali mengusap puncak kepala kucing itu hingga ke bawah dagu. Ia bisa tersenyum setelah melihat betapa nyamannya Iyan yang sudah biasa ia perlakukan seperti ini. Nama kucing entah milik siapa ini adalah Iyan. Nina lah yang memberinya nama itu yang berarti plesetan dari nama Brian. Entah mengapa saat dulu pertama kali Iyan datang ke sini, kucing yang dulu baru berusia sekitar tiga bulan itu langsung mengingatkannnya pada Brian jadi ia memberinya nama Iyan. Nina sering bermain dengan Iya jika kucing itu mampir ke teras rumah kostnya, setidaknya selalu dua sampai tiga kali sepekan. Hebatnya, Iyan tidak pernah mau masuk ke dalam rumah kost. Kucing itu hanya duduk saja di teras menunggu Nina pulang untuk bermain dan diberi makan.
"Iyan, lo tau nggak sih? Gue tadi habis ngobrol sama Kak Brian. Gue seneng banget tapi sejujurnya gue deg-degan. Yah ... sampai bikin malu Kak Brian kali ya? Soalnya dia langsung pergi aja gitu sama Kak Brina. Lo tau kan, kalo Kak Brina itu pacarnya Brian? Haha," kata Nina pada Iyan. Kucing hitam itu hanya tertegun sembari menutup matanya menikmati sentuhan dari Nina, perempuan yang sedang menertawakan dirinya sendiri. "Kalo lo jadi gue, lo bakal pergi ninggalin gue begitu aja atau nunggu gue sampai balik dari toilet?"
Nina kembali dibuat tersenyum. Kucing hitam itu langsung terbangun dan mengendus jemarinya dan memainkannya. Nina memang tidak tahu bahasa kucing, tetapi melihat Iyan yang selalu merespon dirinya ketika ia sedang curhat, membuatnya sedikit merasa hangat. Merasa cukup Nina pun kembali berdiri dan segera masuk ke dalam rumah kostnya.
Rasanya seperti biasanya, ia cukup lelah dengan hari ini apalagi dengan kejadian tadi ketika Brian yang katanya akan menunggunya setelah kembali dari toilet, malah pergi bersama dengan Brina. Dan ketika Nina menghampiri mereka berdua di kantin, Brian sama sekali tidak menyapaya. Perasaannya cukup kecewa dan bahkan ini kali pertama Nina merasakan kecewa ketika mencintai Brian. Ya, Nina masih akan dan terus mencintai laki-laki itu entah sampai kapan.
Baru saja Nina merebahkan tubuhnya di atas kasur, seseorang sudah mengetuk pintu kamarnya saja yang membuatnya harus kembali bangkit dan membukakan pintu.
Ada Areta yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Areta, udah pulang lo?" tanya Nina berbasa-basi. Walau bukan Areta yang mengambil ponselnya tempo hari, tetap saja Nina masih enggan untuk banyak bicara pada Areta.
"Udah," jawab Areta dengan singkat. Areta juga sama saja, dirinya enggan banyak bicara dengan Nina. Dua-duanya sama-sama memiliki perasaan tidak suka satu sama lain, padahal kamar mereka berhadapan.
"Ada apa? Tumben ketuk pintu kamar gue."
"Nggak ada apa-apa, tapi cuma mau bilangin ke lo kalo lo habis makan kucing tuh lantainya di pel. Walau cuma lantai di teras tapi tetap aja bau amis sama makanan kucing lo. Dan jangan sering-sering deh lo ngasih makan kucing di teras. Mereka jadi kebiasaan bawa kucing lain buat stay di teras. Lo tau nggak, nggak semu orang nyaman dengan apa yang lo lakuin termasuk gue. Gue nggak benci kucing, cuma gue benci sama kelakuan lo yang nggak tau diri. Ini rumah kost milik bersama. Lo jangan seenaknya kayak gitu. Seenggaknya lo bersihin bekas lo ngasih makan kucing. Makasih." Setelah mengucapkan kalimat yang panjang lebar, Areta langsung berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Bahkan perempuan itu belum memberi kesempatan bagi Nina untuk menanggapi.
Jujur saja Nina tidak terlalu terkejut karena sifat Areta memang judes seperti itu. Hanya saja ia tidak menyangka jika masalah memberi makan kucing membuat Areta terganggu padahal selama ini semuanya baik-baik saja. Ia juga menyadari bahwa ia memberi makan Iyan tanpa wadah dan langsung di lantai. Jika memang seperti itu, lain kali Nina akan memberikan wadah untuk Iyan makan dan memindahkan tempat makannya di samping rumah. Nina tidak boleh keras kepala hanya karena ia tidak suka dengan Areta. Bagaimana pun Areta benar, bahwa tidak semua orang suka dengan kebiasaannya memberi makan Iyan di teras dan mungkin saja hanya Areta yang berani berkata pada dirinya.
Nina pun kembali masuk ke dalam kamar. Ia mengecek ponselnya yang masih belum ada tanda-tanda pesan dari Brian. Selanjutnya ia tidak mau memikirkannnya lagi. Perempuan itu memilih untuk menghilangkan lelahnya dengan membuka aplikasi belanja, siapa tahu semua yang memenuhi di pikirannya sedikit mereda. Nina juga harus membeli wadah untuk makanan Iyan. Sekalian saja Nina membelinya melalui aplikasi belanja online, daripada ia harus pergi ke toko yang malah keluar ongkos lagi.
Namun, belum juga Nina mengetikkan apa yang ia cari di kolom pencarian, sebuah pesan dari grup rumah kostnya sungguh membuatnya merasa kesal.
Areta: Mbak-mbak, kakak-kakak penghuni kost yang cantik yang budiman yang rajin menabung tapi tidak rajin bersih-bersih (bagi yang merasa aja). Gue cuma mau ngingetin kalo habis bikin kotor rumah kost ini tuh ya dibersihin. Misal habis masak ya kompornya dilap, terus yang sampahnya udah penuh bisa buru-buru dibuang. Oiya. Yang suka ngasih makan kucing di luar, di teras dan nggak pernah diberesin sisanya, itu bau amisnya kecium banget loh! Jujur aja gue nggak nyaman dan kakak-kakak di sini tahu kan kalo bau amis itu bisa sebabin virus? Minimal dipel dong pakai pembersih lantai, biar semuanya juga nyaman. Dan sadar nggak semakin lama semakin sering kucing datang ke teras kos? Bukannya gue benci kucing, tapi realistis aja kucing liar itu banyak virusnya!!! Thanks, semoga bisa dimengerti.
Nina berhasil tersulut emosi ketika membaca pesan dari Areta di grup rumah kost. Dirinya merasa sangat tersindir. Ia tahu jika ia salah dan Areta juga sudah menegurnya secara langsung. Tetapi, mengapa perempuan itu juga membuat peringatan di grup rumah kost? Apa ia sengaja ingin mempermalukam Nina? Walau ada teguran tentang sampah yang sudab penuh juga, tetapi semua ketika Areta jelas sekali tertuju padanya yaitu mengenai ia yang sering memberi makan Iyan di teras.
Nina tidak berniat untuk membalasnya. Ia hanya menyimak saja ketika penghuni yang lain sedang mengetik.
Kak Syalaby: Gue juga capek sama kompor yang nggak dilap tiap ada yang habis masak. Sampah-sampah yang udah penuh juga bikin virus. Ayo, kesadarannya!
Arana: Bukannya sombong, tapi gue paling bersih di sini hahahaha.
Adelia: Iya maaf, Kak. Gue sering lupa kalo masalah ngelap kompor. Habis masak buru-buru makan, eh trus kelupaan:((
Kak Devi: Itu sampah di dapur sih yang sering penuh. Kesadaran aja sih yang merasa sadar ya minta tolong dibuangin wkwkwk
Nafa: Siap bu bossss @Areta
Nafa: Eh, emang ada yang suka ngasih makan kucing?
Areta: Nina
Rasanya Nina ingin membanting ponselnya. Seharusnya cukup menegur secara pribadi dan jika di grup rumah kostpun tidam usah membawa-bawa namanya. Menurut Nina, ketika Areta bukan lagi sebuah teguran, tapi memang ingin mempermalukam dirinya saja.
Nina harus banyak sabar, karena untuk pindah dari rumah kost ini pun tidak mudah. Uang tabungannya sangat menipis setelah ia belikan ponsel baru. Dan jika ia harus meminta orang tuanya, itu berarti ia harus memberikan alasan yang masuk akan mengapa ia ingin pindah dari rumah kost ini. Sepertinya hidupnya terlalu rumit dan melelahkan untuk masalahnya dengan Areta. Perempuan itu juga memang menyebalkan, tidak salah memang jika Nina tidak suka dengan dirinya.