Ketika Brina Membelanya

1203 Kata
Siang hari, sebenarnya Nina malas sekali datang ke sekretariat himpunan. Tidak ada yang sedang mendesak untuk rapat rutin. Tetapi, seperti biasanya mereka para pengurus himpunan suka sekali berkumpul kapanpun di sini, tidak melakukan apapun yang penting, dan hanya membuang-buang waktu saja menurut Nina walau sejatinya kumpul-kumpul bersama bisa membuat para pengurus semakin akrab saja. Untuk Nina, jelas sekali ia merasa terpaksa datang ke sini karena ajakan Brina. Jika tidak ada Brina, boro-boro Nina mau ke sekretariat, menyapa pengurus lain ketika berpapasan di lorong fakultas saja kadang ia merasa enggan. Bukannya apa, Nina walau ceria-ceria seperti itu dirinya tetap memiliki rasa tidak nyaman kepada beberapa orang tertentu tak terkecuali para pengurus himpunan. Tidak ada alasan khusus, tetapi memang inilah sifat Nina. Asal tidak merugikan, ya tidak apa-apa. Nina sudah duduk di samping Brina. Siang ini udara cukup panas dan di ruangan tidak ada pendingin. Barang-barang entah milik siapa dimulai dari helm, baju-baju yang menggantung di balik pintu, tumpukan buku-buku, hingga piring dan gelas kotor ada di dalam sini. Udara menjadi sangat pengap. Bahkan Nina yang memakai kemeja tipis saja merasa kepanasan dan ingin sekali segera pergi dari sini, tetapi tidak ada alasan untuknya pergi karena baru saja ia masuk bersama Brina. Brina sudah pasti langsung mengobrol sampai membicarakan negeri antah berantah, sementara Nina hanya menanggapi sepotong demi sepotong dan sisanya ia gunakan untuk bermain ponsel. Nina memang tidak suka mengobrolkan banyak hal apalagi dengan orang-orang yang tidak dekat dengannya. Basa-basi bukanlah bagian dari hidupnya yang harus selalu ia lakukan. "Eh, kemarin sore kayaknya gue lihat bebeb lo sama Nina di perpus!" Telinga Nina tajam. Sebuah ucapan dengan bisikan saja bisa ia dengar, apalagi ini yang sangat lantang. Seseorang mulai membicarakan dirinya yang sempat bertemu dengan Brian, bebeb atau kekasih dari Brina kemarin di perpustakaan. Nina hanya melirik saja. Ia pura-pura tidak mendengar dan terus fokus pada ponselnya. "Lo nggak cemburu?" Pertanyaan itu ditujukan untuk Brina. Sementara Nina masih enggan menanggapi. "Gue tau kok." Jawaban yang terdengar enteng dari mulut Brina berhasil membuat Nina membeku. Ia takut Brina marah padanya karena dirinya sama sekali tidak bercerita pada Brina tentang pertemuannya dengan Brian di perpustakaan kemarin. Nina pun belum mau menanggapi, ia masih terus berusaha terlihat fokus dengan ponselnya. Sambil berpura-pura tidak mendengar, Nina juga bertanya-tanya mengapa Brina sama sekali tidak membahas mengenai hal ini bersama dengan dirinya. "Kok lo santai banget?" "Lah, gue harus apa dong?" "Nggak cemburu?" "Buat apa? Kan gue juga ada di sana." Nina tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Brina, mengapa perempuan itu seolah-olah sedang membelanya karena jika ia berkata bahwa ia tidak tahu, maka dirinyalah yang akan menjadi sasaran berbagai pertanyaan mengapa bertemu dengan Brian. Nina tahu Brina adalah sahabat yang baik, tetapi Nina tidak pernah menyangka jika Brina sebaik ini sampai harus berpura-pura tahu tentang pertemuannya dengan Brian. Ah, atau memang Brina sudah tahu? "Eh ini gue sama Nina udah ada janji sama Brian juga mau makan siang bareng. Gue sama Nina duluan ya!" Setelah berkata seperti itu, Brina langsung berdiri. "Ayo, Nin." Nina pun ikut berdiri. "Iya, Kak." Mereka berdua langsung keluar dari ruangan. Nina masih bingung dengan perkataan Brina mengapa dirinya harus berbohong, padahal siang ini Nina merasa tidak ada janji dengan Brian apalagi bersama dengan Brina juga untuk makan siang. Setelah kejadian kemarin, Brian yang meninggalkannya saja, laki-laki itu belum mengirminya pesan lagi. "Kak, kenapa sih?" tanya Nina dengan kebingungannya. Brina terlihat sangat santai. "Nggak papa, Nin. Gue cuma nggak suka lo dirumpiin apalagi di depan diri lo sendiri," katanya yang berhasil membuat Nina selalu bersyukur memiliki kakak tingkat yang sangat dekat dengan dirinya. "Eh iya, Kak." Nina menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat langkah Brina ikut terhenti. Nina sedikit ragu untuk mengucapkannya, tetapi semuanya memang harus Nina ucapkan secara jujur kepada Brina. "Gue kemarin ketemu Kak Brian di perpustakaan," ucapnya perlahan, takut-takut Brina marah. "Yang diomongin Wati tadi bener, Kak." Brina malah menggedikkan bahunya. "Gue tahu, Nin. Brian cerita kok." Ternyata memang benar jika Brian cerita pada Brina. Nina tidak lega. Sudah pasti ia kembali merasa bersalah karena merasa membohongi Brina. Seharusnya ia bercerita sejak awal jika ia bertemu dengan Brian, bukannya malah Brian yang menceritakan semuanya pada Brina. "Kak, gue minta maaf kalo belum cerita sama lo," ucap Nina lagi. "Gue juga ketemu sama Kak Brian pas waktu gue bilang kalo gue deg-degan banget pagi itu. Gue ketemu Kak Brian di perpus, terus dia minta nomor gue. Maaf, Kak." Brina malah tersenyum. "Ya nggak papa, Nin. Kenapa harus minta maaf?" Nina semakin bingung saja. Biasanya, jika seseorang yang memiliki kekasih dan kekasihnya itu dekat dengan orang lain, seseorang itu akan marah karena cemburu. Tetapi, Brina terlihat santai saja yang membuat Nina tidak paham dengan ini semua. "Lo nggak cemburu, Kak?" Pertanyaan Nina lagi-lagi membuat Brina terkekeh. "Lo kan sahabat gue. Masa iya gue cemburu kalo sahabat gue deket sama pacar gue?" "Tapi kan lo tahu kalo gue suka sama Kak Brian, Kak." "Terus ...?" "Ng ... apa lo nggak takut kalo gue ngerebut Kak Brian dari lo?" "Kalo emang kenyataannya begitu, ya berarti Brian bukan jodoh gue, Nin." Nina sampai harus mengerutkan dahinya. "Sesimpel itu, Kak?" tanyanya yang semakin tidak paham saja dengan jalan pikiran Brina. Semudah itu perempuan yang ada di sampingnya itu berkata. "Hidup udah susah, Nin. Jangan gara-gara masalah pacar, hidup gue dan hidup lo, ditambah hidupnya Brian, jadi semakin susah," kata Brina yang menatap Nina. Dari tatapannya, Nina sangat paham jika sebenarnya semuanya yang dikatakan Brina adalah sebuah peringatan bahwa Brian tidak semudah itu akan jatuh cinta pada dirinya. Jadi, Brina enteng-enteng saja mengatakan itu semua. Jika memang seperti itu, Nina juga tidak akan berhenti untuk berusaha tetap dekat dengan Brian. Kata Brina, biarkan takdir berkata. Dan jika memang takdirnya dekat dengan Brian, Brina tidak bisa memaksakan, dan Nina lah yang akan memenangkan hati Brian. Nina tersenyum menatap Brina yang balik tersenyum kepada dirinya. "Gue nggak pernah larang lo buat jatuh cinta sama Brian. Ini tentang perasaan lo sama Brian. Gue sama Brian juga sebatas pacaran, bukan sebuah hubungan resmi. Gue nggak bakal marah kalo emang takdirnya gue harus putus sama Brian. Bukannya gue nggak mau berusaha, bukannya gue nggak cinta sama Brian, tapi ya gue ikutin alurnya aja, Nin." "Kak, kok pikiran lo bisa seterbuka ini?" "Daripada gue kolot pertahanin Brian, nggak bakal baik buat hubungan gue sama dia dan nggak bakal baik juga buat hubungan gue sama lo." Brina terkekh setelah mengucapkan kalimat itu. "Ah iya. Sebenarnya kita nggak ada acara makan siang sama Brian, dia juga sibuk hari ini. Maaf ya gue udah bohong sama lo." Nina menggeleng. "Nggak, Kak. Gue yang harusnya makasih sama lo. Karena lo, gue kita bisa pergi dari sekretariat. Gue nggak lagi dijulidin sama Wati. Lo emang tahu gue banget, Kak." Brina pun terkekeh. "Ya udah. Makan siang yuk. Mau makan apa ni?" "Mau ke mall aja nggak, Kak? Lagi pengen chicken steak nih." "Ayok lah. Apa sih yang enggak buat lo, Nin? Apalagi kalo lo ngajak makan. Lo tau sendiri gue juga suka makan." Nina semakin sadar jika Brina orang yang baik. Tetapi, Nina juga enggan mengalah hanya karena kebaikan Brina. Perasaannya pada Brian begitu kuat walau laki-laki itu sempat membuatnya kecewa. Tetap saja, berjuang agar bisa dekat dengan Brian adalah prioritas utamanya untuk tetap masuk kuliah selain ingin segera lulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN