Membicarakan Kejelekan Areta Bersama Brina

1901 Kata
Meja kecil berbentuk persegi itu telah penuh dengan dua chicken steak yang nangkring di atas hot plate dan masih mengepul saking panasnya. Tidak lupa satu porsi kentang goreng dan brokoli goreng krispi juga telah di pesan. Masing-masing dari mereka asyik menyeruput es teh dengan sedotan karema haus yang menyerang. Maklum saja, walau mall ini ada di seberang Universitas Matahaya tetapi untuk sampai ke sana dari Fakultas Ekonomi membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki, apalagi di siang bolong dengan matahari yang sangat terik sekali. Namun, akhirnya kehausan mereka terobati berkat minuman yang baru saja ia seruput.  "Kak, masih ada kamar kosong kan di rumah kost lo? tanya Nina sebelum mencomot sepotong kentang goreng ke dalam saus steaknya. Nina meniup kentangnya terlebih dahulu yang pada akhirnya berhasil mendarat dengan mulus ke dalam mulutnya. Seperti biasa, perempuan itu sangat menikmati kentang goreng yang dicocol saus steak di salah satu tempat makan favoritnya di mall ini.  Brina ikut menyomot satu potong kentang goreng. Bedanya, ia memilih mencocolnya di saus sambal yang sudah disediakan. Setelah mengunyah dan menelan, kemudian ia baru menjawab pertanyaan Nina. "Masih ada kok di atas. Emang jadi pindah? Bukannya kost lo yang sekarang udah nyaman ya? Fasilitas nggak beda jauh sama kost gue kan?" Yang pada akhirnya, perempuan itu tetap melontari Nina dengan pertanyaan. "Iya sih. Tapi gue udah nggak nyaman aja, Kak, sama penghuninya," jawab Nina sembari sibuk memotong chicken steaknya.  "Ada masalah sama penghuninya?"  "Satu orang doang sih, tapi bikin emosi setengah mati." Saking terbawa perasaan, Nina memotong chicken steaknya dengan kasar. Ia membayangkan jika chicken steaknya itu adalah Areta si penghuni kost yang menyebalkan.  "Pelan-pelan, Nin, motongnya." Nina memasukan suapan besar ke dalam mulutnya. Tidak peduli masih panas, ia langsung mengunyahnya begitu saja. Brina pun dibuat terkekeh karena kelakuan Nina. "Pasti nyebelin banget ya orang itu?" tanyanya selanjutnya masih membahas si penghuni kost yang menurut Nina sangat amat menyebalkan.  "Banget! Masa ya kemarin kan-" Ucapan Nina dipotong oleh Brina. "Kunyah dulu, telan, baru ngomong."  Pada akhirnya Nina menurut saja. Brina memang benar, makan sambil berbicara selain tidak sopan juga bisa membuat dirinya tersedak, apalagi ia akan membicarakan kejelekan Areta. Perlu beberapa detik bagi Nina untuk mengunyah dan menelan makanannya. Selanjutnya obrolan demi obrolan tercipta di antara mereka seperti biasanya. Jika mereka sudah makan bersama ditambah dengan mengobrol, bisa jadi butuh waktu lebih dari satu jam untuk menghabiskan seporsi chicken steak hot plate beserta kentang goreng. Namanya juga perempuan, mulutnya susah berhenti kalau sudah ngomongin orang.  "Jadi, rencana kapan mau pindah?" tanya Brina setelah Nina selesai curhat mengenai masalah yang ia rasakan selama di rumah kostnya.  Nina menggedikkan bahunya. Ia juga bingung sebenarnya karena hari ini masih awal bulan dan masih banyak waktu sewa sampai akhir bulan nanti. Sebenarnya Nina sangat menyayangkan jika harus cepat-cepat pindah, tetapi ia juga tidak tahan dengan Areta yang semakin lama semakin menyebalkan saja. "Bulan depan mungkin, Kak." "Kalau kata gue ya, lebih baik lo kasih uang muka dulu aja deh. Buat jaga-jaga. Entah mau lo tempatin kapan yang penting uang muka dulu," ucap Brina yang menjelaskan.  Nina juga berpikir seperti itu. Ia pun mengangguk menyetujui saran dari Brina. "Iya juga, Kak. Tapi kayaknya emang benar-benar bulan depan paling lama. Pokonya gue nggak mau memperpanjang sewa di rumah kost gue yang sekarang. Walau sejujurnya biaya sewa di tempat lo jauh lebih mahal dengan fasilitas yang hampir sama, tapi nggak papa deh daripada gue gila lama-lama." Brina pun hanya terkekeh mendengar penuturan Nina yang di wajahnya juga terukir emosi sebal. Perempuan yang ada di hadapannya itu kembali memotong ayam krispi dengan kasar dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan menakutkan.  "Tapi ya tetap aja, Nin. Areta emang negur lo buat kebaikan bersama, cuma caranya aja yang salah. Lo nggak boleh selamanya sebel karena ditegur Areta." Brina masih menambahi nasihat untuk Nina.  "Iya, Kak. Gue paham kalo gue juga salah. Tapi ya emang kayak yang lo bilang, cara Areta negur tuh salah banget. Siapa juga yang betah tinggal satu atap sama dia? Bisa-bisa kalau diperpanjang lagi bakal darah tinggi nih gue!"  "Tapi Areta gitu juga nggak sama yang lainnya, apa cuma sama lo doang?" Nina menggeleng. "Enggak, Kak. Dia nyindir yang suka numpuk sampah tuh ya nyindirnya biasa aja nggak pake sebut nama. Lah kalau ke gue, dia blak-blakan banget! Coba lo bayangin jadi gue, kesel nggak digituin?!" "Ya kesel sih, tapi ya nggak papa deh, Nin. Karena hidup kan banyak warna. Areta juga berperan ngewarnain hidup lo tau nggak." Brina mengakhiri ucapannya dengan kekehan. Sementara itu, Nina memutar bola matanya malas. "Mending hidup gue abu-abu aja deh dari pada diwarnain sama Areta, nelangsa gue, Kak!" "Sst! Nggak boleh ngomong gitu ah, nanti ada malaikat lewat gimana?" Walau Brina bukan orang yang baik dalam segala hal, tetapi tetap saja ia adalah orang yang lebih tua dari Nina. Rasanya seperti ada kewajiban tersendiri untuk menegur ketika Nina sedang asal bicara atau mungkin salah dalam sikapnya.  Selanjutnya, setelah hampir satu jam mereka makan dengan obrolan yang lebih tepatnya membicarakan orang dengan solusi jalan keluar, akhirnya selesai sudah acara makan siang bersama di sini. Seperti biasanya, Brina yang lebih tua juga memiliki tanggung jawab untuk membayar setiap makanan. Walau tidak ada peraturan yang mengharuskannya dan seringkali Nina menolak, tetapi Brina memang sangat suka mentraktir makan apalagi ketika bersama dengan Nina. Perempuan itu hendak pergi ke kasir tetapi ditahan oleh Nina.  "Bayar sendiri-sendiri, Kak. Punya gue jangan," kata Nina memperingati. Nina juga hendak berdiri dari duduknya untuk bersama-sama membayar.  "Nggak usah. Kemarin kan udah traktir gue bakso, sekarang gue yang traktir," kata Brina.  "Sekali doang gue traktir lo bakso, Kak. Sebelum-sebelumnya lo traktir gue mulu. Kan nggak enak." Brina tak mau ambil pusing. Ia memaksa Nina untuk kembali duduk. "Udah, enakin aja!" Selanjutnya Brina buru-buru membayarnya.  Diberi sikap seperti ini oleh Brina membuat Nina senang. Bukan masalah hemat uang dan traktiran, tetapi Nina merasa sangat diperhatikan oleh perempuan itu. Nina menyayangi Brina seperti perlakuan Brina pada dirinya. Brina sering marah padanya tetapi jika memang Nina berbuat salah dan marahnya Brina itu selalu terselip nasihat-nasihat yang bisa membuatnya tahu di mana letak kesalahannya. Seperti dahulu ketika Nina ogah-ogahan pergi untuk rapat di himpunan, Brina yang memarahinya dan memberikan pengertian betapa pentingnya hadir di setiap rapat atau kegiatan yang diadakan himpunan karena sudah menjadi tanggung jawab setiap anggota pengurus.  Brina itu sangat pengertian. Perempuan itu tidak serta merta menyalahkan Nina atas semua hal yang memang salah Nina. Seperti ketika ia curhat tentang Areta yang menegurnya secara tidak baik-baik karena Iyan, Brina tahu yang salah dan yang memulai adalah Nina. Tetapi, alih-alih ikut-ikutan menyalahkan Nina, Brina memberinya nasihat dan jalan keluar terlebih dahulu. Salah satu alasan Nina selain letak rumah kost Brina yang sangat strategis dengan kampus, Nina juga ingin tinggal satu atap d ngan Brina, menjalin hubungan lebih dekat lagi sebagai sahabat sekaligus adik dan kakak, dan semua niatnya ini tidak terikut campur dengan dirinya yang menyukai Brian, kekasih Brina.  "Habis ini mau ke mana, Kak?" tanya Nina kemudian. Jujur saja dirinya sudah tidak ada lagi perkualiahan hari ini dan ia masih malas untuk pulang ke rumah kostnya.  Brina berpikir sejenak sembari melihat ponselnya. "Sebenarnya mau nemenin Brian ke toko buku. Lo aja yang nemenin ya, Nin?" Nina terkejut. "Lah kok gue?" Ia menunjuk dirinya sendiri.  "Nin, kemarin kan lo sempat ketemu sama Brian dan pas kita di kantin Brian sama sekali nggak nyapa lo. Sampai sekarang dia masih ngabarin lo? Kalau emang belum ada kabar, nanti lo aja yang nemenin Brian ke toko buku. Okey?!" Jelas saja Nina menggeleng. Ia tidak mungkin bisa menemani Brian ke toko buku terlepas dari siapa Brian dan Brina itu. Sudah pasti dirinya akan sangat gemetaran dan bahkan berkeringat dingin. Nina tidak mau itu terjadi yang ujung-ujungnya hanya akan mempermalukam dirinya sendiri.  Nina pun berpikir juga, mengapa Brina malah menyuruhnya untuk menemani Brian padahal kekasihnya adalah Brina.  "Kol lo bisa-bisanya nyuruh pacar lo buat ke toko buku sama gue?" tanya Nina yang masih tidak habis pikir.  Brina mencoba memberi pengertian. "Biar Brian belajar tanggung jawab, Nin. Kalau sampai hari ini dia belum ngabarin lo atau kirim pesan ke lo, berarti ya dia nggak gentle. Lo juga perlu komunikasi sama dia, barangkali ada kesalahpahaman di antara kalian berdua." "Kesalahpahaman apa, Kak?" "Mana gue tahu? Kan ini antara kalian berdua. Ah, lo nggak usah ngerasa nggak enak. Gue percaya kok sama takdir. Santai aja, Nin." Nina masih menggeleng. "Baru kali ini gue lihat cewek yang rela cowoknya jalan bareng sama cewek lain. Apa jangan-jangan ...." Nina mulai menebak-nebak.  "Apa? Gue hampir dua puluh empat jam sama lo pas di kampus, sepulang kampus gue sama Brian. Terus lo pikir gue ada selingkuhan?" tanya Brian tetapi tetap dengan santai, nada bicaranya terdengar bercanda.  "Yah siapa tahu, Kak." Brina menanggapi dengan santai. "Dasar lo. Kalau misal gue selingkuh, terus ketahuan selingkuh, enak di lo dong. Brian jadi milik lo." "Ya kalo dia mau." "Mau lah. Kenapa nggak mau coba?" "Realistis aja, Kak. Dia aja ninggalin gue pas kemarin, padahal katanya mau nungguin pas gue di toilet." "Gara-gara gue ya? Sorry, Nin. Kemarin emang kebetulan gue ketemu Brian di perpus terus gue ajak makan di kantin. Eh ternyata dia lagi sama lo ya?" Nina mengangguk. "Tapi kalo misal lo mergokin gue berdua sama Brian, lo bakal marah nggak, Kak?" Brina langsung menjawab tanpa banyak berpikir. "Tergantung penjelasan Brian sama lo, terlepas bohong atau enggak, yang penting penjelasannya masuk akal dan normal untuk dua orang cewek dan cowok yang udah punya pacar tapi malah berduaan." Nina cukup takjub dengan jawaban Brina. Ia pun mengacunginya dua ibu jari. "Keren lo, Kak." "Gue emang selalu keren," kata Brina yang tidak menyangkal ucapan Nina. "Oiya, Kak. Kak Brian udah cerita ke lo alasan dia ketemu sama gue?"  Brina menggeleng. "Belum sih." "Lo nggak penasaran?"  Brina menggeleng lagi. "Enggak terlalu sih." "Kalo gue bilang alasan kami ketemu gara-gara Kak Brian pengen nambah teman, lo percaya?" Kali ini Brina mengangguk. "Percaya." Kini justru Nina yang tidak bisa percaya dengan jawaban Brina. "Semudah itu lo percaya?" "Nina, Brian itu teman ceweknya dikit. Lo tahu sendiri kalo cewek-cewek nggak ada yang bener-bener mau temenan sama dia, pasti ada maksud lain, entah godain dia entah porotin duit dia. Makanya dia itu nggak ada teman cewek dan ketika dia ketemu sama lo, wow sih gue takjub." "Lo sepercaya itu sama gue, Kak?" "Kenapa enggak? Lo aja udah gue anggep kayak adek gue sendiri, Nin." "Serius?" "Serius." Nina dibuat terharu oleh perkataan Brina, perempuan yang sangat santai sekali ketika membahas tentang kekasihnya yang terindikasi mulai dekat dengan Nina, malahan Brina menganggapnya seperti adik sendiri. "Kak, you're my everything deh, nggak tahu kalo nggak ada lo, gue nggak bakal punya teman. Lo tahu sendiri kalo teman gue yang benar-benar selalu ada buat gue itu ya elo. Yang selalu dengerin curhat gue walau pada akhirnya lo ngomel juga karena posisinya gue yang salah, ya itu lo. Lo selalu nemenin hari-hari gue bahkan ketika Kak Brian ketemu sama gue, lo nggak kolot dengan berpikir kalo gue ngerebut Kak Brian dari lo. Gue sayang banget sama lo, Kak. Tau nggak sih!" "Iya, gue tahu. Gue emang manusia paling mendekati sempurna kan kalo dijadiin sahabat plus kakak?" Lagi-lagi Brina membanggakan dirinya namun Nina dibuat mengangguk karena ia setuju dengan ucapan perempuan itu.  "Thanks ya, Kak. Udah selalu ada buat gue." "Jadi, nanti lo mau kan nemenin Brian ke toko buku?" "Kak-" "Adik yang baik harus nurut sama kakaknya."  "Tapi, Kak-" "Gue kabarin Brian deh kalo nanti lo yang bakal nemenin dia ke toko buku. Okey, Nin?" "Terserah deh, Kak." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN