Nina sudah sendirian di dalam toko buku masih di mall yang sama. Brina sudah pergi entah pulang atau ke mana. Nina berusaha menahan dirinya untuk tidak gemetaran dengan membaca-baca judul-judul novel yang melintas dalam penglihatannya. Berada di toko buku untuk saat ini bukanlah keinginannya tetapi keinginan Brina. Entah mengapa, Nina masih bertanya-tanya, masuk akal kah permintaan Brina yang satu ini. Entah mengapa juga Nina malah menyetujuinya dan jadi lah ia di sini untuk menunggu Brian, padahal dirinya dan laki-laki itu sama sekali belum berkabar setelah kejadian kemarin di mana Brian meninggalkannya ketika Nina ada di toilet perpustakaan dan juga mereka yang tidak saling menyapa ketika ada di kantin.
Nina berharap bisa kabur dari sini saat ini juga karena sudah hampir sepuluh menit dirinya berdiri di toko buku sembari membaca-baca dan bahkan ia belum melihat pertanda Brian datang. Nina mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu untuk menghubungi Brina. Ia ingin memberitahu jika dirinya harus segera pergi dari sana tetapi Brina tidak mengizinkannya dengan alasan Brina telah memberitahu Brian bahwa ada Nina di perpustakaan. Nina semakin kalang kabut, takut-takut ia tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Namun, yang bisa Nina lakukan hanya pasrah saja. Berkali-kali Nina mengatur napasnya agar tidak gemetaran, dan setelah ia mengembuskan napasnya panjang-panjang, terlihat seorang laki-laki tinggi jangkung memasuki area toko buku dengan kemeja abu-abu yang tidak dikancingkan. Rambutnya masih rapi saja padahal hari sudah mulai sore dan wajahnya juga masih nampak segar, menambah ketampanan laki-laki yang selalu mengisi hari-hari Nina. Sejenak perempuan itu tersadar bahwa sudah tidak ada rasa kecewa lagi kepada sikap Brian yang kemarin. Kali ini ia malah senyum-senyum sendiri melihat Brian yang langsung menuju rak khusus buku-buku yang membahas mengenai jurusan teknik.
Brian belum menyadari ada Nina di sini dan laki-laki itu juga tidak berusaha untuk mencarinya. Padahal, Brina tadi bilang kalau ia sudah memberi tahu Brian bahwa ada Nina yang menggantikan dirinya. Tetapi, mengapa Brian bersikap seolah biasa saja dan tidak mencari dirinya?
Nina berpikir sejenak. Mungkin memang ia yang perlu untuk menemui Brian dan menyapa laki-laki itu. Ia pun memberanikan diri. Perlu satu embusan napas yang panjang, setelah itu ia berbalik untuk menghampiri Brian.
"Eh!" pekiknya, ketika ia berbalik ternyata Brian sudah ada di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum dengan deretan giginya yang rata. Nina perlu mendongak untuk menatap siapa yang ada di hadapannya itu karena perbedaan tinggi mereka yang cukup. "K-kak Brian?" ucapnya dengan tergagap. "Di sini, Kak?" tanyanya kemudian. Nina tidak berniat basa-basi, tetapi memang kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.
Brian mengangguk. "Iya. Kamu sendiri juga di sini? Cari novel?" Brian balik bertanya pada Nina.
Lagi-lagi Nina dibuat berpikir. Jika memang Brina sudah memberitahu Brian bahwa dirinya yang akan menemani Brian di toko buku ini seharusnya Brian tidak bertanya seperti itu.
"Kak Brina?" tanya Nina. "Nggak sama Kak Brina?"
"Harus ya terus-terusan sama Brina?" Brian malah balik bertanya.
Nina tidak paham dengan pertanyaan Brian yang barusan. Ia pun tidak berniat untuk menjawabnya dan hanya diam saja, kembali membaca bagian belakang novel dan mengembalikan ke tempatnya.
"Udah makan, Na?"
Setelah pertanyaan itu didengar oleh Nina, perempuan itu jadi yakin jika sebenarnya Brina tidak pernah memberitahu Brian jika Nina ada di toko buku ini.
Nina pun mengangguk. "Udah, sama Kak Brina di mall ini juga," katanya menjawab pertanyaan Brian.
"Brinanya mana? Udah pulang?"
Nina hanya mengangguk saja.
Brian baru ingat jika dirinya masih memiliki sebuah kesalahan pada Nina. Laki-lali itu pun berniat untuk meminta maaf pada perempuan itu.
"Na."
"Ya?"
"Bisa ngobrol nggak?"
Sedari tadi Nina setengah mati untuk menahan dirinya yang gemetaran dan berhasil. Tetapi, ketika Brian mengatakan untuk mengajaknya mengobrol, entah mengapa tiba-tiba telapak tangannya mulai berkeringat dan dingin.
Nina pun berusaha untuk tetap santai. "Ngobrol aja, Kak. Dari tadi juga udah ngobrol kan."
"Tapi nggak di sini, takut ganggu yang lain."
"Ah, di mana?"
Brian langsung menarik pergelangan tangan Nina dan membawa perempuan itu keluar dari toko buku. Siialan sekali batin Nina. Perempuan itu sudah mati-matian untuk bersikap biasanya tetapi Brian malah menarik pergelangan tangannya seperti ini. Masih untung yang ditarik adalah pergelangan tangan, bukan telapak tangannya atau Nina akan ketahuan jika sudah berkeringat dingin.
Brian sudah membawanya ke sebuah tempat yang cukup sepi di dekat ATM center, tenpat yang cukup nyaman bagi mereka berdua untuk mengobrol.
"Na ...." Brian menatap kedua bola mata Nina. Ia belum juga melepas pergelangan tangan perempuan itu.
Untuk pertama kalinya Nina berani menatap balik tatapan Brian selama ini. Tidak ada degub yang bergetar, tidak terasa juga keringat dingin yang bercucuran. Nina sedikit tenang, padahal sebelumnya tatapan itu berhasil membuatnya gugup berlebihan.
"Aku mau minta maaf buat yang kemarin. Nggak seharusnya aku ninggalin kamu dan pas kamu ke kantin, nggak seharusnya aku nggak nyapa kamu. Maafin aku, Na. Aku juga nggak tahu kenapa bisa gitu," kata Brian yang berterus terang. Laki-laki itu tidak membawa-bawa Brina dalam permintamaafannya, karena memang ia berterus terang dan Brina tidak ada hubungannya dengan kesalahannya ini.
"Karena ada Kak Brina?" tanya Nina yang penasaran dengan menebak-nebak.
Brian menggeleng. "Bukan. Ini semua nggak ada hubungannya sama Brina."
Nina semakin dibuat berpikir sama oleh laki-laki itu. "Tapi kan pas di kantin ada Kak Brina dan maaf, Kak, aku lihat Kak Brian pergi sama Kak Brina dari perpustakaan kemarin."
Brian nampak sedikit terkejut ternyata Nina melihat semuanya. "Kamu lihat?"
Nina pun mengangguk dan tersenyum. "Mukanya biasa aja, Kak." Kini, malah Nina yang memulai dengan bercanda, padahal tadi dan kemarin ia masih dibuat gugup oleh laki-laki itu.
"Kalian pacaran, wajar aja sih kalo kamu sama Kak Brina pergi kemarin dan makan bareng di kantin," kata Nina yang entah mengapa terdengar menyindir bagi Brian.
"Iya, Na. Harusnya kemarin aku nggak ninggalin kamu dan harusnya emang kita saling sapa pas di kantin."
"Takut Kak Brina marah?"
Brian menggeleng. Jelas sekali Brina tidak akan jika dirinya dekat dengan Nina, bahkan Brina lah yang kemarin menyuruh dirinya untuk segera menghubungi Nina dan ia hanya belum siap saja. Untuk hari ini, Brian dibuat bertemu dengan Nina pasti karen Brina yang merencanakan semuanya. Awalnya memang Brian ingin mengajak Brina ke toko buku dan akan makan malam bersama karena memang Brian sedang tidak mau makan malam di luar sendirian. Brina telah menyetujui, tetapi tiba-tiba sana Brina membatalkan semuanya. Ternyata inilah alasan adiknya itu, menjebaknya bersama Nina dan memaksanya untuk mengobrol dan meminta maaf pada Nina.
Namun, bagaimana pun juga ia tetap berterima kasih pada Brina yang telah membuatnya bertemu dengan Nina. Dengan begini, satu hal yang selalu ia pikirkan tentang kesalahannya pada Nina akhirnya berakhir. Brian sudah meminta maaf kepada Nina dan syukurlah Nina tidak marah, walau sejatinya Brian tidak tahu bagaimana perasaan Nina yang sesungguhnya.