Mulai Dekat, Tetap Sebagai Teman

1026 Kata
"Na, mau temenan kan sama aku?" "Kak, kok gitu? Ya jelas mau dong." Jika sebelumnya Nina selalu dibuat deg-degan dan gemetaran oleh laki-laki itu, kali ini ia mulai bisa menghadapi semuanya. Perasaannya cukup lega dan sekarang ini ia nampak senang. Brian meminta dirinya untuk menjadi temannya, siapa yang tidak mau?  Saat ini mereka sudah tidak lagi di toko buku dan tidak kembali ke sana walau Brian belum menemukan buku yang ia cari. Mereka memilih berjalan-jalan saja berkeliling mall. Walau sesekali Nina masih nampak gugup, tetapi ia jauh lebih bisa mengatasi semua perasaan gugupnya.  "Na, mau es krim?" tanya Brian, menghentikan langkah mereka ketika melewati outlet es krim. Nina menggeleng. Ia menolak. "Enggak, Kak. Kak Brian aja yang beli es krim," katanya.  "Kenapa?" Jelas saja Brian bertanya-tanya. Ini adalah kali pertama dirinya menemui orang yang tidak mau es krim padahal es krim di sini enak sekali.  "Nggak papa, lagi nggak pengen aja. Kak Brian aja gih yang beli es krim." Nina menyarankan untuk Brian membelinya sendiri.  Brian malah menggeleng. "Enggak jadi deh." "Loh kenapa?" "Nggak terlalu pengen." Selanjutnya mereka kembali berjalan bersebelahan untuk melihat-lihat. Walau cara jalan mereka masih terlihat canggung, tetapi Nina bersyukur sekali karena bisa berduaan bersama dengan Brian yang pasti sebagai teman. Nina senang dan Brian juga merasakan hal yang sama. Nina cukup tahu diri. Saat ini dirinya tidak akan berpikir macam-macam untuk bisa memiliki Brian karena ia sadar bahwa masih ada Brina yang mengisi hati Brian.  "Na, kamu akrab banget ya sama Brina?" tanya Brian di sela-sela langkahnya.  "Banget. Udah kayak adek kakak aja. Kak Brina baik banget, Kak. Pasti Kak Brian beruntung banget deh punya pacar kayak Kak Brina. Ditambah nama kalian yang mirip, garis wajah yang aku pikir lumayan mirip juga, udah kayak jodoh tau nggak." Nina terkekeh di akhir kalimatnya. Walau perempuan itu mencintai Brian, Nina tidak mau menyangka jika hubungan Brina dengan Brian adalah sebuah hubungan yang paling sempurna yang pernah ia lihat. Bahkan Nina pernah memprediksi bahwa mereka berdua akan sampai ke jenjang yang lebih serius lagi.  Brian pun ikut terkekeh. Ia menyadari jika Brina, adiknya itu memang tidak pernah macam-macam ketika mereka berdua berkosplay sebagai sepasang kekasih. Brian juga bisa melihat sikap tulus yang selalu Brina berikan kepada orang-orang, walau sebenarnya dengan dirinya Brina sering bersikap kurang ajar dan manjanya minta ampun. Tetapi, namanya juga adiknya sendiri, Brian tidak pernah keberatan dengan hal itu. Brian tetap menyayangi Brina karena memang sudah seharusnya seorang kakak menyayangi adiknya sendiri.  "Kamu takut nggak jalan sama aku, Na?" Pertanyaan Brian sukses membuat Nina bingung. Perempuan itu sampai harus mengangkat sebelah alisnya saking tidak paham dengan apa yang baru saja diucapkan Brian.  "Maksudnya gimana, Kak?"  Brian menghentikan langkahnya, membuat langkah Nina turut terhenti.  "Sebenarnya aku agak takut, Na. Orang-orang lihat hubungan kami baik-baik aja, tapi malah sekarang aku jalan sama kamu, sahabat Brina," katanya, sebuah ketakutan yang sejatinya adalah kekhawatirannya pada Nina. Brian takut Nina menjadi sasaran omongan orang karena telah berjalan bersama dengan dirinya.  "Kamu nggak suka kita jalan bareng kayak gini, Kak?" Nina hampir saja salah paham dengan ucapan Brian. Beruntung, laki-laki itu segera menjelaskan maksudnya.  "Bukan gitu, Na. Aku justru khawatir sama kamu. Aku takut kamu jadi omongan orang gegara kita jalan berduaan. Orang-orang pasti juga tahu kan kalo kamu sahabatnya Brina?" Nina pun mengangguk. Akhirnya ia tersenyum menatap Brian. "Aku nggak ngira kalo kamu bakal se khawatir ini sama aku, Kak. Tapi ngapain juga dengerin omongan orang kalau emang kita nggak ada hubungan khusus, sebatas teman apa salahnya?" Mendengar tanggapan dari Nina membuat Brian juga tersenyum. Tidak salah ia sudah bertemu dengan Nina di perpustakaan tempo hari dan ia juga meminta nomor ponselnya. Rupanya memang Nina sahabat dari Brina dan memang Nina berbeda dengan perempuan lainnya. Nina juga lucu, persis seperti Brina saat masih sekolah dulu, menyenangkan.  "Kak Brian keberatan kalau kita temenan? Tapi Kak Brian sendiri yang minta aku buat jadi temen kamu, Kak," kata Nina yang mempertanyakan ucapan Brian yang tadi sempat terlontar.  "Ah, maaf, Na. Kayaknya aku tadi terlalu takut aja. Aku nggak mau kamu kena masalah karena ini." Nina mengambil satu tangan Brian, yang membuat laki-laki itu sedikit terkejut. Nina tersenyum menatap Brian dengan dua bola matanya yang bersinar. "Kita temenan kak, Kak? Kalau takut aku jadi bahan omongan orang, kita bisa jalan bareng sama Kak Brina juga." Bahkan, Nina memberikan ide yang cukup jenius. Hanya saja, Brian terlalu bosan jalan dengan Brina apalagi harus bersama dengan Nina yang membuat Brian dan Brina otomatis harus berpura-pura untuk menjadi sepasang kekasih. Tujuan Brian ingin berteman dengan Nina adalah Brian merasa lelah saja harus terus-terusan menjaga sikapnya yang seolah sebagai kekasih Brina adiknya sendiri. Sesekali Brian ingin lepas dari ini semua. Memang, dirinya lah yang memulai meminta Brina untuk menjadi kekasihnya, tetapi lama-lama rasanya capek juga, namun untuk mengakhirinya Brian juga belum siap.  "Na, aku janji deh sama kamu. Kalau setelah ini ada yang julidin kamu karena jalan sama aku, aku bakal belain kamu, Na," kata Brian dengan nada yang sangat serius.  Nina bergidik tetapi hanya bercanda. "Kak Brian, aku jadi ngerasa kalo aku itu selingkuhannya Kak Brian deh." Nina terkekeh dengan sendirinya.  "Na ...." "Hm?" "Kamu yakin kan mau jadi teman aku?"  Lagi-lagi itu yang dikatakan Brian, membuat Nina harus mengangguk dengan tegas agar laki-laki itu percaya. Terlepas dari Nina yang mencintai Brian dari zaman baheula, siapa juga yang tidak mau menjadi teman seorang laki-laki tampan dengan berbagai privilege dari ketampanannnya itu?  "Kak, santai lah!" ucapnya yang kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Brian. "Kita janjian dulu, kalau kita bakal temenan," katanya yang membuat Brian tertegun. Sungguh, sedari tadi ada sesuatu yang menggelitik rongga perasaan Brian. Lucu sekali perempuan yang ada di hadapannya kini. Awal mereka mengobrol mungkin Nina nampak sangat gugup dengan keringatnya yang bercucuran. Tetapi, hari ini Nina terlihat jauh lebih santai bahkan ceria.  Brian hanya tidak tahu saja. Sedari tadi Nina juga menahan gejolak dalam dadanya yang ingin meledak bahagia karena ia bisa dekat dengan Brian. Degub jantungnya masih tidak beraturan tetapi Nina mencoba tetap santai. Bahkan, ketika kedua matanya menangkap manik cokelat Brian, ada rasa gugup yang langsung datang tetapi Nina lagi-lagi selalu berusaha untuk menepis. Kali ini, ia akan melatih dirinya untuk terbiasa karena mereka berdua sudah menjadi teman. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN