Nina tidak bisa untuk tidak bercerita pada Brina. Setelah Nina pulang dari mall bersama dengan Brian, perempuan itu buru-buru pulang ke rumah kostnya sendirian. Awalnya Brian ingin mengantar, hanya saja Nina menolaknya karena ia merasa belum pantas saja jika harus diantar oleh Brian pulang ke rumah kost. Alhasil, mereka berdua berpisah di lobby mall.
Nina sudah masuk ke dalam kamar. Tadi, di teras ia sempat bertemu dengan kucing kesayangannya si Iyan, tetapi ia tidak sempat untuk memberi kucing hitam itu makanan. Nina juga mendapati kamar Areta yang terbuka pintunya pertanda perempuan yang menyebalkan itu sedang ada di kamarnya. Nina tidak mau berurusan dengan orang yang menyebalkan seperti Areta. Tanpa menyapa, Nina langsung masuk ke dalam kamar dan untuk Iyan, Nina sudah meminta maaf karena tidak memberi jatah makan untuknya.
Nina langsung mencari kontak Brina. Ia berniat untuk melakukan panggilan telepon dengan kakak tingkat yang sudah ia anggap sebagai sahabat dan kakaknya sendiri. Namun, baru juga Nina ingin menekan tombol ikon berwarna hijau, pintu kamarnya sudah diketuk saja dengan suara panggilan yang sama sekali tidak terdengar santai.
"NINA! NINA!"
Nina berdecak sebal. Baru saja ia sampai, baru saja ia masuk ke dalam kamar, dan baru saja ia rebahan, sudah ada saja orang yang membuat dirinya harus bangkit dan membukakan pintu. Nina jelas sebal karena dari suaranya yang tidak santai itu Nina dapat dengan jelas menebak siapa yang berteriak mengetuk pintu kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Areta.
Nina berjalan membuka pintu. Ketika sudah terbuka, nampak wajah Areta yang cukup judes menatap matanya yang malas meladeni perempuan itu. "Apaan sih, bisa santai nggak ngetuk pintunya?" kata Nina yang sudah tidak mau bertindak sok baik dan sok sopan di depan Areta.
"Lo tau nggak sih-"
"Enggak!" Nina langsung menyahut. Perempuan itu jelas sudah muak dengan awal kalimat yang diucapkan Areta, terlalu basa-basi.
"Dengerin dulu!"
"Apa? Ngomong cepet, dikira gue gabut? Gue sibuk!" Nina benar-benar memutar bola matanya dengan malas, menunggu Areta yang tidak juga segera mengucapkan apa yang perempuan itu ingin katakan.
"Kucing lo, buang kotooran di teras!" ucap Areta yang terang-terangan menuduh Nina.
Nina yang tadi perasaannya berbunga-bunga karena Brian, kini mendadak runyam hanya karena Areta yang menyampaikan hal yang tidak penting bagi dirinya. "Kucing siapa? Gue nggak punya kucing. Kalo pun lo mikir yang buang kotooran di teras itu si Iyan, kucing yang biasa gue kasih makan, emang lo ada buktinya? Kalo emang bener si Iyan, itu juga bukan tanggung jawab gue. Nggak sekali doang ada kucing yang buang kotooran di teras, jadi lo jangan ngada-ngada deh apalagi sok marah kayak gini. Gue tahu ya hari ini lo yang piket, jadi jangan alesan. Bersihin tuh taii kucing nggak peduli siapa yang buat kotooran di sana. Gue capek tahu nggak lo giniin mulu. Ini masalah kecil, masalah kotooran kucing doang, ngapain sih sampai gedor-gedor pintu kamar orang? Lo caper sama yang lainnya biar dikira lo yang paling peduli sama kebersihan?" Nina sampai berucap panjang lebar. Padahal selama ini Nina adalah penghuni yang paling kalem, tetapi jika dirinya terus-terusan diganggu maka ia tidak segan-segan untuk membalas.
"Lah, yang harusnya ngomel mah gue, kenapa jadi lo?" Areta juga sama saja, dirinya tidak terima dengan perkataan Nina yang panjang lebar itu.
"Terus? Mau lo apa? Nyuruh gue bersihin itu kotooran kucing di teras?" Kedua mata Nina sampai melotot menatap Areta. Sungguh semakin ditatap semakin menyebalkan saja. "Kalo lo bilangnya baik-baik, gue mau bantuin lo yang lagi piket buat bersihin itu kotooran kucing kalo emang lo jijik. Tapi lo ngomongnya nggak ada sopan santun dimulai dari ngetuk pintu. Lo pikir lo siapa sih? Merasa senior di rumah kost ini? Hey ... kita cuma beda satu minggu ya pas pindahan di sini, tapi selama ini lo itu sok ngatur tanpa aksi. Mulut lo doang yang besar, nggak ada bukti!"
Areta diam, ia seperti sudah kehabisan kata-kata.
"Gimana, udah jelas kan? Gue mau masuk. Capek sama lo!" Tidak tanggung-tanggung, Nina langsung menutup pintu dengan membantingnya di depan Areta. Masa bodoh, dirinya sudah sangat sebal dengan Areta apalagi dengan kelakuannya. Ia ingin secepatnya pergi dari kost ini walau sebenarnya ia nyaman dengan semuanya, kecuali Areta.
Siapa lagi orang yang menjadi tempat curhat bagi Nina selain Brina? Perempuan yang tadinya ingin mengirimi pesan dan menceritakan ketika ia dan Brian pergi ke mall, kini sudah berpindah haluan. Sepertinya Nina akan berkonsultasi mengenai masalah kotooran kucing ini dan rencana kepindahannya lagi dengan Brina. Ia pun mengetikkan apa yang ia rasakan saat ini, kesebalannya pada Areta, di ruang obrolannya dengan Brina.
Nina: Kak Brinaaaaaaaaaaaaa, sibuk nggak sih? Aku pengen cerita.
Nina mengetik pesan dengan diakhiri emotikon menangis. Tanpa menunggu balasan dari Brina, Nina kembali melanjutkan curhatannya.
Nina: Pengen cepat-cepat pindah deh rasanya hiks. Masa ya si Areta gedor-gedor pintu kamar gue dong si anjir memang itu anak satu. Mana tiba-tiba marah gegara ada taii kucing di teras. Kan nggak sekali dua kali tuh ada taii kucing di teras.
Selanjutnya, satu balasan telah masuk.
Kak Brian: Terus gimana? Kenapa marah-marah cuma karena kotooran kucing? Kucing kamu yang buang kotooran di sana?
Nina pun melanjutkan membalas pesan itu.
Nina: Ya nggak tau, Kak, itu kucing siapa. Di lingkungan sini kan memang banyak kucing. Kak Brina tahu sendiri kan? Tapi emang gegara gue sering ngasih makan si Iyan, jadi Areta nuduh gue, Kak. Alasan aja mungkin dia. Hari ini jadwal piketnya dia dan dia nggak mau tuh bersihin kotooran kucing, jadi gede-gedein masalah. Gue udah nggak betah. Padahal tadinya mau cerita yang gue sama Kak Brian pas di mall, eh malah Areta meruusak segalanya. Hikssssssssss.
Satu balasan cepat diterima oleh Nina.
Kak Brian: Gimana, Na?
Satu detik kemudian, Nina membanting ponselnya di atas kasur. Ia baru sadar jika yang ia ajak mengobrol sedari tadi bukanlah Brina, tetapi Brian. Nina sudah salah mengetik pesan di ruang obrolan Brian karena kemarin Nina sempat menghapus semua history chatting di ponsel lamanya karena memang memori yang sudah penuh. Nina masih tidak percaya dengan kesalahan ini. Brian dan Brina memang memiliki nama yang hampir sama dan sayangnya Nina tidak menambahkan sesuatu untuk membedakan nama mereka masing-masing.
Nina kembali mengambil pesannya dan satu pesan sudah ia terima lagi yang pasti itu adalah balasan dari Brian.
Kak Brian: Jangan marah-marah sama teman satu kost. Kalau emang jadwal dia piket, bilangin aja baik-baik.
Tangan Nina sedikit bergetar. Ia jadi malu karena telah marah-marah di ruang obrolannya dengan Brian yang harusnya ia kirim ke Brina. Kemudian, satu pesan lagi ia terima dari Brian.
Kak Brian: Oiya, yang tadi di mall, kamu cerita sama Brina?